Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Datang Lagi
Bel pulang berbunyi.
Anak-anak berhamburan keluar kelas sambil membawa tas masing-masing. Kinan berdiri di depan pintu, mengucapkan salam kepada mereka satu per satu.
"Besok datang lebih pagi, ya."
"Iya, Bu Guru."
Tak lama kemudian halaman sekolah mulai lengang.
Kinan merapikan buku-buku di atas meja, lalu mengunci ruang kelas. Saat melangkah keluar gerbang, bayangan memar di pergelangan tangan Sasa kembali terlintas di benaknya.
Ia memilih berjalan melewati gang menuju kontrakan. Ketika sampai di depan rumah Sasa, langkahnya melambat.
Pintu rumah tertutup, tetapi tidak rapat. "Permisi..."
Tidak ada jawaban. Kinan hendak melanjutkan langkah ketika suara tangis anak kecil terdengar dari dalam.
"Pak... jangan..." Suara Sasa.
Disusul bentakan seorang pria. "Kubilang diam!"
Brak!
Seperti ada kursi yang terseret keras.
Kinan menatap pintu yang sedikit terbuka. Jemarinya mengepal.
"Permisi!" panggilnya sekali lagi, kali ini lebih keras. Tetap tidak ada jawaban. Tangis Sasa justru semakin menjadi. Tanpa berpikir panjang, Kinan mendorong pintu itu. Daun pintu terbuka perlahan.
Ruang tamu tampak berantakan. Sebuah gelas pecah di lantai. Kursi plastik tergeletak miring.
Di tengah ruangan, seorang pria bertubuh besar mencengkeram lengan perempuan yang berdiri melindungi Sasa di belakang tubuhnya.
Tamparan keras baru saja mendarat di pipi perempuan itu.
"Berhenti!" Suara Kinan menggema memenuhi ruangan.
Pria itu menoleh tajam. "Siapa kamu?"
"Saya gurunya Sasa."
Ruangan mendadak sunyi. Sasa mengangkat wajah. Begitu melihat Kinan, matanya langsung dipenuhi air mata. "Bu Guru..."
Anak itu berlari kecil menghampiri Kinan lalu bersembunyi di belakangnya.
Tatapan pria itu berpindah dari Sasa kepada Kinan. "Ini urusan keluarga saya."
Kinan tetap berdiri di tempat. "Kalau sudah sampai menyakiti istri dan anak, itu bukan lagi urusan keluarga semata."
Rahang pria itu mengeras. Tangannya mengepal pelan. Suasana di dalam rumah seketika berubah tegang.
Pria itu melepaskan lengan istrinya perlahan. Tatapannya tidak lepas dari wajah Kinan. "Guru, ya?"
Kinan tidak menjawab.
Pria itu meraih jaket yang tergantung di belakang pintu. "Kali ini kau beruntung." Kalimat itu bukan ditujukan kepada Kinan. Ia memandang istrinya.
"Nanti malam kita lanjutkan."
Sasa spontan memeluk ibunya lebih erat.
Pria itu melangkah keluar. Saat melewati Kinan, bahunya sengaja menyenggol bahu perempuan itu hingga bergeser setengah langkah.
Pintu ditarik keras.
Brak!
Kinan segera menghampiri. "Bu, saya antar lapor ke polisi."
Perempuan itu mendadak menggenggam lengan Kinan. Wajahnya pucat. "Jangan."
"Kenapa?"
Air mata kembali mengalir. "Kalau dia ditangkap... kami yang akan mati."
Sementara itu, Darwin baru saja selesai membereskan halaman belakang puskesmas.
Api kecil yang membakar tumpukan daun mulai mengecil. Ia menyiramnya dengan seember air, lalu meletakkan sapu lidi di sudut tembok.
"Darwin." Ia menoleh.
Darto berdiri di ambang pintu. "Ada pasien. Bantu angkat ke ruang tindakan." Darwin segera menghampiri.
Seorang lelaki paruh baya duduk membungkuk di kursi roda. Pelipisnya robek. Darah sudah mengering di sisi wajahnya.
"Jatuh dari motor?" tanya Darwin sambil membantu memindahkan pasien ke ranjang.
Lelaki itu belum sempat menjawab.
"Iya." Darto lebih dulu menyahut. "Katanya tergelincir."
Darwin melirik luka di pelipis pasien, lalu ke lebam di lengan kirinya. Bentuknya memanjang. Seperti bekas pukulan.
Saat Darto pergi mengambil peralatan, Darwin menunduk sedikit. "Pak... benar jatuh dari motor?"
Lelaki itu menghindari tatapannya. Beberapa detik berlalu. "Aku terpeleset." Jawabannya pelan.
Darwin tidak bertanya lagi. Namun ketika Darto kembali, ia berkata santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Di sini memang begitu."
"Maksudnya?"
"Kalau orang bilang jatuh, ya tulis saja jatuh."
Darwin menoleh. Darto menepuk bahunya pelan.
"Tak semua urusan perlu dicari tahu."
Darwin terdiam. Entah mengapa, kalimat itu mengingatkannya pada gang sempit di dekat kontrakan mereka.
Di desa ini...semua orang seperti sudah terbiasa menutup mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari mulai meninggi.
Pasien terakhir meninggalkan puskesmas. Darwin membantu menutup jendela ruang tindakan sebelum berpamitan.
"Saya pulang dulu, Mas."
Darto mengangguk tanpa mengalihkan pandangan. "Hati-hati."
Darwin berjalan keluar.
Sepanjang perjalanan menuju kontrakan, pikirannya masih dipenuhi wajah lelaki yang mengaku terpeleset itu. Jawabannya terdengar seperti hafalan. Seolah ada kalimat yang harus diucapkan setiap kali seseorang bertanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pintu kontrakan terbuka.
Kinan sedang duduk di kursi plastik dekat jendela. Segelas teh di atas meja hampir tak tersentuh.
"Kau sudah pulang." Darwin duduk di sampingnya. "Ada apa?"
Kinan mengangkat wajah. "Aku mampir ke rumah Sasa."
Darwin menyimak.
"Dia menangis." Kinan menceritakan semuanya. Tentang pintu yang tidak terkunci. Tentang ruang tamu yang berantakan. Tentang pria yang memukul istri di depan anaknya.
Darwin mendengarkan tanpa memotong. "Habis itu?"
"Ayahnya pergi."
"Ibunya?"
"Tak mau melapor."
Ruangan kembali hening. Darwin mengembuskan napas pelan. "Di puskesmas juga ada yang aneh."
Kini giliran Kinan yang mendengarkan.
Darwin menceritakan pasien yang penuh lebam, tetapi bersikeras mengaku hanya terpeleset. Ia juga menyampaikan ucapan Darto yang terus terngiang di kepalanya.
"Tak semua urusan perlu dicari tahu."
Kinan menunduk sejenak. "Lalu?"
"Entahlah." Darwin menyandarkan punggung ke kursi. "Aku merasa semua orang di desa ini menyembunyikan sesuatu."
Kinan memutar gelas di hadapannya perlahan.
"Bukan menyembunyikan." Darwin menatapnya.
"Mereka takut."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi datang seperti biasa. Anak-anak mulai memenuhi halaman TK.
"Selamat pagi, Bu Guru!"
"Pagi."
Kinan membalas senyum mereka satu per satu.
Bel masuk berbunyi. Anak-anak mulai berbaris.
Pandangan Kinan menyapu seluruh wajah muridnya. Dito. Naya. Rafi. Bangku Sasa kosong.
Kinan masih menunggu. Lima menit berlalu.
Sepuluh menit. Pintu kelas terbuka pelan.
Sasa berdiri di ambang pintu dengan kepala tertunduk.
"Masuk, Sasa."
Anak itu mengangguk kecil lalu berjalan menuju bangkunya. Saat melewati meja guru, langkahnya tiba-tiba terhenti. "Bu Guru..."
Kinan menoleh.
Sasa meremas tali tasnya. "Ibu... jangan datang ke rumahku lagi."
Kening Kinan berkerut. "Kenapa?"
Sasa menunduk semakin dalam. Bibirnya bergerak pelan, nyaris tak terdengar. "Ayah bilang..." Ia berhenti sejenak, seolah takut mengucapkannya. "...nanti Bu Guru ikut hilang."
Sasa segera berlari menuju bangkunya tanpa menunggu jawaban.
Kinan tetap berdiri. Anak-anak mulai menyanyikan lagu pembuka. Namun pandangan Kinan masih tertuju pada punggung kecil yang duduk membelakanginya.