Usia 50 tahun. Menantu durhaka, anak tak tahu diuntung, dan suami yang membuang Suparti Wijaya di depan umum hanya delapan hari setelah ibu mertuanya meninggal.** Tapi Tuhan memberinya kesempatan kedua — Suparti terlahir kembali, kembali ke hari paling menghinakan dalam hidupnya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia tidak memohon. Ia menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar penuh dendam, lalu menampar Prof. Handoko Susanto dan simpanannya, Jenny Wongso, di depan seluruh kantor catatan sipil — membongkar rahasia kelam 34 tahun pernikahan yang selama ini ia telan sendirian: uang bulanan receh, penghinaan tanpa henti, dan pengorbanan yang dibalas pengkhianatan.
Diusir tanpa sepeser pun harta, Suparti justru bangkit dari titik paling rendah — memulung sampah, mencuci piring di warung orang, tidur beralaskan kardus. Tapi wanita yang dulu dianggap "sudah tidak berguna" ini justru membangun **Bank Sampah Hidup Baru**, dari gerobak rongsokan kecil menjadi kerajaan bisnis daur ulang yang disegani seantero kota. Setiap orang yang dulu meremehkannya kini harus menunduk memanggilnya Bos.
Dan di tengah kebangkitannya, muncul sosok yang tak pernah ia duga: **Jenderal Alexander Sena Wiranata**, pria berkuasa yang selama ini selalu "kebetulan" ada di dekatnya — melindunginya diam-diam selama tiga puluh empat tahun tanpa pernah mengaku. Semua orang mengira ini keberuntungan. Tapi benarkah semua "kebetulan" itu murni kebetulan? Ataukah ada rahasia yang jauh lebih besar, yang menyangkut nyawa Suparti di kehidupan sebelumnya — rahasia yang baru akan terungkap ketika cinta mereka sudah tak bisa lagi dipisahkan? Balas dendam sudah dimulai. Kerajaan sudah dibangun. Tapi cinta sang jenderal... baru saja akan berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Alexander tidak langsung masuk setelah diberi izin.
Ia berdiri sejenak di ambang pintu, memastikan Suparti benar-benar melihatnya dan tidak keberatan. Sikap itu kecil, tetapi bagi Suparti terasa besar. Handoko selalu masuk lebih dulu, baru bertanya kemudian. Alexander menunggu seperti seseorang yang tahu pintu kamar sakit adalah wilayah rapuh.
"Bu Suparti," sapanya.
Timmy menatap pria itu dari ujung ranjang. "Kong?"
Cindy cepat menarik bahu anaknya. "Timmy, jangan sembarangan."
Alexander justru menunduk sedikit kepada Timmy. "Belum. Panggil Pak Alexander saja dulu."
Suparti hampir tersenyum. Kata "dulu" itu membuat Timmy bingung, tetapi tidak menakutinya.
Di tangan Alexander ada termos makanan dari stainless steel. Ia meletakkannya di meja, membuka tutupnya, dan aroma tomat hangat memenuhi kamar.
Suparti membeku.
"Dokter bilang Ibu sudah boleh makan yang lembut," kata Alexander. "Ini sup tomat. Tidak sama seperti tiga puluh empat tahun lalu, tapi saya mencoba mendekati rasanya."
Cynthia yang duduk di kursi dekat jendela pura-pura memeriksa ponsel. Cindy pamit membawa Timmy keluar membeli air, memberi ruang tanpa banyak komentar.
Ketika kamar tinggal lebih tenang, Alexander menuang sup ke mangkuk kecil.
"Anda masak sendiri?"
"Saya mengacaukan dapur orang lain," jawabnya datar. "Koki rumah membantu menyelamatkan hasilnya."
Suparti tertawa pelan, lalu menahan sisi tubuhnya karena sakit.
Alexander segera berhenti menuang. "Sakit?"
"Tertawa ternyata masih mahal."
Ia menyodorkan sendok, tetapi tidak memaksa menyuapi. Suparti mengambil sendiri. Kuah tomat itu lebih halus daripada ingatan lamanya, ada rasa kaldu ayam dan sedikit lada. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang sama: hangat sederhana yang datang pada saat tubuh merasa paling sendirian.
"Dulu," kata Suparti, "aku hanya memberi sup karena kasihan. Kamu di ranjang sebelah tidak mau makan."
Alexander menatap mangkuk. "Saya ingat. Kaki saya sakit, kepala saya penuh amarah, dan seorang gadis kecil menaruh mangkuk sambil berkata, orang sakit jangan sombong pada makanan."
"Aku berkata begitu?"
"Ya."
Suparti mengerutkan dahi. Ia sendiri hampir tidak ingat kalimat itu. Hidupnya setelah itu terlalu penuh oleh suara orang lain.
"Ingatanmu tajam sekali."
Alexander diam sedikit terlalu lama. "Ada hal yang tidak bisa dilupakan."
Nada itu membuat Suparti menatapnya. Ada sesuatu di sana, seperti pintu yang ditutup dari dalam. Ia tidak tahu mengapa dada tuanya tiba-tiba berdebar seperti gadis yang belum belajar takut.
Ratih datang beberapa menit kemudian membawa berkas. Ia melapor singkat tentang perkembangan kasus Herman dan jalur pengamanan hotel. Alexander mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali mengangguk. Setelah Ratih selesai, ia berkata, "Pastikan Bu Suparti tidak menerima tamu tanpa daftar."
"Siap."
Suparti menoleh. "Aku bukan pejabat."
"Bukan," kata Alexander. "Tapi Ibu target orang yang putus asa."
Kalimat itu tidak manis, tetapi benar.
Ratih juga menyampaikan hal lain. "Setelah pulih, Bu Suparti bisa mempertimbangkan pindah sementara ke Jakarta. Ada Sekolah Lansia Bahagia. Programnya cocok untuk orang dewasa yang ingin belajar lagi, termasuk literasi digital dan kewirausahaan kecil."
"Aku?" Suparti menunjuk dirinya. "Sekolah?"
"Kenapa tidak?" tanya Alexander.
Suparti melihat tangannya yang kasar, kuku pendek, bekas sabun dan jarum infus. "Aku bahkan tidak tamat SD."
"Justru karena itu," jawabnya. "Belajar tidak hanya milik anak muda."
Kalimat itu tinggal di udara kamar. Suparti tidak langsung menerima. Jakarta terasa jauh, sekolah terasa lebih jauh lagi. Tetapi setelah semua yang terjadi, gagasan bahwa hidupnya masih bisa punya kelas, buku, dan kursi sendiri membuat tenggorokannya hangat.
Alexander menutup termos. "Saya tidak akan memaksa. Hanya pintu."
"Kamu suka membuka pintu untuk orang?"
"Untuk orang tertentu."
Suparti menunduk pada mangkuk sup. Ia tidak tahu harus berkata apa pada perhatian yang tidak menuntut balasan.
Saat Alexander berdiri hendak pergi, ia berhenti di dekat pintu. Suaranya sangat pelan, hampir tertelan bunyi monitor.
"Kali ini, saya tidak akan terlambat lagi."
Suparti mengangkat wajah.
"Apa?"
Alexander sudah tersenyum tipis, seolah kalimat itu tidak pernah keluar. "Istirahat, Bu Suparti."
"Kalau aku duduk di kelas bersama orang-orang yang lebih pintar, mereka akan tertawa."
"Mungkin ada yang tertawa," kata Alexander. "Tapi mereka akan berhenti kalau Ibu tetap datang besoknya."
"Kau bicara seperti mudah."
"Tidak mudah. Tapi saya pernah melihat Ibu melakukan hal yang lebih sulit."
Suparti mengangkat alis.
"Bertahan," jawab Alexander.
Kata itu membuat kamar menjadi sunyi. Selama ini orang-orang memuji Handoko karena gelar, Kevin karena pekerjaan, Vivian karena penampilan, Cindy karena pendidikan. Tidak ada yang menyebut bertahan sebagai kemampuan. Padahal Suparti bertahan dari pagi ke pagi, dari penghinaan ke penghinaan, dari uang seratus ribu ke tagihan yang selalu lebih besar.
"Bertahan bukan prestasi," katanya lirih.
"Kalau orang lain berusaha membuat Ibu hilang, bertahan adalah prestasi."
Suparti menatap sup tomat di mangkuk. Kuahnya mulai dingin, tetapi dadanya hangat dengan cara yang membuatnya takut. Perhatian yang terlalu tepat sering terasa seperti jebakan bagi orang yang lama hidup dalam manipulasi.
"Pak Alexander," katanya, sengaja menjaga jarak dengan sebutan resmi. "Jangan terlalu baik padaku."
"Saya akan berusaha tidak membuat Ibu takut."
Jawaban itu bukan janji manis. Justru karena itu, ia lebih berbahaya bagi pertahanan Suparti.
Cindy kembali sebentar untuk mengambil tas Timmy. Ia melihat mangkuk sup, lalu melihat Alexander. Tidak ada komentar sinis dari mulutnya. Mungkin terlalu banyak hal runtuh dalam dua hari terakhir sehingga ia tidak punya tenaga untuk menilai hubungan orang lain.
Timmy mengintip dari balik pintu. "Pak Alexander bawa sup?"
"Ya," jawab Alexander.
"Oma suka?"
Suparti melirik anak itu. "Lumayan."
Alexander menunduk, menyembunyikan senyum. "Itu pujian tinggi."
Timmy tampak bingung, tetapi suasana kamar menjadi lebih ringan. Untuk beberapa detik, tidak ada polisi, tidak ada surat damai, tidak ada rekaman. Hanya seorang anak, seorang perempuan tua, dan semangkuk sup yang terlalu sederhana untuk disebut obat tetapi cukup untuk membuat malam terasa manusiawi.
Ketika Cindy membawa Timmy pergi lagi, anak itu menoleh dua kali kepada Alexander. Rasa ingin tahunya mengalahkan prasangka yang ditanam orang dewasa. Suparti melihatnya dan merasa masa depan mungkin tidak langsung bersih, tetapi masih bisa dicuci pelan-pelan.
Alexander membereskan termos dengan gerakan rapi. Ia tidak berlama-lama mencari alasan tinggal, dan justru itu membuat kehadirannya tertinggal lebih kuat.
"Pak Alexander," kata Suparti sebelum ia keluar, "kalau aku benar pergi ke sekolah itu, aku tidak mau orang tahu karena belas kasihanmu."
"Mereka akan tahu karena Ibu mendaftar."
"Dan kalau aku gagal?"
"Maka Ibu coba lagi dengan cara lain."
Pintu tertutup perlahan. Aroma sup tomat masih tinggal di kamar, tetapi kata-kata itu jauh lebih lama tinggal di kepala Suparti.