Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.
Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.
Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Reno menatap pantulan dirinya di cermin. Kantung matanya tebal, wajahnya tampak kuyu, dan sama sekali tidak ada semangat hidup.
Dia menghela napas panjang. "Tiap hari gini terus..."
Reno hanyalah seorang pekerja kantoran biasa dengan siklus hidup yang membosankan: kerja, makan, tidur. Ditambah lagi, dia punya masalah insomnia akut yang membuat malam-malamnya makin terasa panjang.
Sambil merapikan rambutnya yang berantakan, Reno bergumam, "Kapan ya dunia kiamat biar bisa istirahat total? Haha, ngaco."
Dia kemudian berangkat kerja.
Sepanjang jalan, Reno sempat melamunkan orang tuanya. Dia tidak dekat dengan mereka karena keduanya sudah meninggal sejak ia masih kecil. Ayahnya meninggal karena kelelahan bekerja, sedangkan ibunya menyusul tak lama kemudian karena sakit. Seingat Reno, orang tuanya dulu menikah karena dijodohkan dan hubungan mereka sama sekali tidak harmonis.
"Kalau dipikir-pikir... mereka kan nggak akur. Terus kenapa aku bisa lahir ya?" Reno tersenyum kecut memikirkan teka-teki hidupnya itu.
Saat dia hendak menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah truk kontainer melaju kencang ke arahnya secara ugal-ugalan.
"Awaaaas! Remnya blong!" teriak sopir truk dari dalam kabin dengan panik.
Mendengar suara klakson yang memekakkan telinga, Reno menoleh. Matanya membelalak. Truk itu sudah terlalu dekat, mustahil baginya untuk menghindar.
"Sialan...!"
Brak!
Tubuh Reno terpental jauh ke aspal. Dia tewas di tempat secara mengenaskan. Di detik-detik terakhirnya, Reno hanya punya satu penyesalan: dia tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang orang tua, bahkan tidak sempat mengenal mereka dengan baik karena mereka sudah 'log out' duluan dari dunia.
Namun, beberapa saat kemudian, Reno merasakan sensasi aneh. Rasanya ada tangan mungil yang menepuk-nepuk pipinya.
"Ayah... Ayah! Aku eek..."
Suara cempreng anak kecil memecah keheningan, disusul bau pesing yang menyengat hidung. Reno langsung membuka mata, napasnya memburu. Dia menoleh ke segala arah dengan bingung.
"Aku... masih hidup? Eh, ini di mana?" Reno tidak mengenali kamar berantakan tempatnya berbaring saat ini.
"Ayah! Mau eek... Ibu nggak ada."
Reno menoleh ke samping dan langsung merinding. "Hah? Ayah? Bocah siapa nih?! Nikah aja belum!"
Anak laki-laki berusia 4 tahun itu langsung cemberut dan mulai menangis kencang. Suaranya melengking tinggi.
"Aduh, berisik banget! Ini anak siapa sih? Apa ini hukuman buat jomblo umur 30-an? Nggak lucu ah," gerutu Reno sambil menutup telinganya.
Reno langsung beranjak berdiri dan tidak sengaja melihat sebuah cermin di dinding. Saat melihat pantulan dirinya, dia langsung melotot syok.
"Muka siapa ini?! Muka gua mana? Apa gua udah gila? Badut banget!"
Reno mengamati wajah di cermin itu lebih dekat. Detik berikutnya, dia menyadari sesuatu. Wajah ini terasa sangat familier.
"Tunggu... ini kan wajah bokap waktu masih muda? Lah, apa gua dikutuk karena kurang sukses waktu hidup?" Reno mengingat-ingat foto lama orang tuanya yang pernah ia simpan.
Sebelum kepalanya makin pusing, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang wanita berpakaian sederhana masuk dengan wajah cemas.
"Reno, jangan ganggu ayahmu!"
Reno langsung kaku menatap wanita itu. Dia menunjuknya dengan gemetar. "I-Ibu?"
"Ibu? Kamu ngomong apa sih?" Wanita itu bingung, tapi langsung mengalihkan perhatiannya ke anak kecil di kasur. "Astaga! Kamu berak di celana ya? Ayo ikut Ibu ke kamar mandi. Kenapa nggak bilang dari tadi?"
Wanita itu menggendong si bocah dan berbalik untuk keluar. Sebelum menutup pintu, dia menoleh ke arah anak kecil itu. "Jangan diganggu lagi ya, Reno. Ayahmu baru bisa istirahat setelah seharian capek kerja."
Reno mematung. Otaknya mendadak macet. Jadi, anak kecil yang berak di celana tadi adalah dirinya di masa lalu? Dan sekarang dia berada di dalam tubuh ayahnya sendiri?
Belum sempat dia mencerna situasi gila ini, sebuah layar semi-transparan berwarna biru mendadak muncul di depan matanya.
Ding!
[Sistem Berhasil Diaktifkan!]
Misi: Ubah nasib buruk keluarga Anda.
Hadiah Utama: Kembali ke masa depan.
Reno spontan mundur beberapa langkah karena terkejut. Sialnya, kakinya tidak sengaja menginjak bola mainan kecil di lantai. Dia kehilangan keseimbangan, terjatuh ke belakang, dan kepalanya membentur lantai hingga pingsan kembali.