Tasya Fitra Shakilah Haris, gadis cantik bertubuh mungil itu menjadi korban keegoisan ayahnya yang ingin menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya, walaupun menolak berkali-kali Tasya akan tetap dijodohkan dengan pria yang memiliki umur jauh lebih tua darinya bahkan ia tidak mengenalinya dan tidak pernah memikirkan akan berjodoh dengan pria yang di anggapnya tua itu, namun karena suatu kejadian akhirnya Tasya menerima perjodohan itu dengan penuh keterpaksaan.
Akankah pernikahan mereka akan menimbulkan cinta?
Yukk baca kisah Tasya selanjutnya ❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa kau jelek sekali?
20 menit kemudian, pak Komar memarkirkan moobilnya di depan butik yang bernama Queen Sasya Boutique yang cukup terkenal di kota itu. Kemudian Kinaya mengajak Tasya untuk turun dari mobil.
"Pak komar pulanglah deluan." ujar Kinaya yang sudah berdiri di luar mobil dan menatap pak Komar yang masih memegang pintu mobil
"Ta-tapi Nyonya." ucap pak Komar tidak enakan, kerana baru kali ini majikannya itu menyuruhnya pulang sehabis mengantarnya
"Tidak apa-apa. Aku dan Tasya nanti ada yang anterin pulang kok." ucap Kinaya sambil tersenyum lalu pak Komar menutup pintu mobil kemudian membungkukkan badannya sopan
"Baiklah Nyonya." Pak Komar segera masuk ke dalam mobil kemudian ia melajukan mobilnya
"Siapa yang akan mengantar kita pulang Ma?" tanya Tasya menoleh ke arah mamanya
"Nanti kau akan tahu sendiri." Kinaya menarik tangan Tasya untuk segera masuk ke dalam butik mewah itu
Setelah masuk ke dalam butik, Kinaya disapa dengan hangat oleh karyawan-karyawan butik itu.
"Selamat datang Nyonya Kinaya." ucap salah satu karyawan wanita yang terlihat cukup akrab dengan Kinaya. Kinaya membalas sapaan itu dengan senyuman ramah. Sedangkan karyawan lain saling berbisik dengan keberadaan Tasya yang berada di samping langganan mereka.
"Cantik sekali. Apa itu anaknya?"
"Iya dia sangat cantik, dan penampilannya juga sangat mendukung"
"Iyalah cantik, ibunya saja walaupun sudah berumur tapi masih terlihat cantik"
Bisikan demi bisikan mereka lontarkan namun bisikan itu masih bisa terdengar di telinga Tasya
"Wati, apa kau sudah menyiapkan gaun yang ku minta?" tanya Kinaya kepada karyawan wanita yang sedari tadi mengikutinya lalu Kinaya mendudukan tubuhnya di sofa diikuti oleh Tasya yang sedari tadi hanya terdiam
"Sudah, apa mau dicoba sekarang?" tanya Wati yang masih tetap berdiri di depan pelanggangnya itu
"Boleh. Syaa kau ikutlah dengan Wati." ujar Kinaya menoleh ke arah Tasya yang duduk di sampingnya. Tasya menjawab dengan anggukan lalu dengan malas ia beranjak berdiri
"Silahkan, ikut saya mba." ucap Wati lalu mulai melangkahkan kakinya dan mengambil beberapa gaun kemudian mengarahkan ruang ganti pada Tasya.
10 menit kemudian Tasya keluar dari ruang ganti dan sudah memakai gaun berwarna biru mudah dengan di hiasi permata-permata indah
"Ma, apa ini cocok?" tanya Tasya menatap mamanya. Kinaya beranjak berdiri lalu menghampiri Tasya dan memperhatikan anaknya dari ujung kaki hingga ujung kepala, lama Kinaya berpikir kemudian ia berkata
"Sepertinya kurang cocok " ucapnya sambil mengusap-usap dagunya. Tasya membulatkan matanya, kalau tidak cocok kenapa berpikirnya lama sekali? pikir Tasya
"Ya sudah, Tasya akan mencoba gaun yang lain." Tasya melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam ruang ganti.
Hingga tiga kali Tasya mencoba gaunnya namun tidak ada yang cocok menurut mamanya itu.
Tasya memutar kedua bola matanya "Ma, kenapa semuanya tidak ada yang terlihat cocok menurut Mama. Menurut Tasya semuanya bagus kok." ucap Tasya dengan kesal
"Apa gaun yang di sediakan sudah habis?" tanya Kinaya menoleh ke arah Wati yang berdiri di samping Tasya
"Masih ada mba. Sisa satu lagi."
"Oh baiklah, Syaa kau cobalah yang satu lagi ya." pinta Kinaya sambil mengusap bahu Tasya. Tasya menghentakan kakinya pelan lalu kembali masuk ke dalam ruang ganti, Tasya begitu kesal terhadap mamanya itu.
"Semua gaun yang ku pakai tadi terlihat bagus tapi kenapa mama tidak menyukainya." gerutu Tasya sambil memakai gaun yang terakhir yang berwarna putih dengan dihiasi banyak manik-manik dan juga mutiara-mutiara kecil dengan bagian bawah agak mengembang.
"Cantik sekali." puji Wati saat melihat Tasya sudah memakai gaun itu dengan sempurna
"Terima kasih." ucap Tasya dengan malu-malu. Lalu ia segera keluar dari raung ganti itu
"Ma, apakah ini sudah terlihat can--tik?" tanya Tasya menatap mamanya yang sedang berbincang-bincang dengan seorang pria yang cukup familiar di mata Tasya. Lalu Kinaya dan pria itu yang tak lain adalah Rey langsung menoleh ke arah Tasya, sejenak Rey bertemu pandang kemudian Rey segera mengalihkannya dan menatap Tasya dari ujung kaki hingga ujung kepala
"Kenapa kau jelek sekali?" tanyanya membalik badannya menghadap Tasya namun dengan terpisah jarak yang cukup jauh. Tasya mengernyitkan dahinya
"Tapi kata mba Wati, aku terlihat cantik." ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Rey menarik salah satu bibirnya membentuk senyuman yang hampir tak terlihat
"Mm, sepertinya kau harus mengganti gaun lagi." ujar Kinaya sambil tersenyum lebar.
"Huh, Mama dan pria itu sama saja. Lebih baik Mama saja yang menikah dengannya." ucap Tasya kesal sambil mengerucutkan bibirnya membuat Kinaya terkekeh
"Heheh nggak kok Syaa, kau terlihat cantik sekali." ucap Kinaya menghampiri Tasya
"Benarkah?" tanya Tasya tidak percaya
"Iya Syaa. Kita akan membeli gaun ini saja." Kinaya menoleh ke arah Wati lalu berkata
"Wati, aku akan membeli gaun ini saja. Apa kau sudah persiapkan dengan hijabnya?"
"Sudah mba."
"Oh, baiklah." Tasya membalikan badannya dan melangkahkan kakinya mengikuti langkah Wati tapi sebelum itu ia menatap Rey dengan tatap Kesal sambil menautkan kedua alisnya.
Beberapa menit kemudian Tasya keluar dari ruang ganti sambil membawa paper bag di tangannya.
"Kau duduklah, biar Mama yang pergi membayarnya." ujar Kinaya yang sudah beranjak berdiri, lalu Tasya menyodorkan paper bag itu ke tangan mamanya dan segera mendudukan tubuhnya di sofa, sejenak ia menatap Rey dengan tatap kesal, namun Rey tidak menghiraukannya, ia malah menatap Tasya dingin kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali ke ponselnya yang baru saja di ambilnya dari saku jasnya. Tak berselang lama Kinaya kembali menghampiri Tasya
"Ayo kita pulang?" ajak Kinaya, Tasya segera beranjak berdiri sedangkan Rey masih tetap berada di posisinya
"Apa kita tidak makan siang terlebih dahulu?" tanya Rey menoleh ke arah Kinaya
"Oh, baiklah. Kita akan mencari restoran disekitar sini." ujar Kinaya
"Aku nggak mau Ma. Aku mau langsung pulang saja." ujarnya dengan wajah memelas
"Syaa." panggil Kinaya sedikit melunak agar anaknya itu mau menurutinya
"Ma, kepala Tasya sangat pusing. Aku mau pulang saja, jika Mama mau makan siang, makan sianglah bersama pria ini. Tasya mau pulang." ujar Tasya masih memelaskan wajahnya. Mendengar penuturan Tasya, Rey langsung beranjak berdiri
"Ehm, baiklah tante. Lain kali saja kita makan bersama. Aku akan mengantar kalian pulang."
"Tidak usah." ketus Tasya menatap Rey kesal
"Syaa." Kinaya menatap anaknya itu sambil menggeleng pelan kepalanya agar bisa bersikap sedikit sopan
"Baiklah Nak Rey, apa kau tidak keberatan mengantar kami?" tanya Kinaya sedikit sungkan
"Tidak kok Tante. Ayo." ajaknya lalu melangkahkan kakinya diikuti oleh Kinaya dan juga Tasya yang berjalan dengan malas. Setelah kepergian mereka, para karyawan butik itu kembali heboh.
"Bu-bukan kah tadi Pak Reyhans Rahardyan?" tanya salah satu karyawan kepada temannya yang berdiri di sampingnya
"Iya, apa yang tadi calon istrinya?"
"Mungkin saja. Hm, beruntung sekali wanita itu."
"Bukankah dulu pak Rey gagal menikah."
"Iya, karena kekasihnya meninggal."
"Benarkah?"
"Hey diamlah! kalian mau dipecat karena membicarakan pemilik butik ini?" ketus Wati menatap kedua bawahannya itu kesal
"Ma-af kak."
"Kembalilah bekerja!" pintanya lalu Wati melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.
.
.
.
.
.
.
Jangan Lupa like dan Ratenya kakak Readers 😘❤️
sukses selalu buat othor nya