Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 01 - Darah di Kebun Jamu
Malam turun lebih cepat di lereng Cijeruk.
Naya Prameswari menahan napas saat mencabut akar temu hitam dari tanah basah. Tangan kirinya memegang senter kecil, tangan kanannya kotor oleh lumpur. Angin membawa bau daun pisang, tanah, dan asap kayu dari rumah-rumah jauh di bawah.
"Sedikit lagi," gumamnya.
Nenek Sari butuh akar itu untuk ramuan besok pagi. Seorang ibu muda di kampung sebelah baru melahirkan, badannya panas sejak sore, dan Nenek Sari bilang jamu tidak boleh telat.
Naya memasukkan akar itu ke keranjang bambu. Ia hendak berdiri ketika cahaya senternya mengenai sesuatu di antara rumput.
Merah gelap.
Ia membeku.
Darah.
Jejaknya tidak banyak, tapi jelas terseret ke arah kebun cengkeh tua. Di sampingnya ada bekas sepatu besar, tidak seperti sandal warga kampung. Naya menelan ludah. Jantungnya langsung berdetak lebih keras.
"Ya Allah..."
Ia ingin pulang. Seharusnya ia pulang. Nenek pasti sudah menunggu di dapur sambil memanaskan air.
Namun jejak darah itu terlalu panjang untuk diabaikan.
Naya mengangkat senternya dan mengikuti jejak itu pelan-pelan. Ranting kering patah di bawah kakinya. Di kejauhan anjing menggonggong, lalu suara itu hilang ditelan angin.
Di bawah pohon cengkeh, ia menemukannya.
Seorang pria tergeletak di tanah. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, pakaiannya hitam seperti seragam taktis, dan wajahnya penuh coretan tanah serta minyak gelap. Ada luka di sisi perutnya. Napasnya berat, putus-putus, seperti orang yang sedang melawan sesuatu dari dalam tubuh sendiri.
Naya berjongkok.
"Pak? Pak, dengar saya?"
Tidak ada jawaban.
Ia menyentuh leher pria itu. Panas. Terlalu panas.
"Bapak harus ke puskesmas," katanya, lebih kepada dirinya sendiri. "Saya panggil bantuan."
Naya merogoh ponsel di saku jaket. Tidak ada sinyal.
Ia mengumpat pelan. Di titik ini memang sering hilang sinyal. Kalau harus turun untuk memanggil orang, pria itu bisa kehabisan darah.
Naya menggigit bibir. Ia bukan dokter. Ia hanya perempuan kampung yang membantu nenek membuat jamu dan kadang menemani warga ke puskesmas. Tapi ia tahu luka seperti itu tidak boleh dibiarkan.
Ia melepas selendang dari lehernya, menekan luka pria itu, lalu mengikatnya sekuat mungkin.
Pria itu mengerang.
"Sakit, ya? Tahan sebentar. Saya bantu turun."
Naya menyelipkan tangan pria itu ke bahunya. Tubuhnya hampir jatuh tertarik berat badan pria itu, tetapi ia memaksa berdiri.
Baru satu langkah, pria itu tiba-tiba membuka mata.
Mata itu gelap, tajam, tapi kosong.
Naya belum sempat berkata apa-apa ketika lengannya dicengkeram. Dalam satu gerakan kasar, tubuhnya terempas ke tanah. Keranjangnya terguling. Akar jamu berhamburan.
"Pak! Sadar!" Naya panik. "Saya mau menolong!"
Pria itu menatapnya seperti tidak mengenal manusia. Napasnya makin berat. Tangannya gemetar, tapi cengkeramannya kuat sekali. Naya mencoba mendorong bahunya.
"Lepas! Pak, lepaskan saya!"
Pria itu menunduk. Suaranya serak, hampir seperti orang tersiksa.
"Maaf..."
Naya membeku.
"Saya... tidak bisa..."
"Tidak bisa apa? Pak, lihat saya! Saya bukan musuh!"
Setelah itu, malam pecah.
Naya hanya mengingat potongan-potongan: tanah dingin di punggungnya, senter yang jatuh menyorot dedaunan, bau darah, napas asing, dan suaranya sendiri yang habis karena berteriak. Ia berusaha mendorong, mencakar, memukul. Pria itu seperti sedang bertarung dengan racun di tubuhnya, tapi tubuh Naya yang menjadi korban.
Ketika semuanya berhenti, langit di atas pohon sudah tidak lagi hitam pekat.
Naya duduk dengan tubuh gemetar. Jaketnya robek. Lututnya lecet. Pria itu pingsan lagi di sampingnya, wajahnya pucat, seolah tidak tahu apa yang baru ia hancurkan.
Air mata Naya jatuh tanpa suara.
Ia menampar pria itu sekali.
"Saya menolong kamu," bisiknya. "Saya menolong kamu..."
Pria itu tidak bergerak.
Naya ingin mengambil batu dan memukul kepalanya. Ia ingin berteriak sampai seluruh kampung bangun. Ia ingin membuat pria itu merasakan takut yang sama.
Namun dari kejauhan terdengar suara mesin.
Bukan motor kampung. Banyak. Berat.
Naya tersentak. Dengan sisa tenaga, ia merapikan pakaiannya sebisanya, mengambil keranjang yang sudah hampir kosong, lalu berlari menuruni jalan setapak. Kakinya sakit setiap menginjak tanah, tapi ia tidak berhenti.
Sepuluh menit kemudian, beberapa mobil hitam berhenti di dekat kebun.
Pria-pria bersenjata turun cepat. Salah satu dari mereka berlutut di samping pria yang pingsan.
"Pak Arkan! Pak Arkan, dengar saya!"
"Suntik antidot sekarang!"
"Ada jejak orang lain."
Pria yang dipanggil Arkan itu mengerang. Matanya terbuka pelan. Pandangannya kacau, lalu perlahan fokus pada tanah kosong di sampingnya.
Ada selendang lusuh penuh darah. Di ujungnya tersangkut gelang tali kecil, mungkin milik perempuan.
Arkan Wiratama mengangkatnya dengan tangan gemetar.
"Siapa..." Suaranya nyaris hilang.
Anak buahnya saling pandang.
"Kami temukan jejak kaki perempuan, Pak. Sepertinya dia turun ke kampung."
Arkan menutup mata. Satu kilatan ingatan menusuk kepalanya: wajah seorang gadis, mata basah penuh takut, suara yang memohon agar ia sadar.
Dadanya seperti dihantam.
"Cari dia."
"Pak?"
Arkan menahan sakit, tetapi suaranya berubah dingin.
"Tutup semua jalan turun. Cari perempuan itu. Sekarang."
Sementara itu, Naya sampai di rumah Nenek Sari dengan napas hampir putus.
Lampu rumah sudah menyala.
Di teras, ada mobil putih mengilap yang tidak pernah ia lihat. Sepatu mahal berjejer rapi di dekat pintu. Dari ruang tengah terdengar suara laki-laki asing.
Naya berhenti di balik pohon mangga.
Nenek Sari tampak duduk di kursi bambu, wajahnya tegang. Di depannya seorang pria paruh baya memakai batik rapi, memegang map cokelat.
"Naya harus ikut malam ini juga," kata pria itu. "Pak Pradipta dan Bu Mira sudah menunggu di Jakarta."
Naya mencengkeram batang pohon.
Pak Pradipta?
Bu Mira?
Nama itu pernah Nenek sebut sekali, bertahun-tahun lalu, lalu tidak pernah lagi.
Orang tua kandungnya.
Nenek Sari melihat Naya di ambang pintu. Wajah tua itu langsung berubah, antara lega dan takut.
"Naya..."
Pria berbatik itu menoleh. Matanya menilai Naya dari ujung kepala sampai kaki. Rambut berantakan, pipi pucat, pakaian kusut, bibir pecah.
Alisnya naik sedikit.
"Kamu Naya?"
Naya mengangguk, suaranya belum kembali.
Nenek Sari berusaha tersenyum. "Nak, ini Pak Damar. Dia utusan keluarga Pradipta. Katanya... katanya ayah dan ibumu ingin menjemputmu pulang."
Pulang.
Kata itu seharusnya hangat.
Namun malam itu, kata pulang terdengar seperti pintu yang terbuka ke lubang gelap.
Pak Damar menutup mapnya.
"Kita berangkat sekarang. Jangan bawa terlalu banyak barang. Di Jakarta semua sudah disiapkan."
Naya menatap Nenek Sari. "Nek..."
Nenek mendekat, menggenggam tangannya. Mata Nenek berkaca-kaca.
"Pergilah dulu, Nak. Kalau benar mereka orang tuamu, kamu berhak tahu."
Naya ingin berkata ia tidak sanggup pergi malam ini. Tubuhnya sakit. Kepalanya berisik. Ada darah yang belum hilang dari kulitnya.
Namun Pak Damar sudah menatap jam.
"Lebih cepat lebih baik. Besok pagi urusannya harus selesai."
Naya menoleh tajam. "Urusan apa?"
Pak Damar tersenyum tipis. "Urusan keluarga."
Di luar, jauh di jalan utama, suara mobil-mobil hitam terdengar mendekat.
Pak Damar juga mendengarnya. Wajahnya berubah sedikit.
"Kita harus pergi sekarang."
Naya tidak tahu malam itu mana yang lebih menakutkan: pria asing yang sedang mencarinya dari kebun, atau keluarga kandung yang tiba-tiba ingin membawanya pergi setelah delapan belas tahun.
Namun saat ia naik ke mobil putih itu, ia sempat melihat Nenek Sari berdiri di teras, memegang tas kecil berisi pakaian Naya.
Nenek menangis.
Dan untuk pertama kalinya, Naya merasa ia sedang dibawa pergi bukan untuk ditemukan, melainkan untuk disembunyikan.
Mobil itu melaju sebelum Nenek sempat mendekat.
Naya menempelkan telapak tangan ke kaca. "Nek!"
Nenek Sari mengejar dua langkah, lalu berhenti karena lututnya tidak kuat. Lampu mobil menelan tubuh kecil perempuan tua itu sampai hanya bayangannya yang tersisa.
Pak Damar duduk di depan, sibuk menelepon seseorang.
"Anaknya sudah ikut," katanya pelan. "Iya, sebelum orang Wiratama datang."
Naya menatap punggungnya.
Wiratama.
Nama itu asing, tetapi malam ini sudah dua kali muncul seperti ancaman.
"Siapa yang mencari saya?" tanya Naya.
Pak Damar menutup telepon dan tersenyum tanpa menoleh.
"Tidak penting. Mulai sekarang, yang penting cuma keluarga Pradipta."
Naya menoleh ke jalan gelap.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kata keluarga terdengar seperti pintu penjara.
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕