"Aku sadar kalau aku tidak bisa hidup tanpamu, dan walaupun aku tidak penah mengatakannya tetapi selamanya, selamanya aku kan selalu mencintai dirimu."
Lily, gadis penyendiri yang pintar bertemu dengan seorang pria misterius yang membuatnya terjebak dalam sebuah pernikahan dan harus melupakan semuanya yang ada di hidupnya. Cita-cita, keluarga bahkan cintanya, harus rela dia lepaskan, setelah dirinya terhisap dalam belenggu rasa misterius yang dia rasakan setelah bertemu pria tersebut.
Semuanya berubah setelah dirinya menghabiskan malam bersama pria tersebut.
Pria yang mengidap penyakit psikologi Dissociative identity disorder (DID), membuat Lily tidak mampu menolak takdirnya untuk menikah dengan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACING ALASKA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Tatapannya dingin menatapku dan tersenyum seperti bukan Petra. Dia mencoba menciumku sebelum pria monster datang dan menariknya turun dari atas tubuhku. Petra mencoba terbebas dari jeratan pria monster untuk mendekatiku. Tetapi itu mustahil pria itu bertubuh besar dan tenaganya sangat kuat.
Aku terus menatap Petra. Beberapa kali aku melihat tatapan itu dari matanya. Ada apa dengannya? Seperti bukan dirinya.
"Buat dia pingsan!" Tiba-tiba Dan datang.
Aku ingin berteriak melarangnya tetapi kerongkonganku terasa tercekat dan sebelum sempat teriak pria monster sudah memukul kepala Petra dan membuatnya pingsan.
"Bawa dia ke kamarnya."
"Tunggu!!" Akhirnya aku berhasil mengeluarkan suaraku. "Aku tahu apa yang terjadi. Biarkan Petra disini."
Petra di tidurkan di ranjangku. Aku mengompres kepalanya dengan es, karena aku yakin saat ini kepala Petra sakit setelah menerima hantaman dari pria monster. Pria monster duduk di sofa dekat pintu untuk memastikan Petra tidak menyerangku lagi. Sekarang aku tahu gunanya pria bertubuh rasaksa tersebut. Dia menjaga kami agar tidak terjadi hal-hal seperti tadi.
Aku rasa aku menyukainya, bukan karena dia bodoh melainkan sepertinya kami berdua memiliki kesamaan yaitu tidak suka mengeluarkan suara. Walau kadang-kadang karena kebiasaan diamku itu membuat keburukan seperti tadi. Disaat aku mencoba mengeluarkan suara, kerongkonganku seperti tercekik dan suaraku tidak bisa keluar. Aku tidak tahu akan seperti apa bila pria monster itu tidak menolongku. Aku harus berterima kasih padanya.
"Siapa namamu?" Tanyaku membuatnya sedikit terkejut. "Aku tanya siapa namamu?" Aku mengulang pertanyaanku karena sepertinya dia mengantuk sehingga tidak mendengar pertanyaan pertamaku. Jelas saja dia mengantuk karena saat ini pukul tiga pagi.
"Aku hanya penjaga."
"Siapa namamu? Kau punya nama kan?"
"Aku ini penjaga..."
"Yang aku tanya siapa namamu? Orang tuamu pasti memberimu nama kan?" Aku menatapnya dari samping ranjang. Jarak dari tempatku berada dengannya sekitar delapan meter. "Siapa namamu?"
"Ba...Barrie..." Jawabnya tergagap. "Na...namaku Barrie."
"Barrie, terima kasih." Ucapku tersenyum sehingga membuat wajahnya memerah.
"Apa bisa senyum itu untukku juga?" Tiba-tiba Petra terbangun membuatku menoleh kearahnya.
Barrie si pria monster itu langsung beranjak berdiri bersiap-siap kalau saja Petra kembali menyerangku. Petra tersenyum padaku dan tatapannya sudah berbeda dengan yang tadi.
"Petra?" Aku memanggil namanya.
"Ya, ini aku." Jawabnya. Aku bernapas lega, dia kembali menjadi Petra yang ku kenal. "Kepalaku sakit. Apa Ogre memukul kepalaku lagi?"
Petra memegang kepalanya dan duduk. Rasanya aku ingin memeluknya sekarang tetapi aku menahan keinginan itu.
"Barrie semua sudah baik-baik saja. Kau boleh keluar dan tidur sekarang." Aku menoleh pada Barrie.
Tanpa bicara dia langsung keluar meninggalkan aku bersama Petra. Ketika aku menoleh kembali Petra menarikku kepelukannya.
"Petra?" Aku memastikan kalau dia benar Petra.
"Maaf, kau harus tahu tentang semua ini." Ucap Petra masih mendekapku di pelukannya. "Aku menyesal kau harus bertemu Peter."
Ternyata dugaanku benar. Yang menyerangku tadi bukanlah Petra melainkan Peter.
"Aku tidak bisa mengendalikannya."
"Tidak apa-apa." Ucapku.
Petra melepas pelukannya dan memandangku. "Apa yang di lakukannya padamu? Dia menyakitimu?" Wajah Petra terlihat khawatir padaku.
Aku tidak menjawab karena Peter benar menyakitiku dan aku tidak ingin membuat Petra semakin khawatir. Aku turun dari ranjang dan duduk di sofa samping ranjang.
"Maaf aku tidak cerita tentang keadaanku yang sebenarnya." Petra memandangku yang duduk terdiam di sofa. "Sekarang belum terlambat. Tidak ada pernikahan dan kau bisa pergi."
"Saat bersamaku kapan ketika kau di ambil alih olehnya?" Tanyaku dingin mengangkat kepalaku dan menatapnya. "Beberapa kali aku melihat tatapannya padaku. Apa setiap tatapan itu terpancar di matamu, itu Peter?"
Petra tidak menjawab. Mungkin saat ini dia pun bingung dan tidak tahu pasti kapan saat tubuhnya di ambil alih oleh Peter.
"Saat wawancara tadi siang, dan saat hari dimana aku mengikutimu ke apartement itu bukan dirimu kan? Kau menutup mata di depan jendela saat melihat ke bawah. Peter takut ketinggian. Karena itu juga kau tinggal di apartement kan?"
"Beberapa kali saat kau di apartement dia membajakku juga." Seru Petra. "Kau tidak sadar kan? Jangan menebak hanya dari tatapannya. Dia bisa berpura-pura jadi diriku. Dia pintar dan kata-katanya menakutkan."
"Kata-katanya?"
"Ya, mungkin ini terdengar gila. Tapi saat aku sendirian, kami bisa berkomunikasi. Aku tidak mengetahui apa saja yang dia lakukan ketika dia membajakku. Aku seperti hilang kesadaran. Tetapi anehnya semua yang aku lakukan dia mengetahuinya. Sejak kecelakaan itu, dia seperti tinggal dalam diriku." Wajah Petra terlihat sedih ketika berbicara. "Cincin itu, aku tidak tahu apapun bagaimana benda itu tiba-tiba ada. Peter bilang itu milikmu dan dia memintaku untuk memberikannya padamu. Aku juga terkejut ketika kau masuk kamarku ketika tanganku terluka. Tapi aku mencoba bersikap biasa agar kau tidak tahu tentang keadaanku ini."
Mendengarnya hampir membuatku shock. Aku tidak pernah mengira tentang semua ini. Tentang Petra yang memiliki kepribadian ganda. Seakan-akan di dalam dirinya terdapat dua orang yang berbeda. Dirinya dan kembarannya Peter yang mati dalam kecelakaan sepuluh tahun lalu. Apa yang harus aku lakukan padanya? Bagaimana kalau Peter tiba-tiba muncul lagi dan menyerangku seperti tadi? Dan bagaimana caraku mengetahui saat tubuh Petra di ambil alih Peter? Petra yang malang.
Ketika pagi tiba, Presiden masuk ke kamar aku bermalam saat aku hendak membuka pintu untuk keluar. Dari tatapannya terpancar kemarahan. Mungkin menyangkut apa yang aku katakan di wawancara kemarin. Aku tidak peduli semarah apa kemarahannya padaku.
"Apa yang kau katakan menyangkut pernikahan hah?" Tanya Presiden dengan nada meninggi di akhir. "Aku bilang pesta akan tetap di laksanakan di istana negara."
"Petra atau Peter?" Aku memandang dingin presiden. Raut wajah presiden membeku mendengar ucapanku. "Mana di antara cucu anda yang lebih baik hidup?"
"Baik, pesta akan di lakukan disini."
Setelah mengatakan hal itu Presiden langsung keluar dari ruangan tempatku bermalam. Terlihat sekali kalau dia menghindar menjawab pertanyaanku.
Sekitar pukul sebelas siang aku sampai di rumahku. Dua hari aku pergi seperti sudah setahun. Ayah yang hanya sendiri dirumah sedangkah Leo sekolah, tampak senang dengan kepulanganku. Aku lelah dan memilih masuk kamarku dan meminta ijin pada ayah untuk tidak membantunya di rumah makan. Tanpa panjang lebar dia menyetujuinya. Aku baru saja berbaring ketika handphone-ku berbunyi. Ternyata Mia yang meneleponku.
"Lily, kau dimana sekarang? Cepat lihat acara televisi, mereka membahas Gary sekarang." Seru Mia.
Aku berlari keluar kamar dan menghidupkan televisi. Aku benar-benar terkejut melihat beberapa foto. Yang terdapat diriku bersama Gary yang di ambil secara diam-diam. Wajahku tampak jelas tetapi wajah Gary di samarkan. Itu sedikit bagus bagiku. Slide foto-foto itu berjalan dengan di bawahnya tertulis 'Pria Misterius Calon Pengantin Petra Mahendra'.
Kenapa Gary di libatkan juga? Ada apa ini? Aku terjatuh lemas di sofa. Aku tidak percaya kalau semua ini perbuatan Presiden. Dia benar-benar kejam.
Hampir satu jam aku terdiam di dalam kamar dengan meringkuk di atas ranjangku. Aku hanya diam saja tanpa memejamkan mataku. Mataku hanya tertuju pada satu arah. Aku bingung harus bagaimana lagi agar semua baik-baik saja. Ini benar-benar tidak adil bagi kami. Presiden kejam.
"Apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba Mia masuk ke kamarku. "Kenapa kau malah tidur di saat calon suamimu menyelesaikan permasalahan tentang Gary?"
Aku tidak mengerti dengan ucapan Mia. Ada apa dengan Petra?
"Saat ini Petra sedang konfirmasi tentang berita mengenai Gary. Sejak pagi berita tentang Gary menjadi topik utama. Kau tidak peduli ya?"
Mia menarikku bangun dan menyeretku ke depan televisi. Di dalam televisi terlihat Petra yang sedang duduk santai dengan mengucapkan kata-kata yang awalnya tidak aku mengerti. Aku tertinggal di awal sehingga tidak mengerti apa yang baru dia katakan. Dia terlihat santai seperti saat wawancara kemarin.
"Untuk apa aku khawatir? Pria itu calon kakak ipar tiriku. Ya, mereka terlihat dekat karena mereka masih satu ibu, mereka masih memiliki hubungan darah."
sampe ga bisa ingat nama klub sepakbola pun sama... selain susah memang ngerasa ga penting ngapalin namanya🤣🤣
Salah satu deretan novel berbobot bagiku. Penulisan, alur cerita, karakter semuanya luar biasa👏
Terimakasih sudah menyuguhkan cerita yg bagus ini. Tetap semangat Nell🤗💪