Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18 - Sup dari Dapur Mama
Nadira bangun dengan tubuh sakit semua.
Matahari sudah tinggi. Maya tidur di sofa ruang tamu dengan laptop masih menyala di pangkuannya. Di meja ada botol obat, air putih, dan catatan kecil.
Minum obat setelah makan. Jangan sok kuat. Aku beli bubur.
Maya.
Nadira tersenyum lemah.
Ia duduk perlahan. Pergelangan tangannya masih nyeri. Di cermin dekat lemari, ia melihat bekas merah di leher dan rambut yang sedikit rontok karena ditarik. Ia menatap bayangan itu beberapa detik, lalu menarik napas.
Ia masih hidup.
Itu cukup untuk pagi ini.
Bel apartemen berbunyi.
Maya langsung terbangun seperti tentara. "Siapa?"
Nadira memegang kepalanya. "Pelan."
Maya melihat interkom. "Bima."
"Buka."
Bima berdiri di depan pintu membawa rantang besar dan wajah kurang tidur. Di belakangnya ada Arga.
Maya langsung menghalangi pintu. "Pasien baru bangun."
Arga menatap ke dalam. "Aku tidak akan lama."
Nadira muncul di belakang Maya dengan kardigan menutupi piyama.
"Mas seharusnya di mana?"
"Kantor polisi."
"Lalu kenapa di sini?"
Bima cepat mengangkat rantang. "Mama Renata mengirim sup ayam, bubur kacang hijau, dan jamu kunyit asem. Komandan hanya mengantar."
Maya menyipit. "Komandan hanya mengantar?"
Bima mengangguk serius. "Dengan wajah tidak tidur semalaman."
Arga meliriknya.
Nadira melihat wajah Arga. Benar. Matanya merah, rahangnya tampak lebih keras, dan kemejanya bukan yang semalam. Ada lelah yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Ada apa?"
Arga tidak langsung menjawab.
Maya menangkap ketegangan itu. "Masuk dulu. Kalau berita buruk, jangan di lorong."
Mereka duduk di ruang tamu. Bima menata makanan di meja dengan cekatan, seolah tugas hidupnya adalah memastikan semua orang makan saat dunia runtuh.
Nadira menatap Arga. "Kendra?"
Arga mengangkat mata.
Maya berhenti membuka rantang.
"Kendra hilang semalam," kata Arga.
Nadira langsung menegang. "Apa?"
"Laras mengaku meninggalkannya sebentar di mobil saat membeli sesuatu. Ketika kembali, Kendra tidak ada."
"Di mana?"
"Minimarket dekat apartemen Laras."
Nadira berdiri. "Kita harus cari."
Arga juga berdiri, tapi lebih pelan. "Bima dan polisi sudah bergerak. CCTV area sedang dicek. Tim keluarga Bayu juga membantu."
"Kenapa Mas baru bilang sekarang?"
"Karena kamu baru diserang semalam."
"Kendra anak kecil."
"Aku tahu."
"Kalau ada hubungannya dengan serangan semalam..."
"Itu yang sedang kami cari."
Nadira mengambil ponsel. "Aku ikut."
Maya langsung menahan. "Tidak."
"May."
"Kamu hampir diculik atau dipukuli semalam. Tanganmu memar. Kepala sakit. Kamu belum makan. Kamu mau ikut cari anak di jalanan Jakarta dengan kondisi begini?"
"Aku dokter."
"Kamu pasien."
Kalimat itu persis yang Arga ucapkan semalam.
Nadira menatap Maya kesal.
Arga berkata pelan, "Aku butuh kamu tetap aman supaya aku bisa fokus mencari Kendra."
Nadira menoleh padanya.
Kalimat itu bukan perintah. Bukan larangan. Tapi permintaan yang masuk akal.
"Aku bisa bantu dari sini," katanya akhirnya. "Kirim data medis Kendra. Kalau dia memang diculik, anak seusia itu bisa panik, dehidrasi, hipoglikemia kalau lama tidak makan. Aku bisa siapkan daftar hal yang harus diperhatikan."
Arga mengangguk. "Itu akan sangat membantu."
Bima langsung mengeluarkan ponsel. "Saya minta data dari Laras."
Maya menyerahkan mangkuk sup pada Nadira. "Sambil bantu, makan."
Nadira menerima mangkuk. Aroma sup ayam buatan Mama Renata membuat dadanya hangat dan sakit bersamaan.
"Mama tahu soal Kendra?"
"Tahu," jawab Arga. "Dia menangis, tapi tetap masak untukmu."
Nadira menunduk.
Mama Renata marah pada Laras, marah pada Arga, tapi tetap memikirkan Nadira. Cinta seperti itu membuatnya ingin pulang dan tidak ingin pulang sekaligus.
Ia menyuap sup itu pelan.
Rasanya sederhana. Kaldu ayam, wortel, kentang, sedikit pala. Mama Renata selalu bilang sup seperti itu cocok untuk orang sakit karena tidak membuat perut bekerja terlalu keras.
Nadira pernah menertawakan kalimat itu. Sebagai dokter, ia tahu penjelasan Mama Renata tidak sepenuhnya ilmiah. Tapi sebagai orang yang sedang rapuh, ia mengerti bahwa kadang makanan bukan soal gizi saja.
Kadang makanan adalah cara seseorang berkata, "Kamu masih punya rumah," tanpa memaksa orang itu pulang.
Arga memperhatikan ia makan, lalu menunduk saat Nadira menyadarinya.
"Jangan lihat seperti itu."
"Maaf."
"Aku makan karena lapar, bukan karena Mas antar."
"Aku tahu."
Maya berdeham. "Aku tidak tahu, tapi aku memilih diam."
Mereka bekerja dari apartemen selama beberapa jam.
Bima menerima rekaman CCTV dari minimarket. Arga menonton dengan wajah keras. Nadira duduk di samping Maya, membuat catatan medis. Laras beberapa kali menelepon Arga, menangis histeris, menuduh semua orang lambat.
Dalam rekaman, Laras terlihat keluar dari mobil dan masuk minimarket. Kendra duduk di kursi belakang. Lima menit kemudian, seorang pria bertopi mendekat, membuka pintu mobil, dan membawa Kendra pergi.
Nadira mengerutkan kening. "Pintu mobil tidak terkunci?"
Bima memperbesar video.
Arga menatap layar. "Laras menguncinya?"
"Tidak terlihat," jawab Bima.
"Atau sengaja tidak dikunci," kata Maya.
Nadira menatap Maya. "Jangan dulu."
Maya mengangkat tangan. "Aku tahu. Bukti dulu."
Arga menatap Nadira sebentar. Ia mendengar nada itu. Jangan menuduh tanpa bukti. Nadira konsisten bahkan pada orang yang menyakitinya.
Ponsel Bima berbunyi.
"Ada titik sinyal ponsel Kendra. Bukan jauh. Gudang kosong dekat Kalibata."
Arga langsung berdiri.
Nadira ikut berdiri. "Aku ikut."
"Nadira..."
"Kalau Kendra ditemukan dalam kondisi medis buruk, kalian butuh dokter."
Maya menatap Arga. "Aku ikut juga."
Bima membuka mulut, lalu menutup lagi. Ia tahu tidak ada gunanya melawan dua perempuan itu.
Arga memandang Nadira. "Kamu tetap di mobil sampai aman."
"Aku keluar kalau dibutuhkan."
"Baik."
Maya berbisik, "Kalian terdengar seperti pasangan yang sedang belajar negosiasi."
"May."
"Aku diam."
Mereka menuju lokasi dengan dua mobil. Polisi sudah bergerak lebih dulu. Arga berkoordinasi dengan petugas, kali ini tidak mengambil alih seenaknya. Nadira memperhatikan dari mobil, melihat bagaimana ia bicara tegas tapi tetap mengikuti prosedur.
Gudang itu kecil, bekas tempat penyimpanan alat bangunan. Pintu belakang terbuka.
Tidak ada perlawanan besar. Dua pria yang menjaga kabur saat polisi datang, satu berhasil ditangkap. Di dalam, Kendra ditemukan duduk di sudut dengan tangan terikat longgar dan mulut tidak diplester.
Anak itu menangis saat melihat Arga.
"Om Arga!"
Panggilan itu berubah.
Bukan Papa.
Om.
Arga memeluknya sebentar, lalu membawa keluar.
"Nadira!" panggilnya.
Nadira langsung turun dengan tas medis. Ia memeriksa Kendra di kursi mobil. Denyut nadi cepat, tekanan darah agak turun, tanda dehidrasi ringan, tapi tidak ada luka serius.
"Kendra, lihat Tante."
Kendra menatapnya dengan mata sembab.
"Tante dokter yang dulu di rumah sakit?"
"Iya. Boleh Tante periksa?"
Kendra mengangguk.
Nadira memberinya air sedikit-sedikit dan biskuit. "Pelan. Jangan langsung banyak."
Kendra memegang tangan Nadira. "Maaf."
Nadira berhenti.
"Untuk apa?"
"Aku pernah bilang Tante jahat."
Maya memalingkan wajah, matanya basah.
Nadira mengusap rambut Kendra pelan. "Tidak apa-apa. Kendra tidak salah."
Arga melihat pemandangan itu dengan dada sesak.
Laras datang tak lama kemudian, berlari turun dari mobil dan langsung memeluk Kendra.
"Anakku! Ya Allah, anakku!"
Kendra memeluknya, tapi wajahnya bingung.
Bima mendekati Arga dengan suara rendah. "Pria yang tertangkap mengaku dibayar untuk membawa anak itu, tapi instruksinya aneh. Dia disuruh membawa Kendra ke tempat yang mudah ditemukan setelah beberapa jam."
Arga menatap Laras.
Bima melanjutkan, "Dan dia punya rekaman suara pemberi instruksi. Perempuan."
Nadira mendengar dari dekat. Ia menatap Laras yang menangis memeluk Kendra.
Hatinya tenggelam.
Jika benar Laras merancang ini, maka perempuan itu bukan hanya menyerang Nadira.
Ia menyerang anaknya sendiri.
Laras mengangkat wajah, menangkap tatapan mereka.
Tangisnya tersendat.
Arga berkata pelan, "Kita bicara setelah Kendra diperiksa di rumah sakit."
Laras memeluk Kendra lebih erat.
"Aku ibunya. Jangan pisahkan aku dari anakku."
Tidak ada yang menjawab.
Justru karena ia ibunya, semua orang tampak lebih takut.
Nadira menutup tas medisnya pelan. Ia tidak punya bukti, tapi tubuhnya sebagai dokter dan masa kecilnya sebagai anak panti sama-sama mengenali ketakutan Kendra. Itu bukan hanya takut pada penculik. Ada takut lain, takut yang lahir ketika anak mulai ragu pada orang yang seharusnya paling ia percaya.