Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16
Pagi harinya....
Kakek jun yang sudah terbangun langsung melihat ke sekeliling rumah nya Ali. disini ternyata udara nya begitu adem, dan bahkan sejuk. Desa ini masih sangat asri, dan jauh dari polusi udara.
"Loh sudah bangun kamu mas." kata ratna yang sedang membuat singkong gula merah yang di bungkus daun pisang. rencana nya hari ini, dia akan menjual nya keliling. Ini adalah hari pertama nya usaha. semoga dengan ini, bisa membeli beras dan telur saat pulang nanti.
"Kamu sedang ngapain dek?" kata dewa yang menatap heran ke arah istri nya yang seperti nya sedang sibuk mengusap daun pisang itu, agar lebih bersih.
"Rencana nya hari ini aku mau jualan lagi mas, buat kue tradisional lagi. Doain semoga laku ya mas."
"Kalau begitu, biar mas bantuan ya dek.". Kata dewa dengan penuh semangat.
"Boleh mas, tinggal kamu masukan aja gula merah nya di dalam singkong itu."
"Iya dek."
Kedua nya sama sama bekerja sama, bahkan sesekali dewa melontarkan candaan untuk sang istri tercinta. Pagi ini adalah awal yang baik, untuk membuat usaha bersama dengan sang istri. Dia begitu senang membantu istrinya itu, Ratna benar benar kreatif dalam menjalankan usaha nya. semoga dengan menjual singkong gula merah ini, dia bisa membeli beras untuk anak anak nya makan.
kebetulan sekali, kebun di belakang rumah nya itu, begitu banyak singkong yang siap di panen. Rencana nya, nanti sore dewa akan mencabut beberapa pohon, untuk di jual ke rumah tetangga nya.
"ayah, ibu. Ali bantuin ya."
"Loh, kamu Kok cepat banget bangun nya nak. udah sholat subuh belum?
"sudah Bu, Ali sudah sholat. Dan ga bisa tidur lagi. Ali bantuin ya Bu." katanya lagi saat mata nya berbinar melihat kue kue ibu nya itu.
"Yaudah....tolong kamu lipat seperti ini, dan bentuk dengan baik ya nak. Kue ini untuk di jual soal nya."
"Siap ibu ku sayang."
Dari arah dapur kakek jun melihat ke arah keluarga kecil dengan wajah terharu. Dia bisa melihat kekompakan keluarga kecil ini dalam mencari uang.
"Aku benar benar salut dengan keluarga nak dewa." gumam nya sambil tersenyum tipis.
Tak lama Dinda sudah siap dengan seragam sekolah nya. Dia langsung menghampiri ibu dan ayah nya di dapur.
"Wah, anak ibu sudah cantik sekali. Sini nduk cobain kue buatan ibu. Ini untuk di jual nanti."
"wah, ibu buat kue. Dinda mau Bu. Dinda mau nyobain. Soalnya kue buatan ibu pasti enak".
"Ingat jangan sampe kena seragam sekolah nya ya nduk, makan nya pelan pelan aja. Kakek jun mana udah bangun belum nduk?"
"Sudah Bu. Tadi Dinda liat kakek sedang duduk di teras depan."
"Bu Ali liat kakek dulu ya. Ali takut kakek jalan ke desa dan lupa jalan nanti nya."
"Iya nak, kamu liat kakek dulu. Biar ibu yang meneruskan pekerjaannya."
Ali langsung menghampiri kakek jun, dia takut kakek Juna akan berjalan jauh lagi.
"Kakek." panggil nya dengan membawa beberapa kue buatan ibu nya itu.
"Kakek, jangan jalan jalan sendiri ya. nanti kakek tersesat lagi. Nanti kalau kakek mau jalan jalan, biar Ali dan Dinda temani. Oh ya, kakek harus coba kue buatan ibu ku. Ini sangat enak sekali. Ayo kakek cobain."
"Iya nak, kakek ga akan jalan sendirian. terima kasih ya. kakek ga sabar untuk mencoba kue buatan ibu mu ini."
Tak lama kemudian, dinda datang dengan membawa sepatu nya Ali. Dia akan pergi ke sekolah hari ini.
"Dek hari ini kakak masuk pagi jam 8. Karena mau belajar bersama Bu Lusi. Nanti kalau kamu sudah pulang sekolah, kamu langsung ke kelas kakak aja ya. Antar sepatu nya di sana aja."
"Jadi kakak nanti pake apa ke sekolah nya?" kata Dinda yang tampak sendu.
"Kakak pakai sendal jepit ini saja. Jangan khawatir. Nanti kakak cari alasan kepada Bu guru."
Deg..... Dari dalam rumah dewa tak sengaja mendengar percakapan kedua anak nya. Begitu juga kakek jun yang tertegun melihat kedua anak nya dewa.