NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. Candu yang Membakar

Deru mesin mobil mewah Damian membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang setelah diguyur gerimis. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, keheningan yang tebal kembali menyelimuti sepasang suami istri itu. Damian mencengkeram setir dengan satu tangan, sementara tangan kirinya bertumpu pada rahangnya yang tegas. Sepasang netra elangnya sesekali melirik ke arah Valerian yang duduk diam menatap keluar jendela.

Pikiran Damian masih dipenuhi oleh kejadian di restoran privat tadi. Pesona, ketenangan, dan kecerdasan yang ditunjukkan Valerian di depan Sang Menteri benar-benar menjungkirbalikkan penilaiannya selama dua tahun pernikahan ini. Istri yang biasanya selalu menunduk ketakutan dan pasif, malam ini bertransformasi menjadi sosok wanita yang begitu seksi lewat untaian kata-kata bisnisnya yang jenius.

"Dari mana kau belajar menganalisis risiko makroekonomi dan regulasi amdal sejauh itu, Valerian?" tanya Damian memecah keheningan, suaranya bariton, berat, dan sarat akan selidik yang tajam.

Valerian tidak menoleh. Ia meremas tas jinjingnya di atas pangkuan, mencoba menyembunyikan debaran jantungnya yang kembali menggila. Sentuhan rahasia dari kaki Aksa di bawah meja tadi masih menyisakan sensasi hangat yang intens di sekujur tubuhnya.

"Aku hanya sering membaca jurnal bisnis milik Ayah yang tertinggal di rumah, Damian," jawab Valerian selembut mungkin, menggunakan alibi tentang bisnis orang tuanya sebagai tameng penyamaran yang paling aman. "Aku hanya ingin membantumu di depan Sang Menteri agar proposal Wardhana Group tidak ditolak mentah-mentah."

Jawaban itu terdengar begitu logis di telinga Damian. Seringai tipis yang penuh keangkuhan perlahan terukir di wajah tampannya. Kepuasan sebagai seorang penguasa kembali memenuhi egonya. "Kau melakukan tugasmu dengan sangat baik malam ini, Valerian. Dan sesuai janjimu sebelum kita pergi tadi... malam ini kau harus melayanimu seutuhnya tanpa ada alasan lagi."

Valerian menelan ludahnya yang terasa kesat. Janji yang ia gunakan untuk mengulur waktu sore tadi kini telah menagih haknya. Ia tahu, malam ini ia tidak akan bisa lolos lagi dari cengkeraman suaminya yang sah.

Begitu mereka menapakkan kaki di aula utama kediaman Wardhana, suasana rumah sudah teramat sepi. Tuan Bagian dan Nyonya Zen tampaknya sudah beristirahat di lantai atas. Namun, saat Valerian melangkah menaiki anak tangga menuju kamar utama, sepasang mata gelap dari arah kegelapan koridor kamar sebelah menatapnya dengan kilat amarah dan kecemburuan kuadrat yang teramat pekat.

Aksa berdiri di sana, bersandar pada pilar kayu dengan kemeja hitam yang kancing atasnya telah terbuka. Pria itu baru saja tiba beberapa menit lebih awal dari mereka. Sisi protektif dan keposesifannya yang gelap meronta hebat melihat Damian kembali merangkul pinggang ramping Valerian dengan begitu posesif masuk ke dalam kamar utama.

Brak.

Pintu kamar utama ditutup dan dikunci dari dalam.

Damian langsung menanggalkan jas hitamnya, melemparkannya ke atas sofa beludru, lalu berbalik menatap Valerian dengan tatapan mata yang menggelap oleh dahaga gairah murni.

"Kemari, Valerian," perintah Damian dengan suara parau yang penuh dengan tuntutan yang merendahkan kebebasan istrinya.

Valerian memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan seluruh sisa keberanian dan kepasrahannya. Ia melangkah mendekat,

Dengan gerakan yang sengaja dibuat menggoda, Valerian merapatkan tubuh rampingnya ke dada bidang Damian, mengusap rahang tegas suaminya, lalu membungkam bibir Damian dengan ciuman yang menuntut dan liar. Damian kehilangan seluruh pertahanannya seketika. Gairah purba di dalam dirinya meledak sepenuhnya. Ia mengangkat tubuh Valerian, mengempaskannya ke atas ranjang besar, dan langsung mengukungnya di bawah tubuh jangkungnya.

Penyatuan yang panas, cepat, dan membara kembali tercipta di bawah temaramnya lampu kamar utama. Di dalam pergulatan yang kian intens itu, suara desahan yang teramat intim dan penuh kepasrahan pun kembali pecah, memecah kesunyian malam.

"Ahhh... ugh... umm, Damian... masukkan..." desis Valerian parau, mendongakkan kepalanya dengan napas yang terengah-engah saat gairah semu itu membakar seluruh kesadarannya.

Ego maskulin Damian terpuaskan seutuhnya mendengar namanya disebut dalam desahan yang begitu seksi. Ia bergerak semakin dalam, menolak untuk berhenti, menuntut kehangatan nyata dari istrinya yang sah tanpa tahu bahwa setiap desahan itu kembali menjadi belati panas yang menghujam jantung pria di kamar sebelah.

Melalui celah dinding kaca balkon yang terhubung langsung, setiap suara kecupan yang basah, derit ranjang yang ritmis, hingga suara desahan "Ahhh... ugh... umm, Damian..." terdengar menembus keheningan kamarnya dengan sangat jelas.

Sisi protektifnya berteriak untuk menghancurkan pintu itu sekarang juga, namun logikanya langkah nekatnya. Nikmati kemenanganmu malam ini, Damian.

Keesokan paginya, Valerian terbangun dengan tubuh yang teramat lelah dan pegal. Damian telah berangkat ke kantor sejak fajar demi mengurus akuisisi lahan yang disarankan Valerian semalam. Dengan sisa energinya, Valerian bersiap untuk menghadiri pertemuan hari kedua bersama Aksa di kantor rahasia Sudirman.

Siang itu, di dalam ruang rapat privat lantai tiga puluh, suasana berubah menjadi sangat intens. Aksa membimbing Valerian dengan ketegasan seorang mentor yang profesional, namun sepasang netra gelapnya tidak bisa menyembunyikan kilat cemburu dan luka dari malam tadi.

Saat mereka sedang memeriksa dokumen penandatanganan aset dengan beberapa investor asing, Valerian menunjukkan kemampuan bernegosiasinya yang luar biasa cerdas, membuat para investor tanpa ragu menandatangani kontrak kerja sama senilai ratusan miliar di bawah nama V-Property Group. Aset mandiri yang diimpikan Valerian untuk menegakkan keluarganya kini telah resmi berada di dalam genggamannya.

Setelah para investor keluar, keheningan kembali mengunci Aksa dan Valerian di dalam ruangan kerja yang luas itu.

Valerian berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap pemandangan kota dengan helaan napas lega. "Kita berhasil, Aksa. Aset ini... sudah cukup untuk mengamankan posisi perusahaan Ayah jika suatu saat aku benar-benar berpisah dengan Damian."

Aksa melangkah mendekat dari belakang, memotong jarak di antara mereka hingga tidak ada lagi celah. Tanpa aba-aba, lengan kekarnya merengkuh pinggang ramping Valerian dari belakang, menariknya mundur hingga punggung seksi Valerian menempel erat pada dada bidangnya yang hangat. Kehangatan intens yang terlarang seketika kembali membakar udara di sekitar mereka.

Aksa menundukkan kepalanya, menghirup aroma ceri dari leher jenjang Valerian dengan gairah posesif yang teramat dalam dan lapar. "Kau sangat hebat hari ini, ratuku," bisik Aksa parau, suaranya yang berat bergetar oleh emosi yang tertahan. "Tapi suara desahanmu semalam... terus terngiang di kepalaku dan membuatku hampir gila di kamar sebelah, Valerian."

Valerian tercekat, tubuhnya bergetar hebat saat jemari jangkung Aksa perlahan merayap naik, memutar tubuhnya agar menghadap langsung ke arah sepasang netra gelap pria itu. Sisi humoris Aksa telah lenyap seutuhnya, digantikan oleh tatapan seorang predator yang menuntut balasan atas siksaan semalam.

"Aksa, jangan di sini..." bisik Valerian lirih, mencoba menahan dada Aksa meski hatinya sendiri telah pasrah sepenuhnya pada pesona terlarang pria di hadapannya.

"Aku tidak peduli lagi, Valerian," desis Aksa parau, langsung membungkam bibir Valerian dengan ciuman yang teramat dalam, liar, dan penuh tuntutan kepemilikan yang mutlak. Aksa menciumnya dengan keposesifan yang gelap, meraba lekuk tubuh seksi Valerian di balik blazernya, melampiaskan seluruh rasa cemburu kuadrat yang membakarnya sepanjang malam tadi. Valerian melenguh tinggi, kembali tenggelam dalam pusaran dosa manis bersama sang adik ipar di dalam ruang kerja yang terkunci rapat itu.

Namun, di saat mereka sedang terbuai dalam kemesraan terlarang yang membara, di luar gedung perkantoran Sudirman, sebuah mobil sedan hitam berhenti tajam di area lobi.

Clarissa Narendra melangkah keluar dengan senyuman licik yang teramat mematikan di wajah cantiknya. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet yang terhubung langsung dengan kamera pengawas rahasia yang berhasil dipasangnya secara ilegal di dalam ruang rapat privat Aksa melalui bantuan salah satu orang dalam yang berkhianat.

Clarissa menatap layar tablet tersebut, di mana video rekaman langsung memperlihatkan dengan sangat jelas adegan kemesraan intim dan ciuman panas antara Aksa dan kakak iparnya sendiri, Valerian, di dalam ruangan yang terkunci.

"Akhirnya... aku mendapatkan bukti rekaman video fisik kalian berdua," bisik Clarissa dengan tawa sinis yang penuh kemenangan dan racun yang siap meledakkan bom waktu paling menghancurkan. "Mari kita lihat, apakah Damian masih akan membantah fakta bahwa istrinya telah menjadi pelacur di bawah selangkangan adiknya sendiri!"

Clarissa langsung menekan tombol kirim, mengirimkan file video rekaman panas tersebut langsung ke nomor ponsel pribadi Damian yang saat itu sedang memimpin rapat pleno bersama dewan komisaris besar Wardhana Group!

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!