NovelToon NovelToon
Talak Di Atas Pelaminan

Talak Di Atas Pelaminan

Status: tamat
Genre:Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.1M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dunia Yumna tiba-tiba berubah ketika sebuah video syur seorang wanita yang wajahnya mirip dengan dirinya sedang bercinta dengan pria tampan, di putar di layar lebar pada hari pernikahan.

Azriel menuduh Yumna sudah menjual dirinya kepada pria lain, lalu menjatuhkan talak beberapa saat setelah mengucapkan ijab qobul.

Terusir dari kampung halamannya, Yumna pun pergi merantau ke ibukota dan bekerja sebagai office girl di sebuah perusahaan penyiaran televisi swasta.

Suatu hari di tempat Yumna bekerja, kedatangan pegawai baru—Arundaru—yang wajahnya mirip dengan pria yang ada pada video syur bersama Yumna.

Kehidupan Yumna di tempat kerja terusik ketika Azriel juga bekerja di sana sebagai HRD baru dan ingin kembali menjalin hubungan asmara dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Angin sore berembus pelan di halaman rumah Pak Yongki. Para tamu keluarga masih berkumpul berkelompok, membicarakan kejadian heboh yang baru saja terjadi, penangkapan Zakia dan pengungkapan fitnah video panas.

Di tengah keramaian itu, berdirilah Yumna wajahnya pucat, tetapi hatinya terasa sedikit lebih lega, seakan beban bertahun-tahun baru saja terangkat dari dadanya. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Azriel berdiri tidak jauh darinya. Mantan suaminya itu menatap dengan tatapan penuh rindu. Tatapan yang membuat Yumna teringat luka masa lalu, tetapi juga kebaikan-kebaikan kecil yang dulu pernah ada di antara mereka.

Azriel menatap Yumna dari kejauhan. Sorot matanya goyah, seperti seseorang yang telah lama menahan sesuatu di dalam dadanya. Ada rindu yang tidak pernah ia akui kepada siapa pun, menyelinap di antara detak jantungnya ketika melihat mantan istrinya itu. Rindu yang bahkan tidak ia sadari masih bertahan selama ini.

Azriel melangkah perlahan, seolah tubuhnya bergerak mendahului logika. Setiap langkah membuat dada Yumna ikut mengencang, meski ia tidak sepenuhnya mengerti alasan dirinya merasa terancam.

Arundaru, yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Azriel, langsung bereaksi. Pandangannya mengeras, rahangnya menegang. Ia mengenali tatapan seorang pria yang ingin kembali mengambil sesuatu yang pernah menjadi miliknya. Sesuatu yang sekarang sedang ia perjuangkan. Seseorang yang kini ingin ia lindungi sepenuh hati.

“Yum—”

Baru satu suku kata terdengar, seseorang langsung bergerak lebih cepat. Arundaru. Pria itu seperti memiliki radar khusus setiap kali Yumna membutuhkan perlindungan.

Tanpa memberi kesempatan pada Azriel untuk mendekat, Arundaru langsung meraih tangan Yumna dan berkata tegas, “Ayo, kita pergi!”

“Eh?” Yumna menatap bingung, tubuhnya sedikit tertarik mengikuti langkah Arundaru.

Gerakan spontan itu membuat semua mata menoleh ke arah mereka, termasuk Azriel yang terpaku di tempatnya.

“Bukannya tadi kamu bilang mau membelikan aku gado-gado yang sering kamu bilang enak itu,” ujar Arundaru cepat, mencari alasan agar Yumna tidak kembali terlibat percakapan menyakitkan.

Yumna berkedip beberapa kali. Yumna masih tidak mengerti maksud Arundaru bicara seperti itu. Karena dia tidak pernah membicarakan hal itu sebelumnya. Dia kebingungan, hatinya bertanya-tanya, “Gado-gado? Rasanya aku tidak pernah bilang soal itu, tadi. Dari mana Mas Arun—”

“Oh ya?” Arundaru berdeham dan mengalihkan tatapan. “Pokoknya aku mau gado-gado. Lapar.”

Dalam hati Yumna mendesah kecil. “Apa Mas Arun sedang merasa lapar sekali, ya? Atau cuma alasan biar cepat pergi dari sini?”

Namun, melihat Azriel yang masih diam menatap, Yumna akhirnya mengangguk. “Baik. Kalau gitu, kita pergi saja.”

Begitu keluar rumah Yumna lagi-lagi dibuat bingung.

Arundaru menyadari itu. Lalu bertanya, “Kenapa?”

"Kita ke sana harus naik motor biar cepat."

"Kita sewa motor sama orang," tukas Arundaru.

Padahal di halaman rumah Pak Yongki banyak motor terparkir milik keluarga dan kerabat Yumna. Namun, Arundaru tidak mau meminjam kendaraan mereka.

Azriel membuka mulut hendak menawarkan motor yang diparkir di dekatnya. Namun, sebelum suara itu keluar—

“Kita pinjam motor anak Pak RT aja,” ujar Yumna cepat.

Azriel akhirnya menutup mulut kembali. Sorot matanya meredup.

Tak lama kemudian, Yumna datang membawa kunci motor pinjaman. Arundaru langsung mengambil alih dan duduk di jok depan.

“Ayo naik,” katanya.

Yumna naik dan duduk rapat. Karena jalanan kampung sempit dan motor kecil, tubuhnya sedikit condong ke depan. Tanpa sadar, kedua tangannya memeluk pinggang Arundaru agar tidak jatuh.

Arundaru menegang sepersekian detik, jantungnya berdesir tajam karena merasakan bagian tubuh Yumna yang menempel di punggungnya. “Ya Tuhan, jangan terlalu kencang, Yumna. Aku bisa mati bahagia sekarang juga.”

Motor itu melaju dengan kecepatan paling lambat dalam sejarah. Bahkan seorang bapak-bapak yang sedang jogging melewati mereka.

“Mas Arun, kenapa pelan sekali?” tanya Yumna pelan.

“Biar aman,” sahut Arundaru tanpa rasa bersalah.

Padahal, alasan sesungguhnya: dia ingin waktu bersama Yumna lebih lama.

Mereka tiba di warung gado-gado yang sederhana, berdinding kayu, dengan poster jadul menempel di dindingnya. Suasana warung hangat, penuh aroma kacang dan bawang goreng.

Saat duduk, Yumna bertanya lembut, “Mas Arun, beneran mau makan gado-gado? Atau tadi cuma mencari alasan?”

Arundaru menggigit bibir bawahnya. “Ya, lapar.”

Tapi Yumna melihat pipi Arundaru sedikit memerah. Ada sesuatu yang pria itu sembunyikan, tetapi Yumna memilih tidak mengungkitnya.

Gado-gado dihidangkan. Sementara Yumna makan dengan ritme normal, Arundaru memotong ucapan, memperlambat suapan, bahkan beberapa kali sengaja mengaduk piring panjang-panjang.

Satu jam berlalu.

Yumna memiringkan kepala. “Mas Arun… biasanya juga kamu makan cepat. Ini kenapa lama sekali?”

Arundaru batuk kecil. “Hmm… menikmati. Biar enggak tersedak.”

Padahal, jelas-jelas dia memperlambat waktu makan agar kebersamaan tidak cepat berakhir.

Ketika keluar dari warung, cahaya matahari sudah berubah jingga.

“Yumna, kamu yakin mau langsung pulang sore ini?” tanya Arundaru hati-hati.

Tatapan Yumna melemah. “Iya. Mas Arun juga sudah lihat sendiri bagaimana mereka memandang aku seperti aku ini makhluk hina. Aku enggak kuat kalau harus menahan tatapan itu lebih lama.”

Arundaru mengangguk pelan. Ia bahkan tidak mencoba mencegah. “Kalau begitu, kita pulang. Kembali ke Jakarta sekarang juga. Menjauh dari orang-orang toxic lebih baik.”

Saat Yumna tersenyum kecil karenanya, Arundaru ikut tersenyum tulus dan lembut.

Hari-hari berikutnya hubungan mereka semakin dekat. Mereka bekerja bersama, pulang bersama, bahkan sarapan bersama kadang-kadang tanpa direncanakan. Keakraban itu tumbuh alami, tidak berlebihan, namun cukup terasa bagi siapa saja yang memperhatikan.

Suatu siang, ketika Yumna berjalan melewati koridor lantai lima dengan tumpukan berkas di tangan, suara langkah cepat mengejarnya.

“Yumna!”

Yumna menoleh. Arundaru datang dengan langkah panjang, wajahnya lebih cerah dari biasanya.

“Ya, Mas Arun? Ada apa?”

Arundaru menarik napas, menyembunyikan gugup. “Malam Minggu besok kamu ada waktu, nggak?”

Nada suara itu terdengar santai, tetapi matanya tidak bisa membohongi. Ada antusiasme yang terlalu sulit ia tutupi.

Yumna memikirkan jadwalnya sebentar. “Kayaknya, enggak ada. Kosong. Memangnya kenapa, Mas?”

Arundaru tersenyum lebar. Benar-benar lebar—persis seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.

Yumna hampir tertawa melihatnya. ”Mas Arun kenapa bahagia sekali…?”

Dalam kepala Arundaru sudah tersusun rencana: makan malam, tempat yang bagus, suasana tenang. Meski ia belum berani bergerak lebih jauh dari naskah yang sudah ditentukan. Dia tahu waktunya belum tiba, tetapi setidaknya, malam itu akan menjadi langkah pertama.

“Pokoknya aku harus bisa mengatakan perasaanku,” batinnya.

Namun, masa depan masih mengikuti alurnya sendiri. Untuk saat ini, yang terpenting Yumna ada di sisinya, dan ia tidak akan membiarkan siapapun membuat perempuan itu terjatuh lagi.

1
nurlizan lizan
ujiannya sungguh berat pasti tdk mudah💪
Muajidah Firdausi
keren
djerrih leni
🤣🤣🤣ngak bisa ditutupin rasa cemburu nya langsung muncul yaa Mas Arun 😄😄
djerrih leni
bisaa jadi dokter itu istrinya Azriel... kan dia di jodohin sama orang tuanya
djerrih leni
wkwkwkwk... kena jebakan batman Barata sabar yayg lg ngidam..
djerrih leni
alhamdulillah di karuniakan twins selamat ya buat calon papa n. mama, ngebayangin kalau cowok. pasti. ganteng n yg cewek pasti syantik..
djerrih leni
emang bisa di tahan dulu, kalau dah waktunya keluar debaynya ha. ha. ha.. ada2 aja bahasa paniknya alon ayah 🤭
djerrih leni
wkwkwkwkk
Rαtu Mαtchα🍿
meleleh gak tuh
Rαtu Mαtchα🍿
nah lohhh mampus kelean
Partini Minok Nur Maesa
klo kyk gini hrsnya dibuat yumna jgn berhijab.berhijab tp ciuman peluk2
djerrih leni
keturunan Sultan ya calon nenek... 🤭😄😄
Partini Minok Nur Maesa
wah pak gynawan tangan kanan arun dan dia tahu arun CEOnya
djerrih leni
terharu liat kamu berdua, setelah melewati. banyak. drama yg datang, tetap bersama berpegangan tangan melewatinya.... thor ada ngak di. dunia nyata ya kayak Arun,... mau.. 🤭
🌸 Sunshine 🌸: 🤭🤭🤭 ada kayaknya
total 1 replies
djerrih leni
bacanya meleleh hati ini Arun.. suami idaman yg cuma. ada di. dunia halu ya Thor..
Violet
Hempaskan hama kudu & wajib dihadapi dgn elegan temu muka lgsg & Yumna jgn pergi, justru harus berlagak cool menegaskan mereka pasangan yg harmonis ga gampang oleng 😎
Halimah
kocak jg ya keluarganya Arun/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Partini Minok Nur Maesa
trs rencana nembak dicafe td gx jadi ato gmn kyk lompat2
Partini Minok Nur Maesa
ceritanya kok buru2 kan blm dicerutain klgmya minta maaf lalu nama baik yumna blm dioerbaiki
Partini Minok Nur Maesa
hrsnya klgnya mencari tahu bkn menghakimi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!