NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

Bocah itu sampai ikut tiarap di lantai, kakinya menghentak-hentak karena gemas ingin membantu memojokkan sugar glider yang terus melesat lincah. Asia pun sibuk memegangi bahu Nero agar tidak nekat memanjat atau merangkak terlalu jauh.

"Nero. Cukup," tegur Hugo dengan suara bass yang dalam dan penuh kendali begitu melangkah mendekat. "Jaga sikapmu!"

Asia menoleh cepat, terkejut melihat kehadiran dua orang asing. Penjualnya masih sibuk dengan mengejar hewan itu.

"Eh? Pak Hugo? Pak Gilang?" Asia berkedip bingung dengan napas sedikit terengah. "Kok ada di sini?" Dia merapikan rambut dan pakaiannya yang sedikit berantakan karena ikut menangkap hewan itu.

"Kami hanya memastikan kamu tidak kewalahan menghadapi Nero," sahut Gilang tetap tenang. Menjelaskan meski ada secuil rasa bingung.

"Menghadapi Nero?" Asia berkedip. Dia tidak paham. "Menghadapi Nero apa?"

Melihat Asia yang bingung, Hugo tidak langsung menjawab. Pun tidak terus memarahi Nero. Pria ini mencoba mengedarkan pandangan ke sekitar.

Nero yang tadi tengkurap di lantai ikut menengadah. Lalu berdiri tegak melihat ada papanya. Tidak ada raut wajah marah. Putranya itu tampak tersenyum. "Halo papa!" tangan Nero melambai

Apa-apaan ini? Pikir Hug heran. Merasa ada yang salah dengan dugaannya.

Gilang juga diam mencoba menelaah apa yang sedang terjadi disini.,

Tepat saat itu, penjual toko berhasil menarik tangannya dari kolong rak sambil memegang sugar glider kecil yang gemetaran.

"Sudah ketemu!" ujar penjualnya dengan lega. Namun pria itu terkejut sekaligus heran melihat ada dua orang berseragam tengah menatap ke arahnya.

Asia senyum melihat hewan itu ditangkap lagi, tapi menoleh lagi ke Hugo dan Gilang yang tampak tegang. Wanita ini jadi tidak enak hati.

Nero langsung menepuk-nepuk bajunya, menatap Hugo dengan polos tanpa dosa.

"Ketemu papa! Hewannya ketemu!!" seru Nero senang.

Hugo dan Gilang bergeming di tempat. Meski ekspresi wajah mereka tetap tenang, tegas, dan tak kehilangan wibawa sedikit pun, secara tersirat keduanya tahu... mereka baru saja salah sangka.

"Ehem." Gilang mendehem untuk mencairkan suasana.

Hugo menghela napas panjang. "Ada apa ini?" tanya Hugo dengan intonasi yang lebih tenang karena tahu kalau Nero bukan sedang membuat masalah.

"Itu ... Hewan itu kabur. Jadi kita sama-sama nyariin." Asia yang merasa canggung karena tidak enak hati sambil menunjuk hewan yang ada di tangan penjual.

"Iya, Papa! Tadi hewannya melompat terus sembunyi di bawah! Aku panik takut hewannya kejepit, makanya aku suruh Tante Asia sama Omnya cepat-cepat tangkap!" Nero bercerita dengan senang keseruan tadi.

Gilang tersenyum tipis. Hugo melirik Gilang sebentar.

***

Beberapa puluh menit sebelumnya di dalam mobil.

Mobil yang ditumpangi Hugo sedang melaju pelan dalam perjalanan pulang dari kantor. Gilang yang berada di balik kemudi tiba-tiba menyipitkan mata saat melirik ke arah trotoar dan seberang jalan. Matanya yang jeli menangkap sosok wanita berhelm yang membonceng bocah kecil di seberang jalan.

"Hugo, aku melihat Nero barusan," ucap Gilang tenang memecah keheningan.

Hugo yang sedang memejamkan mata menjawab singkat, "Sepertinya tidak mungkin. Bukannya dia ada di rumah? Anak itu sulit jika diajak keluar. Jadi pasti tidak ada yang mau mengajaknya keluar selain denganku."

Gilang paham betul tabiat Nero yang membuat ruwet. Ia mencoba mengabaikannya, tapi perasaannya tetap tidak enak. Lirikan matanya kembali menangkap sosok bocah di seberang sana.

"Sepertinya itu memang Nero, Hugo. Dia... dengan Asia."

Hugo yang tadi memejamkan mata serentak mendongak.

"Asia?"

"Ya. Lihatlah. Itu Asia."

Hugo mendongak, berusaha melihat dengan jelas ke arah seberang jalan melalui kaca jendela.

Itu memang Asia dan Nero, batin Hugo, terkejut. Mau ke mana mereka?

"Kita ikuti saja," usul Gilang.

"Tidak perlu ..."

Belum sempat Hugo menyelesaikan penolakannya, Gilang sudah lebih dulu memutar lingkar kemudi, membelokkan mobil mengikuti arah motor yang dikendarai Asia dan Nero.

Hugo menghela napas panjang, bersandar kembali ke joknya. Sebenarnya ia sangat enggan melakukan ini karena merasa seperti sedang memata-matai keluarganya sendiri. Namun, rasa penasarannya jauh lebih besar bagaimana bisa Nero yang biasanya begitu sulit diajak keluar rumah oleh siapa pun, kini tampak begitu menurut dan bahkan ceria pergi bersama Asia?

"Baru kali ini aku lihat orang dari rumahmu itu naik motor. Apalagi Nero," kata Gilang sambil terus menjaga jarak aman di belakang motor Asia.

"Aku memang melarang membawa motor," sahut Hugo datar, matanya tak lepas menatap punggung Asia dan anak laki-lakinya.

"Ini pemandangan langka," gumam Gilang lagi sambil menggeleng heran.

Selama ini, hampir semua hal di keluarga Hugo selalu dilakukan dengan mobil. Mengingat kondisi Hugo yang memiliki keterbatasan mobilitas, semua akomodasi keluar rumah memang disesuaikan menggunakan mobil pribadi.

Melihat Nero duduk santai di jok belakang motor matic di tengah jalan raya adalah sesuatu yang benar-benar asing bagi mata Gilang, sekaligus memperlihatkan betapa Asia perlahan membawa warna baru yang berbeda di kehidupan keluarga itu.

Tidak lama kemudian, motor Asia melipir dan berhenti tepat di depan sebuah toko hewan.

"Toko hewan? Mau apa mereka?" tanya Gilang heran.

Hugo yang tadinya enggan dan merasa acuh, kini ikut diliputi rasa penasaran. Setelah melihat Asia dan Nero turun dari motor, Gilang melirik Hugo lewat kaca spion tengah. "Kita turun?"

"Tidak perlu," jawab Hugo cepat.

"Takutnya Asia kewalahan," potong Gilang mengingatkan.

Gilang benar. Selama ini belum ada satu orang pun yang benar-benar bisa meredam emosi Nero saat bocah itu mendadak tantrum di tempat umum.

Hugo diam sejenak, menghela napas pelan. "Baiklah."

Gilang segera mematikan mesin mobil, lalu keluar lebih dulu untuk membukakan pintu dan membantu Hugo turun dari kursi penumpang.

Sementara itu, Asia yang sama sekali tidak menyadari keberadaan mobil Hugo di dekat sana, baru saja melepaskan helm mungil dari kepala Nero. Bocah itu sudah melompat-lompat kecil di sampingnya, tak sabar ingin segera masuk ke dalam toko.

Hingga muncul kesalahpahaman tadi.

***

Asia paham kalau sepertinya Hugo dan ajudannya itu sedang membuntuti mereka. Kepala wanita ini mendongak sekilas menatap jam di dinding toko. Yah, ini memang jam mereka pulang dari kantor, batin Asia memaklumi.

"Jadi beli kan, Mbak?" tanya penjual toko memecah hening, masih memegang sugar glider dengan aman. Karena sempat tegang melihat dua orang berseragam tentara, dia takut batal.

"Iya, Mas," jawab Asia mengangguk yakin. tapi jadi ragu karena sepertinya Nero takut.

"Aku mau beli. Aku mau beli. Aku beli ya, Pa?" tanya Nero meminta ijin dulu.

Hugo mengangguk. "Ya."

"Horeee!!!" Nero gembira. "Ayo beli! Ayo beli!'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!