Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Ujian Pertama dari Si Kepala Batu
Pagi-pagi sekali, saat ayam jago tetangga baru mulai teriak-teriak membangunkan penduduk, bengkel Hidayat Bersaudara sudah riuh. Faris sudah duluan nongkrong di depan motor gede yang lagi dibongkar, tangannya lincah buka-pasang baut kayak mainan Lego. Guntur, dengan wajah masih sedikit ngantuk, sibuk menyapu lantai bengkel yang semalam penuh oli dan bekas serpihan besi. Ali, yang badannya paling kecil, kebagian tugas mengecek stok suku cadang di gudang mini mereka.
“Li, itu busi cadangan masih ada berapa biji? Yang standar sama yang racing pisahin ya!” teriak Faris dari balik motor, suaranya kalah sama deru motor matic tetangga yang lewat.
“Siap, Bang!” sahut Ali sambil ngitungin kardus-kardus kecil. Dia memang paling telaten kalau urusan ngitung-ngitung begini.
Bengkel mereka memang nggak gede-gede amat, cuma sepetak kecil di samping rumah. Tapi jangan salah, peralatan lumayan lengkap, dan soal kerjaan, Faris itu rajanya rapi. Setiap kunci ada tempatnya, setiap baut ada laci khususnya. Dia bilang, "Bengkel itu kayak otak kita, kalau berantakan, gimana mau mikir jernih?" Guntur sama Ali udah hafal banget sama ceramah Faris soal kerapian.
“Duh, ini mahirnya si Bang Faris doang. Aku sama Ali baru bisa ganti oli sama benerin ban bocor,” celetuk Guntur sambil ngelap mesin motor yang baru selesai diservis.
Faris ketawa renyah. “Pelan-pelan aja. Bapak dulu juga mulai dari nol. Yang penting niat sama mau belajar. Nanti kalau sudah jago, kan bisa bantuin abang buka cabang bengkel di kota sebelah, biar kita makin kaya raya!”
Obrolan mereka tiba-tiba terhenti saat sebuah mobil sedan hitam kinclong berhenti persis di depan bengkel. Dari dalamnya, keluar seorang pemuda tinggi, gaya rambutnya klimis, pakai kemeja rapi yang kerahnya diangkat, dan kacamatanya nangkring di hidung. Wajahnya songong abis, kayak baru nyaplok lemon sepuluh biji.
“Permisi,” sapanya dengan nada yang terkesan merendahkan. “Ini bengkel yang katanya jago banget benerin motor tua, ya?”
Faris menyeka tangannya yang belepotan oli dengan kain lap, lalu menatap tamunya. “Betul, Mas. Ada yang bisa dibantu?”
“Saya dengar-dengar kalian ini dulunya murid di SMA Negeri 1 Sidoarjo, tapi nggak lulus karena nggak sanggup bayar uang sekolah?” Pemuda itu menyeringai. “Dunia sempit juga ya. Kenalkan, saya Bima. Teman sekelas Guntur dan Ali.”
Guntur dan Ali langsung saling pandang. Bima, si anak konglomerat yang dulu di sekolah hobinya nyinyir sama mereka. Dulu Bima selalu jadi bahan omongan karena sering pamer mobil baru atau gadget paling canggih. Ternyata, dia kenal Faris dari omongan teman-temannya di sekolah dulu.
“Oh, Bima,” kata Guntur dingin. Dia nggak suka gaya Bima yang meremehkan.
“Santai, Gun. Nggak usah pasang muka cemberut gitu. Saya ke sini bukan mau ngajak berantem kok,” kata Bima sambil nyengir. “Saya cuma mau ngetes. Motor saya ini,” dia menunjuk sebuah motor sport mewah yang diangkut pakai truk derek di belakang mobilnya, “kemarin habis balap liar, mesinnya ngadat. Kata mekanik di bengkel langganan saya, ini sudah nggak bisa diperbaiki, harus ganti mesin baru, harganya mahal banget.”
Guntur dan Ali melirik ke arah motor sport itu. Jelas bukan motor sembarangan, mesinnya kompleks banget.
“Terus, Mas Bima ke sini mau apa?” tanya Faris, nadanya mulai sedikit kaku. Dia tahu betul tipe-tipe orang kayak Bima.
“Saya mau kalian perbaiki motor ini. Kalau kalian berhasil, saya bayar dua kali lipat dari harga ganti mesin baru. Tapi kalau gagal, saya mau kalian tutup bengkel ini selamanya. Gimana? Berani?” Bima menantang dengan senyum sinis.
Ali melotot. “Enak aja! Seenaknya nyuruh tutup bengkel! Ini kan mata pencarian kami!”
Guntur maju selangkah. “Kenapa harus kayak gitu, Bim? Kalau mau nyoba ya nyoba saja. Nggak usah pakai ancaman segala.”
Faris mengangkat tangannya, memberi isyarat agar adik-adiknya tenang. Dia menatap tajam ke arah Bima. “Oke, Mas Bima. Saya terima tantangannya. Tapi ada syaratnya.”
Bima mengernyitkan dahi. “Syarat? Apa lagi?”
“Kalau saya berhasil memperbaiki motor Mas Bima, dan Mas Bima bayar dua kali lipat, uang itu akan saya pakai untuk membangun rumah baca dan bengkel kecil buat anak-anak putus sekolah di kampung ini. Jadi mereka punya kesempatan belajar dan berkarya. Gimana? Setuju?” Faris balas menantang.
Wajah Bima berubah. Dia jelas tidak menyangka Faris akan membalas dengan tantangan seperti itu. Ini bukan lagi soal uang, tapi soal harga diri dan kepedulian sosial. Kalau dia menolak, dia akan terlihat sangat jahat.
Setelah beberapa saat terdiam, Bima akhirnya mengangguk. “Oke, kesepakatan. Saya setuju. Tapi ingat, kalau gagal, bengkel ini harus tutup.”
Faris tersenyum tipis. “Siap. Datang lagi seminggu dari sekarang, Mas Bima.”
Begitu Bima pergi, Guntur dan Ali langsung menghampiri Faris.
“Bang, kamu gila ya?! Kenapa diterima tantangannya? Kalau kita gagal gimana?” tanya Ali panik.
“Iya, Bang. Itu motornya Bima terkenal suka dioprek macem-macem. Aku dengar dari teman-teman yang lain, mesinnya itu sudah parah banget rusaknya,” tambah Guntur, khawatir.
Faris menepuk pundak kedua adiknya. “Dengar, kita nggak pernah tahu kemampuan kita kalau nggak pernah nyoba. Lagipula, ini bukan cuma soal motor rusak atau tantangan konyol si Bima. Ini soal harga diri kita, soal masa depan bengkel ini, dan soal membuktikan bahwa kita juga bisa sukses dengan cara kita sendiri. Percaya sama abang, kita pasti bisa.”
Kata-kata Faris membakar semangat Guntur dan Ali. Mereka tahu kakak mereka tidak pernah main-main. Meskipun tantangan ini berat, mereka akan menghadapinya bersama. Toh, ini bukan pertama kalinya mereka dihadapkan pada kesulitan. Hidup mereka memang sudah penuh perjuangan.
Setelah Bima dan mobil dereknya pergi membawa motor sport mewah itu masuk ke dalam bengkel, Faris langsung memanggil Guntur dan Ali. Wajahnya yang tadinya tenang, kini terlihat serius.
“Oke, ini motor bukan sembarangan. Mesinnya kompleks. Tapi kita punya waktu seminggu. Kita kerjakan bareng-bareng. Guntur, kamu catat semua kode mesin yang ada, cari tahu apa arti setiap kode eror yang muncul. Ali, kamu bantu abang bongkar mesinnya pelan-pelan. Kita harus tahu persis apa yang rusak dan bagaimana cara memperbaikinya,” perintah Faris.
Malam itu, bengkel Hidayat Bersaudara tidak seperti biasanya. Lampu pijar kecil menyinari seluruh sudut ruangan. Faris, Guntur, dan Ali sibuk membongkar motor sport Bima. Oli hitam kental, mur dan baut kecil, kabel-kabel yang kusut, semuanya bertebaran di meja kerja mereka. Aroma bensin dan oli memenuhi udara.
Guntur sibuk dengan laptop butut peninggalan Faris. Layar laptopnya menampilkan puluhan tab yang berisi forum-forum diskusi, video tutorial, hingga skema mesin motor sport. Dia mencoba mencocokkan setiap kode eror yang terbaca dari sistem injeksi motor dengan informasi yang ia temukan di internet.
“Bang, ini ada kode P0301. Artinya Cylinder 1 Misfire Detected,” lapor Guntur. “Kalau ini P0420, berarti Catalyst System Efficiency Below Threshold.”
Faris mengangguk-angguk sambil tangannya tetap lincah membongkar bagian kepala silinder. “Oke, kalau P0301 itu biasanya busi, koil, atau injektornya bermasalah di silinder satu. Nah, P0420 itu biasanya karena catalytic converter-nya yang sudah jelek atau sensor oksigennya kotor.”
Ali, yang bertugas membongkar, menghela napas. “Wah, banyak juga ya kerusakannya. Ini motor kayaknya udah disiksa habis-habisan sama si Bima.”
Hari pertama mereka habiskan hanya untuk menganalisis kerusakan. Hari kedua, mereka mulai mencari suku cadang pengganti. Ini bukan perkara mudah. Suku cadang motor sport mewah itu tentu saja tidak dijual di toko onderdil pinggir jalan. Faris harus menghubungi beberapa kenalannya di kota besar, bahkan harus memesan dari luar kota. Untungnya, Faris punya jaringan yang lumayan luas berkat reputasinya yang jago modifikasi motor.
Di sela-sela kesibukan di bengkel, Faris juga tidak melupakan janji pada kedua adiknya. Setiap sore, saat bengkel sepi, ia tetap meluangkan waktu untuk mengajari Guntur dan Ali.
“Lihat grafik saham ini,” kata Faris sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Guntur. “Naik turunnya harga itu bukan cuma soal untung rugi. Tapi juga soal psikologi pasar, soal berita yang beredar, dan soal bagaimana kita mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Mirip kayak kita benerin motor. Kalau ada masalah, jangan panik, jangan asal tebak, tapi cari akar masalahnya, baru ambil tindakan.”
Guntur mendengarkan dengan serius. Pelajaran dari Faris ini jauh lebih praktis dan terasa nyata dibanding pelajaran ekonomi di sekolah dulu yang cuma teori. Ali sendiri sibuk belajar teori mesin dari buku-buku lama milik Faris.
Memasuki hari kelima, motor sport Bima sudah setengah terpasang kembali. Faris bahkan harus memodifikasi sedikit bagian injektor dan sistem pengapian agar performanya maksimal. Ini bukan lagi sekadar memperbaiki, tapi menyempurnakan.
“Bang, kalau gini kan jadi lebih bagus dari aslinya,” komentar Guntur saat melihat Faris memasang busi baru yang kualitasnya lebih tinggi.
Faris tersenyum tipis. “Itu namanya sentuhan Hidayat Bersaudara. Kita nggak cuma benerin, tapi kita kasih jiwa ke setiap motor yang masuk ke sini.”
Namun, di tengah semangat mereka, masalah baru muncul. Sebuah komponen kecil yang sangat vital, yaitu sensor throttle position, ternyata rusak dan tidak ada stoknya di seluruh Surabaya. Faris sudah menelepon semua kenalannya, tapi hasilnya nihil. Kalau komponen ini tidak ada, motor tidak akan bisa berfungsi optimal.
Malam itu, wajah Faris terlihat murung. Ini kali pertama ia terlihat putus asa.
“Kenapa, Bang?” tanya Ali hati-hati.
“Sensor TPS-nya nggak ada. Nggak ada stok sama sekali. Kalau kita nggak bisa pasang ini, motornya nggak akan beres 100%. Dan itu berarti kita gagal,” jawab Faris dengan suara pelan.
Guntur dan Ali ikut terdiam. Kekhawatiran mulai merayapi hati mereka. Semangat yang tadinya membara, kini sedikit meredup. Ancaman Bima untuk menutup bengkel tiba-tiba terasa begitu nyata.
“Gimana kalau kita coba modifikasi, Bang?” usul Guntur tiba-tiba. “Dulu kan Abang pernah bilang, kalau ada komponen yang susah dicari, kita bisa coba akali dengan komponen lain, atau bikin sendiri.”
Faris mengangkat kepala. Matanya menatap Guntur, lalu beralih ke Ali. "Bikin sendiri? Itu butuh ketelitian tinggi, Gun. Resikonya besar."
“Tapi kan kita punya Abang, yang jago ngoprek mesin. Kita juga ada Ali yang teliti. Kenapa tidak dicoba saja?” sambung Ali, mencoba menyemangati kakaknya.
Melihat semangat kedua adiknya yang tidak padam, Faris akhirnya tersenyum. "Kalian benar. Kita tidak boleh menyerah begitu saja. Oke, kita coba modifikasi. Kita rakit sendiri sensor TPS-nya!"
Sisa waktu dua hari itu mereka habiskan untuk merakit sensor TPS manual. Faris membimbing, Guntur merangkai sirkuit elektronik kecil, dan Ali membantu menyolder komponen-komponen mikro dengan tangan gemetar. Ini adalah pertaruhan terbesar mereka, tidak hanya untuk bengkel, tapi juga untuk membuktikan bahwa Hidayat Bersaudara tidak akan pernah menyerah pada keadaan.