Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Tuan Muda Pertama
Siapa yang datang sampai Kediaman Ciu harus dikosongkan seperti ini?
Pertanyaan itu belum selesai terbentuk ketika salah satu pria berbaju hitam menatap Keira.
"Mundur."
Suaranya rendah, tanpa emosi. Bukan satpam yang biasa berjaga di gerbang. Pria itu berdiri dengan kaki sedikit terbuka, bahu tegak, dan mata yang terus menghitung jarak. Keira pernah melihat tatapan seperti itu di depan ruang operasi rumah sakit swasta, ketika keluarga kaya membawa pengawal sendiri.
Ia mundur satu langkah lagi.
"Maaf. Saya hanya lewat menuju paviliun belakang."
Pria itu tidak menjawab. Dua orang lain bergerak, menutup celah koridor seolah Keira adalah gangguan kecil yang bisa disapu kapan saja.
Udara taman yang tadi lembap tiba-tiba terasa sempit.
Keira menahan diri untuk tidak melihat terlalu banyak. Di rumah ini, rasa ingin tahu bisa lebih berbahaya daripada kesalahan kerja. Ia menurunkan pandangan, berdiri dekat pilar batu, mencoba menjadi bagian dari bayangan.
Namun tubuhnya tetap siaga.
Dari arah gerbang samping, suara mobil masuk tanpa klakson. Bukan satu. Beberapa. Ban melewati jalan batu dengan bunyi tertahan. Setelah itu, pintu mobil terbuka hampir bersamaan.
Orang-orang di koridor bergerak lebih rapi.
Seorang pria paruh baya yang Keira kenali sebagai salah satu manajer rumah tangga bergegas menunduk. Dua staf dari kantor utama Ciu Group, masih memakai jas, berdiri di sisi kiri dengan wajah serius. Bahkan mereka tidak berani bicara duluan.
Keira semakin yakin.
Ini bukan tamu biasa.
Langkah pertama terdengar.
Pelan.
Terukur.
Lalu seorang pria muncul di ujung koridor taman.
Untuk sesaat, Keira lupa cara bernapas.
Pria itu tinggi, hampir satu kepala lebih tinggi dari orang-orang di sekitarnya. Jas hitamnya sederhana, tidak berkilau, tetapi justru karena itu tampak mahal sampai tidak perlu membuktikan apa pun. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tegas, dengan mata gelap yang tidak terburu-buru melihat dunia.
Ia tidak berjalan seperti Ethan.
Ethan membawa dingin yang menusuk. Setiap kalimatnya seperti keputusan akhir.
Pria ini membawa diam yang menekan. Ia belum mengatakan apa pun, tetapi seluruh koridor sudah menyesuaikan napas dengannya.
"Tuan Muda Pertama," bisik seseorang.
Reynard Ciu.
Nama itu melewati kepala Keira seperti kilat yang tidak bersuara.
Ia pernah mendengar staf menyebut lantai empat dengan nada tertahan. Ia pernah melihat semua orang menghindari pembicaraan tentang penghuni area itu. Sekarang ia tahu kenapa.
Kalau Ethan adalah pisau di atas meja rapat, Reynard adalah pintu besi yang tidak perlu dibuka untuk membuat orang tahu di baliknya ada ruang gelap.
Keira segera menundukkan kepala lebih rendah.
Jangan lihat.
Jangan bergerak.
Jangan membuat masalah.
Reynard berjalan di tengah rombongan. Di sisi kanannya, seorang pria bertubuh tegap mengikuti setengah langkah di belakang. Wajahnya keras, rambutnya pendek, matanya memeriksa sudut taman, pilar, tangga, dan akhirnya Keira.
Adi Li.
Keira tidak tahu namanya saat itu, tetapi dari cara semua orang memberi ruang padanya, ia jelas bukan pengawal biasa.
Adi berhenti.
Matanya menyempit begitu melihat Keira berdiri di sisi pilar.
Keira langsung menunduk. "Maaf. Saya staf pengasuh. Saya salah jalur."
Tidak ada jawaban.
Justru sunyi itu membuat tengkuknya dingin.
Beberapa detik kemudian, suara kain jas bergesek terdengar. Salah satu pengawal di belakang Adi menggerakkan tangan ke arah pinggang.
Gerakan kecil.
Cukup untuk membuat darah Keira turun ke ujung kaki.
Di Kediaman Ciu, kesalahan memilih koridor ternyata bisa terlihat seperti ancaman.
Keira mengangkat kedua tangan sedikit, telapak menghadap tubuh sendiri, bukan menyerah secara dramatis, hanya menunjukkan ia tidak membawa apa pun.
"Saya tidak sengaja masuk area ini," katanya perlahan. "Saya akan mundur kalau diberi jalan."
Adi melangkah ke arahnya.
"Nama?"
"Keira Lo."
Beberapa orang di belakang rombongan menoleh.
Keira tidak tahu apakah namanya sudah tersebar karena bayi, karena Stephanie, atau karena Ethan mulai menyuruh orang menggali latar belakangnya. Di rumah ini, nama bisa bergerak lebih cepat daripada kaki.
Adi masih menatapnya. "Siapa yang mengizinkanmu lewat sini?"
"Tidak ada. Saya biasa lewat koridor taman setelah memeriksa bayi Nyonya Stephanie. Malam ini saya tidak menerima informasi jalur ditutup."
Jawaban itu keluar lebih tenang daripada tubuhnya.
Sebenarnya, lututnya mulai lemah.
Adi membuka mulut, mungkin hendak memberi perintah untuk menyingkirkannya.
Namun sebelum kata itu keluar, Reynard mengangkat tangan.
Hanya sedikit.
Tidak sampai setinggi bahu.
Seluruh gerakan di koridor berhenti.
Adi langsung diam.
Pengawal yang tadi menyentuh pinggangnya menurunkan tangan.
Keira merasakan perbedaan itu dengan jelas. Ethan memberi perintah dengan suara. Reynard cukup menggeser satu tangan, dan orang-orang berhenti seperti tali mereka ditarik dari pusat yang sama.
Untuk pertama kalinya, Keira berani mengangkat pandangan sedikit.
Jarak mereka mungkin tiga meter.
Tidak dekat, tetapi cukup untuk membuat Keira melihat wajahnya dengan jelas.
Reynard tidak marah.
Itu yang membuatnya lebih menakutkan.
Tatapannya turun ke wajah Keira, lalu berhenti.
Bukan pandangan seorang pria yang melihat perempuan cantik.
Bukan pula pandangan majikan kepada staf yang salah tempat.
Ia seperti melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana, tetapi juga tidak sepenuhnya asing.
Keira menahan napas.
Satu detik.
Dua detik.
Terlalu lama untuk kebetulan.
Terlalu sunyi untuk sekadar teguran.
Di kepala Keira, peringatan Bi Sari berputar: lantai empat jarang disebut, dan kalau disebut pun suara staf turun setengah nada.
Ia tidak tahu apa kesalahannya. Ia hanya tahu semua orang kini ikut menatapnya karena Reynard menatapnya.
Pria itu akhirnya berkata, "Staf baru?"
Suaranya rendah.
Tidak keras, tetapi terdengar sampai ujung koridor.
Adi menjawab lebih cepat dari siapa pun. "Pengasuh baru Nyonya Stephanie, Ko Reynard. Namanya Keira Lo."
Keira menangkap satu hal.
Adi sudah tahu.
Atau setidaknya terlalu cepat untuk tahu.
Reynard tidak segera menjawab. Matanya masih pada Keira.
"Dari mana?"
Pertanyaan itu membuat Keira hampir mendongak penuh.
Namun ia menahan diri. "Dari kamar Nyonya Stephanie, Ko Reynard. Saya hendak kembali ke kamar pengasuh."
"Bukan itu."
Koridor menjadi lebih sunyi.
Keira merasakan punggungnya dingin.
Ia tidak mengerti maksudnya.
Adi menoleh sedikit kepada Reynard, seolah pertanyaan itu juga tidak biasa baginya.
Reynard menatap Keira beberapa saat lagi. Lalu matanya bergerak turun, berhenti sekejap pada tangan Keira.
Bekas luka bakar lama di punggung tangannya terlihat samar di bawah lampu taman. Goresan baru dari insiden bayi juga belum hilang.
Keira spontan menurunkan tangan.
Gerakan kecil itu membuat mata Reynard kembali ke wajahnya.
Ada sesuatu di sana. Bukan kelembutan. Belum. Lebih seperti pintu lama yang tiba-tiba mendengar kunci disentuh dari luar.
Keira tidak tahu kenapa tatapan itu membuat dadanya sesak.
Ia lebih terbiasa dengan penghinaan. Dengan curiga. Dengan perintah.
Tatapan Reynard bukan salah satu dari itu.
Dan karena itu, ia tidak tahu cara melindungi diri.
Seorang staf senior batuk pelan, mungkin berusaha mengingatkan jadwal.
"Ko Reynard, Engkong Besar sudah menunggu di lantai empat."
Reynard tidak langsung bergerak.
Ia masih menatap Keira.
Adi berdiri kaku di sampingnya. Para pengawal tidak ada yang berani bertukar pandang, tetapi seluruh perhatian mereka sudah berubah arah. Dari koridor, dari pintu samping, dari bawah lampu taman, semua mata kini mengikuti garis pandang Reynard.
Keira berdiri di dekat pilar, seragam pengasuhnya sederhana, rambutnya diikat rendah, kedua tangan yang penuh bekas luka menempel di depan tubuh.
Ia merasa seperti satu titik kecil di atas lantai marmer yang tiba-tiba disinari terlalu terang.
Reynard akhirnya mengambil setengah langkah.
Lalu berhenti lagi.
Tatapannya jatuh tepat ke tempat Keira berdiri.
Dalam sekejap, semua pengawal menoleh ke arah Keira.