NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 - Awal Perjalanan yang Rumit

Keesokan paginya, matahari baru saja muncul di balik cakrawala ketika Cang Xuan dan Tuan Xin sudah berdiri di depan penginapan. Udara pagi terasa sejuk, sementara jalanan desa perlahan mulai dipenuhi para pedagang dan penduduk yang memulai aktivitas mereka seperti biasa.

Tuan Xin meregangkan tubuhnya sambil menguap lebar. Setelah tidur nyenyak semalaman, suasana hatinya terlihat cukup baik.

"Ahh... tidurku semalam sangat nyaman."

Ia kemudian menoleh ke arah Cang Xuan yang berdiri di sampingnya.

"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalanan."

Namun alih-alih langsung bergerak, Cang Xuan justru menggeleng pelan.

"Tunggu sebentar, Tuan Xin."

Alis lelaki tua itu langsung terangkat.

"Tunggu?" ulangnya bingung. "Memangnya ada apa lagi?"

Dengan nada santai, Cang Xuan menjawab, "Temanku akan ikut bersama kita. Mungkin sebentar lagi dia datang."

Mata Tuan Xin langsung menyipit.

"Teman?"

Entah kenapa, ia langsung memiliki firasat buruk.

"Jangan bilang gadis yang kau ceritakan kemarin?"

"Iya." Cang Xuan mengangguk tanpa menyadari perubahan ekspresi di wajahnya. "Namanya Ling Yue."

Begitu nama itu disebut, kelopak mata Tuan Xin langsung berkedut.

Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Cang Xuan sudah melanjutkan dengan semangat.

"Dia ingin ikut berpetualang bersama kita."

Lalu, seolah merasa informasi berikutnya akan membuat Tuan Xin tenang, ia menambahkan dengan bangga, "Dia juga seorang kultivator. Bahkan kultivasinya sudah mencapai Ranah Ling Yuan Bintang 2."

Mendengar itu, Tuan Xin hampir tersedak oleh ludahnya sendiri.

"Kenapa kau mengizinkannya ikut?!"

Suara lelaki tua itu terdengar jauh lebih keras daripada biasanya.

Cang Xuan langsung menatapnya dengan bingung.

"Lho?"

Menurutnya, reaksi itu terlalu berlebihan.

"Dia yang memaksa ikut."

Ia mengangkat bahu sebelum melanjutkan, "Lagipula dia jauh lebih kuat dariku. Jadi aku tidak melihat alasan untuk menolaknya."

Mendengar penjelasan tersebut, Tuan Xin hanya bisa memegang dahinya.

Jika orang lain mendengar percakapan itu, mereka mungkin akan menganggap reaksinya aneh. Namun hanya dirinya yang mengetahui alasan sebenarnya.

Ling Yue bukan sekadar seorang kultivator muda berbakat.

Dan itulah yang membuat semuanya menjadi masalah.

Sementara Cang Xuan masih berdiri dengan wajah polos tanpa memahami apa yang sedang dipikirkan lelaki tua itu, Tuan Xin diam-diam menghela napas panjang.

Dalam hati, ia mulai merasa bahwa perjalanan yang awalnya sederhana ini akan menjadi jauh lebih rumit daripada yang pernah dibayangkannya.

Tepat pada saat itu, sebuah suara yang terdengar familiar tiba-tiba datang dari arah jalan desa.

"Maaf membuat kalian menunggu."

Cang Xuan langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut. Ling Yue sedang berjalan mendekati mereka dengan langkah tenang. Hari itu ia mengenakan pakaian perjalanan berwarna biru muda yang terlihat sederhana namun elegan. Sebuah pedang tergantung di punggungnya, membuatnya tampak seperti seorang pengelana muda yang siap melakukan perjalanan jauh.

Melihat Ling Yue datang, wajah Cang Xuan langsung menunjukkan senyum tipis.

Namun reaksi Tuan Xin jauh berbeda.

Begitu matanya menangkap sosok gadis itu, tubuhnya langsung menegang.

Tanpa sadar, ia segera membalikkan badan dan membelakangi mereka.

Tingkah aneh tersebut tentu tidak luput dari perhatian Cang Xuan.

"Tuan Xin?"

"Hm?" jawab lelaki tua itu dengan suara yang sedikit kaku.

Cang Xuan mengernyit.

"Kenapa kau menghadap ke belakang?"

"Tidak ada apa-apa."

Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Akibatnya, Cang Xuan justru menjadi semakin bingung.

"Tapi tadi aku mau memperkenalkan Ling Yue kepadamu."

Mendengar kalimat itu, Tuan Xin hampir menangis dalam hati.

Perkenalkan?

Aku justru berharap dia tidak mengenaliku!

Sayangnya, ia tidak memiliki alasan yang masuk akal untuk terus menghindar. Jika terus membelakangi mereka, bahkan Cang Xuan yang polos sekalipun pasti akan curiga.

Pada akhirnya, ia hanya bisa menarik napas panjang.

"Baiklah..."

Sementara perlahan membalikkan badan, Tuan Xin terus berdoa dalam hati.

Semoga Putri Ling Yue sudah lupa wajahku.

Semoga dia lupa.

Semoga dia lupa.

Namun kenyataan tidak berjalan sesuai harapannya.

Begitu wajah Tuan Xin terlihat jelas, mata Ling Yue langsung membesar.

Tubuhnya membeku di tempat.

Ekspresinya berubah drastis.

Wajah lelaki tua itu terasa sangat familiar.

Terlalu familiar.

Berbagai ingatan dari masa lalu langsung muncul di benaknya dalam sekejap.

"Komand—"

Namun sebelum kata itu selesai keluar dari mulutnya, Tuan Xin tiba-tiba melangkah maju satu langkah.

Gerakannya sangat cepat dan alami sehingga Cang Xuan tidak menyadari apa pun.

Pada saat yang sama, ia diam-diam membuat sebuah isyarat dengan tangannya.

Isyarat yang hanya bisa dipahami oleh Ling Yue.

Diam.

Ling Yue langsung menutup mulutnya.

Meski begitu, keterkejutan di wajahnya masih terlihat jelas.

Sementara itu, Cang Xuan yang sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi hanya memandang Tuan Xin dan Ling Yue secara bergantian dengan ekspresi bingung. Reaksi keduanya terasa sangat aneh sejak mereka saling melihat beberapa saat yang lalu.

"Tuan Xin," tanyanya penasaran, "kau mengenal Ling Yue?"

Mendengar pertanyaan itu, Tuan Xin langsung tertawa canggung.

"Hahaha..."

Tawanya terdengar dipaksakan.

"Ya... sedikit."

Ia segera menganggukkan kepala seolah sedang mengingat sesuatu dari masa lalu.

"Aku pernah bertemu dengannya saat berkelana di berbagai benua. Kami sudah saling kenal sebelumnya."

Setelah mengatakan itu, ia langsung melirik ke arah Ling Yue.

"Benar, kan?"

Ling Yue masih berusaha menenangkan pikirannya yang kacau. Kemunculan Tuan Xin di Dunia Bawah sudah cukup mengejutkan, tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah fakta bahwa lelaki tua itu tampaknya sengaja menyembunyikan identitasnya dari Cang Xuan.

Meski masih syok, ia tetap memahami maksud isyarat yang diberikan sebelumnya.

Pada akhirnya, ia menganggukkan kepala.

"Iya."

Jawabannya terdengar jauh lebih tenang dibandingkan beberapa saat lalu.

"Itu benar."

Begitu mendengar konfirmasi dari keduanya, Cang Xuan langsung tersenyum puas.

"Baguslah."

Menurutnya, hal itu justru mempermudah keadaan.

"Kalau begitu tidak perlu perkenalan lagi karena kalian sudah saling kenal."

Tuan Xin membalas dengan senyum kaku yang terlihat lebih seperti orang yang sedang berusaha menyembunyikan masalah besar.

"Iya... benar sekali."

Sementara itu, Ling Yue masih diam-diam memperhatikan lelaki tua tersebut. Semakin lama ia melihatnya, semakin sulit baginya mempercayai apa yang ada di depan matanya.

Orang yang selama ini dihormati dan ditakuti oleh banyak pihak kini berdiri di pinggir jalan desa dengan pakaian lusuh, membawa kendi arak, dan berpura-pura menjadi pengembara tua biasa.

Pemandangan itu terasa begitu aneh hingga hampir membuatnya meragukan penglihatannya sendiri.

Namun meski pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan, Ling Yue tidak mengungkapkan satu pun di depan Cang Xuan.

Untuk saat ini, ia memutuskan mengikuti permainan Tuan Xin.

Sedangkan Cang Xuan yang tidak mengetahui rahasia apa pun tampak jauh lebih santai. Baginya, yang terpenting sekarang adalah perjalanan mereka dapat segera dimulai. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dua orang yang kini berdiri di sampingnya sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan.

End Chapter 17

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!