Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpampang Di Depan Mata
Xena sudah sampai di kota Kelapa Muda, kawasan Es Campur. Ia hendak berkunjung ke rumah seorang teman lama seperti di telepon kemarin. Ia memegang HP lalu celingak-celinguk mencari nomor rumah yang tertera di sana. Langkahnya terhenti di sebuah persimpangan sepi.
Beberapa saat kemudian, dari kejauhan matanya bersirobok dengan kedatangan sebuah mobil yang tampak tak asing. Mobil itu berbelok dan berhenti tepat di depan pekarangan sebuah rumah bernuansa asri. Jantung Xena mencelos. Ia mempertajam pandangannya, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.
Iya, itu benar. Nomor platnya pun sama persis. Itu mobil suaminya, Reyhan. Sedang apa Reyhan disini? Jantung Xena berdebar, jangan-jangan omongan Mirna sang ibu mertua benar.
Alih-alih memanggil, Xena justru memundurkan langkah, bersembunyi di balik rindangnya pohon dan mulai mengintai ke arah sana dengan napas yang tertahan.
Pintu kemudi terbuka. Keluarlah Reyhan, suaminya yang pamit untuk urusan pekerjaan luar kota. Tak lama kemudian, pintu penumpang sebelah kiri terbuka. Sosok wanita keluar dari sana. Itu Nadine. Wanita yang dulu merupakan tetangga dekat mereka.
Namun bukan hanya kehadiran Nadine yang membuat dunia Xena seolah runtuh, melainkan apa yang ada di dekapan wanita itu. Nadine tengah menggendong seorang bayi yang tampaknya baru lahir.
Pemandangan berikutnya mencabik-cabik dada Xena. Reyhan dengan sangat gercep langsung mengambil alih bayi tersebut dari gendongan Nadine. Wajah suaminya begitu sumringah. Mereka berdua berdiri di halaman rumah saling melempar senyam-senyum bahagia, layaknya sepasang orang tua baru yang sedang menyambut malaikat kecil mereka.
Xena terpaku di tempatnya berdiri. Kakinya terasa seperti tertanam ke dalam beton. Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, menahan jeritan tak percaya yang nyaris lolos dari tenggorokannya. Air mata kekecewaan mulai menggenang di pelupuk mata.
Jadi benar apa yang dikatakan Bu Mertua kemarin.
Sambil terus memperhatikan interaksi manis di depan sana, luka di hati Xena berubah menjadi bahan bakar keberanian. Dengan langkah sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara, dia pun melangkah mendekat menuju rumah tersebut.
Xena kini sudah berada di jarak yang cukup dekat, menyelinap di antara tanaman hias di samping rumah. Eksistensinya sama sekali belum diketahui oleh Reyhan maupun Nadine yang sudah masuk ke dalam ruang tamu.
Di balik jendela kaca yang sedikit terbuka, Xena mengintai mereka dalam diam. Dadanya sesak namun ia usahakan untuk tetap berdiri tegar. Ia mengendalikan emosinya agar tidak bertindak gegabah terlebih dahulu. Ia ingin mendengar semuanya. Ia ingin tahu seberapa jauh ia telah dibodohi.
"Mas Reyhan, kamu berapa lama lagi tinggal di sini?" tanya Nadine. Wanita itu duduk di samping Reyhan di atas sofa dengan anggun.
"Besok aku harus kembali ke rumah," jawab Reyhan sambil menimang bayi di pelukannya. "Aku tidak mau meninggalkan Xena terlalu lama. Bagaimanapun juga, aku harus pintar membagi perhatianku padanya agar dia tidak menaruh curiga."
Nadine tersenyum tipis. Ia bergeser mendekat ke arah Reyhan, mengelus lembut kepala sang bayi yang masih nyaman di dalam gendongan suaminya dengan tatapan penuh sayang.
"Nadine, bayi ini pekan depan akan kubawa kepada Xena," kata Reyhan tiba-tiba, membuat Xena di luar jendela menahan napas. "Aku akan bilang kalau ini anak adopsi. Jika kau mau menemaninya barang sebentar di sana, aku bisa atur skenarionya."
"Baik, Mas. Tapi nanti aku kabarkan lagi jika aku menyusul ke sana. Pasti aku akan rindu sekali dengan anak kita jika baru sebentar saja ditinggal olehnya."
"Baiklah. Tapi Nadine, mulai sekarang kau harus belajar untuk melupakanku sebagai seorang suami. Suatu saat nanti aku akan mengakhiri hubungan pernikahan kita ini. Jika kau rindu pada anak kita, datang saja ke rumahku nanti, anggap saja sebagai silaturahmi antar tetangga lama. Bagaimana pun, kau tetap ibu kandungnya, meskipun nanti aku akan membuat anak ini secara sah menjadi anakku bersama Xena. Jangan khawatir, aku tetap akan membiayai seluruh kebutuhan hidupmu sebagai kompensasi."
Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi. batin Nadine.
"Mas," Nadine tiba-tiba menggenggam erat tangan Reyhan. "Kalau aku boleh meminta, tolong jangan diakhiri hubungan kita. Aku tidak masalah jika harus hidup berjauhan seperti ini, asalkan statusku tetap sebagai istrimu."
"Tapi aku tidak mau pisah dengan Xena, Nadine. Aku tidak mau kehilangannya. Hal rahasia seperti ini, jika dibiarkan terlalu lama, pasti lambat laun akan tercium juga olehnya," sahut Reyhan ragu.
Nadine mengusap lengan Reyhan. "Mas, aku tahu kau sangat menyayangi Mbak Xena, dan aku sama sekali tidak berniat menghalangi atau merusak itu. Aku hanya ingin kita tetap seperti ini saja, tak putus hubungan. Aku janji, Mas, aku akan menjadi istri kedua yang penurut dan tidak akan banyak menuntut bagimu."
"Lalu... bagaimana jika sampai ketahuan oleh Xena?" tanya Reyhan, pertahanannya mulai goyah.
Nadine menjawab dengan keyakinan penuh, "Kita bikin Mbak Xena tidak pernah tahu. Selamanya."
Reyhan terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangannya pada bayi mungil yang sedang tertidur pulas di pelukannya, lalu beralih pada wajah manis Nadine.
Otaknya mulai menimbang-nimbang. Pikirannya berkata bahwa tidak ada salahnya jika ia tidak menceraikan Nadine. Toh, selama ini Nadine selalu penurut dan bisa diajak berkompromi dalam menyembunyikan rahasia ini.
Akhirnya Reyhan mengangguk pelan sambil tersenyum setuju. "Kau benar. Kita jalani saja seperti ini."
Di luar jendela Xena menyudahi rekaman pengintaiannya. Ia tidak sanggup lagi mendengar kelanjutan sandiwara menjijikkan itu. Ia melangkah mundur meninggalkan rumah itu dengan dada yang bergemuruh.
Xena mengepalkan kedua tangannya. Ia merasa sangat bodoh. Rasa kecewa yang amat dalam menghujam jantungnya. Padahal selama ini ia sudah mengorbankan begitu banyak hal untuk laki-laki bernama Reyhan itu.
Sungguh, Xena sama sekali tidak menyangka jika suami yang selalu bersikap manis dan penuh perhatian di rumah, ternyata memiliki borok yang begitu busuk di belakangnya. Sikap hangat dan perhatian yang selama ini ia terima, ternyata hanyalah kedok.
Xena tersenyum kecut di tengah linangan air matanya yang mulai luruh. Sungguh ironis. Di saat ia mati-matian membela-belain mencukupi diam-diam kebutuhan rumah tangga mereka dan juga membiayai orang tua Reyhan, di belahan kota lain ternyata ada wanita lain yang selalu disokong uang secara royal oleh suaminya.
Reyhan mungkin berpikir bahwa uang bulanan yang ia berikan pada Xena sudah lebih dari cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah. Padahal kenyataannya tidak pernah cukup.
Selama ini, diam-diam Xenalah yang menutupi segala kekurangan itu dengan uang pribadinya. Bahkan yang membiayai seluruh pengobatan Ibu Mirna, ya, ibu mertuanya sebenarnya sedang sakit dan harus menjalani berobat jalan secara rutin, adalah Xena, menantu yang sekarang dikhianati ini.
Reyhan tidak pernah tahu bahwa uangnya itu tidak ada apa-apanya dibanding pengorbanan finansial dan batin yang Xena lakukan. Sudah bela-belain menentang orangtua sendiri demi bisa hidup dengan Reyhan, ternyata ini yang ia terima.
Xena berjalan cepat menjauhi kawasan Es Campur. Ia berkutat dengan HP dan menelpon ibunya.
"Hallo, Mam. Xena mau bilang, Xena akan pulang ke rumah. Xena akan menuruti semua kemauan Papi dan Mami"
Di seberang telepon sang ibu terdengar sangat senang. Akhirnya putri kesayangannya sadar dari kebutaan cintanya.
"Syukurlah, Mami senang sekali mendengarnya. Nanti kau akan langsung dijemput oleh supir ke sana, ya?"
"Nanti dulu, Mam. Xena memang akan pulang, tapi setelah semua urusan Xena di sini selesai. Ada beberapa hal yang harus Xena bereskan terlebih dahulu sebelum pergi dari sini."
Setelah memutuskan sambungan telepon, Xena menghapus sisa air mata di pipi. Xena yang dulu, yang mencintai Reyhan secara ugal-ugalan dan tanpa logika, telah mengorbankan masa depan, uang, dan harga dirinya demi laki-laki itu, sudah tidak ada lagi sekarang.
Kini, dia sudah tahu bahwa seluruh pengorbanan tulusnya telah dikhianati dengan cara yang paling hina. Maka sebelum semuanya terlambat, Xena bersumpah akan membereskan semua aset, menarik seluruh bantuan finansial, dan mengambil kembali apa yang sudah ia persiapkan untuk masa depan Reyhan sebagai kejutan.
Laki-laki pengkhianat dan wanita simpanannya itu tidak boleh mendapatkan satu peser pun dari hasil keringatnya. Xena akan memastikan Reyhan tak akan mendapatkan apapun darinya, sebelum ia benar-benar pergi dan menutup buku dalam hidup pria itu.
Bersambung.