NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Sandiwara Pertama di Bawah Sorot Lampu

Keputusan Alea untuk mengubah strategi domestik mereka terbukti menjadi tantangan paling menguras energi yang pernah Adrian hadapi sepanjang karier bisnisnya.

Menghadapi negosiasi alot dengan serikat pekerja atau dewan komisaris Hutama Industries masih terasa jauh lebih mudah daripada harus berpura-pura menjadi suami yang kasmaran di depan publik, sementara di balik pintu apartemen mereka adalah dua orang asing yang saling menjaga jarak.

Ujian pertama dari strategi baru itu datang hanya dua hari setelah insiden makan siang di restoran.

Malam ini, sebuah acara gala amal tahunan yang digagas oleh kementerian industri Valerika digelar di ballroom hotel bintang lima termegah di pusat kota.

Semua mata, kamera wartawan, dan yang paling penting, mata si pengirim teror misterius pasti akan tertuju pada mereka: pasangan pengantin baru dari dua dinasti konglomerat terbesar.

Di dalam mobil sedan mewah antipeluru milik Adrian yang membelah jalanan malam, keheningan terasa begitu pekat.

Adrian yang mengenakan setelan tuxedo hitam kustom dengan kemeja putih bersih berkerah kaku, sesekali melirik ke sampingnya.

Alea duduk di sana, menjelma menjadi sosok wanita yang sanggup menghentikan detak jantung pria mana pun.

Malam ini dia mengenakan gaun malam formal dari satin halus berwarna hijau zamrud tua (emerald green), persis seperti konsep yang pernah mereka sepakati.

Potongan gaun itu mengekspos bahu indahnya yang halus, sementara rambut hitamnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai leher jenjangnya.

"Kau kelihatan... luar biasa malam ini, Alea," ucap Adrian tulus, memecah kesunyian.

Suaranya yang berat bergaung pelan di dalam kabin mobil yang kedap.

Alea menoleh, memberikan senyuman tipis yang sangat terkontrol. "Terima kasih, Adrian. Kau juga tidak buruk dengan tuxedo itu. Tapi ingat, begitu pintu mobil ini dibuka oleh petugas, kita tidak lagi memiliki kemewahan untuk menjadi dingin satu sama lain. Kau tahu apa yang harus kau lakukan?"

Adrian menyunggingkan senyum khasnya, lesung pipinya mengintip samar di bawah pencahayaan lampu jalanan yang masuk dari kaca mobil.

"Menjadi suami yang paling memujamu di seluruh kota ini? Aku sudah menghafal skenarionya, Nona Corisand. Atau haruskah aku mulai memanggilmu 'Sayang' sejak di dalam mobil?"

Alea mendengus pelan, berusaha menyembunyikan debaran halus yang mendadak muncul di dadanya akibat tatapan intens Adrian.

"Simpan suaramu untuk para wartawan di luar."

Mobil mereka akhirnya berhenti tepat di depan karpet merah yang membentang menuju lobi utama hotel.

Begitu pintu mobil dibuka oleh petugas, puluhan kilatan lampu kilat (flash) dari kamera jurnalis langsung menyambar, membutakan pandangan selama beberapa detik. Riuh rendah suara teriakan para pemburu berita memanggil nama mereka memecah keheningan malam.

Adrian turun lebih dulu.

Dia berdiri tegap, mengancingkan satu kancing jas tuxedo-nya dengan elegan, lalu berbalik dan mengulurkan tangan kanannya ke dalam mobil dengan gerakan yang sangat ksatria.

Alea menyambut uluran tangan itu.

Telapak tangan Adrian yang besar dan hangat membungkus jemari Alea yang dingin dengan genggaman yang mantap dan protektif.

Saat Alea melangkah keluar, Adrian dengan natural menggeser posisi tangannya, melingkarkannya di sekeliling pinggang ramping Alea, menarik tubuh wanita itu agar merapat pada tubuhnya.

Alea sempat menegang selama sepersekian detik saat merasakan kehangatan dada Adrian yang bidang bersentuhan dengan lengan atasnya.

Namun, profesionalismenya segera mengambil alih.

Dia mendongak, menatap Adrian dengan binar mata yang tampak penuh cinta, lalu melemparkan senyuman paling menawan ke arah deretan kamera yang terus membidik mereka tanpa henti.

"Tuan Adrian! Nona Alea! Bisa menghadap ke kiri sejenak?"

"Bagaimana rasanya menjalani minggu pertama pernikahan setelah wasiat kakek kalian terungkap?" teriak salah satu wartawan senior dari media bisnis lokal.

Adrian menghentikan langkahnya di tengah karpet merah, menunduk menatap Alea dengan ekspresi yang begitu lembut, seolah-olah dunia di sekitar mereka yang bising mendadak lenyap.

"Pernikahan ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku," jawab Adrian dengan suara lantang yang terdengar sangat meyakinkan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Dia mengeratkan pelukannya di pinggang Alea.

"Mengenai bisnis, Hutama Industries dan Corisand Group kini berada di jalur sinergi yang lebih kuat dari sebelumnya. Tapi malam ini, kami di sini untuk amal, bukan untuk rapat direksi."

Alea tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat manis dan alami di depan kamera.

Dia menyentuh dada tuxedo Adrian dengan tangan kirinya yang dihiasi cincin pernikahan berlian mereka.

"Apa yang dikatakan suamiku benar. Kami sangat bahagia, dan kami berharap malam ini bisa mengumpulkan dana yang berguna untuk yayasan perwalian anak."

Jawaban kompak dan kemesraan fisik yang mereka tunjukkan langsung memicu decak kagum dari kerumunan di sekitar karpet merah.

Bagi publik, mereka adalah potret nyata dari power couple yang sempurna, harmonis, dan penuh cinta.

Tidak ada satu orang pun yang akan menyangka bahwa beberapa jam yang lalu, mereka berdua sedang memetakan strategi untuk menjebak seorang pengancam rahasia.

Setelah melewati barisan media, mereka akhirnya memasuki ballroom utama yang megah.

Alunan musik jazz klasik mengalir lembut di antara obrolan para taipan dan sosialita kelas atas Valerika.

Saat mereka berdua sedang berdiri di dekat meja dekorasi sambil memegang gelas sampanye, Raymond Hutama dan Eleanor Corisand berjalan mendekati mereka bersama beberapa rekan bisnis senior.

"Ah, lihatlah pasangan pengantin baru kita yang sedang hangat-hangatnya," ujar Raymond dengan tawa baritonnya yang khas, menepuk bahu putranya dengan bangga.

"Kalian berdua terlihat sangat serasi di karpet merah tadi, Ibu sampai terharu melihatnya di layar monitor lobi," timpal Eleanor, menyeka sudut matanya dengan saputangan sutra, melanjutkan akting dramatisnya sebelumnya dengan sangat matang.

"Mendiang kakek kalian pasti sangat tersenyum melihat penyatuan ini dari atas sana."

Alea tersenyum manis, mempererat gandengan tangannya pada lengan Adrian.

"Terima kasih, Ibu, Ayah. Semua ini berkat restu dan dukungan dari kalian juga."

Di tengah-tengah obrolan formal dengan para kolega bisnis orang tua mereka, Adrian merasa seseorang sedang memperhatikan mereka dengan intensitas yang tidak biasa dari arah kerumunan dekat panggung utama.

Instingnya yang sudah terasah tajam sejak teror foto pertama langsung aktif.

Sambil tetap memasang wajah ramah dan mendengarkan obrolan seorang investor, Adrian mengedarkan pandangannya dengan lihai.

Matanya menyusuri satu per satu wajah para tamu di dalam ballroom.

Hingga akhirnya, tatapannya terpaku pada satu titik di dekat pilar besar bernuansa emas.

Di sana, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas hitam formal konvensional.

Pria itu tidak memegang gelas minuman, tidak juga mengobrol dengan siapa pun.

Dia hanya berdiri diam, menatap lurus ke arah Adrian dan Alea dengan senyuman tipis yang terasa dingin dan penuh arti.

Di tangan kirinya, pria itu tampak memegang sebuah pemantik api perak tua, memainkannya dengan cara membuka dan menutup penutupnya berulang kali hingga menimbulkan bunyi klik yang monoton jika didengar dari dekat.

Adrian mengenali pemantik api itu.

Itu adalah jenis pemantik api klasik yang sama dengan yang sering digunakan oleh kepala tim hukum internal keluarga Corisand lama, seorang pria yang seharusnya sudah pensiun dan tidak lagi memiliki akses ke acara internal korporasi seperti ini.

Adrian sedikit menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Alea yang dihiasi anting berlian, seolah-olah dia sedang membisikkan kata-kata mesra yang intim di tengah pesta.

"Alea, jangan berbalik sekarang," bisik Adrian, suaranya terdengar sangat rendah dan tegang di balik senyumannya yang masih terkembang untuk para kolega.

"Di pilar sebelah kanan dekat panggung utama. Pria dengan setelan hitam konvensional yang memegang pemantik api perak. Apakah dia salah satu orang dalam keluargamu?"

Alea tetap mempertahankan senyuman anggunnya pada rekan bisnis ibunya yang sedang berbicara, namun bola matanya bergerak sedikit, melirik tajam ke arah posisi yang disebutkan Adrian melalui pantulan cermin besar yang berada di dinding samping mereka.

Begitu melihat sosok pria tersebut, napas Alea sempat tertahan di tenggorokan.

Detak jantungnya berdegup kencang secara instan.

"Itu... Thomas," bisik Alea dengan bibir yang hampir tidak bergerak, tangannya yang berada di lengan Adrian tanpa sadar mencengkeram kain jas pria itu dengan kuat.

"Dia adalah mantan pengacara pribadi Kakekku yang mengurus draf pertama wasiat itu sebelum dia dipecat secara sepihak oleh ibuku dua tahun lalu karena kasus manipulasi data. Adrian... dia seharusnya berada di luar negeri sekarang. Apa yang dia lakukan di pesta amal tertutup ini?"

Sebelum Adrian sempat membalas, ponsel di dalam saku dalam jasnya kembali bergetar satu kali.

Sebuah getaran pendek yang seolah-olah membawa hawa dingin dari kegelapan.

Adrian melepaskan gelas sampanyenya ke atas meja dengan hati-hati, lalu merogoh saku jasnya.

Dia membuka layar ponsel, dan sebuah pesan teks baru dari nomor misterius yang sama muncul di sana:

"Seni berakting yang luar biasa di atas karpet merah, Tuan dan Nona Hutama. Sentuhan di pinggang, senyuman manis di depan kamera... kalian hampir membuatku percaya bahwa pernikahan kontrak ini nyata. Tapi ingat, masa lalu selalu memiliki cara untuk menagih hutangnya. Nikmati sisa malam kalian, sebelum tirai panggung ini kupaksa ditutup."

Adrian mendongak kembali ke arah pilar emas, namun pria bernama Thomas itu sudah lenyap di balik kerumunan tamu, meninggalkan aroma misteri dan bahaya yang kini resmi mengintai malam pertama sandiwara publik mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!