NovelToon NovelToon
Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:424.9k
Nilai: 4.7
Nama Author: Nugraha

Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.

Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.

Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Bayangan yang Mulai Bergerak

Dua minggu berlalu dengan cepat. Lin Feng tenggelam dalam rutinitas baru, keras, melelahkan, namun anehnya terasa memuaskan.

Pagi: Bangun sebelum fajar, dua jam Meditasi Harmoni Sembilan Naga di kamarnya. Sarapan bersama kelompok Kuil Cahaya Suci. Setelah itu, langsung menuju rumah Shen Yuan.

Siang: Latihan intensif bersama Shen Yuan—penempaan tubuh, pengendalian elemen, serta pendalaman teori. Makan siang singkat dengan roti dan air, lalu kembali berlatih tanpa banyak jeda.

Sore: Kembali ke gedung kuil, beristirahat sejenak. Terkadang berjalan-jalan di kota atau membantu kelompok menyelesaikan tugas-tugas ringan.

Malam: Kultivasi malam untuk meningkatan hasil latihan hari itu. Lanjut tidur kalau tubuh sudah benar-benar tidak sanggup lagi.

Rutinitas harian yang kejam namun hasilnya nyata.

Lin Feng kini telah mencapai Ranah Pembentukan Fondasi Lapisan Ketiga. Kendalinya atas sembilan elemen jauh lebih stabil dan kombinasi sederhana bisa ia ciptakan tanpa konsentrasi penuh. Tubuh fisiknya juga berubah drastis: otot lebih padat, refleks lebih cepat dan daya tahan meningkat tajam.

Namun yang paling penting ia merasa lebih siap dan ebih percaya diri.

****

Pagi ini terasa sangat sedikit berbeda.

Saat Lin Feng turun untuk sarapan, ia mendapati kelompok Kuil Cahaya Suci telah berkumpul di ruang makan dengan ekspresi serius.

“Ada apa?” tanyanya sambil duduk di samping Yue Lian.

“Tetua Liu memanggil kami,” jawab Yue Lian pelan, nadanya mengandung kekhawatiran. “Ada misi baru. Dan sepertinya penting.”

“Misi apa?”

Belum sempat Yue Lian menjawab, Tetua Liu masuk dengan langkah cepat. Wajahnya jauh lebih serius dari biasanya.

“Semuanya sudah berkumpul? Bagus.” Ia duduk di ujung meja. “Aku membawa dua kabar, satu baik dan satu buruk.”

“Coba ceritakan yang buruk dulu saja Tetua,” kata Zhou Ming.

“Berita buruk,” Tetua Liu berkata tegas, “Sekte Bayangan Naga terdeteksi di kota ini. Mereka sedang mencari seseorang atau sesuatu. Dan mereka tidak ragu membunuh siapa pun yang menghalanginya.”

Lin Feng membeku.

Sekte Bayangan Naga.

“Berapa banyak Tetua?” tanya Chen Hao.

“Setidaknya lima yang terkonfirmasi,” jawab Tetua Liu. “Namun kemungkinan lebih banyak. Mereka kuktivator yang sangat ahli dalam bersembunyi.”

“Lalu kabar baiknya?” tanya Xu Ling.

“Kuil pusat mengirim bala bantuan,” lanjut Tetua Liu. “Sepuluh kultivator di Ranah Formasi Inti akan tiba dalam tiga hari. Selama mereka di sini, Sekte Bayangan Naga tidak akan berani bertindak terang-terangan terhadap Kuil Cahaya Suci.”

Ia menatap seluruh kelompok dengan tajam.

“Sampai bala bantuan tiba, kalian harus ekstra waspada. Jangan keluar sendirian. Hindari area sepi. Dan jika melihat sesuatu yang mencurigakan segera laporkan.”

“Mengerti Tetua,” jawab semua serempak.

Tetua Liu bangkit untuk pergi, namun langkahnya terhenti saat ia menatap Lin Feng.

“Lin Feng, ikut aku sebentar.”

Lin Feng mengangguk dan mengikuti Tetua Liu ke ruang pribadinya.

Begitu pintu tertutup, Tetua Liu berbalik. Tatapannya tajam dan sulit ditebak.

“Aku akan bicara langsung,” katanya. “Sekte Bayangan Naga yang berkeliaran di kota ini sedang mencari kultivator dengan Qi yang tidak biasa. Qi dengan banyak elemen.”

Lin Feng berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang.

“Oh?”

“Jangan berpura-pura bodoh,” Tetua Liu melipat tangan nya di dada. “Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah merasakan Qi-mu sangat tidak biasa. Jika aku bisa merasakannya, mereka pasti juga bisa.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

“Aku tidak akan menanyakan rahasiamu,” lanjut Tetua Liu. “Setiap kultivator punya rahasianya masing masing. Tapi aku akan bertanya satu hal, apakah kau sedang dalam bahaya?”

Lin Feng menimbang jawabannya dengan hati-hati.

“Mungkin,” katanya akhirnya. “Tapi aku bisa menjaga diri.”

“Kau berada di Ranah Pembentukan Fondasi Lapisan Ketiga,” ujar Tetua Liu ragu. “Itu mengesankan untuk usiamu, tapi belum cukup untuk menghadapi pembunuh profesional dari Sekte Bayangan Naga. Mereka dilatih untuk membunuh kultivator yang jauh lebih kuat dari mereka.”

“Aku mengerti,” jawab Lin Feng tenang. “Dan aku akan berhati-hati.”

Tetua Liu menatapnya lama, lalu menghela napas.

“Baiklah. Tapi ingat ini, selama kau tinggal di gedung kuil, kau berada di bawah perlindungan kami. Jika mereka berani menyerangmu di sini, mereka akan berhadapan dengan seluruh Kuil Cahaya Suci. Dan itu bukan ancaman kosong.”

“Terima kasih Tetua,” ucap Lin Feng tulus. “Tapi aku tidak ingin menyeret kuil ke masalah pribadiku...”

“Sudah terlambat,” potong Tetua Liu dengan senyum tipis. “Kau menyelamatkan lima murid kuil. Itu membuatmu bagian dari keluarga Kuil Cahaya Suci.”

Lin Feng terdiam lalu membungkuk dalam dalam.

“Pergilah,” kata Tetua Liu sambil melambaikan tangan. “Dan ingat jangan keluar sendirian.”

Lin Feng kembali ke ruang makan dengan pikiran kacau. Sekte Bayangan Naga sudah mencarinya.

Mereka tahu tentang Qi uniknya.

Dan mereka berada di kota yang sama.

Aku harus lebih berhati-hati, putusnya. Dan mungkin… aku harus siap bertarung.

“Lin Feng!” Yue Lian melambaikan tangannya. “Kamu mau ikut kami ke pasar?”

Lin Feng ragu. Tetua Liu telah memperingatkannya. Namun pergi bersama kelompok seharusnya aman.

“Ayo!” seru Yue Chen antusias. “Aku mau beli pedang baru. Tolong bantu aku untuk memilihnya!”

Lin Feng tersenyum kecil melihat semangat mereka

“Baik. Aku ikut.”

Pasar pagi sangat ramai seperti biasa.

Lin Feng berjalan bersama Yue Lian, Yue Chen, Xu Ling, dan Zhou Ming. Sementara Chen Hao tidak ikut karena ia masih berlatih di gedung kuil.

Mereka mengunjungi berbagai toko. Yue Chen mencoba beragam pedang, matanya berbinar setiap melihat senjata yang bagus, meski harganya jelas di luar jangkauannya.

“Yang ini!” serunya, sambil menunjuk pedang dengan ukiran naga di gagangnya. “Sempurna! Berapa harganya?”

Pemilik toko, seorang pria gemuk berkumis tebal tersenyum lebar.

“Untuk kualitas seperti ini? Lima ratus batu roh.”

Wajah Yue Chen langsung pucat.

“L-lima ratus?!”

“Itu pedang tingkat spiritual menengah,” jelas sang pemilik. “pedang itu diperkuat formasi ketajaman dan ketahanan. Untuk Ranah Pembentukan Fondasi ini investasi yang sangat bagus.”

“Tapi aku masih Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Keenam,” gumam Yue Chen lesu. “Dan aku tidak punya lima ratus batu roh…”

“Nanti juga bisa,” hibur Yue Lian sambil menepuk bahunya. “Saat kau naik tingkat dan punya penghasilan sendiri.”

Mereka meninggalkan toko dan melanjutkan perjalanannya

Lin Feng berjalan sedikit di belakang. Pikirannya setengah tertuju pada hiruk-pikuk pasar, setengah lagi pada peringatan Tetua Liu.

Lin Feng merasakan sesuatu, seperti sedang diawasi. Kesadaran spiritual yang sangat halus, nyaris tak terdeteksi menyapu area di sekitar mereka.

Langkah Lin Feng terhenti. Matanya menyapu sekeliling. Di atap bangunan seberang jalan sebuah bayangan melesat cepat. Terlalu cepat untuk dilihat oleh mata orang biasa.

Namun bagi Lin Feng dengan indra spiritual yang telah diasah oleh Shen Yuan, kehadiran itu terasa sangat jelas.

1
Mbah Haryo
jika kultivator kecil SJ biasa mrasaken atow mnilai jenis qi yg berbeda dengan MC...
logikanya..MC ini gak akan slamat kdepanya..psti dgebugin ngalor ngidul...hhhh...
anu..mbok agak di anuken..biar critnya bisa lbih sweru & nyaman
Mbah Haryo
anu...entahlah Jhon...
Iki critone rodo anu....

asyudahlah ..
lanjoutken...
Mbah Haryo
molai pantow ach...
Mbah Haryo
molai pantow dsini ach...
syapa tau ceritanya wagu..

cuss...
Visitor4645
bukannya fokus latihan malah ngambil tugas ecek2
onairam monarai
kisah selanjutnya sepertinya sudah bisa ditebak nih, tapi tetap menarik, lanjutkan thor
onairam monarai
kisahnya mengalir dgn baik, tapi sepertinya sudah bisa dutebaj arahnya, tapi tetap menarik
Mahesa Erwana
kenapa gurunya tidak datang untuk membantu ? jalan ceritanya kurang matang..
Mahesa Erwana
alur ceritanya kurang dalam kurang variasi...
Mahesa Erwana
kebanyakan teori... , dan seolah-olah berkepribadian ganda... 🤣
Visitor4645
mc tolol dan aneh kok dah berani muncul padahal ilmu masih rendah.
Norak 4130
mulai lgi di ini muncul bahasa kosa kata aneh & moderen,, gunakan kosa kata yg biasa sja thor
Yana Yana
👍
Visitor1954
AQ mau kultivasi ganda😄
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Zainal Tyre
kapan latihanx thor
Zainal Tyre
langsung skip ke episode akhir malas bacax
Dwi Iswahyudi
lanjut thor
Sufiyan Hadi
gasss
Sufiyan Hadi
lanjut
Tini Kartini
ko mencuri ....???????
mcnya minus karakternya ga afdol
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!