"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."
Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.
Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.
Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.
Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kata Kanaya Saja
...****************...
Setelah Kanaya mengikuti sang desainer menuju kamar tamu, suasana ruang tamu kembali dipenuhi pembicaraan para vendor yang mulai mendiskusikan konsep dekorasi bersama Laras.
Beberapa lembar katalog berpindah tangan diatas meja, sesekali di selingi pendapat mengenai warna bunga, susunan pelaminan, hingga tata letak kursi tamu.
Di tengah ramainya obrolan itu, Dirga memilih kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa. Jemarinya bergerak pelan diatas layar ponsel, seolah pembahasan mengenai pernikahannya sendiri bukan sesuatu yang terlalu menarik untuk diikuti.
Keheningan itu pecah ketika ponsel milik Wina yang tergeletak di atas meja berdering pelan. Wina segera meraihnya, lalu tersenyum kecil setelah melihat nama yang muncul di layar.
"Mbak Laras...sebentar ya," ujarnya sambil berdiri dari duduknya. "Aku angkat telpon ayahnya Kanaya dulu."
Laras menganggukkan kepala sambil membalas senyum Wina. "Iya, silahkan. Tidak usah buru-buru."
Wina pun melangkah keluar menuju teras depan agar pembicaraannya tidak mengganggu orang-orang yang masih berdiskusi di ruang tamu.
Kepergian Wina membuat suasana mendadak sedikit lebih lengang. Laras yang sejak tadi sibuk melihat beberapa contoh dekorasi perlahan menutup katalog ditangannya. Pandangannya kemudian beralih kepada putra semata wayangnya yang masih duduk santai dengan perhatian penuh pada layar ponselnya.
"Dirga..."
Suara ibunya membuat pria itu menghentikan gerakan jemarinya. Ia mengangkat kepala perlahan dan menatap kearah Ibunya.
"Hmm?" sahutnya datar.
Laras mengembuskan napas pelan. Melihat sikap putranya yang masih setenang itu, ia hanya bisa menggelengkan kepala kecil.
"Kamu itu jangan kaku-kaku sama Kanaya."
Dirga tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada sang ibu, menunggu kalimat berikutnya.
"Anaknya jadi canggung setiap kali ada kamu."
"Ibu maunya aku bersikap seperti apa?" tanyanya tenang. "Aku sudah menuruti semua keinginan Ibu. Apa itu masih kurang?"
"Ck..." Laras mendecakkan lidah pelan sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada. "Memang susah kalau bicara sama kamu."
Dirga hanya diam.
"Ibu bukan nyuruh kamu berubah jadi orang romantis. Ibu cuma mau kamu memperlakukan Kanaya dengan baik." Nada bicara Laras terdengar jauh lebih lembut kali ini. "Dia itu calon istri kamu, Dirga."
Pria itu masih memilih mendengarkan tanpa menyela.
"Nanti setelah semua urusan ini selesai, ajak dia ngobrol. Mau di taman samping rumah kek, di depan rumah juga boleh. Kenalan yang benar. Banyakin ngobrol. Jangan cuma saling lihat terus selesai."
Dirga mengembuskan napas pelan.
Laras kembali melanjutkan ucapannya sambil tersenyum tipis saat mengingat sosok Kanaya.
"Anaknya kan baik, sopan, sederhana, tidak banyak tingkah, tidak minta macam-macam. Ibu yakin kalau kamu benar-benar mau mengenalnya, kamu bakal nyaman sama dia."
Untuk beberapa saat Dirga tidak mengatakan apa-apa. Ia tah betul apa yang sedang diusahakan ibunya. Sejak awal Laras memang berharap pernikahan itu bukan sekadar memenuhi wasiat, melainkan benar-benar menjadi rumah tangga yang sesungguhnya.
"Dirga."
"Hmm."
"Dengar Ibu tidak?"
"Iya."
"Cuma iya?"
Dirga mengusap keningnya pelan sebelum kembali menatap ibunya. "Nanti aku coba."
Jawaban singkat itu justru membuat Laras tersenyum lega. Setidaknya kali ini putranya tidak lagi membantah.
Belum sempat pembicaraan mereka berlanjut, langkah kaki kembali terdengar dari arah teras. Wina memasuki ruang tamu sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas.
Hampir bersamaan dengan itu, pintu kamar tamu kembali terbuka. Kanaya keluar lebih dulu, di ikuti sang desainer yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Seluruh percakapan di ruang tamu seketika terhenti.
Kebaya bernuansa pastel yang tadi di pilihnya kini melekat sempurna di tubuh Kanaya. Sulaman bunga dengan taburan payet yang memenuhi hampir seluruh permukaan kain memantulkan cahaya lampu secara lembut, sementara pot0ngan kebayanya yang sederhana justru membuat seluruh detailnya terlihat semakin elegan. Rambut panjang yang dibiarkan tergerai serta riasan wajah yang masih sangat tipis membuat penampilannya tampak anggun tanpa kesan berlebihan.
Kanaya yang menjadi pusat perhatian sontak menghentikan langkahnya. Jemarinya saling bertaut di depan tubuh, sementara senyum kecil yang malu-malu mulai terlihat di wajahnya.
"Gimana, Tante?" tanyanya pelan sambil menatap Laras dan Wina bergantian. "Bagus tidak?"
Laras sontak berdiri dari duduknya. Matanya berbinar begitu melihat calon menantunya itu. "Ya Tuhan..." gumamnya tulus. "Ini bukan cuma bagus tapi cantik sekali, Sayang."
Wina pun ikut tersenyum lebar. Tatapannya tidak lepas dari putrinya yang kini berdiri di tengah ruang tamu.
"Ibu sampai nggak pangling," ucapnya sambil menggeleng pelan. "Kamu cantik sekali, Naya."
Pujian itu membuat pipi Kanaya memerah. Ia hanya tersenyum malu sambil menundukkan kepala beberapa saat.
Sementara itu, Dirga yang sedari tadi masih memegang ponselnya perlahan mengangkat pandangan. Tatapannya berhenti tepat pada sosok Kanaya.
Untuk beberapa detik, pria itu hanya memperhatikan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya memang masih sama datarnya seperti biasa, tetapi pandangannya bertahan sedikit lebih lama di banding biasanya, seolah sedang menilai hasil kebaya yang tadi di pilih gadis itu.
Laras yang tanpa sengaja menangkap arah tatapan putranya langsung tersenyum geli.
"Gimana, Dirga?" tanyanya sambil melirik putranya penuh arti. "Cantik, kan?"
Dirga baru mengalihkan pandangannya setelah mendengar suara ibunya.
"Hmm..." sahutnya singkat. "Cantik.."
Jawaban sesederhana itu saja sudah cukup membuat senyum di wajah Laras semakin lebar.
"Nah, gitu dong," ujarnya puas. "Sekali-kali kasih komentar kan enak di dengar."
Kanaya yang mendengar ucapan itu hanya tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya lagi, sedangkan Dirga memilih kembali menatap ponselnya tanpa mengatakan apa-apa lagi.
...****************...
Desainer itu kembali mengitari tubuh Kanaya sambil sesekali merapikan bagian pinggang kebaya dan mencatat beberapa ukuran di buku kecil yang di bawanya. Setelah memastikan semuanya, ia mundur selangkah lalu tersenyum puas.
"Kalau untuk keseluruhan sudah pas, Mbak. Tinggal bagian pinggang sama lengan ini nanti saya kecilkan sedikit biar jatuhnya lebih rapi."
Kanaya mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya memperhatikan kebaya yang membalut tubuhnya. Jemarinya mengusap perlahan sulaman bunga di bagian lengan sebelum kembali mengangkat wajah.
"Jadi... sudah pas, Naya?" tanya Wina penuh harap. Sejak tadi ia terus memperhatikan putrinya dengan senyum yang tak juga lepas dari bibir.
Kanaya menggeleng kecil seraya tersenyum. "Belum, Bu. Bagian pinggang sama lengannya masih harus di kecilkan sedikit."
"Oh..." Wina mengangguk mengerti, lalu kembali memperhatikan putrinya dari ujung kepala hingga kaki. "Tapi kamu suka dengan kebayanya?"
"Suka kok, Bu." Senyum Kanaya perlahan melebar. Tatapannya kembali jatuh pada kebaya yang dikenakannya. "Naya suka banget."
"Syukurlah." Wajah Wina langsung berbinar, sementara Laras yang duduk di sampingnya ikut mengangguk puas. "Berarti ini yang di pakai buat akad nanti. Tinggal kita pilih gaun resepsinya."
Kalimat itu membuat senyum Kanaya perlahan memudar. Ia tampak berpikir beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajah dan menatap kedua ibunya bergantian.
"Bu..."
"Hm?" sahut Wina.
"Kalau... Naya maunya cukup pakai yang ini saja gimana?" ucapnya pelan, sedikit ragu. "Jadi setelah akad langsung resepsi. Semuanya di selesaikan dalam satu waktu."
Ucapan itu membuat Wina dan Laras saling berpandangan sejenak.
"Loh?" Laras berkedip pelan. "Biasanya kan pagi akad, nanti sore baru resepsi."
Kanaya mengangguk kecil.
"Iya, Tante. Tapi Naya maunya, setelah akad langsung resepsi saja."
Wina tampak mulai mempertimbangkannya. Ia kemudian menoleh ke arah Laras yang duduk di sampingnya. "Gimana, Mbak Laras?"
Laras tidak langsung menjawab. Tatapannya justru beralih kepada Kanaya.
"Memangnya kamu maunya begitu, Sayang?"
"Iya, Tante." Kanaya mengangguk pelan. "Menurut Naya lebih sederhana."
"Hmm..."
Laras kemudian mengalihkan pandangannya kepada putranya yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
"Dirga, kamu gimana?"
Dirga perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya sempat singgah beberapa detik pada Kanaya sebelum akhirnya menjawab dengan nada tenang.
"Aku ikut apa kata Kanaya saja."
Jawaban singkat itu membuat Laras langsung menghembuskan napas panjang sambil menggeleng kecil.
"Aduh... kalian ini sama saja." Senyum tipis muncul di wajahnya sebelum ia kembali melanjutkan. "Kalau di jadikan satu waktu, berarti undangannya juga harus di buat satu sesi. Jadwal vendor juga harus diubah lagi."
"Ibu atur saja bagaimana jalannya," ujar Dirga datar. "Yang jelas aku ikut apa yang Kanaya inginkan."
Laras kembali menatap putranya beberapa saat. Entah sejak kapan, hampir setiap keputusan yang berkaitan dengan pernikahan itu selalu berakhir dengan jawaban yang sama dari Dirga.
Ia akhirnya tersenyum pasrah.
"Hmm... ya sudah kalau begitu. Kita ikuti maunya Kanaya saja."