Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 18
Tama berdiri mematung, pandangan matanya yang tajam melekat pada punggung Elsa yang perlahan berjalan menjauh dan menghilang di balik sekat dapur.
"Mas...! Lihat deh anak itu, benar-benar kurang ajar dan enggak tahu adat!" rengek Andini sembari mengguncang bahu suaminya, mencoba menarik kembali atensi sang Juragan.
Tama mengalihkan pandangannya, menatap istri pertamanya dengan helaan napas berat. "Lagian kamu juga ngapain, sih, pakai main nampar-nampar dia segala?" tanya Tama bingung sekaligus jengkel melihat keributan di rumahnya.
"Ih, aku kan cuma mau memberikan dia pelajaran, Mas! Kamu tahu enggak dia tadi bilang apa? Dia pamer kalau dia masih perawan! Dia sengaja membanding-bandingkan aku yang dulu waktu menikah sama kamu sudah enggak perawan lagi," adu Andini dengan suara yang mendadak mengecil, kepalanya tertunduk menahan malu dan luka lama.
Mendengar alasan itu, rahang Tama melunak. "Andini... Kamu kan tahu sendiri anak itu masih sangat muda. Bicaranya ya pasti asal jeplak saja tanpa dipikir. Kamu kan sudah dewasa, jauh lebih tua darinya," ucap Tama lembut. Tangannya terulur, membelai sayang rambut panjang Andini untuk menenangkannya.
Andini terdiam, meski wajah anggunnya masih memberengut kesal.
"Sayang, dengarkan Mas," bujuk Tama lagi, menangkup kedua bahu istrinya. "Kamu tahu sendiri, kan, gadis itu tomboi dan tenaganya kuat? Si Darma saja pernah ditinju sama dia sampai giginya rontok. Mas cuma enggak mau kamu terluka atau kenapa-napa gara-gara meladeni dia, oke?"
Andini membuang napas berat, matanya membelalak heran. "Serius... Darma kalah sama Elsa? Kan badan Darma gede banget, Mas!"
"Enggak tahu, makanya itu. Mas saja enggak pernah berani main kasar atau main fisik sama dia. dia itu kuatnya minta ampun! Biarpun badan Mas tegap begini, kalau sudah nekat berhadapan sama dia, bisa-bisa badan Mas dipreteli satu-satu sama anak itu," ucap Tama bergidik ngeri, mencoba bercanda untuk mencairkan suasana.
Andini akhirnya mengembuskan napas pasrah. "Yaudah, aku enggak bakal begitu lagi."
"Pintar," Tama mengangguk puas.
Pria itu lantas merangkul pinggang istri pertamanya, menggiring Andini berjalan pelan memasuki kamar mereka untuk beristirahat. Tama mendudukkan Andini dengan hati-hati di tepi ranjang.
"Oh iya, Mas. Semalam aku kan sempat bilang kalau aku punya hadiah kejutan untukmu," ucap Andini, mendadak teringat agenda malam Jumatnya yang sempat tertunda karena rasa lelah.
Tama menatap wajah Andini, sebelah alisnya terangkat. "Memangnya kejutan apa, sih? Dari semalam Mas sudah penasaran banget."
Andini tersenyum misterius. Wanita itu dengan cepat bangkit dari ranjang, melangkah anggun menuju nakas di sudut kamar. Dari dalam laci, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru yang sudah dihias cantik dengan pita kuper.
"Aku punya hadiah ini untuk kamu," ucap Andini manis, menyerahkan kotak itu ke pangkuan Tama.
Tama tersenyum kecil, menerima kotak tersebut. "Hadiah apa ini? Kelihatannya istriku effort banget menyiapkannya..." Tama membaca tulisan di atasnya. "'Untuk suami tercinta', hmm?"
Dengan perlahan dan hati-hati, Tama membuka simpul pita dan tutup kotak tersebut. Dahinya seketika berkerut bingung saat tangannya terulur mengambil sebuah benda kecil berbentuk batangan plastik dari dalam sana. Pria itu memperhatikannya dengan saksama.
"Apa ini, Sayang?" tanya Tama mendongak, memandang Andini dengan raut bingung yang kentara.
Andini tertawa kecil, matanya mulai berkaca-kaca menahan haru. "Coba lihat kertas-kertas yang ada di bawahnya deh, Mas."
Tama kembali menunduk. Dia mengambil selembar kertas yang posisinya terbalik di dasar kotak, lalu membaliknya. Detik itu juga, sepasang mata tajam sang Juragan membelalak sempurna. Di atas kertas hasil cetakan rumah sakit itu, terpampang sebuah gambar siluet gelap abu-abu yang memperlihatkan keberadaan janin kecil di dalamnya.
Napas Tama mendadak tercekat. "Ini... ini maksudnya...?" ucapnya terbata-bata, suaranya bergetar hebat.
Andini menatap suaminya dengan mata yang berbinar-binar penuh kebahagiaan. Tangannya terulur, meraba lembut perut ratanya sendiri. "Aku hamil, Mas..."
"Kamu... hamil, Sayang?!" tanya Tama, seolah masih tidak percaya dengan pendengarannya.
Andini mengangguk mantap dengan air mata kebahagiaan yang mulai meluncur di pipinya.
Tama tertawa puas, tawa paling lepas yang pernah dia keluarkan. Tanpa buang waktu lagi, dia langsung menarik tubuh Andini ke dalam pelukan eratnya, mendekap wanita itu seolah takut kehilangan.
"Akhirnya... Akhirnya setelah sebelas tahun kita menanti, Tuhan memberikan kita momongan, Sayang," ucap Tama, suaranya serak menahan getaran haru yang membuncah di dadanya. Pria bertubuh kekar itu bahkan sampai meneteskan air mata.
Andini pun sama, dia menangis bahagia di dada suaminya sambil mengangguk. Sebelas tahun pernikahan yang dipenuhi gunjingan orang karena belum memiliki keturunan, kini dibayar tunai oleh mukjizat kehamilan ini.
Tama melonggarkan pelukannya sedikit, lalu mengecup lembut seluruh wajah Andini dengan penuh rasa syukur. "Mas sayang sekali sama kamu... Tolong jaga anak kita baik-baik di dalam sini ya, Sayang..." bisik Tama teramat lembut, tangannya ikut mengusap perut rata istrinya dengan penuh kasih.