(21+ Harap bijak dalam memilih bacaan)
Tidak pernah terbayangkan oleh Dilvina keputusan nya untuk pergi ke negara lain meninggalkan pernikahan yang di anggap nya telah gagal dan penuh rasa sakit malah menyambut masalah lain yang lebih parah.
Sebuah kisah kekelaman masa lalu keluarga nya hadir kembali, para pembunuh ayah nya penghancur masa depan keluarga nya saling melingkar berkesinambungan hadir Bersama masa lalu sang suami JULIAN ANDERSON yang merupakan seorang agen rahasia di sebuah organisasi dulu, kini Jullian hadir kembali berusaha untuk memperbaiki pernikahan mereka yang berawal dari keterpaksaan dan perjodohan itu, akankan semua masalah terselesaikan? apakah mereka akan kembali bersama?
“Aku menjadi tahu kenapa Mama memilih Jullian sebagai menantu nya, ya tidak lain mama pasti tahu semua ini akan terjadi!”
“Dan sekarang kau datang? untuk apa lagi Jullian!”
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tris rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Langkah Jullian tertahan berkali-kali suara lirih Dilvi memanggil nya, ia yang hendak turun menjadi berbalik mendekat, Dilvi sudah mengerjab menampilkan mata sendu nya.
Jullian pun membungkuk di sebelah ranjang, “Mau minum?” suara serak nya setalah menahan tangis mengudara.
Dilvi hanya menggeleng, tapi Jullian tetap meraih gelas di sebelah meja tidur untuk membuat Dilvi minum, “Minum badan mu panas sekali, kau harus bayak minum” tangan Jullian menahan di kepala Dilvi membuat nya untuk sedikit bangkit, Dilvi pun menurut mulai melesap minuman nya.
“Sudah” angguk Jullian dan di sahuti ya, oleh Dilvi.
“Maafkan aku merepotkan ”
Jujur Dilvi yang biasa hidup sendiri dan mandiri sudah biasa mengalami sakit sendiri, hanya perlu di diami dan akan segera sehat lagi, tapi kali ini dia seakan lema untuk segala nya.
“Pukul berapa Jul, apakah sudah pagi?”
“Belum, tidur lah lagi kita akan ke rumah sakit nanti!” ujar hati yang menahan menetralkan seluruh gemuruh nya.
Dilvi menggeleng, “Ini biasa, aku sudah tiga hari tidak ke café!”
“Tidak ada yang akan kemana-mana nanti aku hubungi Wido bilang kau sakit!”
“Aku baik-baik saja Jull!”lipat Dilvi kedua lengangan nya ke perut menahan rasa dingin yang kian menjalar.
“Tidak, ya tidak!” lelaki itu menekankan kalimat nya perlahan bangkit, “tidur lah lagi!” ujar nya meletakkan gelas dan melangkah pergi.
Dilvina mendesah pelan, menatap pada punggung Jullian yang berlalu, rasa nya ia tidak ingin di tinggal, ingin lelaki itu tetap di sini menemani nya, Apaan sih lu Dilv, manja amat! Biasa juga demam udah sampai kemana-mana, Dilvi pun menarik selimut untuk kembali memejam.
Di kelopak nya yang memejam ia mendadak ingat Sophia, Dilvi mengerjab “Kemana Sophia, sama sekali tidak ada kabar nya!” Dilvi terfikir untuk memeriksa ponsel milik nya, meraba-raba ranjang, “Oh, ya ponsel di bawah!” ia perlahan bangkit, kini rasa kantuk nya seketika hilang, ia mengulum senyum mengingat bagaimana ia bisa naik ke atas tadi.
Di bawah Jullian baru saja membersihkan diri, lelaki itu mulai memeriksa lemari pendingin, ia akan membuatkan Dilvi sarapan, ia tampak telaten mengeluarkan bahan-bahan, membuka satu-satu untuk kemudian di bersihkan.
Dilvina melangkah turun berpegangan erat pada pegangan tangga, langkah nya perlahan ia masih merasakan sakit di kepala, satu persatu menapaki undakan hingga ke bawah dan mengayuhkan langkah nya ke sofa kemudian.
Lihat lah aku bisa kok untuk sehat-sehat saja sebenar nya.
Terdengar oleh kedua nya deru seperti gemuruh yang cukup kuat, di luar kaca jendela Appartemen, Jullian menoleh ke dinding kaca dapur mereka, pagi-pagi buta ada sebuah helicopter melewati gedung mereka, terdengar dia seperti nya akan naik ke atas gedung.
“Ada apa Jull?” suara Dilvi mengagetkan nya.
“Helicopter, ke atas! Kenapa turun!”tatap Jullian memberhentikan potongan seledri nya
“Aku sudah tidak ingin tidur, lagi pula sudah biasa ini akan sembuh sebentar lagi! Kira-kira ada apa ya helicopter tadi” Dilvi meremang hal-hal semacam helicopter selalu mengingatkan nya dengan sebuah keadaan yang mencengkam.
“Tidak tahu, berbaring lah di sofa tubuh mu masih panas! Jangan fikirkan hal-hal buruk!”
Dilvi mengangguk, meraih ponsel dan berbaring lagi di sofa untuk mencari Sophia, tangan nya menggeser-geser benda pipih milik nya, memerika panggilan dan pesan, Sophia sama sekali tidak membalas apapin, kini ia berusaha menghubungi namun ponsel Sophia tidak aktif.
"Kemana dia ya?
Tumben biasa juga jika ada Damian masih terus nyariin dan memberi kabar, Dilvina terlentang lemas, memegangi dahi dengan punggung tangan nya, “Demam beneran ih” ia menghela nafas nya, tiba-tiba terkesiap melihat ia masih memakai cincin dari Richard, Dilvina menoleh pada Jullian di dapur mereka yang tidak memiliki sekat itu.
“Apakah dia lihat ini?” Dilvi pun segera melepasnya, memasukan ke dalam kantung piayama nya menoleh lagi pada Jullian.
“Kau memasak apa Jull?” Dilvina menuruni kaki untuk melangkah ke dapur melihat yang di lakukan Jullian.
“Cream soup!” Jullian sedang mengaduk menoleh ke Dilvi yang berjalan ke arah nya.
“Duduk lah, ini akan matang sebentar lagi!”menunjuk dengan dagu kursi tinggi di mini bar dapur.
Dilvina menduduki kursi tinggi di mini bar, pandangan nya mengarah pada Jullian, dengan satu tangan menopang dagu bertumpu meja mini bar, Jullian tampak sibuk menambahkan seasoning dan beberapa tambahan lain nya.
Hingga di beberapa menit kesibukan Jullian ia berbalik manik mereka bersitatap, wajah sendu Dilvina serius melihat ke arah nya, Jullian mengulum senyum pada wajah cantik yang menopang dagu menatap nya, lelaki itu menghangat tatapan yang membuat nya mendamba ia pun mendekat membuat manik Dilvin melebar mengisyratkan pertanyaan apa apa? Cup…
Sesuatu yang lembut, menyentuh di dahi Dilvi menjadi jawaban atas pertanyaan nya.
Dilvina tersentak kecil, Jullian sudah berani mengecup di dahi nya, “Kenapa kau menciumku!” darah Dilvi seakan berhenti seketika, ia mengusap di kening perasaan yang ia ingin tolak tapi ia menyukai nya.
Jullian tidak mengindahkan kembali menyibukin diri dengan masakakan nya.
“Aku akan sering melakukan nya, maka bersiaplah!”
Sesuatu yang kuat baru menghantam Jullian tapi lagi-lagi itu tidak menggoyahkan nya, jika Dilvina tidak berlaku seperti istri maka aku yang akan berlaku seperti suami, siapa pun lelaki itu, ketika ini belum berakhir aku masih pemenang nya, maka terimalah.
Beberapa menit berselang, lelaki yang memasak tanpa apron itu menghidang semangkuk creamy soup buatan nya ke mini bar, berjalan ke arah kitchen set meraih sendok tidak lupa membawakan segelas air ke atas meja tinggi di hadapan Dilvi.
“Makan lah!” Jullian memutar arah keluar dari mini bar untuk mendekat pada Dilvina.
Dilvi merasa special, apapun itu hubungan nya dengan lelaki inilah yang paling intens dan terdekat, “Untuk mu mana?”
“Ini khusus untuk mu!” Jullian mendekat kini di belakang punggung Dilvi sedikit memeluk satu tangan nya mengusap pundak Dilvi.
Dilvina bergidik, “Jull kau memeluk ku!”
Lelaki itu bergergeser, “Mungkin nanti kau akan terbiasa!” ujar lelaki itu terlalu memaksakan, sial nya ia menjadi sakit sendiri jika mengingat ada cincin dari lelaki lain di jemari manis Dilvi.
“Cincin?” netra Jullian mengkilap menangkap tangan Dilvi kini kosong, dia melepas nya, Jelas Jullian, dia menjaga hati mu karena kenyataan nya yang kau takutkan benar ada nya.
“Kau akan menikah?”tanya Jullian tiba-tiba merendahkan kalimat nya.
Dilvi sukses terlonjak, menarik nafas nya berat seperti nya Jullian sudah menyadari benda pemberian Richard tadi.
“Apa kau sudah mengurus perceraian mu lagi? Apakah kau ingin kita mengurus nya bersama?”
Deghhh…..
Jullian ingin mengurus nya bersama.
Dilvina benar-benar terkesiap bersamaan dengan suara bel yang berbunyi, Jullian menoleh “Siapa?” sepagi ini datang, lelaki itu mengayunkan langkah nya ke arah pintu, “Habiskan makanan nya!” perintah nya meninggalkan Dilvi ke arah pintu.
Dilvina kembali bergelut dengan fikiran nya, bagaimana dia menjawab nya, apa yang harus ia lakukan.
Jullian mengintip di lubang pintu, “Shit bagaimana bisa tidak terlihat!”mau tidak mau Jullian pun membuka nya, klik.
“Bángsat!, pantas saja tidak bisa terlihat Felix menutup dengan tangan nya, bruakk dorong Jullian pintu membuat Felix terpukul dengan daun pintu. “Kau sudah tidak ada waktu lagi ini masih pukul 6 pagi!”
Lelaki dengan outfit serba hitam itu masuk tanpa di perintah, ia melepaskan jaket kulit milik nya meletakkan di sofa.
“Aku baru saja kembali!”
“Kau dari mana?sialan, jangan-jangan helicopter yang mendarat di atas itu kau!”
“Ssst ada yang lebih penting!” kali ini Felix tampak serius nafas nya terdengar jelas, Dilvina yang menikmati makan nya seketika berhenti, ikut bertanya-tanya ada apa?”
Felix berjalan ke arah sofa tanpa di perintah lalu duduk mengeluarkan sebuah benda dari jaket nya yang di letak di sofa. “Damian dan Sophia tidak pernah menikah! Seseorang di klub melaporkan kepada Damian tentang aku yang telah mereservasi satu gedung klub khusus untuk Sophia kekasih nya, lelaki itu sudah menjalin hubungan dengan Sophia sebelum bergabung dengan organinsasi sialan itu!”
“Apa?” Dilvina terlonjak kaget, dua hal sekaligus membuat nya terkesiap,“Mereka tidak menikah?”
“Kau tidak waras kapan kau melakukan itu? dan sekarang lelaki itu berfikr Sophia ada hubungan dengan mu!”
“Iya mereka tidak menikah, dan sekarang dia sedang memancing ku!”
“Harus nya kita mencegah nya kemarin, lalu dimana dia membawa Sophia?? ya Tuhan semoga Sophia baik-baik saja” Dilvi menjadi lirih turun dari kursi, mengayunkan langkah sempoyongan nya ke arah sofa, ia oleng kaki nya membuat nya hampir terjatuh.
“Hati-hati….” ujar Jullian melangkah cepat memegangi pinggang Dilvina.
“Kepala ku pusing...”
Manik Jullian melampirkan kekhawatian, “Iya aku tau, duduk lah!” pegang Jullian Dilvi mengarahkan ke sofa.
Felix yang sedari tadi serius mendadak geli memutar bola mata nya jengah, “Huweek!! “ mengusap wajah, mengalihkan manik nya, “Dasar couple perangsang!” umpat nya pelan sekali.
.
.
.
"fase paling tinggi mencintai adalah mengikhlaskan" tapi aq ora isok thor 😭😭
habis gas Auriga setelah reread semua karya Ka Tris disini... meni kangen sangaatt