NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Tidak Ada Pilihan Lain

Jeritan Alif terdengar sebelum mobil Nadhira berhenti sempurna.

"Mama!"

Nadhira membuka pintu dan berlari. Istri Pak RT berdiri di teras sambil memegang siku yang memerah. Pintu depan rumah Nadhira terbuka lebar, kuncinya menggantung miring dari lubang yang rusak.

Bu Sumini muncul sambil menggendong Alif yang meronta.

"Lepaskan anak saya!" teriak Nadhira.

"Dia cucuku!" Bu Sumini mencengkeram tubuh bocah itu lebih kuat. "Aku hanya membawanya pulang."

"Mama! Mama!"

Alif menendang-nendang, wajahnya merah karena menangis. Mobil merahnya jatuh di teras dan terlindas sandal Bu Sumini. Bodi plastiknya retak menjadi dua.

Nadhira meraih putranya, tetapi Bu Sumini berbalik dan bergegas menuju mobil. Seorang pengemudi yang menunggu di depan langsung membuka pintu belakang.

"Berhenti!"

Nadhira sempat memegang gagang pintu. Bu Sumini menendang tangannya dari dalam. Pintu tertutup, lalu mobil melaju sebelum Nadhira bisa menariknya kembali.

Ia berlari beberapa langkah mengejar. Telapak sandalnya tergelincir di aspal. Lututnya menghantam jalan, tetapi ia segera bangun lagi, menatap kendaraan itu menghilang di ujung gang.

"Alif..."

Suara tersebut keluar seperti udara yang diperas dari paru-parunya.

Istri Pak RT menghampiri dengan napas tersengal. "Maaf. Saya tadi di dapur. Dia mendobrak pintu dan bilang mau bicara. Waktu saya halangi, dia mendorong saya."

Nadhira memegang bahunya. "Ibu lihat Alif dibawa ke mana?"

"Mungkin rumah Bu Sumini. Dia terus bilang mau membawa cucunya pulang."

Tangan Nadhira bergerak sendiri mencari ponsel. Nama Rayhan berada di bagian atas riwayat panggilan.

Ia menjawab sebelum dering kedua.

"Nadhira?"

"Alif dibawa Bu Sumini." Suara Nadhira pecah. "Dia masuk rumah saat saya pergi. Dia membawa Alif dengan mobil."

"Anda tahu alamatnya?"

"Tahu."

"Kirim lokasinya. Jangan pergi sendiri. Sopir saya masih di sana?"

Nadhira menoleh. Sopir mobil hitam sudah turun dan berdiri dekat pagar.

"Masih."

"Masuk mobil. Gilang menghubungi polisi dan menyusul Anda. Tetap di telepon."

Nadhira ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa menunggu. Namun, membuang waktu mencari kendaraan lain hanya akan membuat jarak semakin jauh. Ia mengirim titik lokasi, lalu kembali ke mobil bersama istri Pak RT sebagai saksi.

Perjalanan menuju rumah Bu Sumini hanya sekitar dua puluh menit. Bagi Nadhira, setiap lampu merah terasa seperti pintu yang sengaja ditutup di depan wajahnya. Ia terus mendengar jeritan Alif dalam kepala.

"Dia takut gelap," katanya tanpa sadar.

"Kita akan sampai," jawab Rayhan dari telepon. "Tarik napas. Jangan pingsan sebelum memeluk anak Anda."

Kalimat itu terdengar dingin, hampir seperti perintah. Justru karena itu Nadhira menurut. Ia menekan telapak tangan ke dada, menarik udara, lalu menghitung sampai empat.

Ketika mobil berhenti, kendaraan Bu Sumini sudah berada di halaman rumah kecil bercat hijau. Pintu dan jendelanya tertutup.

Nadhira turun, tetapi sopir berdiri di depannya.

"Tunggu polisi, Bu."

"Anak saya di dalam."

Tangis samar terdengar dari belakang rumah.

Nadhira menekan bel berulang kali. "Bu Sumini! Kembalikan Alif!"

Tidak ada jawaban. Hanya suara bocah yang memanggil Mama, teredam dinding.

Beberapa menit kemudian, Gilang tiba bersama dua polisi dan pengacara yang mendampingi Nadhira kemarin. Istri Pak RT menjelaskan pintu yang didobrak, dorongan, dan bagaimana Alif dibawa tanpa izin.

Seorang polisi mengetuk keras. "Bu Sumini, buka pintu. Kami perlu memastikan kondisi anak."

Kunci akhirnya bergerak. Bu Sumini muncul dengan jilbab yang dipakai terburu-buru.

"Kenapa bawa polisi? Ini masalah nenek dan cucu."

Nadhira maju. "Di mana Alif?"

"Dia sedang tidur."

Dari bagian belakang terdengar pukulan kecil pada pintu.

"Mama! Gelap!"

Wajah polisi berubah tegas. "Buka ruangan itu sekarang."

Bu Sumini menghalangi jalan. "Anak itu rewel. Saya cuma menyuruhnya tenang. Saya nenek kandungnya. Saya punya hak."

"Hubungan nenek tidak memberi Ibu hak mengambil anak kecil dari ibunya dengan paksa," kata pengacara. "Apalagi setelah menerobos rumah dan mendorong penjaganya."

"Nadhira mau menikah lagi! Dia akan membawa darah Wijaya ke rumah lelaki asing."

"Itu bukan alasan untuk mengurung anak," polisi memotong. "Kuncinya."

Bu Sumini tidak bergerak. Polisi kedua meminta izin Nadhira sebagai ibu untuk mendampingi pemeriksaan, lalu mereka masuk ketika tangis Alif semakin keras. Bu Sumini akhirnya menyerahkan sebuah kunci kecil dari saku bajunya.

Ruangan di belakang adalah kamar penyimpanan tanpa jendela. Saat pintu dibuka, bau debu dan kapur barus menyembur keluar.

Alif duduk di lantai di antara kardus lama. Celananya basah. Kedua tangannya memukul daun pintu sampai buku-buku jarinya merah.

"Mama!"

Nadhira berlutut dan menangkap tubuh kecil yang melompat ke arahnya. Alif memeluk lehernya sampai Nadhira hampir kesulitan bernapas.

"Mama datang. Mama di sini."

"Gelap... Nenek kunci..."

"Sudah terbuka, Nak. Lihat Mama."

Ia mencium rambut Alif berkali-kali. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, membasahi pipi bocah itu. Nadhira memeriksa kepala, lengan, dan kakinya. Tidak ada luka besar, hanya bekas kemerahan di pergelangan serta ketakutan yang membuat tubuhnya terus bergetar.

Polisi memotret kondisi ruangan dan pintu. Bu Sumini kembali membela diri dari lorong.

"Saya tidak menculik. Saya cuma mendidik cucu sendiri. Ibunya tidak becus!"

"Penjelasan selanjutnya disampaikan di kantor," kata salah satu polisi. "Kami akan mencatat laporan, saksi, kerusakan pintu, dan kondisi anak."

Bu Sumini akhirnya kehilangan keberaniannya. "Saya harus dibawa sekarang?"

"Ibu ikut untuk dimintai keterangan."

Nadhira tidak merasa menang ketika melihat mantan mertuanya pucat. Seluruh tubuhnya masih dingin. Kalau ia terlambat satu jam, atau kalau Alif berhenti menangis karena kelelahan, tak seorang pun di luar akan tahu bocah itu dikunci di ruangan gelap.

Proses awal berlangsung sampai malam. Pernyataan Nadhira, istri Pak RT, dan Bu Sumini dicatat. Pengacara memastikan istilah “hak nenek” tidak dipakai untuk mengaburkan tindakan pengambilan tanpa izin. Setelah pemeriksaan singkat, Nadhira diizinkan membawa Alif pergi untuk diperiksa dan ditenangkan; tindak lanjut perkara akan diberitahukan resmi.

Di teras kantor polisi, Alif tertidur dalam pelukan Nadhira. Jari kecilnya masih mencengkeram kerah blus sang ibu.

Nadhira menatap nama Rayhan di layar, lalu menekan panggilan.

"Alif sudah bersama Anda?" tanyanya.

"Sudah."

"Ada luka?"

"Tidak parah. Tapi dia dikunci di kamar gelap."

Hening sesaat. Suara Rayhan ketika kembali terdengar lebih rendah. "Saya akan menambah keamanan malam ini."

Nadhira memandang putranya. Kemarin ia masih percaya bisa bertahan dengan surat peringatan, tetangga, dan kunci pintu. Hari ini kunci itu dirusak, saksi didorong, dan Alif dibawa pergi hanya dalam hitungan menit.

"Saya setuju," katanya.

"Nadhira."

"Saya akan menikah dengan Anda."

Lampu mobil menyapu halaman kantor polisi. Sebuah kendaraan hitam berhenti di depan tangga. Rayhan turun sendiri, masih mengenakan kemeja kantor dengan lengan digulung sampai siku.

Ia berjalan lurus ke arah Nadhira dan Alif.

"Bawa barang yang penting," katanya. "Malam ini kalian pergi bersama saya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!