NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Perempuan Genki

Pagi berikutnya, Keira turun dari mobil online dengan mata yang sedikit kurang tidur.

Ia sudah berusaha menutupinya. Rambut diikat rapi, blouse putih disetrika licin, tote bag kerja tersampir di bahu seperti biasa. Namun tubuh punya cara sendiri untuk bicara. Langkahnya sedikit lebih lambat, dan ketika ia berdiri di depan gerbang TK Internasional, jemarinya beberapa kali memijat pelipis.

"Kei."

Suara Rayhan membuatnya menoleh.

Pria itu berdiri di dekat mobil hitam, tidak jauh dari area drop-off. Genki ada di sampingnya, memakai seragam TK, rambutnya disisir terlalu rapi sampai terlihat jelas siapa yang memaksa sisir lewat berkali-kali.

"Kak Kei!" Genki langsung berlari kecil.

Keira otomatis berjongkok. Anak itu menabrak pelukannya dengan tenaga penuh, membuat tas di bahunya bergeser.

"Pelan-pelan, Genki."

"Genki kangen."

"Baru kemarin sore kita ketemu."

"Itu lama."

Keira tertawa pelan. Rasa berat dari Rumah Yanto semalam retak sedikit, seperti kaca yang terkena cahaya pagi.

Rayhan memperhatikan wajahnya. Tidak bertanya di depan Genki, tetapi matanya berhenti sejenak pada bayangan lelah di bawah mata Keira.

"Kamu sudah sarapan?"

Pertanyaan itu sederhana. Justru karena sederhana, Keira nyaris tidak siap.

"Nanti di kantor."

"Berarti belum."

Genki langsung menengadah. "Kak Kei belum makan?"

"Nanti makan."

"Nggak boleh." Genki mengerutkan dahi, meniru ekspresi serius Rayhan. "Nanti perut Kak Kei bunyi. Kruk kruk."

Keira tidak bisa menahan tawa.

Rayhan membuka pintu mobil, mengambil paper bag kecil dari kursi belakang. "Roti gandum, telur, dan kopi. Kalau kopinya terlalu kuat, ada susu hangat."

Keira menatap paper bag itu. "Pak Rayhan..."

"Aku tidak sedang memaksamu menerima hadiah." Rayhan menyerahkannya dengan tenang. "Ini sarapan. Kalau kamu menolak, Genki akan cerewet sampai masuk kelas."

"Papa benar," kata Genki cepat. "Genki cerewet."

Keira menerima paper bag itu perlahan. Hangatnya merambat ke telapak tangan.

"Terima kasih."

"Makan di kantor. Jangan di mobil kalau kamu takut dilihat orang."

Keira mendongak.

Rayhan tidak tersenyum, tetapi kalimatnya terlalu tepat sasaran. Ia tahu Keira belum siap menjadi bahan bisik-bisik. Ia tahu caranya memberi tanpa membuatnya terjepit.

Semalam, Rumah Yanto membuatnya merasa kecil.

Pagi ini, Rayhan memberinya sarapan tanpa membuatnya merasa berutang.

"Aku akan makan," kata Keira.

Genki mengangguk puas. "Bagus."

Rayhan menatap putranya. "Sekarang masuk kelas."

Genki langsung memeluk lengan Keira. "Nggak mau. Genki mau jalan sama Kak Kei."

"Kelasmu di dalam."

"Papa di luar saja."

"Aku memang di luar."

"Kak Kei ikut Genki."

Keira menahan senyum. "Aku antar sampai pintu, ya."

Genki mengangguk, tetapi sambil melirik Rayhan. "Papa jangan ikut."

Alis Rayhan naik sedikit. "Kenapa?"

"Karena Kak Kei perempuan Genki."

Keira tersedak napas.

Beberapa orang tua di dekat gerbang menoleh. Seorang guru piket menahan senyum sambil pura-pura merapikan daftar absen.

Rayhan diam dua detik.

"Perempuan Genki?"

Genki mengangguk mantap. "Iya. Papa punya kerja. Genki punya Kak Kei."

Keira menutup wajah dengan satu tangan. "Genki, itu bukan cara bicara begitu."

"Kenapa?"

"Karena..." Keira mencari kalimat yang aman untuk anak tiga tahun. "Karena orang bukan barang yang bisa dipunya."

Genki berpikir keras. "Kalau begitu Kak Kei sayang Genki."

"Itu boleh."

"Papa jangan ambil."

Guru piket kali ini benar-benar tertawa kecil.

Rayhan menatap Keira, lalu Genki. "Aku tidak mengambil."

"Janji?"

"Janji."

"Pakai kelingking."

Rayhan yang biasanya membuat direktur perusahaan besar tegang hanya dengan satu tatapan, pagi itu berdiri di depan gerbang TK sambil mengaitkan kelingking dengan putranya.

Keira melihatnya dan merasa dadanya hangat.

Genki puas. Setelah itu, ia menarik tangan Keira menuju pintu kelas. Setiap beberapa langkah, ia menoleh memastikan Rayhan tidak diam-diam ikut.

"Papa jangan curang!"

"Aku berdiri di sini."

"Jangan geser."

"Baik."

Keira mengantar Genki sampai pintu. Anak itu masuk setelah mendapat pelukan cepat dan janji dijemput sore nanti. Begitu Genki menghilang di balik pintu kelas, Keira berbalik.

Rayhan masih berdiri di tempat yang sama.

Tidak geser sedikit pun.

Entah kenapa, itu membuat Keira tersenyum.

"Dia serius sekali," katanya saat kembali ke dekat mobil.

"Dia mewarisi sifat kompetitif yang tidak sehat."

"Dari siapa?"

"Belum ada bukti."

Keira tertawa. Kali ini lebih lepas.

Rayhan menatapnya beberapa saat. "Semalam berat?"

Tawa Keira mereda.

Ia tidak langsung menjawab. Di kepalanya terlintas wajah Meilan, suara Fengky, senyum Kiara di cermin. Ia bisa saja berkata tidak apa-apa. Jawaban itu sudah seperti refleks.

Namun Rayhan tidak bertanya dengan nada ingin tahu gosip. Ia bertanya seperti seseorang yang siap mendengar tanpa mengambil alih.

"Sedikit," jawab Keira akhirnya.

Rayhan tidak mendesak. "Kalau suatu saat kamu butuh dijemput dari sana, kirim pesan."

"Saya bisa pulang sendiri."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa menawarkan?"

"Karena bisa pulang sendiri tidak berarti harus selalu sendirian."

Keira menggenggam paper bag sarapan lebih erat.

Tidak ada kata manis yang terlalu panjang. Tidak ada janji besar. Tetapi kalimat itu menempel di tempat yang sama dengan luka semalam.

"Terima kasih," katanya pelan.

Rayhan mengangguk. "Hari ini aku tidak mengantar sampai kantor. Kamu akan lebih tenang kalau naik mobil biasa."

Keira menatapnya, terkejut lagi oleh cara pria itu membaca batasnya.

"Tapi sopir sudah menunggu di depan minimarket. Mobilnya tidak mencolok."

"Pak Rayhan."

"Rayhan."

Keira terdiam.

Rayhan tidak memaksanya. "Pelan-pelan."

Ia hampir tersenyum lagi, tetapi suara klakson pendek dari belakang memotong suasana.

Sebuah mobil sport berhenti agak miring di area drop-off. Pintu terbuka, dan seorang pria muda keluar dengan kacamata hitam, kaus mahal, serta ekspresi orang yang datang hanya karena diseret takdir.

"Ko Ray!" serunya. "Aku disuruh Mama Harto antar dokumen ke rumah, tapi malah dikirim Gio ke sini. Ini TK atau kantor cabang Harto Group?"

Rayhan menoleh tanpa ekspresi. "Aiden."

Pria itu melepas kacamata hitam, lalu melihat Keira. Dalam satu detik, wajahnya berubah dari bosan menjadi sangat tertarik.

"Oh."

Keira berdiri kaku.

Aiden tersenyum lebar. "Jadi ini alasan Ko Ray pagi-pagi berdiri di depan TK seperti satpam paling mahal se-Jakarta?"

Rayhan menatapnya datar. "Kamu bisa pulang."

"Nggak mau." Aiden melipat tangan di dada, matanya berbinar jahil. "Aku baru datang, masa langsung pulang? Kenalin dulu dong."

Keira menahan canggung.

Rayhan menghela napas kecil, lalu berkata, "Kei, ini Aiden. Sepupuku."

Aiden langsung mengulurkan tangan. "Aiden Shen. Korban suruhan keluarga Harto sejak lahir."

Keira akhirnya tertawa kecil dan menyambut uluran tangannya. "Keira."

Aiden melirik paper bag di tangan Keira, lalu menatap Rayhan dengan senyum makin lebar.

"Sarapan juga, Ko?"

Rayhan membuka pintu mobilnya. "Masuk."

"Wah, benar-benar jatuh cinta."

"Aiden."

"Iya, iya. Aku masuk. Tapi aku lapor ke Mama Harto, ya. Anak sulungnya akhirnya punya kehidupan selain kerja."

Rayhan menutup pintu mobil dengan wajah dingin.

Namun sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi kepada Keira.

"Makan sarapannya."

Keira mengangguk.

Mobil itu pergi bersama Aiden yang masih tampak berbicara heboh dari kursi penumpang. Keira berdiri di tepi trotoar, paper bag hangat di tangan, dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari Rumah Yanto, pagi terasa tidak terlalu berat.

Di kejauhan, mobil biasa yang dijanjikan Rayhan sudah menunggu.

Keira berjalan ke sana sambil menyembunyikan senyum.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!