NovelToon NovelToon
Setiap Malam Bermimpi Panas dengan Suami Koma

Setiap Malam Bermimpi Panas dengan Suami Koma

Status: tamat
Genre:Horor / Romantis / Fantasi / Suami Hantu / Tamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Nguyệt Cầm Ỷ Mộng

Sari Wulandari dibawa dari desa ke keluarga Pratama bukan sebagai putri yang disayangi, melainkan sebagai calon istri untuk Arga Pratama, pewaris kaya raya yang sudah dua tahun terbaring koma. Semua orang mengira ia hanya akan menjadi perawat di rumah megah itu.
Namun kamar Arga menyimpan rahasia yang tidak masuk akal: tirai bergerak tanpa angin, jimat tersembunyi di bawah seprai, dan sosok tak terlihat selalu mengawasi Sari. Setiap malam, pria koma itu datang ke dalam mimpinya dengan hasrat yang terlalu nyata.
Di balik pernikahan mendadak itu, keluarga elite lain menyembunyikan ritual penahan nasib yang mengorbankan hidup Arga. Sari yang polos hanya ingin merawat calon suaminya dengan baik, tanpa tahu bahwa sejak ia masuk ke rumah itu, sang hantu telah menganggapnya sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nguyệt Cầm Ỷ Mộng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

# Bab 31: Ibu\, Jangan Paksa Istriku Lagi!

Bu Pratama adalah orang yang begitu mengambil keputusan, tidak akan ragu. Cara kerjanya cepat seperti badai.

Sore hari, setelah Sari bangun dari tidur siang, Bu Pratama langsung mencarinya untuk bicara.

Namun ia tidak langsung masuk ke inti. Ia berkata, "Sari, ayahmu ingin menjemputmu pulang ke keluarga Wijaya."

Sari mengangkat kepala memandang Bu Pratama. "Pulang untuk apa, Tante?"

"Anak ini, itu rumahmu. Kenapa kau bertanya pulang untuk apa?"

Bu Pratama menarik tangannya. "Besok pernikahan. Secara aturan, sebelum menikah kau harus berada di rumah asalmu, lalu besok dijemput ke sini."

Sari diam dan menundukkan mata.

Bu Pratama juga tidak mendesak. Ia sabar menunggu jawaban.

Lalu yang ia tunggu adalah satu kalimat. "Kalau begitu, boleh tidak tidak usah ada pesta pernikahan, Tante?"

Jika tidak ada pesta pernikahan, ia tidak perlu pulang, tidak perlu mengikuti tata cara apa pun. Inilah logika sederhana Sari.

Bu Pratama ditatap oleh mata yang jernih, sederhana, jujur, dan polos itu. Di dalamnya bahkan ada harapan. Ia tidak bisa menahan senyum. Ia tidak langsung berkata boleh atau tidak, melainkan bertanya, "Kenapa? Kau tidak suka pulang ke keluarga Wijaya?"

Sari menunduk. "Itu bukan rumahku."

Bu Pratama mengingatkan dengan tenang, "Itu rumah ayahmu."

Sari menggeleng, lalu menjawab kalimat itu dengan diam.

Senyum Bu Pratama semakin lembut. Ia menepuk tangan Sari. "Kau juga tidak ingin bertemu ayahmu?"

Sari tidak mengerti mengapa Bu Pratama terus menyebut hal ini. Ia merasa tidak nyaman. Tanpa sadar ia mengucapkan isi hatinya, "Belum tentu dia ingin bertemu denganku."

Ia menggenggam balik tangan Bu Pratama dan berkata tulus, "Boleh aku tidak pergi dari sini?"

"Aku hanya ingin berada di sini. Tidak ingin ikut dia."

Ibu, jangan paksa dia lagi!

Sejak awal Bu Pratama juga bukan ingin menekan menantunya. Begitu melihat baris tulisan yang terbentuk dari air di samping cangkir teh, ia langsung mengubah nada. "Baik, baik. Kalau Sari tidak mau pergi, ya tidak usah."

Sari tidak menyangka Bu Pratama setuju secepat itu. Ia bahkan bertanya lagi dengan tidak percaya, "Sungguh, Tante?"

Bu Pratama merasa lucu dan menjawab sangat pasti, "Sungguh."

Ketegangan di wajah Sari akhirnya mengendur. Ia tersenyum kecil. "Terima kasih, Tante."

...

"Bagaimana?"

Pak Pratama sedang membaca koran di kamar. Melihat Bu Pratama kembali, ia bertanya, "Apa kata gadis itu?"

Wajah Bu Pratama menjadi serius. "Dia tidak suka ayah palsu itu. Sepertinya bertemu pun tidak ingin, apalagi punya perasaan."

Pak Pratama mendengarnya lalu menatap istrinya. "Jadi kau berniat..."

Bu Pratama bertindak tegas. Ia langsung mengeluarkan ponsel dan menelepon Hendra.

"Pak Wijaya, saya rasa ada hal yang perlu saya bicarakan dengan Anda."

"Datanglah ke rumah saya."

"Baik."

Setelah Bu Pratama menutup telepon, Pak Pratama baru bertanya, "Perlu aku menemanimu?"

"Tidak perlu. Kamu temani Tuan Zhang saja."

Selesai bicara, Bu Pratama masuk ke ruang kerja, menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk negosiasi nanti.

Pak Pratama sangat percaya kepada istrinya. Ia patuh menyerahkan urusan ini kepada Bu Pratama dan tidak lagi mencampurinya.

Demi menjilat keluarga Pratama, Hendra datang sangat cepat. Ia takut membuat Bu Pratama menunggu lama dan tidak senang. Kalau ini hal baik, bukankah ia akan menangis karena rugi?

Namun sepanjang jalan ke sini, ia terus berpikir dan tetap tidak tahu mengapa Bu Pratama mencarinya.

Bu Pratama juga tidak memberi waktu untuknya berpikir. Begitu duduk, ia mendorong dua dokumen kontrak ke hadapannya.

Yang satu adalah kontrak investasi yang selama ini Hendra idamkan, tetapi tidak bisa ia dapat karena kualifikasinya di dunia bisnis tidak cukup. Yang satu lagi adalah unit apartemen di kawasan emas Jakarta yang baru dirancang ulang. Harga awal penjualannya saja sudah setinggi langit, lalu naik setiap hari. Sampai sekarang harganya sudah meningkat sampai jumlah yang bahkan jika Hendra menjual seluruh keluarga Wijaya pun tidak akan mampu membelinya. Hendra tahu keluarga Pratama adalah investor kawasan apartemen itu, jadi ia tidak terkejut Bu Pratama bisa mengeluarkannya.

Yang membuatnya terkejut adalah mengapa Bu Pratama mengeluarkannya. Dua-duanya membuatnya meneteskan air liur.

"Bu Pratama, ini..."

"Pak Wijaya, sekarang saya tidak punya banyak waktu untuk berputar-putar, jadi saya akan bicara langsung."

Bu Pratama menatapnya dingin. "Setelah dipikir-pikir, keluarga Pratama saya tetap tidak suka urusan yang berbelit. Jadi begini. Keluarga Pratama memberi Anda dua hal ini. Anggap saja kami membeli Sari Wulandari."

"Saya yakin Pak Wijaya memahami maksud saya."

Tentu saja Hendra mengerti. Ia orang yang sangat licik. Ia hanya tidak menyangka perkembangan ini, sehingga sesaat terkejut dan tidak bicara.

Namun tatapannya yang menyapu dua kontrak pengalihan itu, ditambah bibirnya yang tanpa sadar dijilat, sudah mengkhianati pikirannya.

Ia benar-benar tergoda oleh dua hal itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!