seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepergian Bima
Matahari sudah naik tinggi. Cahaya keemasannya menembus jendela kayu ruang tengah kediaman Hana. Bau kayu cendana dari peti-peti besar memenuhi ruangan. Di lantai, kain sutra, baju zirah ringan, obat-obatan, dan bekal makanan ditata rapi.
Hana berdiri di tengah ruangan, gaunnya yang berwarna merah dia angkat ke mata kaki. Matanya tajam memeriksa satu per satu barang. Di hadapannya berlutut tiga pengawal setianya: Jay, Jek, dan Logan. Di samping mereka, Bima berdiri dengan wajah ragu, memegang cangkir teh tapi tidak diminum.
"Lima peti obat luka, salep anti infeksi, ginseng kering, dan teh penambah darah," ucap Hana sambil menunjuk. "Jay, kau yang bawa peti paling berat. Jek, kau urus baju zirah Ayah. Logan, kau jaga logistik makanan."
"Siap, Nona," jawab ketiganya kompak, dahi masih menempel lantai.
Bima menghela napas. "Hana, Ayah bisa jaga diri sendiri. Tidak perlu bawa banyak orang ke perbatasan. Perjalanan jauh, bahaya..."
Hana menoleh cepat. Tatapannya sedingin es. "Ayah."
Bima terdiam. iya menelan ludah melihat tatapan putrinya,bahkan melihat' nya saja dia tidak berani.
"Dari Sanata sampai ke perbatasan Barat itu 7 hari perjalanan," lanjut Hana pelan tapi menekan. "Lewat hutan, rawa, dan jalur penyamun. Ayah pikir orang-orang di perbatasan akan menghormati Ayah tanpa memiliki pengawal dan membawa banyak pasokan makanan."
"Ayah bukan anak kecil, Hana," bantah Bima lirih. "Aku malu kalau dikawal seperti tahanan."
Hana melangkah mendekat. Ia berdiri tepat di depan Bima. Tinggi mereka hampir sama sekarang. Hana menatap lurus ke mata ayahnya.
"Kalau Ayah menolak," bisik Hana, suaranya rendah tapi menusuk. "Maka malam ini Ayah tidak jadi berangkat. Ayah tetap di sini. Dan konvoi makanan itu aku batalkan. Biar 50 ribu prajurit di perbatasan mati kelaparan. Biar kaisar menyalahkan Ayah karena pengiriman telat. Ayah mau itu terjadi?"
Wajah Bima memucat. Tangannya mengepal. Ia tahu putrinya tidak main-main.
"Ayah... hanya ingin kau tidak repot," gumam Bima akhirnya, suaranya kalah.
Hana mengangkat dagu Bima dengan dua jari. Senyum tipis muncul di bibirnya. "Aku tidak repot, Ayah. Aku hanya mau Ayah pulang hidup-hidup. Mengerti?"
Bima menunduk. Napasnya berat. "Mengerti..."
"Bagus," kata Hana. Ia menoleh ke pengawalnya. "Jay, Jek, Logan. Tugas kalian satu: Ayahku harus kembali ke Sanata dengan selamat. Kalau ada goresan di tubuh Ayahku, aku minta kepala kalian sebagai gantinya. Jelas?"
Ketiganya merinding. "Jelas, Nona! Kami mati pun akan melindungi Tuan Bima!"
Bima hanya bisa mengangguk pasrah. Dalam hati ia bergumam: _Anakku ini... lebih menakutkan daripada Kaisar sendiri._
*Gerbang Selatan Sanata, Sore Hari*
Langit mulai menguning. Konvoi 20 gerobak sudah siap. Para kusir dan prajurit pengawal berdiri siaga. Di kereta utama, duduk seorang pejabat gemuk berkumis tebal. Namanya Menteri Logistik Wira. Ia ditunjuk Kaisar untuk menemani Bima dan mengawasi distribusi emas.
Wira berkeringat dingin. Sejak pagi ia dengar kabar tentang Hana. Wanita yang menjual sepupunya ke rumah bordil. Wanita yang berani membentak Putri Mahkota di depan Kaisar.
Tirai kereta disibak. Hana muncul. Ia tidak naik. Ia hanya berdiri di bawah, menatap ke dalam kereta.
" Menteri Wira," sapa Hana datar.
Wira langsung berdiri dan membungkuk 90 derajat. Perutnya sampai mentok ke meja kecil di kereta. "Nona Hana! Ada... ada perintah apa?"
Hana menyandarkan tangan di kusen pintu kereta. Senyumnya manis, tapi matanya tidak tersenyum sama sekali.
"Ini Ayahku, Bima. Pejabat Tingkat Dua yang ditunjuk Yang Mulia Kaisar," ucap Hana pelan. "Beliau akan satu kereta dengan Anda selama 7 hari ke depan."
"Siap... siap Nona," jawab Wira cepat, suaranya gemetar.
Hana mendekatkan wajahnya. Jarak mereka hanya sejengkal. Wira bisa mencium wangi melati dari rambut Hana, tapi punggungnya justru dingin.
"Begini, Menteri Wira," bisik Hana. "Aku tidak peduli Anda pejabat apa. Aku tidak peduli Anda teman dekat Kaisar atau bukan. Kalau selama perjalanan Ayahku kurang makan, kurang tidur, atau kepanasan sedikit saja..."
Hana berhenti. Ia menatap mata Wira lekat.
"Aku akan memastikan nama keluarga Wira dihapus dari catatan Sanata. Tanah Anda aku sita. Rumah Anda aku bakar. Dan Anda sendiri... akan menyusul sepupuku Luna di distrik selatan.kamu mengharapkan bantuan kaisar ? Coba saja dia tidak akan berani "
Wira menelan ludah. Keringat sebesar biji jagung jatuh dari pelipisnya. "Me... mengerti, Nona. Hamba... hamba akan menganggap Tuan Bima seperti ayah hamba sendiri. Hamba jamin beliau tidak akan kurang apapun!"
Hana mundur selangkah. Senyumnya kembali manis. "Bagus. Aku percaya pada Anda, Menteri Wira."
Wira hampir pingsan lega saat Hana berbalik. Begitu Hana hilang dari pandangan, lututnya lemas dan ia jatuh duduk. "Astaga... wanita itu iblis..."
Bima yang dari tadi diam saja menepuk bahu Wira. "Sabar, Menteri. Anakku memang begitu kalau soal aku."
Wira hanya bisa tertawa hambar. _Ayah dan anak sama-sama menakutkan._
Trompet berbunyi. Konvoi bergerak pelan meninggalkan gerbang Sanata. Debu mengepul. Bima melambaikan tangan dari jendela kereta. Hana hanya berdiri diam, menatap sampai kereta itu hilang di tikungan.
Setelah kereta kuda itu pergi, Hana berbalik. Di belakangnya ternyata berdiri Pangeran Mahkota Alexander. Sejak tadi ia menunggu dengan kuda putihnya.
"Nona Hana," sapa Alex, suaranya gugup. "Bolehkah hamba... mengantar Nona jalan-jalan? maksudnya jika nona tidak keberatan aku ingin mengajak nona jalan-jalan mengelilingi kota kerajaan "
Hana menatapnya sekilas. "Kau tidak sibuk mengurus kerajaan?"
Alex tersenyum canggung. "itu..itu ayahanda sudah mengurus nya untuk ku "
Hana mendengus pelan,pria ini tidak ada tanggung jawabnya fikir Hana."Baik. Tapi kau yang bayar."
pangeran mahkota mengangguk senang,
Mereka berdua akhirnya menunggang kuda menuju Pasar Timur. Pasar paling ramai di Sanata. Suasana sore di pasar selalu meriah. Pedagang buah teriak-teriak, aroma manisan dan roti panggang memenuhi udara, anak-anak berlarian dan tertawa kecil.
Hana turun dari kuda. Ia berjalan di antara lapak-lapak dengan santai. Alex mengikuti seperti pengawal pribadi, membawa semua belanjaan Hana.
"Ini, Nona. Kue lapis madu terenak di Sanata," kata Alex sambil menyodorkan bungkusan.
"Enak," jawab Hana singkat, lalu menyuapkannya ke mulut Alex.
Alex terbelalak. Wajahnya merah padam. _apa aku sedang berhalusinasi,,dia menyuapi ku dihadapan banyak orang" batin nya.
Dia tidak tau saja Hana hanya menganggap nya seperti pengawal nya sendiri.
Sore itu Mereka tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak 18 tahun, Hana benar-benar bersenang-senang. Tidak ada darah, tidak ada balas dendam. Hanya kue, buah, dan tawa.
Tapi kebahagiaan itu tidak lama.
"Hana " suara laki-laki terdengar dari belakang.
Hana menoleh. Matanya langsung menyipit.