NovelToon NovelToon
Nadia Anak Yang Diabaikan

Nadia Anak Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29 ciuman pertama

Nadia menggigit kain sekuat tenaga. Aldo menyiramkan air ke luka di betis Nadia. Tangannya gemetar saat membersihkan tanah dan kotoran yang menempel di sekitar luka itu. Sedikit demi sedikit, bagian yang terluka mulai terlihat jelas. Di sana masih ada butir peluru yang tertanam dan belum sampai menyentuh tulang.

Aldo menatap Nadia. Wajah gadis itu sudah pucat. Keringat mengucur deras di pelipis dan lehernya. Napasnya pendek-pendek menahan sakit. Dengan tangan yang masih bergetar, Aldo menyiramkan alkohol ke luka itu. Nadia langsung mengerang di balik kain yang digigitnya. Mendengar suara itu, Aldo makin gugup. Tangannya berhenti bergerak sejenak.

Nadia mengangkat kepala dan menatap Aldo tajam. Tatapan itu membuat Aldo semakin tegang. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan diri. Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, dia kembali bergerak. Dengan hati-hati, dia mencongkel peluru yang tertanam di betis Nadia. Tubuh Nadia mengejang beberapa kali. Tak lama kemudian, gadis itu kehilangan kesadaran.

“Nadia... Nadia...” suara Aldo bergetar.

Dadanya berdegup sangat kencang. Napasnya berantakan. Namun dia masih ingat pesan Nadia agar tidak panik dalam keadaan apa pun.

Aldo kembali menyiram luka itu dengan alkohol. Setelah itu, dia membalutnya menggunakan kain kasa dan mengikatnya sekuat mungkin agar pendarahannya berhenti. Ransel digendong di depan tubuhnya, sementara Nadia digendong di punggungnya.

“Nad, gua mohon... lu bertahan, Nad.”

Tubuh Aldo ikut gemetar karena kelelahan dan rasa sakit. Beberapa kali langkahnya oleng hampir membuat mereka jatuh. Setelah perjuangan panjang, akhirnya dia sampai di dekat air terjun. Setiap kali melirik ke arah air yang jatuh dari tebing itu, bayangan tengkorak manusia di dalam gua kembali muncul di kepalanya hingga bulu kuduknya meremang.

Dia membaringkan Nadia di dekat semak-semak, lalu turun ke sungai kecil yang airnya jernih. Pemandangannya indah, tapi Aldo sama sekali tidak bisa menikmatinya. Kondisi Nadia dan isi gua itu masih membuatnya ketakutan.

Walaupun takut, dia tidak bisa melupakan pesan Nadia.

“Kalau gua pingsan, bawa gue ke sumber air.”

Perut Aldo akhirnya terasa sangat lapar. Sejak tadi dia terus bergerak tanpa sempat memikirkan dirinya sendiri. Dia mengambil  beberapa jambu hutan. Buah itu rasanya aneh, manis bercampur asam, tapi cukup mengganjal perut yang sejak siang kosong. Aldo memakannya sampai kenyang, lalu meneguk air sungai yang jernih untuk menghilangkan dahaga.

Setelah tenaganya sedikit pulih, dia mulai bekerja lagi. Aldo mengambil beberapa lembar daun pisang besar, lalu membabat semak-semak di sekitar tempat itu menggunakan pisau komando. Begitu area itu cukup bersih, dia mengumpulkan daun-daun kering dan menumpuknya di atas tanah. Daun pisang kemudian dibentangkan di atas tumpukan itu sebagai alas. Setelah semuanya siap, dia mengangkat tubuh Nadia dengan hati-hati dan membaringkannya di sana.

Hari terus berjalan menuju sore. Langit mulai berubah jingga. Aldo berkeliling mencari ranting-ranting dan kayu kering. Malam ini dia harus membuat perapian. Setelah merasa kayu bakarnya cukup, dia mencari beberapa batang kayu yang agak besar untuk dijadikan tempat istirahat sederhana bisa melindungi hujan.

“Nad, please... malam ini lu sadar, ya. Nad, gua takut, Nad,” bisik Aldo pelan sambil menatap wajah Nadia yang masih pucat.

Tak lama kemudian malam benar-benar datang. Kegelapan mulai menyelimuti hutan. Api yang sudah dinyalakan sejak sore menari-nari diterpa angin. Bagi Aldo, malam ini terasa seperti ujian paling berat. Dia harus menunggu Nadia sadar di tempat yang bahkan membuatnya takut untuk sekadar menoleh. Sesekali pandangannya melayang ke arah air terjun. Bayangan tengkorak manusia yang pernah dilihatnya kembali muncul di kepala. Bulu kuduknya langsung berdiri.

Malam semakin larut. Aldo sama sekali tidak tidur. Dia terus menjaga api agar tidak padam. Setiap kali rasa kantuk datang, dia memaksa dirinya bangun dan mencari kayu bakar tambahan. Suara hutan yang tadinya samar kini terdengar semakin jelas.

Menjelang tengah malam, suasana menjadi jauh lebih mencekam. Sesekali terdengar lolongan anjing dari kejauhan dan sahutan burung hantu dari balik pepohonan. Seolah belum cukup menakutkan, gerimis mulai turun perlahan. Aldo langsung panik. Dia buru-buru menambahkan kayu ke dalam api, takut perapian itu mati.

Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba terdengar suara rintihan pelan dari arah tempat Nadia berbaring.

Aldo langsung menoleh.

“Nad?”

Dia berlari mendekat. Tubuh Nadia terlihat menggigil hebat. Bahunya bergetar tanpa henti, sementara napasnya terdengar berat dan tidak beraturan. Aldo segera menyentuh dahinya.

“Astaga, panas sekali,” gumamnya.

Jantung Aldo langsung berdegup makin kencang. Pikirannya kacau. Tangannya gemetar tanpa bisa dikendalikan. Dengan frustrasi dia menjambak rambutnya sendiri.

“Seharusnya gue lebih sering kemping, biar gue nggak panik kayak gini.”

Tubuh Nadia semakin menggigil. Giginya bergemeletuk. Tak lama kemudian tubuhnya mengejang dan kedua tangannya memeluk dirinya sendiri seolah sedang berusaha mengusir dingin yang menusuk sampai ke tulang.

“Arghhhh...”

Aldo menelan ludah. Dia memandangi Nadia beberapa saat sebelum akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang menurutnya paling masuk akal.

“Dia kedinginan.”

Dia bergerak mendekat, lalu berhenti lagi. Wajahnya terlihat ragu. Dalam keadaan sadar saja Nadia sering memukul dan memakinya. Apalagi kalau nanti gadis itu bangun dan mendapati dirinya dipeluk. Bisa-bisa dia dituduh macam-macam.

“Gue bakal mati dibunuh dia kalau salah paham,” gumam Aldo pelan.

Namun melihat tubuh Nadia yang terus menggigil, dia tahu tidak punya banyak pilihan. Dengan napas berat, Aldo akhirnya duduk di samping Nadia lalu memeluknya erat. Sangat erat.

Beberapa detik kemudian sesuatu yang tidak dia duga terjadi.

Nadia balas memeluknya.

Bukan sekadar memeluk. Kedua tangan dan kakinya langsung melilit tubuh Aldo seperti gurita yang menemukan batang kayu di tengah lautan. Aldo sampai membelalakkan mata.

“Ya ampun...”

Jantungnya berdetak semakin keras. Aroma rambut Nadia yang terkena embun dan asap kayu bakar samar-samar tercium. Wajah Aldo memanas, tetapi dia memaksa dirinya tetap fokus.

“Nadia... bangun. Nadia, jangan bikin gue susah,” gumamnya.

Perlahan tubuh Nadia tak lagi mengejang. Napasnya mulai teratur. Namun tangan dan kakinya masih mengunci tubuh Aldo begitu kuat sampai dia merasa sesak.

Aldo sebenarnya ingin melepaskan diri, tetapi tenaganya sudah habis. Sejak terjun dari tebing, dia belum beristirahat sama sekali. Kelopak matanya terasa berat. Akhirnya dia menyerah pada rasa lelah dan tertidur.

Malam berlalu tanpa mereka sadari. Dua remaja yang biasanya saling berdebat dan adu keras kepala itu kini tertidur berdampingan di tengah hutan, tanpa sadar saling menjaga satu sama lain.

Saat pagi tiba, cahaya matahari mulai menembus sela pepohonan. Burung-burung berkicau bersahutan. Suara air terjun terdengar tenang. Embun pagi yang dingin menyentuh wajah Nadia.

Nadia mengerjapkan mata perlahan. Kesadarannya mulai pulih.

Lalu dia menyadari sesuatu.

Posisinya sangat ambigu.

“Brengsek!”

Dorongan keras dari kedua tangannya membuat tubuh Aldo bergeser dan hampir terguling dari alas daun.

Aldo langsung terbangun.

“Brengsek,” ucapnya kesal sambil memegangi punggung.

“Lu yang brengsek. Kenapa lu cari kesempatan?” bentak Nadia dengan nada tegas.

Aldo bangkit lalu duduk sambil mengucek mata.

“Emang lu ya. Dasar kadang-kadang. Main marah aja sama gue. Lu inget nggak pertama kali lu sadar posisi lu kayak apa?” tanya Aldo.

Nadia terdiam. Ingatannya perlahan kembali. Dia menatap Aldo beberapa saat dengan tatapan curiga.

“Lu nggak ngapa-ngapain gue, kan?” tanyanya.

“Lu demam, panas banget, kejang-kejang. Gue peluk lu biar hangat. Terus yang terjadi, lu ngunci badan gue kayak pegulat profesional,” jelas Aldo.

Nadia menunduk melihat betisnya yang masih dibalut kain.

“Ini efek luka,” gumamnya pelan.

Beberapa detik suasana menjadi canggung. Nadia menghela napas panjang, lalu menggaruk pipinya yang terasa panas.

“Ya... maafin gue.

1
Suanti
semoga aja nadia dan aldo selamat ada yg tolong biar bisa kembali kermh buat balas dendam 🤭
Anonim
Bales nadia jangan kalah,lawan si rina n the genk tuh
Anonim
Hati hati nadia,jaga nadia thor
Anonim
Kurang ajar si rangga ni bukan nya kasih tahu yg sebenar nya ke nadia,ayo nadia balas mereka semua suatu saat💪
adelina rossa
jelas nih nadia anaknya rangga sama selingkuhanya ...
Anonim
Ayo semangat nadia,semoga aldo bantuin nadia bisa ikut olimpiade y thor😍
Anonim
Si rini goblok ,bukan nya kasian sama nadia ade nya malah ngatain bikin malu,buat nadia cepet keluar dari rumah itu thor buat nadia bersinar 😍
siswati etty
semangat terus Nadia .....keren
libas saja mereka si pecundang
Anonim
Gila,,nadia keren aku suka aku suka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!