"Jangan dekat rawa itu!"
semenjak banyak yang meninggal karena memasang jebakan ikan di malam hari, rawa kecil itu di jauhi oleh banyak orang karena sudah banyak yang meninggal dunia.
Apa yang sudah terjadi?
Siapa penghuni rawa kecil itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Korban lagi
Sebulan kemudian.
Kabar tentang Rawa itu masih menjadi buah bibir bagi para warga yang ada di desa Pandan Arum ini, sebab sampai sekarang masih belum ada yang mengetahui tentang Rawa tersebut dan orang yang menghilang belum mereka temukan sama sekali di tempat itu, jadi para warga hanya bisa menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan rawa tersebut.
Purnama juga sudah bergerak untuk mencari tahu namun ternyata sampai sekarang masih belum menemukan titik yang bisa membuat mereka mengungkap tentang siapa iblis itu, entah memang ada iblis atau tidak namun yang jelas untuk saat ini mereka hanya menemukan kekosongan semata tentang Rawa itu walau pun Purnama sudah mengerahkan seluruh para member.
Ini sebenarnya juga para warga masih resah memikirkan berbagai macam permasalahan yang ada di desa itu, takut bila mendadak nanti ada kembali yang hilang dan mereka tidak tahu harus bagaimana untuk mencari keberadaan para iblis yang ada di sana, Sebab mereka semua menghilang secara mendadak dan tidak tahu harus mencari dengan cara apa.
Rawa itu begitu tenang dan bahkan rumah yang ada di sekitar rawa juga sama sekali tidak pernah melihat keanehan yang ada di sana, jadi jelas aja bila mereka merasa bingung dengan keadaan demi keadaan yang semakin hari terasa semakin mencekam untuk mereka lewati.
Kukuruyuk.
"Eh sudah pagi saja." Lena membuka mata karena mendengar suara kokok ayam jantan di pagi hari.
''Aaaah rasanya mata ini baru terpejam tapi sudah pagi saja, pertanda harus mencari uang kalau begitu.'' Lena segera bangun dari tempat tidur.
''Ya seperti ini pekerjaan Kalau hanya jadi orang miskin dan setiap hari harus ke pasar.'' keluh Lena walau dia juga sambil terus bangkit berdiri.
Gadis Sebatang Kara ini tidak peduli walau saat ini masih subuh namun dia tetap saja akan berangkat untuk mencari nafkah di pasar dengan cara berjualan, jualan yang dia bawa juga tidak seberapa banyak namun setidaknya mampu untuk membeli beberapa makanan dan dia tidak kelaparan serta tidak perlu meminta kepada orang lain.
Yang penting hasil yang dia dapatkan itu adalah barang halal sehingga tidak perlu harus mengemis ataupun mencuri milik orang lain, setelah mandi dan membersihkan diri maka Lena segera mengambil bakul berisi sayuran dan menggendong di punggung dia.
''Ya allah semoga jualan aku hari ini Laris manis dan tidak ada kendala.'' Lena berdoa terlebih dahulu sebelum melangkah keluar dari rumah.
''Tapi kok masih gelap sekali seperti ini ya walau tadi ayam terus berkokok, jam juga lagi mati sehingga tidak bisa melihat Pukul berapa sekarang.'' keluh Lena sendirian sambil menutup pintu rumah.
''Bismillah saja dulu karena nanti pasti akan ada rezeki yang datang.'' Lena tersenyum dalam kesendirian ini Walau terkadang ada juga rasa sedih di dalam hati dia.
Wuuusss.
Wuusssh.
''Dingin sekali, Padahal kalau dingin seperti ini orang pasti sangat enak tidur nyenyak di dalam kamar.'' Lena berkata sendirian sambil menatap rumah para warga yang masih tertutup rapat.
Mereka semua pasti terbuai dalam tidur yang begitu nyenyak sehingga tidak ada yang bisa mendengar ketika Lena sedang berjalan sendirian seperti ini, kecuali nanti Lena sampai menjerit dan meminta pertolongan maka mereka bisa mendengar dan tidak akan membiarkan Gadis itu celaka sendirian seperti itu.
''Huh, Andai saja aku jadi orang kaya maka tidak akan susah seperti ini.'' Lena mengusap air mata yang mendadak saja meluncur keluar.
Tap.
Tap.
Bruugh.
''Aduh, siapa yang jalan tidak pakai mata sih.'' keluh Lena karena dia kena tabrak oleh seseorang.
"Itu Pakde Paimin bukan sih? tapi kan dia sudah tidak ada kabar bahkan sampai sebulan lebih.'' Lena bingung sendiri.
''Tapi itu memang seperti dia dan tidak ada yang berbeda dari perawakan, apa aku panggil saja ya untuk bertanya.'' ujar Lena sambil mempercepat langkah dia saat ini.
Sebab sudah sebulan lebih ini Paimin sama sekali tidak ada kabar dari Desa sehingga membuat orang yang ada di sana juga kebingungan untuk mencari keberadaan pria itu, namun kenapa sekarang mendadak saja malah Lena melihat sendiri soal perawakan pria yang hampir sama seperti Paimin sehingga gadis ini penasaran dan segera mendekat untuk bertanya lebih lanjut lagi.
"Pakde!" Lena agak berlari walau kesulitan karena dia sedang menggunakan rok.
"Hem?" Paimin hanya mengeluarkan suara deheman sekilas.
''Bener kan kalau ini Pakde Paimin? aih ke mana saja selama ini kok tidak ada kabar sama sekali sehingga membuat orang di sini merasa kebingungan.'' Lena langsung bertanya banyak karena dia memang sangat cerewet.
''Benarkah?'' Paimin menoleh dan seketika darah Lena berdesir karena dia melihat mata pria itu berwarna merah darah.
''A... apa ini?!'' Lena gugup bukan main ketika melihat pria itu bermata merah.
''Kau yang mengejar tadi ke sini, Lalu kenapa sekarang kau ketakutan melihat aku?' Paimin tersenyum di depan Lena.
Lena baru menyadari bahwa yang di depan mata dia ini bukan lagi manusia, tapi melainkan sosok Iblis jahat yang sedang menyerupai pria yang telah lama menghilang dari desa itu, saat ini satu-satunya jalan adalah Lena harus melarikan diri agar dia jangan sampai celaka dan menjadi makanan dari makhluk tersebut.
''Kemari lah wahai gadis manis, aku datang untuk memakan buah dada mu.'' Paimin sudah berubah menjadi sosok iblis yang sangat menyeramkan sekali.
''Jangan, siapa kau sebenarnya Dan kenapa mengganggu aku seperti ini?'' Lena ingin menangis karena ketakutan.
''Hahahahahaaa aku adalah penguasa tempat ini dan akan memakan kalian semua.'' iblis berduri tertawa kencang karena sangat bahagia.
Buruk.
Lena sampai terjatuh karena dia sangat tidak menyangka bahwa malam ini akan bertemu dengan sosok iblis yang sangat mengerikan dan bisa merenggut nyawa, Lena sama sekali tidak menyadari bahwa ini semua memang jebakan dari iblis Berduri itu, karena sebenarnya saat ini masih tengah malam dan dia sudah berangkat untuk berjualan ke pasar.
''Kemari lah, aku akan memakan mu sampai hanis.'' iblis Berduri itu menarik kaki Lena untuk masuk ke dalam rawa.
''Jangaaaaaan, Tolong jangan bawa aku seperti itu!'' Lena berusaha untuk menjerit dan dia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melawan.
''Sudah lah, kau terima saja nasib buruk ini karena tidak akan pernah ada yang bisa menolong dirimu itu.'' Seringai iblis berduri.
Lena masih tetap berusaha untuk berontak karena dia harus menyelamatkan nyawa dia sendiri tanpa bantuan dari orang lain, namun sekuat apa saja dia berusaha tapi itu semua tidak membuahkan hasil karena Gadis itu kalah tenaga dan saat ini sama sekali tidak ada warga yang mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang dalam bahaya.
Sebab semua orang tertidur lelap dan kini Lena sudah masuk ke dalam Rawa sehingga dia semakin lemah untuk berontak, yang bisa dia lakukan hanya menjerit dan itu juga sama sekali tidak didengar oleh orang lain, harapan hanya tinggal harapan karena nyawa sudah di ujung tanduk seperti ini.
''Toloooooong, siapa pun tolong selamatkan aku.'' pekik Lena.
''Hahahaaaa kau masih sangat mudah sekali sehingga aku pasti menikmati makan malam yang sangat seru.'' iblis Berduri Itu tampak sangat senang.
Hap.
''Ya allah apa aku memang akan mati?!'' Lena sudah mulai meminum air rawa.
Air yang ada di dalam Rawa itu terus saja bergejolak ke sana kemari, hanya Lena sendiri sebagai manusia yang menyaksikan betapa ganas makhluk yang disebut sebagai iblis berduri itu, sebab seluruh tubuh dia memang sudah penuh dengan duri yang sangat mengerikan sekali.
Selamat malam semua para pembaca cerita author Jungkook, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor untuk malam ini ya.
aneh betul dia
naferia curiga SMA siapa ya🤔🤔
Nana jg kok bisa masuk lumpur bukan nya td menghajar melda🤔🤔