NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

"Boleh saya bertanya sesuatu?"

"Boleh."

Ibra menarik napas pelan. "Kamu... Mencari suami yang seperti apa?"

"Hah?!" Mata Azel langsung membulat.

Ia refleks menoleh ke arah Ibra. Beruntung Arjun masih terlelap, sehingga tidak terbangun oleh reaksinya.

"Pak, itu pertanyaan apa?"

Ibra berdeham pelan. "Kalau tidak ingin menjawab juga tidak apa-apa."

"Bukan..." Azel menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Saya cuma kaget. Tiba-tiba ditanya begitu. Memangnya Bapak lagi survei?"

Ibra terkekeh kecil. "Bisa dibilang begitu."

Azel ikut terkekeh. "Kalau soal kriteria, jujur saya nggak punya daftar yang macam-macam, Pak."

"Oh ya? Masa seorang Ning tidak punya kriteria." Ibra menatapnya penuh perhatian.

Azel menggeleng. "Ya emang enggak, Pak. Tapi ada satu syarat."

"Apa itu?"

"Kalau suatu hari nanti ada laki-laki yang datang melamar saya, dia harus bisa meyakinkan empat laki-laki paling penting dalam hidup saya."

Ibra mengernyit. "Empat laki-laki?"

Azel mengangguk. "Abi, Kak Arshaf, Kak Aryan. Dan Opa. Seharusnya lima tapi karena Jaddun saya sudah meninggal ya berati cukup 4 laki-laki itu saja."

Ibra mengangguk. Ia sudah tau bahwa Kiai Alif sudah tiada.

"Saya percaya. penilaian mereka jauh lebih baik daripada penilaian saya. Mereka lebih berpengalaman. Kalau mereka semua berkata 'iya', berarti memang laki-laki itu layak diperjuangkan."

Ibra mengangguk pelan. "Hanya itu?"

"Iya. Berarti dia punya keberanian. Karena menghadapi empat orang itu nggak gampang."

Ibra tersenyum tipis. "Itu benar."

Ia kembali bertanya. "Kalau masa lalu laki-laki itu buruk?"

Azel terdiam sesaat.

"Semua orang punya masa lalu, Pak. Yang saya lihat bukan siapa dia dulu. Tapi siapa dia hari ini. Kalau dia benar-benar ingin berubah menjadi lebih baik, kenapa harus terus dihukum oleh masa lalunya? Kita semua sama-sama belajar. Kita juga sama-sama manusia yang penuh salah."

Jawaban itu membuat Ibra terdiam. Lalu ia kembali bertanya.

"Kalau usianya jauh lebih tua?"

Azel tertawa kecil. "Loh...Memang biasanya suami lebih tua, kan?"

"Ya, maksud saya jauh lebih tua."

Azel berpikir sejenak. "Hmm... Kalau selisihnya masih wajar sih nggak masalah. Tapi jangan terlalu jauh."

"Kenapa?"

"Soalnya saya baru delapan belas tahun. Nanti kalau selisihnya lebih dari sepuluh tahun rasanya aneh. Orang melihatnya bisa kaya bapak dan anak bukan sepasang suami istri."

Ibra menaikkan sebelah alisnya. "Lebih dari sepuluh tahun tidak mau?"

Azel menggeleng mantap. "Nggak. Nanti saya malah manggil 'Pak' terus."

"Eh..." Azel langsung menepuk dahinya sendiri. "Lho... Kan sekarang juga saya manggil Bapak 'Pak'."

Ibra tak kuasa menahan senyumnya. "Benar juga. Tapi saya dengan kamu hanya beda 9 tahun."

"Masa sih Pak?"

"Iya."

Azel manggut-manggut.

Beberapa detik kemudian, Ibra kembali membuka suara.

"Kalau laki-laki itu seorang duda?"

"Uhuk! Uhuk!" Azel yang baru saja meminum air langsung tersedak.

Ia batuk beberapa kali sambil menepuk-nepuk dadanya.

Ibra refleks berdiri. "Hati-hati. Minum pelan-pelan."

Azel mengangkat telapak tangannya, memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja.

"Pak... Bapak ini pertanyaannya makin aneh."

Ibra berdeham pelan. "Maaf. Saya hanya penasaran."

Setelah batuknya reda, Azel tersenyum tipis. "Kalau menurut saya. Status duda atau bukan itu bukan ukuran seseorang baik atau buruk. Bisa saja rumah tangganya gagal karena kesalahan bersama. Atau karena diuji dengan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Saya nggak berhak menghakimi seseorang hanya dari statusnya."

Ibra mendengarkan tanpa menyela.

"Tapi..." Azel melanjutkan. "Kalau memang dia seorang duda, saya tetap ingin tau alasannya. Bukan untuk menghakimi. Tapi supaya saya tau bagaimana dia menyikapi masalah dan apa yang bisa dipelajari dari masa lalunya."

Ibra mengangguk pelan. "Jawaban yang dewasa."

Azel tersenyum kecil. "Saya cuma berusaha adil, Pak. Karena setiap orang pasti ingin diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik."

Suasana kembali hening. Ibra sendiri sebenarnya tidak berniat mengatakan apa pun lagi.

Namun entah mengapa, ucapan itu lolos begitu saja dari bibirnya.

"Kalau..." Ia berhenti sejenak. "...laki-laki itu saya, bagaimana?"

"Hah?!" Kali ini reaksi Azel jauh lebih heboh. Matanya membulat sempurna.

"Pak?!"

Ia refleks menoleh ke arah Arjun. Untung bocah itu masih tertidur pulas dengan napas yang teratur.

Azel kembali menatap Ibra dengan wajah penuh kebingungan. Sementara itu... Begitu kalimat tersebut keluar, Ibra sendiri langsung menyesalinya.

"Apa yang baru saja aku ucapkan?" batinnya.

Ia mengembuskan napas pelan. "Maaf. Lupakan saja."

Azel masih menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan mengangkat tangan dan menunjuk wajah Ibra.

"Ini beneran Pak Ibra, kan?"

Ibra mengernyit. "Maksudmu?"

"Bukan hantu?"

Ibra memandangnya datar. "Kenapa saya jadi hantu?"

"Soalnya pertanyaannya aneh."

"Aneh dari mana?"

"Ya... aneh aja. Bapak biasanya nanya tugas, nilai, atau statistika. Lah ini malah nanya beginian."

Ibra menyandarkan punggungnya ke sofa. "Berarti dosen tidak boleh bertanya di luar materi kuliah?"

"Boleh. Tapi... Bukan pertanyaan yang bikin mahasiswa hampir kena serangan jantung."

Ibra terkekeh pelan. "Berlebihan."

"Nggak berlebihan. Bapak tadi nanyanya serius banget. 'Kalau laki-laki itu saya bagaimana?' Itu menurut Bapak pertanyaan biasa?"

Ibra terdiam sesaat. "...Tidak."

"Nah, kan." Azel langsung menyilangkan kedua tangannya. "Berarti Bapak sadar."

"Saya sadar. Tapi sudah terlanjur."

Azel menghela napas panjang. "Pak... Saya jadi bingung harus jawab apa. Saya juga bingung kenapa saya bertanya seperti itu."

Kini justru Azel yang terdiam. Beberapa detik kemudian...

Ia memicingkan mata. "Jangan-jangan..."

"Apa?"

"Bapak lagi ngetes psikologi saya?"

Ibra spontan tertawa kecil. "Kamu terlalu banyak berpikir."

"Lah, habisnya... Dosen saya tiba-tiba nanya begitu. Kalau bukan ngetes terus apa?"

Ibra mengusap tengkuknya yang mendadak terasa kaku. "Saya sendiri tidak tau."

Jawaban jujur itu justru membuat Azel kehilangan kata-kata. "Lho... Bapak aja nggak tahu?"

Ibra menggeleng pelan. "Tidak. Mungkin... saya terlalu penasaran."

Azel langsung menggeleng cepat. "Nggak. Itu bukan penasaran."

"Terus?"

"Itu namanya bikin mahasiswa overthinking."

Ibra menaikkan sebelah alisnya. "Mahasiswa memang hobi overthinking."

"Ya gara-gara dosennya!"

"Jadi sekarang salah saya?"

"Iya."

"Padahal yang bertanya cuma satu kalimat."

"Justru satu kalimat itu masalahnya." Azel menghela napas dramatis. "Saya pulang dari sini bisa mikirin ini seminggu."

Ibra tak kuasa menahan senyum. "Kalau begitu anggap saja pertanyaan itu tidak pernah ada."

Azel langsung menggeleng. "Nggak bisa."

"Kenapa?"

"Soalnya udah masuk telinga. Nggak ada tombol delete-nya."

Ibra terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. "Memang kamu ini."

Azel spontan menyahut, "Kan Bapak duluan yang mulai."

Untuk beberapa detik, keduanya saling berpandangan. Lalu, tanpa sadar, mereka sama-sama tertawa kecil.

Perdebatan yang biasanya terasa serius, kali ini justru berubah menjadi kecanggungan yang sama-sama berusaha mereka tutupi dengan saling menyalahkan.

Setelah kecanggungan di antara mereka perlahan mereda, Ibra lebih dulu memecah keheningan.

"Pindahkan Arjun saja. Kamu geser. Nanti pahamu pegal."

Azel mengangguk pelan. "I-iya, Pak. Kalau begitu... habis ini saya pulang aja."

"Hm."

Dengan sangat hati-hati, Azel menyelipkan tangannya di bawah kepala Arjun. Perlahan ia mengangkat kepala bocah itu, lalu menggantinya dengan bantal sofa yang empuk agar tidurnya tidak terganggu.

Arjun hanya bergumam pelan dalam tidurnya, tetapi tidak terbangun.

Azel tersenyum lembut. "Maaf ya, ganteng. Kakak pulang dulu."

Setelah memastikan Arjun tetap nyaman, Azel berbalik hendak melangkah menuju pintu.

Namun... Ujung gamisnya tanpa sengaja terinjak oleh kakinya sendiri.

"E-eh..."

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Refleks Ibra yang berdiri tidak jauh darinya langsung bergerak cepat untuk menahan Azel agar tidak membentur lantai.

Karena dorongan tubuh Azel cukup kuat, keseimbangan Ibra pun ikut hilang. Akibatnya, mereka sama-sama terjatuh ke atas karpet ruang keluarga.

Ibra mendarat lebih dulu dengan punggungnya, sementara Azel jatuh tepat di atas tubuhnya.

Suasana mendadak hening.

Azel masih memejamkan mata rapat. "Kok... nggak sakit?" batinnya bingung.

Bahkan... Yang ia rasakan justru sesuatu yang empuk dan hangat. Perlahan ia membuka kedua matanya.

Begitu pandangannya fokus...

Deg!

Matanya langsung membelalak. Ia mendapati wajah Ibra hanya berjarak beberapa senti darinya. Tatapan mereka saling bertemu. Tak satu pun mampu berkata-kata.

Wajah Azel seketika memerah. "Astaghfirullah....Maaf, Pak!"

Dengan panik ia segera bangkit dan menjauh beberapa langkah. Jantungnya berdegup sangat cepat. Ia bahkan tidak berani menatap Ibra lagi.

Ibra pun segera bangun sambil merapikan posisi duduknya. "Maaf. Saya tadi cuma refleks menahan kamu."

"I-iya... Saya yang ceroboh."

Azel menundukkan kepala, merasa sangat malu. Suasana kembali berubah canggung. Keduanya sama-sama memilih menghindari tatapan satu sama lain.

Untungnya, Arjun masih tertidur pulas di sofa, sama sekali tidak menyadari kejadian singkat yang baru saja terjadi di ruang keluarga.

***

Begitu motor berhenti di halaman ndalem, Azel langsung melepas helm sambil mengembuskan napas panjang.

"Ya Allah..."

Hari ini benar-benar melelahkan. Tapi... Yang membuat ia lelah bukan karena perjalanan. Melainkan karena seseorang.

Pak Ibra.

Azel masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu menjatuhkan tubuh ke atas kasur. Wajahnya langsung ditutup dengan bantal.

"Huwaaa..."

Gadis itu mengacak-acak rambut yang tertutup hijab sebelum akhirnya melepasnya.

"Kenapa sih hari ini aneh banget?"

Matanya menatap langit-langit kamar. Bayangan kejadian di rumah Pak Ibra tadi terus berputar di kepalanya.

"Kalau laki-laki itu saya, bagaimana?"

Azel spontan menarik bantal lalu menutup wajahnya lagi.

"Ya Allah... Kenapa beliau nanya begitu?"

Bukannya beliau dosen yang dingin? Serius? Kaku?

Kenapa tiba-tiba melempar pertanyaan yang bikin gadis itu hampir mati kutu?

"Mana aku jawabnya ngawur lagi."

Belum selesai memikirkan pertanyaan itu, otaknya malah memutar kejadian berikutnya.

Saat dirinya terpeleset. Lalu... Jatuh tepat di atas tubuh dosennya.

Deg!

Azel langsung membuka mata lebar-lebar. Tanpa sadar tangannya menyentuh kedua pipinya sendiri. Masih terasa hangat.

"Astaghfirullah... Jaraknya deket banget..."

Azel bahkan masih ingat jelas bagaimana dirinya sempat saling menatap beberapa detik. Tidak ada yang bicara.

Dan entah kenapa jantungnya saat itu rasanya mau meloncat keluar.

"Ya Allah... Untung nggak ada yang lihat. Kalau sampai Abi, Kak Arshaf, Kak Aryan atau Opa melihat kejadian itu. Aku yakin mereka bukan cuma kaget. Bisa-bisa Pak Ibra langsung disuruh duduk di ruang tamu untuk dimintai penjelasan."

Membayangkannya saja sudah membua dirinya menutup wajah lagi dengan bantal.

"Bodoh banget, Zel! Jalan aja bisa keinjek gamis sendiri."

Ia memukul pelan dahiku. "Lain kali hati-hati!"

Beberapa detik ia mencoba mengalihkan pikiran. Tapi yang muncul lagi justru wajah Pak Ibra. Pertanyaannya. Tatapannya. Dan cara beliau refleks menangkapnya tadi.

Azel langsung duduk tegak.

"Eh! Nggak boleh!"

Azel menepuk-nepuk pipinya sendiri pelan. "Kenapa aku malah kepikiran terus, sih? Dia itu dosen kamu! Fokus kuliah, Azel!"

Azel menggeleng kuat, seolah ingin mengusir semua bayangan itu dari kepalanya.

"Nggak boleh overthinking."

"Nggak boleh GR."

"Bisa aja Pak Ibra cuma iseng."

"Iya... Pasti cuma iseng."

Meski begitu... Semakin ia berusaha melupakannya. Semakin jelas pertanyaan itu terngiang di kepala.

"Kalau laki-laki itu saya, bagaimana?"

Azel langsung menarik selimut hingga menutupi wajah. "Ya Allah... Tolong hentikan otakku. Soalnya kalau begini terus, besok aku malah malu sendiri kalau ketemu beliau di kampus."

***

Malam semakin larut. Rumah kembali sunyi. Arjun sudah terlelap di kamarnya setelah minum obat dan mendengarkan cerita sebelum tidur.

Sementara itu, Ibra masih duduk sendirian di ruang keluarga. Tatapannya kosong menyorot sofa tempat Azel tadi menemani Arjun. Tanpa sadar, jemarinya menyentuh pelan dadanya sendiri.

Deg... Deg... Deg.

Jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia mengembuskan napas panjang.

"Apa ini..."

Pikirannya kembali memutar kejadian beberapa menit lalu. Saat Azel kehilangan keseimbangan. Refleks ia menangkap gadis itu. Lalu mereka sama-sama terjatuh.

Dan untuk beberapa detik, Azel berada tepat di atas tubuhnya. Jarak mereka begitu dekat. Bahkan ia masih mengingat jelas wajah gadis itu yang memerah karena malu.

Ibra memejamkan mata. "Astaghfirullah..."

Ia mengusap wajahnya pelan. "Kenapa aku ikut gugup?"

Padahal selama bertahun-tahun. Ia selalu mampu menjaga jarak dengan siapa pun.

Setelah perceraiannya, ia menutup rapat pintu hatinya. Baginya... Hidupnya hanya untuk Arjun. Tak ada ruang lagi untuk memikirkan perempuan lain.

Namun, hari ini... Semuanya terasa berbeda.

Pertanyaan yang tadi terlontar begitu saja dari mulutnya kembali terngiang. "Kalau laki-laki itu saya, bagaimana?"

Ibra menggeleng pelan. "Apa yang sebenarnya sedang kupikirkan?"

Ia bahkan tidak merencanakan pertanyaan itu. Kalimat itu keluar begitu saja. Seolah ada bagian dari hatinya yang berbicara lebih dulu daripada akalnya.

Ia menyandarkan kepala ke sofa. Lalu berbisik pelan.

"Apa..a aku mulai menyukai gadis itu?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Ia tidak langsung menjawabnya.

Sebaliknya, ia mencoba mengingat satu per satu alasan mengapa ia begitu sering memikirkan Azel akhir-akhir ini.

Karena Arjun? Atau... Karena dirinya sendiri?

Ia teringat ucapan Athar semalam. "Jangan jadikan Arjun alasan. Kalau hanya demi Arjun, kamu akan mencari siapa pun yang bersedia. Tapi kalau hatimu memang memilih Azel, Itu cerita yang berbeda."

Ibra menundukkan kepalanya. Dulu... Ia pernah mencintai seseorang dengan begitu dalam. Ia pernah membangun rumah tangga dengan harapan bisa hidup hingga tua bersama. Namun yang ia terima justru pengkhianatan.

Sejak saat itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mudah membuka hati lagi.

Karena ia takut. Takut kecewa. Takut Arjun kembali terluka.

Dan... Takut mengulang kesalahan yang sama.

Namun setiap kali melihat Azel bersama Arjun, hatinya terasa hangat. Cara gadis itu memperlakukan putranya tidak pernah dibuat-buat. Tidak pernah mencari pujian. Semuanya mengalir begitu saja. Ia bahkan rela datang ke rumah sakit tanpa banyak bertanya.

Menemani Arjun. Menyuapinya. Membujuknya minum obat. Hingga membuat bocah itu kembali tersenyum.

Ibra tersenyum kecil. "Itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan."

Lalu senyumnya perlahan memudar. "Tapi apa yang kurasakan sekarang juga bukan sesuatu yang bisa kupungkiri."

Ia mengangkat wajah menatap langit-langit rumah. "Ya Allah... Kalau ini hanya rasa kagum tolong jaga hati hamba. Tapi kalau memang Engkau sedang membuka kembali hati yang sudah lama tertutup maka tuntunlah langkah hamba. Agar aku tidak menyakiti siapa pun. Termasuk dirinya."

Malam itu, Ibra tidak lagi bertanya apakah Arjun membutuhkan seorang ibu. Melainkan... Apakah ia sendiri mulai benar-benar ingin mengenal Azel, bukan karena siapa pun, melainkan karena hatinya mulai bergerak.

1
Aidil Kenzie Zie
hm hm si Kutub Utara mulai mencair 🤣🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!