NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Mama

Ia hanya terus menatap wajahnya, seperti seseorang yang berjaga di depan keajaiban yang terlalu rapuh untuk ditinggal sedetik pun.

Ketika Ning akhirnya berhasil keluar dari pelukan Kevin pagi itu, wajahnya sudah merah sampai leher.

Kevin pura-pura baru bangun.

Aktingnya buruk sekali.

Ning tahu ia tidak tidur dari cara matanya terlalu sadar, dari lengan yang baru bergerak setelah ia panik, dari suara rendahnya yang langsung bertanya, "Kepalamu masih pusing?"

"Tidak," jawab Ning cepat.

"Demammu?"

"Sudah turun."

"Aku panggil dokter."

"Kevin."

Ia berhenti.

Ning menarik selimut sampai menutupi dagu. "Aku cuma malu. Bukan sekarat."

Sudut bibir Kevin bergerak tipis. "Baik."

Kehidupan baru di Menteng Enclave dimulai tanpa upacara besar, tapi setiap sudutnya terasa seperti perang kecil melawan masa lalu.

Hari Senin, Ning berdiri di depan cermin kamar mandi dan menyadari kulit wajahnya sedikit lebih cerah. Garis rahangnya berubah halus. Matanya, yang dulu milik Ning Tju sekarang, tampak makin mirip mata perempuan yang ia lihat di foto lama Kevin.

Ia mengambil foto diam-diam, menyimpannya di folder tersembunyi.

Hari Selasa, setelah seharian bekerja di Maison Fevre dan nyaris tidak bertemu Kevin atau Kian, perubahan itu seolah berhenti. Wajahnya tetap sama seperti pagi.

Hari Rabu, ia sarapan bersama Kevin, berdebat dengan Kian soal buku latihan matematika, menerima pelukan terlalu lama dari Yenni yang mampir sebentar, lalu malamnya melihat di cermin bahwa bayangan di depannya bergerak sedikit lebih dekat ke wajah lamanya.

Ning menyentuh pipi sendiri.

Jadi begitu polanya.

Semakin sering ia bersentuhan dengan orang-orang dari hidup lamanya, semakin cepat tubuh ini mengingat siapa dirinya.

Penemuan itu membuatnya takut dan berharap sekaligus.

Sementara itu, rumah yang dulu terasa seperti museum duka mulai berubah menjadi tempat tinggal.

Kevin belajar memakai WhatsApp dengan cara yang sangat Kevin.

Pesan pertamanya kepada Ning pukul 08.03 pagi:

`Sudah minum obat?`

Pesan kedua pukul 08.05:

`Balas.`

Pesan ketiga pukul 08.06:

`Ini Kevin.`

Ning menatap layar ponsel di meja kerja Maison Fevre dan hampir tertawa sampai ditegur rekan kerja. Ia membalas:

`Saya tahu ini kamu. Namamu ada di atas chat.`

Kevin membalas sepuluh menit kemudian.

`Oh.`

Setelah itu, entah siapa yang mengajari, Kevin mulai mengirim foto makanan dengan sudut sangat kaku. Sepiring bubur. Segelas air. Kotak obat.

Keterangannya selalu singkat.

`Makan.`

`Jangan telat.`

`Jangan pulang sendiri malam.`

Ning menyimpan semua pesan itu.

Kian lebih parah dalam hal pura-pura tidak peduli.

Setiap pagi, ia turun ke ruang makan dengan rambut masih berantakan, mengambil tas sekolah, lalu meletakkan satu kotak bekal di dekat tas kerja Ning seolah tidak sengaja.

"Bi Ruan kelebihan masak," katanya hari pertama.

Hari kedua, kotak itu berisi nasi ayam jahe, sayur tumis, dan potongan buah delima.

"Kelebihan lagi?" tanya Ning.

Kian menyesap jusnya. "Rumah ini boros."

Hari ketiga, kotak bekal itu ditempeli catatan kecil:

`Jangan makan mi instan di kantor. Tidak sehat.`

Ning menatap tulisan tangan itu lama sekali.

Kian berdiri di pintu, wajahnya sudah siap membantah. "Itu Bi Ruan yang nulis."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Wajah lo banyak komentar."

Ning tertawa.

Kian membuang muka, tapi telinganya merah.

Janji tidak bolos kelas ternyata bukan sekadar kata yang dilempar agar Ning puas.

Hari Senin siang, Ning menerima foto dari Bi Ruan: Kian sudah dijemput Pak Liu di depan JEIS, seragamnya masih rapi, wajahnya terlihat kesal karena difoto diam-diam. Hari Selasa, wali kelasnya mengirim pesan pendek kepada Kevin bahwa Kian hadir penuh di semua kelas. Hari Rabu, Kian sendiri melempar buku matematika ke meja kerja Ning sepulang sekolah.

"Bagian ini gak jelas," katanya.

Ning menatap halaman yang ia buka. "Ini materi yang kamu bilang gampang."

"Gampang kalau penulis bukunya niat."

"Jadi mau belajar?"

Kian menatap jendela, lalu mengangguk sangat kecil.

Ning duduk di sampingnya. Mereka mengerjakan soal hampir satu jam. Kian cepat menangkap pola, hanya malas menulis langkah lengkap. Setiap kali Ning memuji, ia langsung pura-pura minum. Setiap kali Ning menegur, ia menggerutu tapi memperbaiki.

Ada satu momen ketika Kian menunduk serius, ujung pensilnya bergerak cepat, dan rambut peraknya jatuh menutupi mata. Ning hampir mengulurkan tangan untuk merapikannya seperti ia dulu membayangkan akan merapikan rambut bayi laki-lakinya. Jari-jarinya sudah terangkat sedikit, lalu ia cepat-cepat menariknya kembali ke pangkuan.

Belum waktunya.

Tapi suatu hari nanti, ia ingin menyentuh rambut itu tanpa harus takut ditolak.

Kevin lewat di depan pintu dua kali.

Yang pertama membawa kopi.

Yang kedua tidak membawa apa-apa, jelas hanya ingin melihat.

"Pak Kevin," kata Kian tanpa menoleh, nada masih kaku seperti biasa, "kalau mau masuk, masuk aja. Jangan mondar-mandir kayak CCTV."

Ning menunduk menahan tawa.

Kevin diam sebentar, lalu benar-benar masuk dan duduk di sofa. Selama sepuluh menit berikutnya, ia tidak melakukan apa pun selain melihat Ning menjelaskan persamaan dan Kian berpura-pura tidak senang diperhatikan.

Malam itu, saat mencuci muka, Ning melihat bekas kantung mata tubuh ini memudar. Wajah di cermin belum sepenuhnya wajah lamanya, tapi senyumnya sudah mulai terasa seperti milik sendiri.

Malam-malam mereka juga berubah. Kevin, yang katanya tidak pernah menonton sinetron, duduk kaku di sofa ruang keluarga saat Ning menemukan tayangan ulang drama keluarga lawas. Kian awalnya mengejek kualitas gambarnya, tapi sepuluh menit kemudian ia duduk di lantai, memegang bantal, mengomentari semua keputusan tokoh utama.

"Kenapa dia gak ngomong aja sih?" Kian menggerutu.

Ning dan Kevin menoleh bersamaan.

Kian sadar ia sedang membicarakan masalah komunikasi dalam rumah yang isinya dua orang paling sulit bicara.

"Apa?" katanya defensif. "Karakter TV-nya ngeselin."

Kevin mengambil remote dan menaikkan volume.

Ning tertawa sampai matanya berair.

Di tengah semua itu, ada satu hal yang membuatnya gugup.

Kian tidak pernah lagi memanggilnya Tante Ning.

Sebenarnya, ia hampir tidak memanggil Ning dengan apa pun. Kalau ingin bicara, ia membuka kalimat dengan "eh", "lo", "itu", atau langsung meletakkan sesuatu di depannya.

"Eh, obat."

"Lo besok pulang jam berapa?"

"Itu, buku desain lo ketinggalan."

Setiap kali lidahnya seperti akan membentuk sebuah panggilan, Kian berhenti mendadak, lalu pura-pura batuk atau minum.

Ning melihat semuanya.

Ia tidak berani berharap terlalu keras.

Harapan, baginya, masih terasa seperti gelas tipis di tepi meja.

Malam Kamis, hujan turun pelan di Menteng. Ning tidur lebih cepat karena lelah, tapi terbangun saat mendengar pintu kamar utama terbuka sangat hati-hati.

Ia belum benar-benar pindah semua barang ke kamar utama, tapi sejak mimpi buruk malam itu, Kevin selalu membiarkan lampu kecil menyala dan tidur di sofa sampai Ning benar-benar pulas. Malam ini, Kevin duduk di kursi dekat jendela, membaca laporan dengan tablet redup.

Ning memejamkan mata, berpura-pura tidur.

Langkah pelan masuk.

Kian.

"Pak Kevin," bisiknya.

Kevin menurunkan tablet. "Apa?"

"Lampu koridor kamar dia terlalu terang gak? Tadi gue lewat, kayaknya dia keganggu."

"Dia sudah tidur."

"Belum tentu." Kian mendekat, suaranya makin kecil. "Mamaku kalau susah tidur biasanya pura-pura merem dulu."

Seluruh tubuh Ning membeku.

Mamaku.

Kata itu tidak keras. Tidak dramatis. Hanya bisikan remaja yang datang tengah malam untuk membicarakan lampu koridor.

Tapi bagi Ning, kata itu seperti pintu ruang operasi yang akhirnya terbuka setelah enam belas tahun.

Ia menggigit selimut.

Air mata langsung mengalir ke bantal.

Kevin tidak bergerak. Di antara mereka, ada sunyi yang sangat hati-hati.

Kian sepertinya baru sadar apa yang ia katakan. Napasnya berhenti sebentar.

"Maksud gue..." Ia panik pelan. "Dia. Orang itu. Ya pokoknya..."

Kevin menatap anaknya lama.

"Aku mengerti."

"Jangan kasih tahu."

"Tidak."

"Gue belum siap ngomong langsung."

"Tidak apa-apa."

Kian berdiri diam beberapa detik.

"Kalau dia bangun, bilang lampunya jangan dimatiin total. Dia takut gelap."

"Baik."

Langkah Kian menjauh.

Pintu menutup pelan.

Ning tetap menggigit selimut sampai bahunya bergetar. Ia menangis tanpa suara, takut kalau satu isak kecil saja keluar, Kian akan tahu ia mendengar semuanya.

Anaknya memanggilnya mama.

Belum di hadapannya.

Belum dengan mata saling bertemu.

Tapi kata itu sudah keluar dari mulut anaknya, hidup, hangat, dan nyata.

Kevin berdiri dari kursi. Ia mendekat ke sisi ranjang, tapi tidak membuka rahasia bahwa ia tahu Ning terjaga. Ia hanya menarik selimut sedikit lebih tinggi di bahunya, lalu mengecilkan lampu koridor, bukan mematikannya.

Ning menangis lebih keras ke dalam bantal.

Keesokan paginya, ia mencuci muka lama sekali agar matanya tidak terlalu bengkak.

Saat mengeringkan tangan, ia melihat pergelangan tangannya di cermin.

Bekas luka tipis yang selama ini melintang samar di sana tampak memudar.

Tidak hilang.

Tapi jelas lebih pucat.

Ning menyentuhnya dengan ujung jari.

Seolah ada bagian dari tubuh ini yang akhirnya percaya bahwa ia tidak lagi sendirian.

Di meja sarapan, Kian duduk dengan rambut basah, satu tangan memegang gelas jus delima. Ia berusaha terlihat normal, tapi telinganya sudah merah bahkan sebelum Ning bicara.

Kevin duduk di kepala meja, wajah datar yang terlalu sengaja tidak ikut campur.

Ning menatap Kian.

"Kian."

Tangan Kian berhenti.

"Hm?"

Ning menahan napas, lalu tersenyum lembut.

"Ada sesuatu yang ingin kamu katakan kepadaku?"

Gelas jus delima di tangan Kian berhenti tepat di depan bibirnya.

Ujung telinganya pelan-pelan memerah.

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!