Larissa Putri Hana seorang gadis berusia 19 tahun, terpaksa menikah di usia mudanya dikarenakan suatu kesalapahaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatima Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Setelah sampai di parkiran, Ana melihat sekelilingnya sebelum masuk ke dalam mobil, hal itu tak luput dari pandangan Arsenio.
"Kenapa belum masuk?" tanya Arsenio.
Ana melihat kearahnya lalu menjawab.
"Saya hanya memastikan jangan sampai ada yang melihat saya naik di mobil bapak".
"Ngapain memperdulikan itu, ayo cepat masuk!" ucap Arsenio lalu masuk ke dalam mobil dan di susul oleh Ana.
Mobil melaju keluar dari gerbang kampus menuju rumah.
Seperti biasanya suasana mobil hening, tak ada satu pun yang membuka suara.
Ana menyalakan ponselnya, lalu membaca pesan dari Kana, Arsenio yang menyadari itu sesekali melihat ke arahnya.
"Aku sudah pulang Na, tolong ambilkan tasku" balas Ana pada Kana.
"Siapa?" tanya Arsenio dengan pandangan ke depan.
"Kana, saya memita tolong agar Kana mengambil tas saya di kelas" jawab Ana sambil menatap Arsrnio dari samping.
Suasana mobil kembali hening, sementara Arsenio terlihat fokus meyetir dan Ana memilih untuk menatap keramayaan jalan saat itu.
Setelah cukup lama dalam perjalanan mereka pun sampai, keduanya keluar dari mobil secara bersamaan.
"Selamat datang tuan, nona" sapa bi Lila dan beebrapa pelayan lainnya secara bersamaan.
Ana tersenyum sebagai jawaban sementara Arsenio dengan sikap dinginnya dan tanpa merespon apapun meneruskan langkahnya masuk ke dalam rumah dan di susul oleh Ana.
"Bi, apa makan siang sudah siap?" tanya Ana pelan namun masih dapat di dengar oleh Arsenio dan menghentikan langkahnya lalu berbalik menatapnya.
"Sepertinya hari ini tuan, ingin makan siang di rumah" sambung Ana, sementara bi Lila menatap sekilas Arsrnio yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Belum nona, tapi saya dan teman-teman akan segera memasak" jawab Bi Lila sambil memberikan kode pada pelayan lainnya.
"Ngak perlu!" ucap Arsenio, semua yang mendengarnya pun melihat kearahnya termasuk Ana.
"Saya mau kamu yang memasak" ucap Arsenio sambil menatap Ana.
"Sa... ya?" tanya Ana tak percaya, bagaimana tidak, ia harus memasak lebih dari satu menu untuk setiap kali waktu makan.
"Ya, sekarang!" sambung Arsenio.
"Tapi, pasti akan memakan waktu lama" ucap Ana.
"Nasi goreng saja" ucap Arsenio lalu kembali melangkah menuju kamar.
Mendengar itu seketika Bi Lila, Ana dan pelayan lainnya mengerutkan dahi bingung.
Ana menatap Bi Lila lalu bertanya.
"Apa tuan, sering seperti ini?".
Bi Lila mengelengkan kepala dan menjawab.
"Sepertinya ini kali pertama tuan meminta untuk menyiapkan satu menu makanan saja".
"Hmm aneh" ucap Ana yang masih dapat di dengan oleh bi Lila dan juga pelayan lainnya.
"Apa nona perlu bantuan?" tanya Bi Lila.
"Tidak apa-apa saya bisa sendiri" ucap Ana.
"Baik nona".
Ana melangkah menuju dapur tak lupa meletakan ponselnya di atas meja makan, dan tanpa menunggu lama Ana pun berlahan membuat nasi goreng buat suaminya.
Selang beberapa menit Arsenio kembali dengan pakai rumahnya dan berjalan menuju dapur lalu duduk di meja makan.
Pandanganya terus tertuju pada Ana yang sibuk menyiapkan makanan untuknya.
Karena merasa bosan ia kembali bangkit dari duduknya lalu dengan pelan berjalan menghampiri Ana, yang saat itu sedang meuangkan nasi goreng buatanya ke piring yang telah ia siapkan.
Di letakannya kedua tanganya di pingir meja kecil yang membuat Ana berada di tengah-tengah antara tangan kiri dan tangan kanannya. Hal itu di lakukannya tanpa di sadari oleh Ana.
Bi Lila dan pelayan lainnya yang sedari tadi ikut menyaksikan akasi tuannya pun di buat bingung.
"Nah, makananya sudah siap" ucap Ana sambil mengangkat piring berisi nasi gereng sejajar dengan dada.
Ana pun berbalik dan terkejut saat jarak wajahnya dan wajah Arsenio sangat dekat sampai-sampai ia dapat merasakan hembusan nafasnya.
"Tua..makasudnya bapak mau ngapai?" tanya Ana lalu melirik samping kiri dan kanannya melihat tangan Arsenio yang di letakannya di pinggir meja.
Mendengar itu dengan cepat Arsenio membuat jarak di atara mereka.
"Hanya ingin melihat sudah selesai apa belum" jawabnya dan berbalik berjalan menuju meja makan.
"Aku mau ngapain sih?" batin Arsenio sambil mengacak-ngacak rambutnya.
"Makannanya sudah siap" ucap Ana
Ana melangkah menuju meja makan lalu dengan pelan meletakan piring berisi nasi goreng tepat di depan suaminya lalu kembali mengambil gelas dan menuangkan air putih lalu kembali meletakannya di depan suaminya.
Arsenio menatap Ana dari samping.
"Ngapai masih berdiri disitu?, ayo duduk!" ucap Arsenio.
"Saya?, duduk di sini?" tanya Ana sambil menujuk kursi yang berseberangan dengan Arsenio.
Arsenio diam, raut wajahnya kembali berubah dingin dengan tatapan masih pada Ana.
"Iya.. Iya saya duduk sekarang. Silakan di makan nasi gorengnya" ucap Ana lalu dengan cepat menarik kursi dan duduk.
Melihat Ana telah duduk di depannya, ia pun mulai mencicipi nasi goreng buatan istrinya.
Setelah memasukan satu sendok ke dalam mulut Arsrnio menatap ke arah Ana.
"Ada apa?,nasi gorengnya ngak enak ya?, sini biar saya ganti yang baru" ucap Ana lalu berdiri dari duduknya.
"Duduk!" pinta Arsenio.
Ana yang mendengar itu pelan-pelan kembali duduk. Sementara Arsenio kembali melanjutkan makannya.
"Dikit-dikit berubah, dasar aneh!" gerutu Ana dalam hati.