Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Mula
Kota Zenith 20 Juli 2026
Ayyasy sedang berada di rumahnya, asyik bermain game online bersama Arkan, Abzari, Night, dan Rehan. Jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.00 malam, menandakan mereka sudah bermain cukup lama.
"Eh, bre! Udah jam 12 nih. Udahan yuk, tidur!" seru Ayyasy lewat obrolan suara.
"Yaudahlah yuk, besok lagi ya," sahut Abzari setuju.
Arkan menimpali, "Oke, siap. Dah, gih, pada tidur sono."
Setelah mematikan ponselnya, Ayyasy berjalan ke jendela kamar untuk menikmati keindahan langit malam. Namun, saat ia sedang memandang ke luar, tiba-tiba—WUSHHHH! Seberkas cahaya terang membelah kegelapan. Sebuah bintang jatuh melesat dan mendarat di area bukit belakang komplek perumahan mereka.
"Hah? Ini gue nggak salah lihat, kan?" bisik Ayyasy tak percaya. Tanpa berpikir panjang, ia segera bergegas keluar untuk mengecek tempat jatuhnya bintang tersebut.
Di tempat berbeda, Night yang sedang meneguk segelas air langsung tersedak. Ia melihat fenomena aneh yang sama dari jendela rumahnya. Rasa penasaran membuatnya langsung meletakkan gelas dan berlari keluar. Begitu pula dengan Azkailah yang batal menarik selimutnya, serta Serafe yang baru saja selesai mencuci piring.
"Bintangnya jatuh ke gunung belakang? Penasaran deh, ke sana ah," gumam Serafe sambil bergegas memakai jaketnya.
Sementara itu, suasana di jalan komplek mendadak ramai. Abzari, Arkan, dan Rehan ternyata sudah berlari lebih dulu menuju lokasi kejadian.
"Lu berdua tadi lihat kan ada bintang jatuh ke gunung belakang?" tanya Rehan terengah-engah di tengah lari mereka.
"Iya, iya, gue lihat! Jelas banget kok!" balas Abzari antusias.
"Yaudah, buruan atuh! Keburu ada orang lain yang lihat!" seru Arkan memacu langkahnya lebih cepat.
Sementara itu, Sintia yang sedang berjalan pulang ke rumahnya setelah membeli sesuatu dari warung, ikut menyaksikan fenomena tersebut. Ia menengadah, menatap lampu pijar alami itu hingga benar-benar mendarat.
"Kayaknya dekat deh," ujarnya dengan penuh rasa penasaran. Tanpa pikir panjang, ia memutar arah langkahnya.
Secara tidak langsung, mereka semua bergerak ke gunung itu secara bersamaan. Uniknya, tidak ada satu pun dari mereka yang sadar kalau teman-temannya yang lain juga sedang menuju ke titik yang sama.
Ayyasy menjadi orang pertama yang tiba di lokasi. Demi keamanan, ia langsung bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun. Dari celah dedaunan, mata Ayyasy berbinar melihat sebuah batu misterius yang memancarkan cahaya warna-warni yang memukau.
Tanpa sepengetahuan Ayyasy, di balik semak-semak yang lain, Arkan, Abzari, dan Rehan juga sedang tiarap sambil menahan napas. Kebetulan yang sama juga terjadi pada Night, Azkailah, Serafe, dan Sintia. Mereka semua mengepung batu itu dalam diam, saling bersembunyi satu sama lain.
Kresek... kresek...
Tiba-tiba semak di dekat batu itu bergoyang. Suasana instan berubah mencekam. Para remaja yang sedang bersembunyi langsung memasang mode waspada. Sintia seketika ketakutan, Serafe menduga ada hewan buas yang keluar, sementara Night sudah bersiap dengan kuda-kudanya. Di sudut lain, Arkan, Abzari, dan Rehan justru sudah bersiap-siap untuk mengambil langkah seribu.
"Weh... weh... pulang aja yuk. Takut banget gua," ucap Arkan ketakutan, badannya sudah bergetar.
"Yaelah... takut amat lu, lemah!" sahut Abzari sambil berbisik tajam, mencoba menenangkan temannya walau ia sendiri tegang.
Rehan menimpali dengan sinis, "Alah, Zar, Zar! Kalo ada apa-apa, palingan juga lu yang kabur duluan sambil panik!"
Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul dari balik semak-semak itu. Ternyata itu Ayyasy!
Melihat wajah familier itu, semua orang yang mengintip langsung merasa lega, sekaligus kaget. Namun, tidak dengan Sintia. Gadis itu sudah terlanjur ketakutan setengah mati karena mengira suara gesekan semak tadi berasal dari hewan buas atau makhluk halus. Rasa takutnya instan berubah menjadi amarah yang meluap-luap.
Tanpa aba-aba, Sintia berlari kencang mendekati Ayyasy dan melayangkan satu pukulan telak tepat ke wajah cowok itu. BUGH!
"Lu tuh ya, bikin orang takut tahu nggak!" bentak Sintia dengan napas terengah-engah.
Ayyasy yang sama sekali tidak menyangka ada Sintia di sana, langsung terhuyung memegangi pipinya. "Kenapa lu ada di sini sih?! Aduhhh..." rintih Ayyasy kesakitan. Melihat Ayyasy dan Sintia malah bertengkar, satu per satu dari mereka akhirnya keluar dari tempat persembunyian masing-masing. Suasana semak-semak yang tadinya sepi mendadak ramai.
"Heh, Ayyasy! Sintia! Udah, udah, jangan berantem!" seru Serafe yang langsung berlari menengahi mereka.
Begitu semua berkumpul, mereka saling pandang dengan tatapan tidak percaya. Ternyata, seluruh geng mereka berkumpul di gunung ini hanya demi melihat bintang jatuh tersebut.
"Kalian ke sini juga?" tanya Azkailah heran, matanya mengerjap menatap teman-temannya.
"Iya!" jawab mereka kompak bersamaan.
Sejurus kemudian, perhatian mereka mulai teralih pada batu meteor yang berkilau indah di depan mereka. Mereka sibuk berspekulasi dan mengaguminya, sementara di latar belakang, Ayyasy dan Sintia masih saja saling melempar tatapan sinis dan beradu mulut.
Di tengah keriuhan itu, Serafe justru berjalan terhipnotis mendekati sang bintang jatuh. Rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya. Langkah demi langkah ia ambil dengan sangat pelan, hingga tangannya terjulur, hampir menggapai permukaan batu yang berpendar itu. Sintia yang pertama kali menyadari tindakan nekat itu langsung membelalakkan mata. "Serafe! Jangan!" teriak Sintia panik. Namun, peringatan itu terlambat. Jari-jari Serafe sudah menyentuh permukaan batu misterius tersebut.
BOOM!
Batu itu mendadak memancarkan gelombang cahaya yang sangat menyilaukan, disusul dengan ledakan energi skala kecil yang mengempaskan mereka semua. Selama beberapa detik, pandangan mereka putih total. Telinga mereka berdenging, tak bisa melihat ataupun mendengar apa-apa. Ketika efek ledakan perlahan memudar dan penglihatan mereka kembali normal, keheningan mencekam melanda. Ada sesuatu yang aneh—sesuatu yang masif dan tak masuk akal—sedang bergejolak di dalam tubuh mereka masing-masing.
Ayyasy mengerang, merasakan seluruh tubuhnya mendadak panas membara bagai panggangan, anehnya kulitnya sama sekali tidak melepuh. Di sebelahnya, Azkailah gemetar hebat saat merasakan sengatan tegangan listrik tinggi merambat ekstrem di dalam aliran darahnya, memercikkan kilatan biru dari ujung jarinya. Sementara itu, Night terpaku menatap tanah. Ia merasa bayangan benda-benda di sekitarnya seolah hidup dan tunduk pada kehendaknya. Di sudut lain, Arkan terpekik kaget saat menyadari tanah tepat di bawah pijakan kakinya retak menjalar hanya karena ia menghentakkan kaki. Kebingungan pun melanda Abzari; setiap kali ia menggerakkan lengan, embusan angin kencang berputar mengikuti polanya. Rehan yang terduduk lemas secara tidak sengaja menyentuh tanah kosong, dan dalam hitungan detik, tanaman-tanaman merambat tumbuh dengan cepat dari tempat yang ia sentuh.
"Kenapa... kenapa jadi dingin banget?" gumam Sintia memeluk tubuhnya sendiri. Tanpa ia sadari, area di sekitar tempatnya berdiri perlahan membeku, tertutup lapisan es tipis.Dan di pusat semua kejadian itu, Serafe menatap kedua telapak tangannya yang kini memancarkan cahaya putih yang sangat terang dan murni. Mereka semua terdiam, saling pandang dengan ketakutan sekaligus takjub.
"Apa... apa yang terjadi sama kita?" suara Arkan bergetar, ia tak berani melangkah karena takut meruntuhkan tanah di sekitarnya lagi.
Tidak ada yang bisa menjawab. Semua terlalu sibuk mengendalikan sensasi aneh yang bergejolak di dalam diri mereka. Suasana malam yang tadinya biasa saja kini berubah menjadi panggung kekuatan supranatural. Batu meteor yang tadi meledak kini telah hancur menjadi abu, meninggalkan delapan remaja dengan takdir baru yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Tiba-tiba, dari kegelapan hutan di atas bukit, terdengar suara geraman rendah yang sangat menyeramkan. Sepasang mata merah menyala perlahan muncul dari balik pepohonan, menatap lapar ke arah mereka. Tampaknya, ledakan energi dari batu bintang tadi tidak hanya membangkitkan kekuatan mereka, tetapi juga memancing sesuatu yang mengerikan dari dalam kegelapan gunung.
Setelah cukup lama mereka kebingungan, Abzari melihat jam di handphone nya. Jam menunjukkan pukul 01:34. “weh, udah jam segini guys! ayo cepat pulang besok masih sekolah” ucap Abzari sambil terlihat panik. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang bersama ke rumah mereka masing-masing. Mereka pulang membawa kekuatan besar dan tanpa mereka ketahui, ancaman besar juga akan muncul selagi mereka masih menyimpan kekuatan itu.