Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Permintaan Dadakan
"Mo, aku mau di sunat." Pinta Aka saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga setelah makan malam bersama.
"Ha? Apa, Nang?" Tanya Meshwa yang kaget dengan permintaan putranya.
"Mamas mau di sunat, Mbun." Jawab Aka.
"Yakin, Mamas mau di sunat?" Tanya Arjuna yang di jawab anggukan oleh Aka.
"Mamas gak takut, Mas?" Tanya Meshwa.
"Enggak, Mbun. Mamas gak takut kok." Jawab Aka dengan yakin.
"Di sunat itu sakit gak, Mo?" Tanya Bima.
"Enggak, kayak di gigit semut." Jawab Arjuna.
"Dek Bima juga mau sunat?" Tanya Meshwa.
"Emang sunat itu di apain sih, Mbun?" Tanya Bima kemudian.
"Di potong burungnya." Jawab Arjuna.
"Di potong? Terus gimana pipisnya kalau burungnya di potong?" Tanya Bima sambil mendelik. Ia juga sampai memegangi burungnya sendiri.
"Ya kan gak sampe abis lho, Le." Kata Meshwa sambil terkekeh geli melihat reaksi Bima.
"Terus di potong sedikit?" Tanya Bima.
"Iya, cuma sedikit. Ujungnya aja kok, biar bersih." Jawab Arjuna.
"Adek mau sunat sekalian, sama Mamas?" Tawar Arjuna.
"Beneran gak sakit, Mo?" Tanya Bima yang nampaknya tak yakin.
"Iya beneran. Sakit sedikit aja, kayak di gigit semut." Jawab Arjuna.
"Romo udah di sunat?" Tanya Bima.
"Udah lah, makanya Romo bilang kalau di sunat itu gak sakit." Kata Arjuna.
"Romo sunatnya berapa kali?" Tanya Bima yang kembali memecah tawa Arjuna dan Meshwa.
"Ya sekali lah, Le! Kalo berkali - kali nanti habis burungnya." Jawab Arjuna di sela - sela tawanya.
"Haduh! Untung ada Bima. Kalau gak ada, sepi hidup Mbun sama Romo karena Mamas yang kayak kulkas." Kata Meshwa sambil melirik ke arah Aka yang nampak tenang dan hanya tersenyum - senyum saja.
"Bukan kulkas, Mbun. Freezer box kalo Mamas. Stay cool, dimana - mana." Kata Arjuna.
"Jadi, Adek mau ikut sunat juga gak? Biar sekalian Romo bilang sama Pak Ama." Kata Arjuna.
"Mamas kenapa mau di sunat?" Tanya Bima.
"Biar banyak yang kasih uang, kayak Mas Fajar. Kemarin waktu Mbun, Bu Aci, Oma sama Uti lihat Mas Fajar, Mas Fajar di kasih amplop yang isinya uang." Jawab Aka yang membuat Arjuna dan Meshwa terkekeh.
"Kalo sunat, nanti dapat uang ya, Mbun?" Tanya Bima.
"Mmm ya gak tau juga. Tapi, nanti Mbun belikan hadiah untuk Mamas dan Adek karena jadi anak hebat yang berani sunat." Jawab Meshwa.
"Romo juga kasih hadiah kan?" Tanya Bima.
"Ya Romo barengan hadiahnya sama Mbun. Kan uang Romo di Mbun." Jawab Arjuna.
"Ah! Romo curang. Harusnya Mbun kasih, Romo juga kasih!" Kata Bima.
"Yaudah nanti Romo kasih amplop aja kalau gitu." Jawab Arjuna.
"Yess! Adek mau sunat sama Mamas." Kata Bima dengan semangat.
"Memang kalau dapat uang, mau untuk apa lho, Mas?" Tanya Arjuna pada Aka.
"Mau di tabung aja. Buat Mamas kalau udah besar." Jawab Aka.
"Biar banyak uang ya, Mas?" Tanya Bima yang di jawab anggukan oleh Aka.
"Coba tiap bulan bisa sunat, pasti uang kita banyak, Mas." Celetuk Bima yang kembaki membuat Meshwa dan Arjuna tertawa.
"Ngawur kamu ini, Bim... Bim..." Kata Arjuna sambil meraup wajah Bima.
Keesokan harinya, Arjuna segera menyampaikan keinginan putranya itu pada Gama. Di Desa Banyu Alas dan sekitarnya, nama Gama cukup populer sebagai dokter sunat.
"Terus, kapan anak - anak mau di sunatnya?" Tanya Gama.
"Kalau Kak Gama selo (luang) sore ini, ya sore ini, gak apa - apa." Jawab Arjuna.
"Kenapa kok mendadak, Jun?" Tanya Gama.
"Mamas yang minta, katanya biar dapet amplop yang banyak kayak Mas Fajar. Kalo adeknya yo ikut - ikut Mamasnya." Jawab Arjuna yang membuat Gama terkekeh.
"Yasudah, nanti habis ashar kita mulai sunatnya di rumah. Pagi sampe siang ini Kak Gama harus ke Klinik." Kata Gama yang di jawab anggukan setuju oleh Arjuna.
Berita mengenai Aka dan Bima yang tiba - tiba ingin sunat itu, tentu menghebohkan keluarga mereka. Nala dan Mifta yang berada di Kota pun kaget karena Aka dan Bima yang ingin di sunat sore ini.
"Ya Allah, gimana sih, Mbak, kok mendadak? Aku sama Mas Mifta ya belum bisa pulang to! Mana Kakaknya lagi sakit gini." Keluh Nala yang langsung melakukan panggilan vidio dengan Meshwa.
"Mintanya mereka lho, Dek. Mas Juna sama Mbak Meshwa nuruti saja, wong maunya besok." Kata Meshwa.
"Mamas gak mau nunggu Te Ala sama Om Mifta kesana dulu to, Nang?" Tanya Nala.
"Te Ala sama Om gak kesini juga gak apa - apa. Kan Dek Bagas lagi sakit. Doain Aka aja ya, Te." Jawab Aka.
"Iya, Mama sama Papa gak apa - apa nungguin Kak Bagas aja. Yang penting jangan lupa kirimin Bima sama Mamas hadiah." Kata Bima yang langsung membuat Meshwa dan Nala tertawa.
"Mamas sama Adek pingin apa? Nanti di beliin." Kata Nala.
"Mamas mau apa, Mas?" Tanya Bima sambil menyenggol - nyenggol tangan Aka yang sedang berpikir.
"Duit aja, Mas... Duit. Biar Duit Mamas banyak, nanti kan aku bisa minta beliin jajan sama Mamas." Bisik Bima yang masih terdengar oleh Meshwa dan Nala di telfon.
"Ya Allah, Bima! Kok kamu ngakali Mamasnya lho, Bim?" Kata Nala di sela - sela tawanya.
"Kan Mamas gak pelit sama Bima. Apa yang Bima minta, pasti di kasih sama Mamas." Jawab Bima.
"Mamas mau mainan atau sangu (uang saku) dari Te Ala sama Om Mifta?" Tanya Nala lagi.
"Sangu aja, Te, untuk di tabung." Jawab Aka.
"Aduh, Maa Syaa Allah, anak solihnya Te Ala. Adem tenan, Nang... Nang. Si paling pendiem, soft spoken, baik, walaupun kadang bikin dar der dor." Kata Nala yang selalu merasa kagum dengan Aka.
"Adek gak di tanyain mau apa, Ma?" Tanya Bima yang lagi - lagi membuat Meshwa dan Nala terkekeh.
"Adek memangnya mau minta apa lho, Le?" Tanya Nala.
"Adek mau beli motor - motoran kayak Mamas." Jawab Bima.
"Nanti aja, kalau udah besar kayak Mamas, nanti di beliin sama Romo. Kan Romo udah janji." Kata Meshwa.
"Bima udah kayak Mamas kok." Jawab Bima.
"Udah pinter ngaji kayak Mamas, udah rajin sholat kayak Mamas, udah mau sunat kayak Mamas. Bentar lagi juga besarnya kayak Mamas." Imbuh Bima yang membuat Meshwa dan Nala tak bisa berkata - kata.
"Ya Allah, njenengan wehi maem keroto opo piye to, Mbak? Kok yo puinteer leh semaur. (Kamu kasih makan keroto apa gimana to, Mbak? Kok ya pinter banget jawabnya.)" Kata Nala yang kembali membuat Meshwa terkekeh.
"Udah genetik, La. Tau sendiri kalo Romo, Papa sama Pakdenya eyel - eyelan gimana." Jawab Meshwa.
perpaduane Aksa, Arjuna plus Dipta
🤣🤣🤣🤣