Setelah empat tahun menjalin cinta terlarang beda agama yang ditentang orang tua, Manajer hotel Nayla akhirnya menyerah dan memutuskan Zefan, koki di hotelnya.
Namun, Zefan tak terima. Sifat posesifnya berubah menjadi obsesi yang mengancam Nayla. Di tengah keputusasaannya, Nayla bertemu kembali dengan Reno, mantan kekasih SMA-nya.
Terkejut dengan kondisi Nayla, Reno langsung mengambil langkah berani: ia membawa Nayla dari Bali ke Bandung dan menikahinya demi menyelamatkan Nayla dari Zefan.
Nayla awalnya trauma dan menolak, mengingat masa lalu yang menyakitkan dengan Reno. Namun, Reno membuktikan ketulusan cintanya yang tak pernah pudar. Nayla akhirnya menerima.
Dapatkah pernikahan mendadak ini, yang didasari trauma dan janji keselamatan, berjalan harmonis? Atau, apakah bayangan Zefan akan terus menghantui dan menghancurkan kebahagiaan yang baru mereka raih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
“Ren, nggak akan bangun? Ini udah siang,” ucap Nayla manja. Jemarinya menari di atas wajah Reno, menggoda lembut seperti anak kecil yang sengaja cari perhatian.
“Dingin… nyaman gini,” gumam Reno setengah sadar, memeluk Nayla makin erat seolah tak ingin melepaskan.
“Aku lapar,” rengek Nayla pelan.
Reno langsung membuka matanya, menatap wajah istrinya yang masih diselimuti kantuk.
“Mau makan apa, sayang?” tanyanya sambil tersenyum hangat.
“Mau makan kamu,” jawab Nayla sambil terkekeh jahil.
“Nih, aku rela dimakan kamu,” balas Reno sambil tersenyum menggoda.
Nayla menatap Reno dalam-dalam. Matanya lembut, penuh kasih. “Aku sayang kamu, Ren…” ucapnya lirih tapi tulus.
“Aku juga… sangaaaat sayang kamu,” jawab Reno sebelum mengecup bibir Nayla pelan.
“Jangan tinggalin aku, ya,” ucap Nayla tiba-tiba, suaranya berubah lembut, sedikit takut.
Reno memalingkan wajahnya sambil tersenyum kecil. “Mana mungkin aku tinggalin kamu… setelah aku nunggu kamu bertahun-tahun, sayang,” katanya dengan nada hangat.
“Ya, siapa tahu kamu kegoda cewek lain,” ucap Nayla sambil manyun.
“Mulai-mulai deh. Padahal lagi akur,” kata Reno sambil mencubit gemas pipi Nayla.
“Reno-nya jahat…” rengek Nayla, makin manja.
“Nggak, sayang. Aku nggak jahat. Aku sayang kamu, Nayla,” ucap Reno sambil mencium dahinya.
“Lapar…” rengek Nayla lagi, kali ini sambil menatap mata Reno seperti anak kecil minta permen.
“Iya, ayo sarapan. Kita keluar, yang lain pasti udah nunggu,” jawab Reno sambil berdiri.
“Gendong!” pinta Nayla manja, mengangkat kedua tangannya.
Reno tertawa. “Ayo, siapa takut,” katanya sambil siap menggendong Nayla.
Nayla terkekeh geli. “Nggak, nggak mau! Malu ah!” katanya sambil menepis tangan Reno.
“Ya udah, ayo jalan,” ucap Reno sambil menggenggam tangan Nayla erat.
Begitu pintu dibuka, dua wajah muncul di depan villa — Sasa dan Tari. Keduanya menatap dengan tatapan tajam tapi geli.
“Kenapa kalian?” tanya Nayla heran.
“Kita nungguin lo dari tadi! Chat di grup nggak dibales, ditelepon juga nggak diangkat!” ucap Tari dengan nada protes.
“Sorry… aku lembur semalem,” sahut Nayla sambil terkekeh jahil.
“Dih! Bikin ngiri aja,” celetuk Sasa dengan nada menggoda.
“Cepetan nikah, gih!” goda Nayla balik.
“Dua bulan lagi,” jawab Sasa bangga.
“Ehem~ bau-bau CLBK nih,” sindir Nayla sambil melirik Tari.
“Apaan sih!” teriak Tari heboh, pipinya merah padam.
Reno dan Nayla saling berpandangan lalu tertawa melihat tingkah Tari yang panik.
Mereka berjalan menuju warung kecil di pinggir jalan. Udara pagi terasa segar, masih beraroma tanah basah sisa embun.
“Mau sarapan?” tawar Nayla pada Sasa dan Tari.
“Udah tadi,” jawab Sasa.
“Boleh deh, tadi cuma makan pop mie,” ucap Tari sambil mengambil gorengan di piring.
“Anak-anak cowok mana?” tanya Reno sambil menoleh.
“Masih di tenda,” jawab Tari santai.
“Chat di grup, suruh ke sini,” ucap Reno.
Tari pun mengetik cepat di ponselnya, tak lama kemudian rombongan cowok datang — Ray, Davin, Putra, dan Niko.
Mereka duduk melingkar sambil ngopi dan bercanda. Suasana warung pun ramai oleh tawa dan ejekan kecil.
“Pulang jam berapa?” tanya Reno pada Nayla.
“Nggak tau, tergantung yang lain aja,” jawab Nayla sambil menyeruput teh hangat.
“Mau ke rumah ibu kamu?” tanya Reno pelan.
“Boleh,” jawab Nayla sambil tersenyum.
“Ok, nanti nginep di rumah kamu ya,” ucap Reno menggoda.
Nayla hanya mengangguk, pipinya sedikit memerah.
Setelah sarapan, mereka kembali ke tenda, berkemas, lalu bersiap pulang.
“Ehem~ pergi sama siapa, pulang sama siapa?” sindir Nayla pada Tari.
“Berisik!” balas Tari cepat, lalu dengan malu-malu menempel di punggung Putra yang sudah duduk di motor.
Reno melirik Nayla. “Mereka putus kenapa sih?”
“Si Putra dulu mau kerja jauh, Tari-nya rewel, terus minta putus,” jawab Nayla sambil tersenyum kecil.
“Oh gitu,” ucap Reno sambil men-starter motor.
Nayla segera naik dan memeluk Reno dari belakang. Angin pegunungan menyapu lembut wajah mereka.
Di tengah perjalanan, mereka berhenti di pinggir kebun teh untuk berfoto bersama. Hamparan hijau membentang sejauh mata memandang.
“Anjir, gue doang yang jomblo,” keluh Ray.
“Ada temen gue, bro!” sahut Niko sambil cengengesan.
Tawa pecah lagi. Setelah puas berfoto, mereka melanjutkan perjalanan.
Macet di tengah jalan membuat mereka menepi ke restoran kecil.
“Reno, wajah kamu bonyok gitu. Nanti ibu aku nanya kamu kenapa,” ucap Nayla sambil mengusap pipi suaminya.
“Bilang aja abis hajar si rese,” jawab Reno sambil terkekeh.
“Ih, nanti heboh ibu aku!” rengek Nayla sambil mendorong pelan bahunya.
“Nggak lah. Nanti kita pikirin jawaban yang manis,” ucap Reno lembut, mengelus pipi Nayla.
Usai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Sore harinya, mereka sampai di rumah ibu Nayla.
“Assalamualaikum,” ucap Nayla sambil tersenyum.
“Waalaikumsalam! Eh, Nayla! Kapan datang?” sambut ibunya, Bu Sari, dengan wajah ceria.
“Kemarin, Bu. Cuma main ke Ciwidey,” jawab Nayla sambil mencium tangan ibunya.
“Ih, bukannya ke sini dulu malah main,” omel Bu Sari sambil menepuk pundak Nayla.
“Aww, Ibu mah sakit, akh!” protes Nayla sambil tertawa kecil. Ia lalu menghampiri ayahnya dan mencium tangan beliau.
“Reno kenapa?” tanya Bu Sari, memandangi wajah menantunya yang masih tampak lebam.
“Biasalah, Bu,” sahut Reno sambil terkekeh canggung.
“Kenapa tuh?” tanya Bu Sari lagi, menatap Nayla curiga.
“Gak apa-apa kok, Bu,” jawab Nayla cepat sambil duduk di sofa.
Mereka berempat lalu mengobrol hangat di ruang keluarga — cerita, tawa, dan gurauan mengisi malam itu. Hingga akhirnya, saat langit mulai gelap, Nayla dan Reno pamit menuju kamar.
Bersambung...
Jangan lupa kasih bintang juga ya 🙏🏻🙏🏻
#vote
#like
#komen
Biar author semangat makasih 🥰
Mampir juga ke cerita ku yang berjudul Pengantin Brutal 👇🏻