Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Diatas pusara
"Sudahlah, cepat tidur," ucap Haris dingin kepada Nindya. Suaranya datar, tanpa ketegasan yang dibuat-buat, namun mengandung penolakan yang sangat mutlak.
Tanpa menunggu balasan atau sekadar respons kecil dari istrinya, Haris membalikkan badan. Ia memunggungi Nindya, menarik selimut tebal hingga sebatas dada, lalu membiarkan tubuhnya tenggelam dalam keheningan malam. Dinding punggung pria itu berdiri kukuh di hadapan Nindya, tampak seperti benteng raksasa yang tak tertembus, memisahkan Nindya dari hangatnya rasa memiliki dan dicintai.
Dalam kegelapan kamar yang sepi, Nindya tetap berbaring kaku. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes pelan, mengalir melewati pipinya yang hangat lalu meresap ke dalam kain bantal tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Nindya terus saja meratapi takdir hidupnya. Mengapa jalan cerita yang harus ia jalani begitu terjal dan menyakitkan?
Dua tahun lalu, benteng pertahanan terbaik dalam hidupnya telah hancur berkeping-keping. Kedua orang tuanya meninggal dunia dalam insiden kecelakaan pesawat yang mengenaskan. Berita duka hari itu tidak hanya merenggut nyawa Ayah dan Ibunya, tetapi juga merenggut seluruh tempat berlindung yang pernah Nindya miliki di dunia ini. Sejak hari kelam itu, tak ada lagi bahu tempatnya bersandar, tak ada lagi rumah tempatnya mengadu, dan tak ada lagi naungan tempatnya meminta perlindungan selain gundukan tanah bisu di makam kedua orang tuanya.
Setiap kali beban di dadanya sudah terlalu berat untuk dipikul sendirian, hanya pada batu nisan itulah Nindya bisa menangis sepuasnya tanpa harus berpura-pura menjadi wanita tangguh. Kini, di dalam rumah megah berdinding kokoh ini, Nindya justru merasa jauh lebih asing daripada seorang pengembara yang tersesat di tengah padang pasir. Rumah ini bukan miliknya, dan hati pemilik rumah ini pun tak pernah sekalipun menjadi miliknya.
Nindya menatap punggung Haris yang sama sekali tak bergerak. Pria yang dulu ia selamatkan dari kobaran api kecelakaan lalu lintas itu kini menjadi suaminya. Luka bakar di lengan Nindya adalah saksi bisu betapa ia mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyambung nyawa Haris. Namun, sebagai imbalan, Haris membalasnya dengan pernikahan yang dingin ini. Pernikahan yang didasari atas rasa utang budi dan rasa bersalah, bukan rasa cinta.
Nindya memeluk dadanya sendiri yang terasa amat sesak, seolah pasokan udara di dalam kamar tiba-tiba menghilang. Ia menyelimuti tubuhnya, mencoba mencari kehangatan dari kain tebal yang dingin. Dalam kesendirian yang membunuh itu, Nindya akhirnya terdiam. Matanya yang berat dan sembap perlahan terpejam, hingga akhirnya kepenatan jiwa memaksa tubuhnya pasrah dan ia tertidur di dalam kepedihan yang teramat sangat.
Pagi harinya, Nindya terbangun oleh suara samar pintu depan yang tertutup pelan. Suara engsel pintu itu seolah menjadi penanda berakhirnya kehadiran Haris di rumah itu untuk hari ini. Nindya membalikkan badannya perlahan, menatap sisi tempat tidur di sampingnya. Sisi itu sudah rapi, bersih, dan berhawa dingin. Haris telah pergi—mungkin menuju kantornya yang sibuk, atau mungkin menemui wanita lain—tanpa pamit, tanpa mengecup dahi istrinya, dan tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Nindya menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa hampa yang langsung menyambutnya begitu ia membuka mata. Ia beranjak dari tempat tidur, mencuci mukanya yang masih sembap, lalu berjalan menuju kamar sang putra.
Setelah memastikan Arka sudah selesai sarapan dengan lahap dan bermain dengan aman bersama pengasuhnya di ruang tengah, Nindya melangkah kembali ke kamarnya. Ia membuka lemari dan memilih gaun terusan serba hitam. Warna yang mewakili suasana hatinya yang kelam. Langkah kakinya kemudian membawa Nindya keluar dari rumah megah itu menuju TPU Tanah Kusir, tempat kedua orang tuanya beristirahat dalam keabadian.