NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32

Mata Asia melirik ke arah sepatu yang dipakai Hugo. Sepatu itu masih melekat di kakinya, belum berhasil dilepaskan. Asia kemudian mengalihkan pandangannya ke seragam PDL tebal yang dikenakan Hugo. Baju dinas itu tampak tebal dan berat. Apa dia juga kesusahan membuka bajunya? batin Asia.

"Ini. Terima kasih," kata Hugo seraya menyerahkan kembali gelas yang sudah ia minum.

Asia merendahkan posisi nampan agar Hugo mudah meletakkan gelas itu di atasnya. Lalu ia permisi untuk pergi. Tapi saat sudah berjalan menuju pintu, langkah kakinya mendadak berhenti.

"Ada apa?" tanya Hugo heran sambil memperhatikan punggung Asia.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Asia memberanikan diri.

Hugo mendongak, menatap Asia dengan raut heran sekaligus waspada.

"Maaf jika saya terkesan lancang. Tapi saya bisa membantu Anda melepas sepatu itu jika Anda mau," tambah Asia cepat sebelum Hugo salah paham.

Hugo menundukkan pandangannya, menatap sepasang sepatu PDL di kakinya. "Kamu melihat aku kesusahan membuka sepatu tadi?" tanya Hugo, lalu perlahan kembali mendongak menatap wanita di depannya.

"Maaf. Saya Tidak sengaja," jawab Asia jujur.

Hugo diam, hanya menatap Asia dengan pandangan datar yang sulit ditebak.

Hugo mendongak, terkejut. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri," tolaknya cepat, berusaha mempertahankan gengsi dan kemandiriannya.

Namun, Asia memperhatikan gerak-gerik Hugo. Pria itu masih mematung di atas kursi roda hidroliknya, napasnya berat, dan tangannya bahkan tampak terlalu lemas sekadar untuk membungkuk menjangkau tali sepatu. Hugo jelas-jelas sudah tidak mampu.

Asia mengambil langkah cepat. Ia langsung berlutut di dekat tumpuan kaki kursi roda Hugo tanpa bicara. karena kalau meminta izin lebih dulu pasti bakal ditolak mentah-mentah.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Membantu." Jemarinya dengan cekatan mulai mengurai ikatan tali sepatu pria itu.

Hugo sempat tertegun dan hendak memprotes, tetapi kelelahan yang teramat sangat serta kecekatan Asia membuat perlawanannya menguap begitu saja. Pria itu akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah, membiarkan Asia mengambil alih.

Hugo yang sudah teramat lelah akhirnya mengalah. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi roda hidrolik, membiarkan Asia mengambil alih dan membantunya.

Namun, dibantu oleh Asia ternyata menghadirkan rasa canggung yang mendadak menyeruak. Pria itu menahan napas pelan. Posisi Asia yang berlutut tepat di depan tumpuan kakinya membuat jarak di antara mereka terkikis hebat. Jari-jari Asia yang terampil mengurai tali sepatu, kehangatan yang samar terasa, hingga aroma lembut yang tercium dari gerakan cewek itu terasa terlalu dekat.

Sebagai sosok yang selalu menjaga jarak dan terbiasa mandiri melakoni segala hal seorang diri, interaksi dengan jarak ini jelas bukan sesuatu yang biasa baginya.

Hugo mengalihkan pandangannya ke samping, berdeham kecil untuk menutupi ketegangannya, berharap detak jantung atau kejengkelan kecil akibat kecanggungannya tidak tertangkap oleh Asia.

"Aku jadi terlihat lemah," kata Hugo pelan setelah berhasil menenangkan dirinya yang sempat tegang. Pria itu menunduk, menatap kakinya yang kini sudah bebas dari sepatu tebal.

Asia yang masih berlutut di dekatnya menghentikan gerakannya sejenak. Ia mendongak, menatap mata Hugo dengan tenang tanpa ada rasa kasihan sedikit pun di raut wajahnya.

"Menurut saya, itu hal yang sangat wajar," ujar Asia mencoba mencairkan suasana. "Saat tubuh sedang lelah, kita sering kali kesulitan melakukan sesuatu yang biasanya sangat mudah dilakukan. Saya juga begitu. Kalau sudah terlalu lelah, melepas jaket saja saya kadang tidak mampu karena tubuh sudah terlanjur lemas."

Asia memberi penjelasan tentang dirinya sendiri terlebih dahulu agar Hugo tidak merasa direndahkan.

Hugo benar-benar mendengarkan setiap perkataan Asia tanpa menyela sedikit pun.

"Ini bukan pekerjaanmu. Kamu hanya aku beri tugas untuk merawat anak-anakku," kata Hugo bijak namun tegas. Pria itu sama sekali tidak lupa akan kesepakatan awal di antara mereka.

"Saya tahu. Tapi saya hanya ingin membantu," balas Asia tenang masih sambil menunduk. "Sebab Anda sudah bersikap baik pada saya. Lagipula, mungkin saja suatu hari nanti saya juga akan dibantu orang lain saat berada dalam kesulitan."

Hugo kembali menatap Asia. Kali ini, tatapannya sedikit melunak, memikirkan ketulusan dari alasan sederhana yang baru saja diucapkan wanita itu.

"Sudah," kata Asia setelah berhasil melepaskan sepasang sepatu tebal dari kaki Hugo. Wajahnya tampak puas karena bisa membantu.

"Terima kasih," sahut Hugo lega.

Asia segera berdiri, lalu mengundurkan langkahnya. Jarak di antara mereka akhirnya kembali menjauh.

"Ada yang lain Pak Hugo?" tanya Asia memastikan.

"Tidak," potong Hugo cepat. Ia memotong perkataan Asia karena tidak ingin suasana di dalam ruangan terus terasa canggung dan sempit akibat jarak mereka yang tadi sempat begitu dekat.

"Baiklah, saya keluar. Lebih baik Pak Hugo segera makan. Karena kalau sedang lelah, kita betul-betul butuh energi," ujar Asia mengingatkan.

"Aku tahu. Terima kasih," balas Hugo singkat.

Asia mengangguk pelan, mengambil nampan di atas nakas, lalu melangkah keluar dan menutup pintu kamar Hugo rapat-rapat.

"Hhhh..."

Hugo menghela napas panjang dan berat begitu pintu kamar tertutup rapat. Padahal interaksi itu hanya berlangsung beberapa menit, namun berada dalam jarak sedekat itu dengan seorang wanita terasa begitu menguras energinya.

Bahkan jauh lebih menguras tenaga daripada pekerjaannya seharian ini.

Hugo memejamkan mata sejenak, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi roda, mencoba menenangkan desir halus dan sensasi canggung yang masih tersisa di dadanya.

***

Di ruang makan.

Nero duduk di kursinya dengan wajah ditekuk. Tubuhnya bersandar malas ke sandaran kursi, sama sekali tidak berminat menatap piring di depannya.

Sepertinya dia lelah dan mengantuk membuat selera makan bocah itu hilang total.

"Kenapa kamu enggak makan, Nero?" tanya Nyonya Malinda lembut sembari mengusap kepala cucunya itu.

"Aku mau beli mainan..." gumam Nero pelan, menyandarkan dagunya di meja dengan raut wajah yang makin cemberut.

Mendengar rengekan adiknya yang tidak ada habisnya, Jenny mendongak dari piringnya. Gadis kecil itu hanya menghela napas panjang tanpa bersuara, lalu kembali menyendok makannya dengan raut wajah jengkel yang makin jelas terlihat.

"Makan dulu, baru nanti beli mainan," kata Nyonya Malinda berusaha membujuk cucunya dengan sabar.

Nero makin cemberut. Bukannya meraih sendok, bocah kecil itu justru mengambil ponsel yang tergeletak di samping piringnya, mengacuhkan teguran sang nenek dan mulai sibuk memencet layarnya sendiri.

Nyonya Malinda menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan cucunya. "Nero, simpan ponselnya. Kalau sedang makan, tidak boleh main HP," tegurnya lagi. Mencoba membawa perhatian Nero kembali pada piringnya.

Namun bocah itu tetap mengabaikan, berpura-pura tidak mendengar.

Nyonya Malinda menghela napas pasrah.

Asia mengusap tengkuknya yang terasa pegal. "Biar sama saya saja, Bu," ucap Asia lembut namun sigap mencoba mengambil alih.

1
Hartati Tati
jangan baper Hugo ... kamu yg pasang tembok tinggi 🤣🤣
Hartati Tati
banyak banyak update jangan sampai lupa 🤣🤣🤣🤣
English Lesson
bagus 👍🏻👍🏻
Lina Marali
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!