meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Lama di Tengah Keramaian Baru
Tiga bulan telah berlalu sejak Meylani menetap di Surabaya. Waktu di kota ini bergerak dengan kecepatan yang berbeda, lebih cepat, lebih intens, dan menuntut ketahanan fisik serta mental yang prima. Meylani kini telah sepenuhnya beradaptasi dengan ritme kehidupan barunya. Ia tidak lagi merasa asing saat berjalan di trotoar Tunjungan Plaza atau memesan rujak cingur di pinggir jalan dengan logat Jawa Timuran yang mulai kental. Kantornya pun telah menerima kehadirannya bukan sebagai "pendatang dari Semarang", melainkan sebagai pemimpin yang kompeten dan visioner. Di bawah kepemimpinannya, tim marketing cabang Surabaya berhasil meningkatkan engagement rate media sosial sebesar 40% dan menutup tiga kontrak besar dengan perusahaan properti lokal.
Namun, di balik kesibukan yang memabukkan itu, ada satu hal yang belum sepenuhnya terselesaikan dalam diri Meylani: rasa sepi yang kadang datang tanpa peringatan, terutama di malam-malam akhir pekan ketika ia pulang ke apartemennya yang sunyi.
Sabtu sore itu, Meylani memutuskan untuk mengambil cuti setengah hari. Ia lelah dengan tumpukan laporan kuartalan dan ingin menyegarkan pikirannya. Ia mendengar rekomendasi dari rekan kerjanya tentang sebuah perpustakaan umum baru yang terletak di kawasan pusat kota, sebuah bangunan modern dengan arsitektur kaca dan baja yang menjulang, dikelilingi oleh taman hijau yang asri. Tempat itu dikatakan sebagai oase ketenangan di tengah hiruk-pikuk Surabaya.
Meylani mengenakan kaus polos putih, jeans biru, dan jaket denim ringan. Penampilannya sederhana, jauh dari blazer ketat dan rok kerja yang biasa ia kenakan. Ia membawa sebuah novel fiksi sastra yang sudah lama ingin ia baca, serta secangkir kopi takeaway dari kedai favoritnya di dekat kantor.
Sesampainya di perpustakaan tersebut, Meylani terpesona. Ruangan dalamnya luas, tinggi, dan dipenuhi rak-rak buku kayu yang menjulang hingga ke langit-langit. Cahaya alami masuk melalui jendela-jendela besar, menciptakan suasana hangat dan intelektual. Pengunjungnya beragam: mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, pekerja lepas yang mencari inspirasi, hingga keluarga muda yang membacakan cerita untuk anak-anak mereka.
Meylani menemukan sudut tenang di lantai dua, dekat jendela yang menghadap ke taman kota. Ia duduk di sofa empuk berwarna abu-abu, membuka bukunya, dan mencoba tenggelam dalam alur cerita. Namun, fokusnya sulit terjaga. Pikirannya melayang-layang, mengingat-ingat betapa dulu Andrian sering mengajaknya ke perpustakaan daerah di Semarang untuk sekadar duduk berdampingan sambil membaca, meski akhirnya lebih banyak mengobrol daripada membaca.
"Kamu terlalu serius, Mey. Hidup itu juga butuh hiburan," begitu kata Andrian dulu, sambil mencuri pandangannya saat Meylani asyik membaca.
Meylani menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan itu. Ia memaksa dirinya untuk kembali membaca kalimat demi kalimat. Tapi tiba-tiba, suara langkah kaki yang familiar terdengar di dekatnya. Langkah kaki yang tegas, berirama, dan sedikit berat. Suara sepatu kulit yang beradu dengan lantai marmer.
Jantung Meylani berhenti berdetak sesaat. Ia mengenali suara itu. Mustahil. Andrian bekerja di Kejaksaan Negeri Semarang. Apa mungkin dia berada di Surabaya? Mungkin hanya kebetulan. Banyak orang memakai sepatu kulit. Banyak orang memiliki langkah kaki yang tegas.
Meylani tidak berani menoleh. Ia menunduk lebih dalam, pura-pura sangat tertarik pada halaman bukunya. Napasnya tertahan. Suaranya semakin mendekat, lalu berhenti tepat di belakang sofa tempat Meylani duduk.
Hening.
Suasana di sekitar mereka seolah membeku. Suara obrolan pengunjung lain, deru AC, dan gemerisik halaman buku terasa menghilang, digantikan oleh dengungan darah yang berdesir kencang di telinga Meylani.
"Meylani?"
Suara itu. Rendah, serak, dan penuh ketidakpercayaan.
Perlahan, dengan tangan yang gemetar, Meylani mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang.
Di sana, berdiri Andrian Alexander.
Ia tampak berbeda dari terakhir kali Meylani melihatnya. Rambutnya dipotong lebih pendek, rapi. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang disingkap hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kencang, dan celana bahan hitam. Wajahnya tampak lebih matang, garis-garis kelelahan di dahinya masih ada, namun matanya... matanya menatap Meylani dengan intensitas yang mengejutkan. Ada keterkejutan, ada kerinduan yang tertahan, dan ada sesuatu yang lain yang sulit Meylani baca.
"Andrian..." bisik Meylani, suaranya hampir tak terdengar.
Andrian melangkah maju, mendekati meja kecil di samping sofa Meylani. Ia tidak tersenyum. Ekspresinya datar, namun ada ketegangan di rahangnya yang mengeras.
"Aku tidak percaya," kata Andrian pelan. "Rina bilang kamu pindah ke Surabaya. Tapi aku tidak menyangka akan bertemu kamu di sini. Di perpustakaan ini."
Meylani menutup bukunya perlahan, meletakkannya di pangkuannya. Ia berusaha menjaga agar suaranya tetap stabil. "Aku sedang libur, Andrian. Aku butuh tempat tenang untuk membaca."
"Tenang," ulangi Andrian, nada suaranya terdengar pahit. "Kamu selalu mencari ketenangan. Dulu di Joglo Langit, sekarang di sini."
Ada tuduhan halus dalam kata-katanya. Meylani merasakan sakit kecil di dadanya, namun ia menolak untuk tersulut emosi. Ia sudah bukan Meylani yang mudah goyah lagi.
"Apa yang kamu lakukan di Surabaya, Andrian? Bukankah tugasmu di Semarang?" tanya Meylani, mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih faktual.
Andrian menghela napas panjang, lalu menarik kursi di seberang Meylani dan duduk tanpa diminta. Gestur itu membuat Meylani sedikit tidak nyaman, namun ia tidak protes. Ia ingin tahu alasan kehadiran pria ini.
"Aku di sini untuk urusan dinas," jawab Andrian singkat. "Ada kasus penipuan investasi ilegal yang jaringannya meluas sampai ke Jawa Timur. Kejari Surabaya meminta koordinasi dengan kejari Semarang karena tersangka utamanya punya koneksi di sana. Aku dikirim sebagai perwakilan."
Meylani mengangguk paham. Itu masuk akal. Andrian adalah jaksa muda berprestasi, wajar jika ia dilibatkan dalam kasus lintas wilayah.
"Berapa lama kamu di sini?" tanya Meylani.
"Dua hari. Besok pagi aku sudah harus kembali ke Semarang," jawab Andrian. Matanya tidak lepas dari wajah Meylani. Ia mengamati perubahan pada wanita di hadapannya. Meylani terlihat lebih sehat, kulitnya bersinar, posturnya lebih tegak, dan ada kepercayaan diri yang memancar dari sorot matanya. Dia terlihat... bahagia. Atau setidaknya, damai. Dan itu menyakitkan bagi Andrian. Karena dialah yang melepaskan kedamaian itu.
"Kamu terlihat baik, Mey," kata Andrian tiba-tiba, suaranya melembut. "Lebih baik dari terakhir kali kita bertemu."
Meylani tersenyum tipis, senyuman yang sopan namun berjarak. "Terima kasih, Andrian. Aku memang berusaha untuk baik-baik saja. Hidup di sini memberiku banyak pelajaran."
"Andai saja..." Andrian terdiam, menelan ludahnya. Tangannya memainkan gelas kopi kosong di atas meja. "Andai saja aku bisa seperti kamu. Bisa move on secepat itu."
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan bermuatan. Meylani menatap Andrian lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, ia melihat kerentanan di mata pria yang selalu tampak kuat dan dingin itu. Andrian terlihat lelah, bukan hanya secara fisik, tapi secara emosional.
"Move on bukan berarti lupa, Andrian," kata Meylani lembut. "Itu berarti menerima kenyataan bahwa kita sudah berjalan di jalur yang berbeda. Aku tidak melupakan tiga tahun kita. Aku menghargainya. Tapi aku juga menghargai diriku sendiri cukup untuk tidak menunggu seseorang yang sudah memilih untuk pergi."
Andrian menunduk, menatap gelasnya. Bahunya turun, seolah beban berat baru saja diletakkan di pundaknya.
"Aku menyesal, Mey," bisiknya. Suaranya pecah. "Aku menyesal karena kata-kataku waktu itu. Karena egoismu. Karena aku mengira kariernya lebih penting daripada kebahagiaan kita. Ternyata... ternyata kesepian itu lebih berat daripada beban kasus apapun."
Meylani merasakan dorongan kuat untuk mengulurkan tangan, untuk menyentuh lengan Andrian, untuk mengatakan bahwa semuanya bisa diperbaiki. Rasa cinta lama itu masih ada, bersembunyi di sudut hatinya yang paling dalam. Tapi ia ingat janji pada dirinya sendiri. Ia ingat air mata di malam-malam awal di Surabaya. Ia ingat bagaimana ia membangun dirinya kembali batu bata demi batu bata.
Jika ia kembali sekarang, apakah itu karena cinta? Atau karena takut menghadapi tantangan sendirian? Apakah Andrian benar-benar berubah, atau hanya kesepian sesaat karena rutinitas yang monoton?
Meylani menarik napas dalam-dalam. Ia memilih untuk jujur, meskipun itu menyakitkan.
"Aku juga pernah menyesal, Andrian. Pernah bertanya-tanya apa salahku. Tapi penyesalan tidak mengubah masa lalu. Dan aku tidak bisa membangun masa depan berdasarkan penyesalanmu saat ini."
Andrian mendongak, matanya berkaca-kaca. "Jadi, tidak ada kesempatan kedua? Sama sekali?"
Meylani menatap mata Andrian dengan kelembutan yang tulus, namun dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.
"Hidup ini bukan tentang kesempatan kedua untuk kembali ke masa lalu, Andrian. Ini tentang kesempatan pertama untuk menciptakan masa depan yang baru. Dan masa depanku... ada di sini. Di Surabaya. Dengan karirku, dengan teman-teman baruku, dan dengan diriku sendiri yang baru ditemukan."
Hening panjang menyelimuti mereka. Suara langkah kaki pengunjung perpustakaan kembali terdengar, mengembalikan realitas ke tempatnya.
Andrian mengangguk perlahan, seolah menerima vonis yang sudah ia duga. Ia berdiri, merapikan kemejanya.
"Aku mengerti," katanya lirih. "Maaf sudah mengganggu waktumu. Selamat menikmati bukumu, Meylani. Dan... selamat berbahagia. Sungguh-sungguh."
"Terima kasih, Andrian. Semoga kasusmu lancar. Dan semoga kamu menemukan ketenangan yang sebenarnya, bukan sekadar pelarian dari kesibukan."
Andrian tersenyum tipis, senyuman yang sedih namun lega. Ia berbalik dan berjalan pergi, langkah kakinya terdengar lebih ringan daripada saat ia datang. Meylani menonton punggungnya menghilang di antara rak-rak buku, menuju pintu keluar perpustakaan.
Setelah Andrian pergi, Meylani duduk diam beberapa saat. Air mata menetes dari pelupuk matanya, bukan karena sedih, tapi karena pelepasan. Sebuah bab yang benar-benar tertutup. Tidak ada lagi gantungan harapan. Tidak ada lagi "bagaimana jika".
Ia membuka kembali bukunya. Kalimat pertama yang ia baca kali ini terasa lebih bermakna. Ia minum kopinya yang sudah dingin, namun rasanya tetap nikmat.
Di luar jendela, matahari sore mulai condong ke barat, mewarnai langit Surabaya dengan warna jingga yang hangat. Meylani tersenyum. Ia sendirian di perpustakaan itu, tapi ia tidak merasa sepi. Ia merasa utuh.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kebahagiaannya tidak bergantung pada kehadiran siapa pun. Kebahagiaannya ada di dalam dirinya, di setiap halaman buku yang ia baca, di setiap tantangan kerja yang ia taklukkan, dan di setiap langkah mandiri yang ia ambil.
Meylani melanjutkan membaca, tenggelam dalam dunia imajinasi, sementara dunia nyata di sekitarnya terus berputar, membawanya semakin jauh dari masa lalu, dan semakin dekat pada masa depan yang ia ciptakan sendiri.
...****************...