Tiga tahun menyimpan rasa dalam diam bukan hal yang mudah.apalagi kalau orang yang kamu cintai tidak pernah benar-benar melihatmu.
"gue Syakila adzkia putri.hanya ingin satu hal,yaitu bisa bersama kakak kelas yang selalu jadi alasan gue buat datang kesekolah setiap pagi".
Namun,takdir justru mempertemukan dia dengan seorang badboy yang penuh rahasia,namanya Galen athar wijaya.hingga terjadi suatu insiden yang membuat mereka harus menjalin kesepakatan yang dapat menguntungkan satu sama lain.
"Mari kita buat kesepakatan di mana lo harus tutup mulut soal kejadian barusan.dan gue bakal atur lo sama zayyan".
"Lo beneran?tapi sampai kapan?"
"Ya...sampai lo jadian sama dia.setelah itu kesepakatan kita selesai!"ucapnya serius.
"Deal..?"ucapnya mengulurkan tangan.
syakila meraih tangan itu dan kesepakatan pun di mulai.
setelah lama berlalu syakila berhasil dekat dengan zayyan bahkan lebih dari sekedar teman.namun perhatian itu...
kalau penasaran ikutin terus ya kelanjutannya.bye🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyra Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara senang dan sedih
_________
Lorong sekolah itu terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya.sebagian besar siswa masih berada di kelas,sementara yang lain memilih menghabiskan waktu istirahat di kantin.
Hanya ada dua sosok yang berdiri di sana.syakila dan salen.
Di tangan syakila terdapat lima lembar tiket masuk pasar malam yang sedang diadakan di pusat kota.sesekali melirik ke arah galen yang berdiri bersandar di dinding dengan kedua tangan masuk ke dalam saku.wajah cowok itu terlihat datar seperti biasa, seolah keheningan di antara mereka bukan sesuatu yang canggung.
Tiket itu sebenarnya milik Galen.
Kemarin,laki-laki itu menang undian kocok nomor yang diadakan salah satu pusat perbelanjaan dan mendapatkan lima tiket gratis.
Alih-alih mengajak teman-temannya sendiri, galen justru menyerahkan semuanya kepada syakila.
Gadis itu berdehem singkat untuk menghilangkan rasa canggung."ini buat apa?"
"Anggap aja ini kesempatan lo."
Syakila mengernyit bingung."kesempatan?maksud lo?"tanyanya tak mengerti dengan arah pembicaraan galen.
Galen mendengkus seraya merolling bola matanya."lo punya mata baca tiketnya."ucapnya sedikit jengkel.syakila langsung membolak balik tiket tersebut."pasar malam?"
"ck,otak lo berapa gram sih.bego banget."cerocosnya yang membuat syakila tak terima.
"enak banget lo ngatain otak gue kecil.emang otak sebesar apa sih!"
"Di bilangin malah nyolot.gue ngasih tiket buat lo itu untuk ngajak zayyan ngedate,preaaakkk!" menoyor pelan dahi syakila gemas.
"apa!ngedate?!"pekiknya tak percaya sembari memegang dahinya.lalu setelah itu ia tertawa paksa." Lo bercanda kan."menatap manik hitam di depannya.
"Nggak,lo harus ngasih tiket itu ke zayyan dan ajak dia,jalan-jalan."
"Tapi..."
"Ga ada tapi-tapian lo harus ajak dia."potong galen membuat syakila mencebikkan bibirnya.
"ishh,gue bukan mau bilang itu.suka banget motong pembicaraan orang."kesalnya,padahal sebenarnya ia ingin mengatakan itu.hhhehehe...
"gue bilang nih,tiket kan ada lima.dan nggak mungkin gue cuma berduaan sama kak zayyan,yang ada nanti teman-temannya kak zayyan curiga gue suka sama dia."ucapnya berhenti sejenak.
"gimana kita ajak yang lainnya,dan lo harus ikut."tunjuk ke arah galen dengan wajah ceria,sembadi mengerlingkan sebelah matanya.sedangkan galen mengernyitkan keningnya."gue?"tunjuknya diri sendiri.
Seketika mata syakila berbinar."yess~lo harus ikut ya,kan lo yang bakal ngarahin gimana gue biar bisa dekat kak zayyan."ucapnya sengaja melembut-lembutkan suaranya.pick me!
Galen menghela napas kasar,mau bagaimana lagi,nih bocah ogep,kuper tapi bucin.kalau nggak dia arahin nih bocah,bakal merusak rencana. terpaksa ia jadi mak comblangnya.
Sabar,sabar.
Tiba-tiba syakila terdiam.berpikir kalau Ia yang akan memberikan tiket untuk zayyan.
Tapi masalahnya...
Bagaimana cara memberikannya?
Kalau ia yang menyerahkan langsung,bukankah itu sama saja seperti mengajak zayyan ngedate?
Aaaaaa~Tidak!dia kan pemalu.
Syakila mengembuskan napas panjang."Gimana, ya..."
Belum sempat Galen memberi komentar, terdengar suara langkah kaki dari ujung lorong.seorang siswi berjalan sambil membawa setumpuk kertas di pelukannya.
Melisa.
"Syakila."ucapnya yang melihat syakila yang berduaan dengan galen.ia berhenti sejenak karena lorong yang sempit terhalang oleh dua insan itu.
Syakila buru-buru menyingkir."Iya.. silakan."Melisa tersenyum ramah.
"Makasih."saat hendak lewat,pandangannya tertuju pada tiket-tiket yang dipegang syakila.
"Apa itu?"
Syakila langsung gelagapan."Eh... ini..."Ia melirik galen.seperti biasa.laki-laki itu malah membuang muka,sama sekali tidak berniat membantu.
"Ini tiket masuk pasar malam."
"Wah."melisa tampak tertarik.
"Tiketnya banyak nya."saat itulah sebuah ide muncul di kepala syakila.kalau melisa yang memberikan tiketnya kepada zayyan...
Bukankah akan jauh lebih alami?
Tanpa berpikir panjang,syakila menyodorkan dua lembar tiket."Kalau...lo mau,nih buat lo."
Melisa membelalak."Serius?"
"Iya."syakila mengangguk pelan.
"Satu buat lo...terus satu lagi tolong kasih ke kak zayyan."melisa langsung tersenyum lebar.
"Siap."ia menerima kedua tiket itu dengan senang hati.
"Makasih ya.nanti gue kasih ke kak zayyan."
"Iya."
Melisa melambaikan tangan sebelum melanjutkan langkahnya.begitu sosoknya menghilang di ujung lorong,syakila menatap tiket yang tersisa.
Kini tinggal tiga lembar.dari samping,galen menatap syakila datar."Kenapa lo ajak dia?"
Syakila menoleh bingung."Hah?"
"Kenapa tiketnya dikasih ke dia?"
"Soalnya... dia temennya zayyan."
"Terus?"
"Ya—biar kak zayyan nggak salah paham kalau gue yang ngasih langsung."galen terdiam beberapa saat.
Kemudian mengembuskan napas pelan."serah lo deh.."
________
Sepanjang perjalanan pulang,senyuman manis di wajah gadis itu tak kunjung hilang.
Pikirannya masih dipenuhi satu hal.
Besok malam...
Besok malam Ia akan pergi ke pasar malam bersama zayyan.
Meski tidak berduaan,bagi syakila itu sudah lebih dari cukup.
"Ya ampun...gue beneran bakal jalan sama kak zayyan."pekiknya dalam hati.sudut bibirnya kembali terangkat tanpa sadar.sampai akhirnya ia mendorong pelan pagar rumah.
Kriiik.
Namun,langkahnya langsung terhenti.rasa bahagia yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan digantikan oleh kegelisahan.di ambang pintu rumah,mamanya sudah berdiri menunggu.biasanya wanita itu masih sibuk di toko kecantikannya hingga sore.
Tapi kali ini...
Beliau hanya berdiri diam dengan kedua tangan terlipat.tatapannya lurus ke arah syakila.entah kenapa,pemandangan itu membuat jantung syakila berdegup pelan.
"Ma..."
________
Tak lama kemudian,mereka sudah duduk berhadapan di ruang tamu.suasana begitu sunyi.
Mama syakila dengan anggun mengangkat cangkir teh,menyeruputnya perlahan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.
Sementara Syakila duduk gelisah.jari telunjuk kanan dan kirinya saling mengetuk tanpa henti.
Tak sanggup menahan keheningan,syakila akhirnya membuka suara."isyana mana ma?"tanyanya mencoba mencairkan suasana.
"Sama papa kamu."
Kembali hening,sampai suara mamanya bersuara memecahkan keheningan namun mematikan untuk syakila.
"Kenapa kamu pulang sore?"gadis itu tersentak.
"Eh... itu..."otaknya mendadak kosong.ia tidak mungkin jujur.kalau mamanya tahu selama ini ia mengikuti ekskul melukis,semuanya pasti akan semakin rumit.
"Aku tadi..."
Belum sempat mencari alasan, mamanya kembali berbicara."Aku sudah tahu."syakila membeku.
"Kamu ikut ekskul melukis."
Deg.
Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya.ia perlahan menundukkan kepala.
"Aku nggak mau kamu ikut ekskul itu."suara wanita itu terdengar tenang.namun justru ketenangan itulah yang membuat syakila semakin gugup.
"Melukis bukan pekerjaan yang menjanjikan."
"Ma..."
"Kamu hanya menghabiskan uang saja untuk kuliah,lalu setelah lulus tetap menganggur karena pekerjaan itu tidak memberi penghasilan yang tetap."beliau meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
"sudah banyak orang yang seperti itu."
"Dan aku nggak mau kamu bernasib yang sama."syakila menggigit bibir bawahnya.
Lalu tanpa sadar bergumam pelan,"Tumben..."mamanya mengernyit.
"Tumben mama bersikap seperti ibu,yang perhatian sama masa depan anaknya."
Brak!
Telapak tangan wanita itu menghantam meja.
"Jangan mengalihkan topik,syakila."syakila langsung terdiam.
"Aku nggak suka kamu membantah seperti ini."nada suara mamanya mulai meninggi.
"Tolong dengarkan perkataan Mama.sekali saja."
"Semua ini Mama lakukan buat kebaikan kamu."syakila mengepalkan kedua tangannya.ia ngin membalas, ingin menjelaskan.bahwa melukis bukan sekadar hobi.saat memegang kuas,ia merasa menjadi dirinya sendiri.
Namun tak satu pun kata berhasil keluar.mamanya berdiri dari kursi."Kalau Mama masih lihat kamu melukis..."
Beliau menatap Syakila tajam."...Mama akan bakar semua alat lukis kamu."
Syakila langsung mengangkat kepala."Mama..."
"Satu lagi-"beliau menghentikan langkahnya."Keluar dari ekskul melukis itu,jadilah anak yang penurut."lalu beliau pergi begitu saja.
Menyisakan syakila yang masih duduk diam dengan mata berkaca-kaca.
Blam!
Syakila menutup pintu kamarnya lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu.mengehela napas kasar sejenak lalu berjalan dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk.
Bruk.
Ia menelungkup sambil memukul-mukul kasur dengan kedua tangannya."Kesel,kesel banget gue!"
"Kenapa sih..."ia memejamkan mata erat.ucapan mamanya terus terngiang di kepalanya.
Keluar dari ekskul melukis.
Mama akan bakar alat lukis kamu.
Kenapa?
Kenapa mamanya begitu membenci hobinya?
Sejak kecil...
Mamanya selalu menentukan semuanya.harus sekolah di mana.harus belajar apa.
Bahkan sekarang...
Hobi yang paling ia sukai pun ingin diambil."Kenapa Mama nggak pernah nanya..."
Syakila menggigit bibirnya agar suaranya tidak bergetar."gue suka atau nggak?"
Kamar itu kembali sunyi.
Hanya terdengar napas syakila yang mulai tak beraturan."Auh ah,kesel!"ucapnya semakin memeluk guling dan mencoba untuk tidak memasukkan kedalam hati ucapan mamanya.
Bersambung~