NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Permainan Yang Di Mulai

Tangisan Kayla perlahan mereda. Tangannya yang semula terus mengetuk pintu kini terkulai di sisi tubuh. Ia mengusap sisa air mata di pipinya, menarik napas panjang, lalu menatap daun pintu yang masih tertutup rapat.

"Aku benar-benar minta maaf, Rel..." Kalimat itu meluncur pelan.

Namun kali ini tidak ada jawaban dari dalam.

Kayla menundukkan kepala beberapa detik, lalu berbalik meninggalkan rumah Aurel.

Pintu pagar ditutup perlahan. Begitu berada di luar, Kayla menghentikan langkahnya.

Tangannya merogoh tas dan mengeluarkan benda kecil berwarna putih. Yaitu Test pack.

Dua garis merah itu masih tampak jelas. Kayla menatapnya lama. Kemudian, Senyum tipis terbit di sudut bibirnya.

Kayla menghapus sisa air mata di pipinya hingga tak ada lagi jejak tangisan.

"Maaf, Rel..." Suara Kayla kini terdengar jauh lebih tenang.

"tapi aku juga capek terus jadi perempuan kedua."

Dengan santai, Kayla membuka tutup test pack tersebut. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan spidol merah yang tadi digunakan untuk menebalkan garis samar pada alat itu.

Kayla menatap hasil tes kehamilan buatannya sendiri. Lalu tertawa pelan.

"Aku bahkan nggak hamil." kaya Kayla sambil terkekeh.

Benda itu ia patahkan menjadi dua, kemudian membuangnya ke tempat sampah di tepi jalan.

Selama ini, hubungan Kayla dengan Ardi tak pernah lebih dari status tunangan. Tidak pernah ada yang melampaui batas. Ardi adalah laki-laki baik. Terlalu baik, bahkan.

Sayangnya, Kayla tidak pernah benar-benar mencintainya. Yang ia cintai hanya satu orang.

Yaitu Mahesa.

Hubungan terlarang itu telah berlangsung selama tujuh tahun. Awalnya, Kayla selalu berkata pada dirinya sendiri bahwa semua ini hanya sementara.

Bahwa suatu hari ia akan mengakhirinya. Namun semakin lama, semakin sulit baginya untuk melepaskan Mahesa. Terlebih ketika keluarga mulai mendesaknya.

"Kapan nikah, Kay?"

"Ardi sudah mapan."

"Jangan ditunda terus. Umurmu juga sudah cukup." Pertanyaan-pertanyaan itu datang hampir setiap kali ada acara keluarga.

Ibunya Kayla bahkan sudah mulai menentukan tanggal pernikahan. Ayahnya Kayla sibuk membahas gedung.

Sedangkan Ardi, Laki-laki itu terus bersabar menunggu jawaban pasti darinya.

Kayla tidak sanggup. Ia tidak ingin menikah dengan pria yang tidak ia cintai.

Namun ia juga lelah menjalani hubungan yang selalu disembunyikan. Karena itulah Kayla mengambil keputusan nekat. Menghancurkan semuanya.

"Kalau Aurel tahu..."

Kayla memandang langit malam. "nggak akan ada jalan buat Mahesa kembali."

Kayla percaya. Setelah pengakuan tadi, rumah tangga Aurel pasti akan retak. Dan saat rumah itu runtuh, Mahesa tak akan punya pilihan selain melepaskan masa lalunya. Lalu memilih dirinya.

Kayla tersenyum puas. "Sebentar lagi..."

"Aku nggak perlu jadi perempuan yang selalu menunggu." kata Kayla dengan senyum puas.

Di waktu yang sama, Sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah gedung perkantoran.

Mahesa baru saja menyelesaikan rapat dengan klien. Ia membuka ponselnya. Belasan panggilan tak terjawab memenuhi layar. Semuanya dari Kayla. Keningnya berkerut.

"Kenapa dia nelepon terus?" Mahesa bertanya dalam hati.

Belum sempat Mahesa menghubungi balik, sebuah pesan baru masuk.

"Aku sudah bilang semuanya ke Aurel." isi pesan dari Kayla membuat Mahesa membeku.

Jantung Mahesa serasa berhenti berdetak. Tangannya gemetar saat membaca ulang pesan itu.

"Aku sudah bilang semuanya ke Aurel."

Hanya satu kalimat. Namun cukup untuk membuat dunia Mahesa yang selama tujuh tahun dibangun di atas kebohongan, terancam runtuh dalam satu malam.

Tanpa pikir panjang, Mahesa menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan pelataran parkir. Dalam benak Mahesa hanya ada satu tujuan. Yaitu rumah. Rumah yang mungkin, saat ia tiba nanti, sudah tak lagi mau menerimanya.

Suasana rumah berubah begitu sunyi. Tangis yang sejak tadi memenuhi kamar perlahan mereda.

Aurel masih terduduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang. Napasnya mulai teratur, meski dadanya masih terasa sesak.

Ia menatap kosong ke arah jendela. Malam semakin larut. Tidak ada lagi suara ketukan dari luar kamar.

"Kayla benar-benar telah pergi." ucap Aurel lirih.

Aurel mengusap pipinya yang basah. Air mata memang masih mengalir, tetapi tidak sederas beberapa menit yang lalu.

Entah mengapa, setelah tangisan itu berhenti, pikirannya justru menjadi lebih jernih. Lalu hanya ada satu keputusan yang terlintas di benaknya. Yaitu Cerai. Tidak ada kata lain. Tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada alasan yang mampu membenarkan pengkhianatan selama tujuh tahun.

Tujuh tahun. Bukan kesalahan sesaat. Bukan pula hubungan yang baru dimulai. Mereka telah memilih berbohong kepadanya selama bertahun-tahun.

Aurel mengembuskan napas panjang. "Aku nggak akan bertahan..." Bisiknya lirih.

"Aku nggak akan hidup dengan laki-laki yang menjadikanku pilihan kedua."

Tatapan Aurel beralih pada foto keluarga yang berada di atas nakas.

Di sana, Mahesa berdiri sambil menggendong putra mereka. Sedangkan Aurel tersenyum di sampingnya. Potret keluarga yang selama ini ia banggakan. Kini terasa seperti kebohongan yang dipajang dalam bingkai.

Perlahan Aurel mengambil foto itu. Jemarinya mengusap wajah putra kecilnya. "Maafin Mama ya, Nak." Air matanya kembali jatuh.

"Mungkin nanti keluarga kita nggak akan utuh lagi."

Namun kali ini ia segera menghapus air mata itu.

Tidak. Ia tidak boleh terus menangis. Masih ada anak yang harus ia lindungi. Masih ada masa depan yang harus ia perjuangkan.

Untungnya, Aurel tidak bergantung pada Mahesa. Sejak menikah, Aurel tetap mempertahankan kariernya. Pekerjaannya memberinya penghasilan yang lebih dari cukup untuk hidup layak. Ia memiliki tabungan. Memiliki rumah yang dibeli atas nama bersama. Dan yang terpenting, Aurel memiliki kemampuan untuk membesarkan anaknya sendiri.

"Aku bisa." Aurel menatap bayangannya di cermin.

"Aku pasti bisa." ulang Aurel.

Kalaupun nanti pengadilan memutuskan perceraian, Aurel yakin mampu menjadi ibu sekaligus ayah bagi putranya. Mungkin tidak akan mudah. Namun jauh lebih baik daripada mempertahankan rumah tangga yang dibangun di atas kebohongan.

Aurel berdiri. Kakinya masih terasa lemas. Ia melangkah menuju kamar mandi.

Air keran mengalir membasahi telapak tangannya. Perlahan Aurel membasuh wajahnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak tangis yang sejak tadi membekas.

Aurel menatap pantulan dirinya di cermin.

Matanya sembap. Hidungnya memerah. Namun tatapannya kini jauh berbeda. Bukan lagi tatapan perempuan yang hancur. Melainkan tatapan seseorang yang telah mengambil keputusan.

"Aku akan dengar penjelasanmu, Mahesa." Suara Aurel terdengar tenang.

"Tapi itu bukan untuk mengubah keputusanku." Aurel menarik napas dalam.

"Lima belas tahun aku mengenal Kayla."

"Delapan tahun aku menjadi istrimu."

"Dan kalian memilih mengkhianatiku selama tujuh tahun." Aurel menggeleng pelan.

"Tidak ada penjelasan yang bisa menghapus itu."

Aurel merapikan rambutnya, mengganti pakaian rumahnya yang telah basah oleh air mata, lalu keluar dari kamar. Rumah masih sunyi. Jam dinding menunjukkan hampir pukul sembilan malam.

Aurel duduk di sofa ruang tamu. Tangannya menggenggam erat secangkir teh hangat yang sudah mulai mendingin.

Tatapannya tertuju ke arah pintu utama. Ia tidak akan menghubungi Mahesa. Tidak akan bertanya di mana suaminya berada.

Malam ini, ia hanya akan menunggu. Menunggu laki-laki yang selama ini ia cintai pulang. Dan setelah mendengar penjelasannya, Aurel akan mengakhiri pernikahan yang selama ini ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!