Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Yunche terus menatap lantai gua yang dingin. Bayangan Gu Qingli kecil secara konstan berputar di dalam benaknya—gadis kecil yang terisak menangis, diselimuti rasa takut, dan sendirian di tengah lautan api.
Yunche memejamkan matanya rapat-raptat. "Aku..." Suaranya tercekat, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Shen Mo berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong gua. "Beristirahatlah."
Yunche mendongak menatap punggungnya.
"Besok..." Shen Mo menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh.
"Besok ada apa?" tuntut Yunche.
"Besok kita akan membuka segel ketiga pada liontinmu." Shen Mo menoleh sedikit, menatap altar batu. "Dan setelah segel itu terbuka... kau akhirnya akan mengerti alasan sebenarnya mengapa ayahmu memilih untuk mati."
Malam kian melarut ketika Gu Qingli akhirnya tiba di kaki Gunung Tianyuan.
Sendirian dan diterpa angin malam yang menusuk hingga ke tulang, gadis itu menghentikan langkahnya dan mendongak menatap kemegahan gunung terlarang yang diselimuti kabut kelam. Jemarinya meremas erat gagang pedang di pinggangnya.
"Yunche..." bisiknya pelan, lalu memantapkan pijakan untuk mulai mendaki.
Namun, baru beberapa langkah mengayun, sesosok bayangan mendadak melesat keluar dari kegelapan dan menghalangi jalannya.
Gu Qingli refleks menghunus pedangnya, membias pendar dingin yang tajam. "Siapa di sana?!"
Pria berbalut jubah hitam itu menyunggingkan senyum misterius di balik kegelapan. "Rupanya sang putri kesayangan Gu Tianming..."
Gu Qingli mengencangkan genggamannya pada gagang pedang. "Jangan berani-berani menyebut nama itu di hadapanku! Siapa kau?!"
Pria berjubah hitam itu memilih tak menjawab tuduhannya. "Shen Yunche ada di atas sana," ucapnya santai.
Gerakan Gu Qingli seketika membeku. "Di mana dia?!"
"Ikutlah bersamaku."
"Atas dasar apa aku harus mengikutimu?"
Pria itu tersenyum makin lebar. "Bukannya kau memang mendaki gunung ini semata-mata untuk bertemu dengannya?" Dia mengambil satu langkah mendekat, lalu berbisik dengan nada penuh provokasi, "Atau... kau berniat memberitahunya secara langsung bahwa ayahmu adalah pembunuh yang telah menggorok leher ayahnya?"
CRANK!
Cengkeraman Gu Qingli melemah seketika, membuat pedangnya hampir terlepas dari jemarinya. Wajahnya memucat pasi. "Kau... siapa kau sebenarnya?!"
Pria berjubah hitam itu terkekeh pelan. "Besok..." Tangannya terangkat menunjuk ke arah puncak gunung yang diselimuti kabut darah. "...seluruh tabir rahasia yang terendam belasan tahun akan tersingkap sepenuhnya."
SWOOSH!
Dalam sekedip mata, sosok pria misterius itu melenyap begitu saja ditelan kegelapan malam.
Gu Qingli berdiri mematung seorang diri. Air mata yang sempat mengering kini kembali meluncur menembus pipinya. Dia menatap puncak Gunung Tianyuan dengan dada yang bergemuruh hebat, jemarinya mengepal rapat.
"Yunche..."
Pertanyaan-pertanyaan mengerikan mulai menggerogoti jiwanya. Jika Yunche sudah mengetahui semuanya... Jika Yunche membenciku... Jika dia bahkan tak sudi lagi melihat parasku... apa yang harus kukakukan?
Gu Qingli menggigit bibir bawahnya rapat-rapat hingga memerah. "Tidak..." Dia buru-buru menyapu jejak air mata di wajahnya dengan kasar. "Aku harus menjelaskannya secara langsung padanya. Aku akan menceritakan seluruh kenyataan itu padanya."
Gu Qingli kembali menapakkan kakinya ke atas jalur pendakian.
"Jika pada akhirnya kau membenciku..." bisiknya pelan pada angin malam. "...maka aku akan menerima seluruh kebencianmu itu dengan lapang dada."
Dia mengambil langkah berikutnya dengan ketetapan hati yang kian bulat.
"Tapi sebelum hari itu tiba..." Gu Qingli menatap puncak gunung dengan binar mata yang tegas. "...aku tetap ingin melihat senyummu sekali lagi."
Di dalam gua bawah tanah, Yunche duduk menyendiri di samping nyala api unggun yang bergejolak.
Dia tak mampu memejamkan mata sedikit pun. Bayangan Gu Qingli kecil terus berputar tanpa henti di pikirannya. Entah mengapa, di balik rasa sesak akan kenyataan pahit itu, rasa iba yang teramat dalam justru menyergap hatinya.
Gadis kecil itu tidak pernah membunuh ayahnya. Dia hanyalah seorang anak kecil yang terjebak di tempat dan waktu yang salah—seorang saksi bisu yang mungkin mengalami ketakutan hebat yang sama besarnya dengan apa yang dirasakan oleh Yunche malam itu.
Yunche mengusap wajahnya yang lelah, meratapi keheningan. "Qingli..." bisiknya parau. "Apakah kau... masih mengingat tragedi malam itu?"
Tak ada jawaban, hanya derik kayu bakar yang terbakar api.
Yunche meremas liontin hitam di dadanya. "Jika kau benar-benar menyaksikan semuanya... lalu kenapa selama ini kau tak pernah mengatakannya padaku?"
Yunche menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun tiba-tiba, sebuah gema suara gaib berbisik lembut dari dalam liontin di genggamannya:
"Sebab dia teramat takut akan kehilangan dirimu, Yunche."
Yunche tersentak kaget. "Siapa itu?!"
"Sama halnya dengan dirimu... yang teramat takut kehilangan dirinya," sambung suara gaib itu, bergetar begitu hangat namun misterius.
Yunche terbungkam seketika. "Jangan bicara omong kosong..." bisiknya mengelak.
"Kau tahu pasti bahwa itu adalah kenyataan yang terpatri di dalam hatimu."
Yunche memejamkan matanya rapat-rapat, tak sanggup membalasnya lagi.
Gema suara dari liontin itu kembali berbisik pelan: Besok, saat kau membuka segel ketiga... "kau akan dihadapkan pada sebuah takdir pilihan."
Yunche menyimak dalam hening. "Pilihan apa?"
"Memaafkan..."
Kening Yunche bertaut tajam. "Memaafkan siapa?"
"...atau membalaskan dendam."
Gema suara itu perlahan memudar dan melenyap sepenuhnya, meninggalkan Yunche yang kembali terenyuh menatap pendar api unggun.
Di satu sisi, ada bayangan mendiang ayahnya yang tewas bersimbah darah. Di sisi lain, ada sosok Gu Qingli—gadis yang telah menjadi alasan terbesarnya untuk bertahan hidup. Dan tepat di tengah-tengah rentetan takdir itu, kebenaran kelam bersiap untuk menelan mereka berdua.
Yunche mengepalkan tangannya rapat-rapat, meremas liontin di dadanya seraya berbisik lirih:
"Aku tidak tahu pilihan mana yang benar... tapi jika aku harus memilih..." Yunche memejamkan matanya erat-erat, "...aku ingin memilih untuk tetap bersamamu, Qingli."
Pagi menyingsing di Gunung Tianyuan, membias sinar surya pertama yang menembus celah-celah tebing. Yunche berdiri tegap di hadapan altar batu, sementara Shen Mo siaga di belakangnya.
"Kau sudah siap?" tanya Shen Mo memastikan.
Yunche mengangguk mantap.
Shen Mo menggerakkan jemarinya, mengaktifkan formasi Kuno. Seketika, pendar cahaya putih yang teramat menyilaukan membungkus seluruh sudut gua. Tubuh Yunche bergetar hebat saat gema ghaib berbisik di dadanya: Segel ketiga... telah terbuka.
Yunche memejamkan mata. Pikirannya tersapu pendar putih, lalu memproyeksikan deretan ingatan masa lalu yang terasingkan.
Sesosok anak laki-laki—Yunche kecil berusia tujuh tahun—tampak berlari panik membelah lautan api. Jemari mungilnya menggenggam erat tangan seorang anak perempuan kecil berambut hitam yang menangis histeris.
Yunche kecil menoleh, mengusap bahu gadis itu. "Jangan takut!"
Gadis kecil itu terisak parah. "Ayahku..."
Yunche kecil menggenggam jemarinya makin erat. "Aku akan melindungimu!"
Gadis kecil itu mendongak dengan sepasang mata sembap. "Benarkah?"
"Benar!"
"Kau berjanji?"
"Aku berjanji!"
Di alam nyatanya, Yunche mematung. Suara anak laki-laki itu adalah suaranya sendiri, dan gadis kecil yang menangis itu... tak lain adalah Gu Qingli.
Gugusan memori itu mendadak berganti. Shen Tianyu berlutut di hadapan kedua anak itu, mengulas senyum paling hangat. "Qingli... jangan takut," bisiknya menenangkan.
Namun, denting pergesekan bilah pedang mendadak merusak segalanya saat Gu Tianming melangkah maju. Yunche kecil menjerit histeris memanggil ayahnya, sebelum seluruh proyeksi ingatan itu melebur ditelan lautan kobaran api.
Yunche membuka matanya kembali. Setetes air mata meluncur mulus menembus pipinya.
"Jadi..." bisiknya parau, "...aku sudah mengenalnya semenjak kami masih kecil."
Shen Mo menyimak dalam hening.
Yunche tersenyum pahit seraya meremas jemarinya. "Dan bahkan... aku sudah pernah berjanji untuk melindunginya."
"Yunche."
Sebuah gema suara jernih mendadak memanggil dari arah pintu masuk gua. Tubuh Yunche menegang seketika—dia teramat mengenali pemilik suara itu.
Yunche berbalik perlahan dan mendapati Gu Qingli berdiri di ambang pintu gua. Wajah gadis itu tampak pucat pasi dengan sepasang mata sembap yang memerah. Sepasang iris mata mereka bertaut, membeku dalam keheningan yang panjang.
"Maafkan aku..." bisik Gu Qingli memecah hening.
Yunche tak menyahut.
Gu Qingli menggigit bibirnya erat-erat. "Aku... aku sebenarnya sudah mengetahui kebenaran itu sejak awal. Bahwa Ayah... bahwa Ayahku adalah orang yang telah membunuh ayahmu."
Gua kembali hening. Yunche mengepalkan tangannya rapat-rapat.
Gu Qingli menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak sanggup lagi menahan tangis. "Aku teramat takut untuk memberitahumu... Aku takut kau akan langsung membenciku... Dan aku... aku sungguh tidak sanggup kehilanganmu, Yunche."
Yunche menarik napas panjang. "Qingli."
Gadis itu terhenyak dan mendongak pelan.
Yunche melangkah mendekat—satu langkah, dua langkah—hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan Gu Qingli. "Kenapa kau menyusulku sampai ke sini?"
Gu Qingli menyapu air matanya yang terus meleleh. "Karena... aku sudah terlanjur berjanji padamu. Aku pernah bilang... bahwa aku akan pergi mencarimu."
Yunche menatap raut wajah gadis di depannya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang tulus. "Dasar idiot..."
Gu Qingli terpaku. "Apa?"
Perlahan, Yunche mengangkat tangannya, mengusap lembut sisa air mata di pipi Gu Qingli. "Kenapa kau nekat mendaki gunung berbahaya ini seorang diri?"
"Kau bilang kau akan kembali!" sahut Gu Qingli emosional.
"Aku tahu."
"Tapi aku sama sekali tidak sanggup terus-menerus menunggu dalam ketidakpastian!"
Yunche terbungkam. Gu Qingli kembali terisak pelan. "Yunche... soal Ayahku—"
"Aku sudah tahu semuanya, Qingli," potong Yunche seraya memejamkan mata sejenak. "Aku sudah menyaksikan seluruh ingatan itu."
Gu Qingli mundur satu langkah secara refleks, menatap Yunche dengan binar ketakutan. "Kalau begitu... apakah kau... sangat membenciku sekarang?"
Yunche berdiri mematung untuk waktu yang cukup lama. Namun kemudian, dia menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak."
Gu Qingli membelalak tak percaya. "Kenapa?"
Yunche menatap lurus sepasang mata pirus gadis itu. "Karena kesalahan ayahmu bukanlah dosamu. Kau bukan ayahmu, Qingli."
Pertahanan Gu Qingli runtuh seketika; air matanya melejit kian deras.
Yunche menarik napas dalam-dalam, lalu menyambung jujur, "Tapi... jujur saja, saat ini aku belum bisa memaafkan perbuatan ayahmu. Dan aku pun tidak tahu bagaimana takdir akan membawa hubungan keluarga kita ke depannya."
Gu Qingli mengangguk paham seraya menyapu air matanya. "Aku mengerti..."
"Qingli."
"Hm?"
Yunche menatapnya penuh keteguhan. "Terlepas dari semua kerumitan masa lalu itu... aku tetap ingin kau berada di sampingku. Jika... kau sendiri masih bersedia."
Tangis Gu Qingli pecah seketika. Tanpa membuang waktu lagi, dia melangkah maju dan memeluk erat tubuh Yunche.
Kali ini, tak ada lagi alasan konyol tentang tanah yang licin atau tubuh yang terpeleset. Dia memeluk pemuda itu dengan seluruh ketulusan jiwanya.
Yunche sempat terpaku sejenak. Namun perlahan, dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan hangat itu secara utuh. Untuk pertama kalinya di tengah badai takdir yang mengintai, mereka berdua tak lagi saling bersembunyi di balik rahasia.
apa gk syok tuh thor