Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Yang Mulai Terlihat
Bab 29
Pagi itu, langit mendung menggantung di atas kampus. Angin bertiup cukup kencang, membuat daun-daun berguguran di sepanjang jalan menuju gedung fakultas.
Karin turun dari bus seperti biasa. Tanpa sadar matanya langsung mencari satu sosok yang belakangan selalu menunggunya di depan gedung.
Namun hari itu, Kai tidak ada.
Karin tersenyum kecil, berusaha menghilangkan rasa kecewa yang muncul.
"Mungkin dia langsung ke kelas."
Ia berjalan menuju ruang kuliah. Begitu memasuki kelas, Kai memang sudah duduk di bangku dekat jendela sambil membaca buku.
"Pagi."
Kai menoleh.
"Pagi."
"Kamu datang duluan."
"Iya."
Jawabannya tetap singkat.
Karin mengangguk lalu duduk di sampingnya.
Beberapa detik kemudian Maureen masuk ke kelas besar itu sambil membawa beberapa map.
Hari itu memang ada pengarahan untuk seluruh peserta observasi lintas kelas, sehingga mahasiswa dari kelas A dan B berada di ruangan yang sama.
Tatapan Maureen langsung menemukan Kai. Ia tersenyum.
"Hai, Kai."
"Halo."
Maureen berjalan mendekat.
"Kemarin... makasih ya."
"Nenekmu gimana?"
"Sudah lebih baik."
"Syukurlah."
Karin yang berada di samping Kai hanya diam.
Percakapan itu memang biasa. Namun entah kenapa, ia merasa menjadi orang ketiga yang tidak tahu harus ikut berbicara atau tidak.
Maureen lalu menyerahkan sebuah kantong kecil.
"Aku bawain roti."
Kai tampak bingung.
"Nggak usah."
"Anggap aja ucapan terima kasih."
Kai sempat ragu. Namun karena terus didesak, akhirnya ia menerimanya.
"Terima kasih."
Maureen tersenyum puas.
"Sama-sama."
Ia kembali ke tempat duduknya.
Karin memperhatikan kantong roti itu beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan ke depan kelas.
Dadanya kembali terasa sedikit sesak.
-
-
-
Jam istirahat...
Raka, Nia, Karin, dan Kai duduk di kantin.
Seperti biasa, Raka menjadi sumber keramaian.
"Nia."
"Hm?"
"Kalau aku kaya, kamu mau nggak jadi sekretarisku?"
Nia menatap datar.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Soalnya perusahaanmu pasti bangkrut."
Raka memegang dada.
"Kok doa kamu jahat?"
"Itu bukan doa."
"Lalu?"
"Prediksi."
Kai yang sedang minum hampir tersedak menahan tawa.
Raka langsung menunjuk sahabatnya.
"Nah! Lihat!"
"Apa?"
"Dia ketawa!"
Kai segera memasang wajah datar lagi.
"Nggak."
"Kamu jangan bohong."
Karin ikut tertawa.
Suasana kembali hangat. Namun beberapa menit kemudian, Maureen datang membawa nampan makanan.
"Boleh gabung?"
Raka langsung mengangguk.
"Boleh banget."
Maureen duduk tepat di samping Kai.
"Aku tadi cari tempat duduk penuh semua."
Kai hanya mengangguk.
"Iya."
Maureen mulai mengobrol ringan. Tentang kuliah. Tentang dosen. Tentang tugas. Dan Kai menjawab seperlunya.
Tetapi bagi Maureen, Jawaban sesingkat itu sudah cukup membuatnya senang. Ia mulai menikmati setiap percakapan kecil bersama Kai. Bahkan ketika Kai hanya mengangguk, ia tetap merasa diperhatikan. Tanpa disadari, senyumnya semakin sering muncul.
Di sisi lain...
Karin menjadi jauh lebih pendiam. Nia yang duduk di sebelahnya mulai menyadari perubahan itu.
"Karin."
"Hm?"
"Kamu sakit?"
"Nggak."
"Kok dari tadi diem?"
"Lagi capek."
Nia mengangguk pelan. Namun ia merasa alasan itu tidak sepenuhnya benar.
-
-
-
Sore hari...
Kai berpamitan lebih dulu karena harus bekerja.
"Aku duluan."
"Hati-hati."
"Iya."
Kai berjalan menuju parkiran.
Tanpa diduga, Maureen kembali menyusulnya.
"Kai."
Kai berhenti.
"Ada apa?"
"Aku... cuma mau bilang sekali lagi."
"Hm?"
"Makasih buat kemarin."
Kai mengangguk.
"Nggak perlu dipikirin."
"Buat kamu mungkin biasa." Maureen menatap Kai beberapa saat. "Tapi buat aku... itu berarti."
Kai tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk kecil.
"Aku berangkat dulu."
"Iya."
Motor Kai perlahan meninggalkan kampus. Maureen masih berdiri di tempatnya. Matanya mengikuti hingga motor itu menghilang.
Perasaannya semakin jelas. Awalnya ia hanya menjalankan permintaan Gio. Lalu berubah menjadi rasa penasaran. Dan kini, ia mulai berharap bisa menjadi orang yang berdiri di samping Kai. Bukan Karin.
-
-
-
Malam itu...
Ponsel Maureen kembali berdering. Nama Gio muncul di layar.
"Halo."
"Bagaimana?"
Maureen terdiam beberapa saat.
"Aku sudah dekat dengannya."
"Bagus."
"Tapi..."
"Tapi apa?"
Maureen menarik napas panjang.
"Aku nggak yakin bisa terus menjalankan rencanamu."
Gio mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena sekarang..." Ia mengepalkan jemarinya. "...aku benar-benar menyukai Kai."
Beberapa detik, telepon itu sunyi. Lalu terdengar tawa kecil Gio.
"Kalau begitu lebih mudah."
"Maksudmu?"
"Kalau kamu benar-benar menyukainya..." Nada suara Gio berubah lebih dingin. "...rebut dia."
Maureen terdiam. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya, "Rebut dia."
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi memikirkan permintaan Gio. Yang ada di pikirannya hanyalah satu hal. Ia tidak ingin Kai menjadi milik Karin.
Kalau selama ini ia masih menahan diri, maka mulai hari itu, ia memutuskan tidak akan mengalah lagi.
Di tempat lain, Karin sedang menatap layar ponselnya. Sudah hampir satu jam berlalu, tetapi belum ada pesan dari Kai seperti biasanya. Ia tersenyum kecil, mencoba menghibur dirinya sendiri.
"Mungkin dia masih sibuk di bengkel."
Namun tanpa ia sadari, seseorang telah memutuskan untuk masuk ke dalam kehidupannya. Bukan lagi sebagai pengganggu. Melainkan sebagai saingan.
-
-
-
Bersambung...