NovelToon NovelToon
Akulah Sang Pemakan Takdir

Akulah Sang Pemakan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Action / Sistem / Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.

Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.

**Sistem Pemakan Takdir.**

Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.

Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.

Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Langit Tidak Lagi Menentukanku

Pedang Han Lie melesat lurus menuju kepala Lin Yuan. Desingannya membelah butiran hujan.

"Matilah!"

Tepat ketika ujung baja itu tinggal beberapa jari dari pelipisnya, segalanya berhenti.

Butiran hujan menggantung di udara seperti kristal. Petir yang menyambar di langit membeku.

Lin Yuan terengah, napasnya tercekat.

"Apa yang terjadi?!"

Suara dingin tanpa emosi menusuk langsung ke dalam kepalanya.

Sinkronisasi berhasil.

Pemakan Takdir aktif.

Kegelapan di depannya terkoyak. Ruang tanpa batas terbuka. Tidak ada langit, tidak ada bumi, hanya lautan bintang hitam yang berputar membentuk pusaran raksasa.

Di tengah pusaran itu, sebuah gerbang hitam pekat melayang. Rantai emas raksasa melilitnya dari atas ke bawah, mengikatnya dengan erat.

Dua kata kuno terukir di atasnya dan membuat pelipis Lin Yuan berdenyut nyeri hanya karena melihatnya.

Pemakan Takdir.

Selamat datang Tuan. Anda adalah pewarisnya.

"Siapa kau?" geram Lin Yuan.

Takdir adalah hukum dunia. Pemakan Takdir adalah hukum yang melampauinya.

Di depan gerbang, sebuah benang merah darah muncul. Benang itu tipis namun memancarkan bau anyir kematian yang menusuk hidung.

Ujungnya melilit erat leher Lin Yuan, ujung lainnya terhubung pada bayangan Han Lie yang masih menahan pedang.

Takdir Kematian terdeteksi.

Tiga napas lagi, kau mati.

Darah Lin Yuan berdesir dingin. Jadi ini vonis langit untuknya.

Rantai emas pada gerbang hitam itu berdenting.

Klang...

Apakah kau ingin memangsa Takdir Kematian ini?

Ya / Tidak

Lin Yuan tidak ragu sedetik pun. Giginya bergemeletuk menahan amarah.

"Ya! Aku makan takdir sialan ini!"

BOOM!

Begitu ia menjawab, seluruh ruang itu bergetar hebat. Rantai emas terkecil di ujung gerbang meretak.

Krak!

Retakannya hanya sepanjang kuku, namun dari celah itu menyembur aura lapar yang kuno, rakus, dan membuat jiwa Lin Yuan seperti mau robek.

Bersamaan dengan itu, benang merah di lehernya ditarik paksa. Bayangan Han Lie di ujung sana meronta, mencoba bertahan, namun kekuatannya bukan apa-apa.

Gerbang itu melahapnya.

Pemangsaan berhasil.

Takdir kematian berkurang 7 persen.

Hadiah: Insting Tempur Dasar.

Hadiah itu tidak masuk dengan lembut.

DUAAAK!

Kepala Lin Yuan seperti dihantam palu godam. Informasi membanjir masuk bukan sebagai tulisan, tapi sebagai rasa sakit. Otot-otot lengannya kejang, urat di lehernya menonjol.

Puluhan tahun pengalaman bertarung dipaksa masuk ke dalam kepalanya yang baru berusia tujuh belas tahun.

Lututnya bergetar, giginya hampir patah karena mengatup terlalu keras.

Dunia kembali bergerak!

Hujan menghantam wajahnya dengan deras! Pedang Han Lie tinggal satu rambut dari matanya!

Tapi sekarang, mata Lin Yuan berbeda. Ia tidak lagi melihat pedang. Ia melihat pergerakan bahu Han Lie yang sedikit terangkat, melihat tumpuan kaki kanannya yang licin karena lumpur, melihat celah selebar telapak tangan di ketiaknya yang terbuka lebar.

Setengah langkah. Cukup setengah langkah ke kiri.

Tubuhnya bergerak sebelum otaknya sempat memerintah. Gesekan sepatunya dengan lumpur menimbulkan suara berdecit.

Swing!

Pedang baja itu membelah udara kosong dengan suara melengking. Anginnya bahkan sempat memotong beberapa helai rambut Lin Yuan.

"APA?!" Han Lie membelalak, matanya hampir keluar.

"Tidak mungkin! Kau... kau menghindari Tubuh Fana Tingkat Ketiga?!"

Empat murid di belakangnya mematung. Wajah mereka pucat.

Lin Yuan mengangkat tangannya yang masih bergetar menahan sisa rasa sakit dari insting itu. Namun untuk pertama kali, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang dingin.

Dan di dalam kesadarannya, gerbang hitam itu berdenting lagi. Lapar.

Klang.

***

Han Lie masih mematung di tempatnya. Tatapannya dipenuhi rasa ketidakpercayaan.

"Itu... mustahil."

Ia yakin serangannya tadi tidak mungkin meleset. Jarak mereka hanya dua langkah, dan Lin Yuan hanyalah sampah yang bahkan tidak mampu menyerap Qi.

Namun kenyataannya, pedangnya hanya membelah hujan.

Rahang Han Lie mengeras karena malu di depan adik-adik seperguruannya.

"Aku tidak percaya kau bisa menghindar dua kali, sampah!"

Whuuush!

Tubuhnya kembali melesat, kali ini jauh lebih cepat. Pedang di tangannya tidak lagi menebas lurus, melainkan berubah menjadi bayangan-bayangan putih yang menusuk dari berbagai sudut seperti taring ular.

Dahi Lin Yuan dibanjiri keringat dingin. Meski kepalanya kini mampu membaca arah serangan itu, tubuhnya masih terlalu lemah untuk mengikuti. Otot-otot kakinya menjerit karena dipaksa bergerak melebihi batas.

Swish!

Satu tebasan berhasil ia hindari dengan memiringkan badan.

Swish!

Tebasan kedua nyaris merobek dadanya, hanya menyisakan perih karena angin pedang.

Tebasan ketiga datang lebih rendah.

Sret!

Ujung pedang Han Lie berhasil merobek bahu kiri Lin Yuan. Darah segar seketika memercik dan bercampur dengan air hujan.

Empat murid di belakang Han Lie langsung meledak tertawa.

"Hahaha! Tadi itu cuma beruntung!"

"Benar! Pedang kayu lawan pedang baja? Lucu!"

Han Lie ikut menyeringai, rasa percaya dirinya kembali.

"Kau memang sedikit berubah jadi tikus yang licin. Tapi tanpa kultivasi, tikus tetaplah tikus. Tetap mati diinjak."

Ia kembali mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Namun kali ini, selangkah-pun Lin Yuan tidak mundur.

Tatapannya justru menembus tubuh Han Lie. Di balik tubuh besar pria itu, ia melihat sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.

Benang-benang tipis berwarna emas melayang-layang di sekeliling Han Lie. Sebagian bersinar terang, sebagian lain redup seperti lampu yang mau padam.

Dan di antara semua benang emas itu, terdapat satu benang hitam pekat yang berdenyut pelan, seperti jantung yang sekarat. Benang itu melilit tepat di pergelangan tangan kanan Han Lie.

Suara dingin itu berbisik di kepalanya.

Jejak Takdir berhasil dideteksi.

Benang hitam adalah Celah Takdir target.

Serang saat Celah terbuka.

Lin Yuan menyipitkan matanya. Jadi setiap makhluk memiliki cacat yang tersembunyi di dalam takdirnya sendiri.

Han Lie kembali menyerang dengan amarah yang meledak.

"Matilah, sekarang!"

Pedangnya menebas lurus ke arah leher Lin Yuan.

Semua orang mengira Lin Yuan akan menghindar lagi. Namun yang ia lakukan justru kebalikannya. Ia maju.

Langkahnya menghentak lumpur.

"Dia gila! Cari mati!"

Han Lie tertawa sinis. "Bagus! Mati saja!"

Tepat sebelum pedang itu menebas lehernya, lutut Lin Yuan menekuk. Ia memutar tubuhnya setengah lingkaran dengan gerakan yang kaku dan dipaksakan. Sendi-sendi kakinya berbunyi nyaring menahan beban.

Swing!

Pedang Han Lie kembali membelah udara kosong karena salah perhitungan jarak.

Dalam waktu yang sama, Lin Yuan muncul tepat di sisi kanan lawannya yang terbuka lebar.

Benang hitam di pergelangan tangan itu kini bersinar dengan terang, berdenyut kencang.

"Inilah saatnya!"

Lin Yuan mengayunkan pedang kayunya yang sudah retak itu sekuat tenaga. Bukan dengan teknik, tapi dengan seluruh berat badannya.

PRAAAK!

Suara kayu menghantam tulang terdengar begitu jelas.

"UGH! ARGHH!"

Han Lie menjerit kesakitan. Pergelangan tangannya patah ke samping dengan sudut yang tidak wajar.

Pedang bajanya terlepas, berputar di udara, sebelum tertancap dalam di tanah berlumpur.

Keempat murid di belakangnya membelalakkan mata sampai hampir keluar.

"Senior Han... dipukul jatuh? Oleh pedang kayu?!"

Han Lie mundur beberapa langkah sambil memegangi pergelangan tangannya yang bengkak.

Wajahnya yang tadinya sombong kini berubah buas seperti binatang terluka.

"Anak haram! Aku akan mencabik mulutmu!"

Aura Tubuh Fana Tingkat Ketiga meledak keluar dari tubuhnya tanpa ia tahan lagi. Tekanan anginnya membuat dedaunan dan air hujan di sekitar mereka berhamburan.

Lin Yuan menarik napas dengan berat. Lengannya terasa nyeri seperti mau copot, seluruh tubuhnya dipenuhi luka dan darah.

Namun untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia berhasil membuat seorang cultivator berlutut.

Suara itu kembali bergema, kali ini lebih panjang.

Pertempuran lintas tingkat berhasil.

Pemangsaan Takdir meningkat.

Sinkronisasi 10 persen.

Tiba-tiba, bukan aliran hangat yang muncul. Justru rasa sakit yang luar biasa.

Glek!

Dari dalam dada Lin Yuan, sesuatu yang telah mengeras selama tujuh belas tahun seperti dipukul godam dari dalam.

Energi asing yang dingin dan lapar itu mengalir paksa ke setiap meridian yang selama ini tertutup rapat oleh lendir hitam. Rasanya seperti ribuan jarum es menusuk urat nadi secara bersamaan.

"Argh... apa... ini..."

Tubuhnya bergetar hebat. Lututnya hampir jatuh. Retakan kecil mulai muncul pada penghalang tak terlihat yang selama bertahun-tahun mengurung tubuhnya.

Han Lie yang merasakan perubahan itu langsung pucat.

"Tidak mungkin... aura itu... jangan bilang..."

Lin Yuan mengepalkan tangannya dengan susah payah. Urat-urat di tangannya menonjol.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan setitik Qi Langit dan Bumi yang dingin dan tipis berhasil masuk menyelinap melalui retakan itu.

Meski hanya setitik dan masih sangat lemah, namun itu nyata dan miliknya.

Penghalang Tubuh Fana tersentuh. Proses memasuki Tingkat 1 dimulai...

Mata Han Lie membelalak penuh ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Dia... dia jadi cultivator?!"

Di langit yang gelap, petir menyambar dengan suara menggelegar.

Lin Yuan perlahan mengangkat pedang kayunya yang berlumuran darahnya sendiri. Tatapannya tidak lagi berisi keputusasaan.

Hari ketika Sekte Awan Langit membuangnya, justru menjadi hari kelahirannya kembali.

Bersambung...

1
Hadi Hadi
😍😍😍💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 💪
Hadi Hadi
sikat 💪
Hadi Hadi
semangat 💪
Hadi Hadi
bunuh
Hadi Hadi
bantai 💪
nanonano
bab mengulang lagi
nanonano: ada 2 bab yang mengulang thor. judul bab beda tp isi sama dengan bab sebelumnya
total 2 replies
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪
Otna Forever: Makasih, sehat selalu 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!