NovelToon NovelToon
AKAD NIKAHKU BATAL KARENA TUNANGANKU MENGHAMILI WANITA LAIN

AKAD NIKAHKU BATAL KARENA TUNANGANKU MENGHAMILI WANITA LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengkhianatan / Drama
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Umma Khummaira

Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.

Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.

Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.

Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Kamis malam, unit apartemen milik Larasati di kawasan Jakarta Selatan diselimuti keheningan. Di luar jendela, gemerlap lampu ibu kota tampak begitu ramai. Namun di dalam kamar utamanya, Larasati sedang duduk di tepi ranjang dengan daster sutra hitam yang longgar. Di balik penampilannya yang selalu tampak bersinar, kuat, dan tanpa celah di hadapan Dewa Dirgantara maupun rekan kantornya, Larasati tetaplah manusia biasa.

Malam ini, ingatan tentang pengkhianatan Arjuna dua minggu lalu kembali merayap di dadanya, menimbulkan rasa sakit dan sesak yang halus. Pengkhianatan dari pacar pertama dalam hidupnya itu tidak bisa terhapus dalam semalam. Mengingat besok adalah hari di mana Arjuna dijadwalkan membawa revisi draf pemasaran yang menentukan nasib kontraknya, Larasati memejamkan mata rapat-rapat. Ia menangkupkan kedua tangannya di atas pangkuan, berbisik lirih dalam keheningan.

"Ya Tuhan... kuatkan hati hamba besok pagi." doa Larasati, suaranya parau menembus kesunyian kamar. "Hilangkan sisa amarah dan rasa perih di dada hamba. Bantu hamba agar besok bisa menilai draf mereka murni secara profesional, tanpa ada campur tangan luka masa lalu..."

Drrt... drrt...Ponsel di atas meja nakas bergetar, menampilkan panggilan video dari Papa dan Mamanya.

Larasati dengan cepat menghapus sudut matanya yang agak basah, menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat panggilan tersebut dengan seulas senyum manis.

"Halo, Ayah, Ibu... Selamat malam. Ada apa telepon malam-malam begini?" sapa Larasati hangat.

Di layar ponsel, Baskoro dan Ratna tampak tersenyum hangat melihat putri tunggal mereka.

"Malam, Laras sayang. Ayah dan Ibu cuma mau tanya kabarmu di apartemen. Pekerjaan di agensi aman, kan? Kamu tidak sedang memaksakan diri bekerja sambil menahan sedih, kan, Nak?" tanya sang ibu dengan nada penuh kekhawatiran seorang orang tua.

Larasati terkekeh pelan untuk menenangkan ibunya.

"Semua aman kok, Bu. Kerjaan Laras sebagai Creative Director berjalan sangat lancar. Proyek besar holding media Pak Dewa juga sedang Laras rapikan draf akhirnya."

Baskoro mengangguk bangga, memandangi wajah putrinya dari layar.

"Ayah selalu bangga kepadamu, Laras. Kamu adalah wanita yang luar biasa mandiri. Sejak dulu Ayah menyuruhmu merangkak dari bawah di perusahaan orang lain, agar kamu tidak manja dengan fasilitas bisnis keluarga kita. Dan pembuktianmu nyata, Nak. Kamu sukses membiayai seluruh hidupmu dari keringatmu sendiri, tanpa pernah mengemis nama besar Ayah. Integritasmu itu yang membuat kamu berkelas di mata dunia bisnis."

Larasati tersenyum haru mendengar pujian tulus ayahnya.

"Ini semua berkat didikan disiplin Ayah dan Ibu juga."

Raut wajah Baskoro kemudian berubah menjadi sedikit lebih serius namun tenang.

"Oh iya, Laras. Ada satu hal yang ingin Ayah sampaikan. Dua malam lalu, Hendra menelepon Ayah secara pribadi."

Larasati tertegun sejenak di tepi ranjangnya. "Om Hendra telepon Ayah? Untuk urusan apa lagi?"

"Dia meminta maaf secara jantan, Laras," jawab Baskoro dengan nada suara yang melembut, menceritakan kejadian malam itu. "Dia mengaku kalah dan mengakui perbuatan bejat anaknya tidak bisa dimaafkan. Hendra bilang dia gagal mendidik Arjuna karena selama ini terlalu keras menuntut target kerja tanpa peduli kondisi batin anaknya. Dia menerima semua konsekuensi kehancuran bisnisnya sebagai tanggung jawab moral, dan dia meminta maaf secara terbuka kepada kita."

Mendengar penjelasan ayahnya, Larasati terdiam cukup lama. Ada desah napas panjang yang ia embuskan, dan perlahan, sebuah perasaan lega yang besar menyeruak di dalam dadanya. Rasa sesak yang sejak sore menghimpitnya mendadak mengendur. Larasati merasa dihargai karena keluarga pelaku tidak lagi memutarbalikkan fakta, melainkan memilih untuk merunduk dan mengakui kesalahan.

"Laras ikut lega mendengarnya, Ayah." ucap Larasati dengan senyum tulus yang kini terasa jauh lebih ringan.

"Setidaknya, Om Hendra menunjukkan kelasnya sebagai pria yang bijaksana. Masalah draf revisi Arjuna besok, Laras janji akan menilainya seratus persen secara adil dan profesional."

Sementara itu, di tempat yang berbeda, suasana di rumah pengasingan diselimuti oleh kepasrahan yang syahdu. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, namun lampu ruang tamu masih menyala terang.

Arjuna dan Selly duduk berdampingan di atas lantai beralas karpet tipis di depan meja kayu kecil. Di hadapan mereka, tumpukan kertas draf pemasaran yang tadinya berantakan, kini sudah tersusun dengan sangat rapi dan detail di dalam map jepit berwarna biru. Berkat bimbingan moril dari orang tuanya kemarin, serta bantuan Selly yang telaten mengetik ulang data meski harus bolak-balik ke kamar mandi karena rasa mualnya, revisi itu akhirnya berhasil diselesaikan dengan sangat baik.

Arjuna menatap map biru itu, lalu beralih menatap Selly yang sedang menyandarkan kepalanya di bahunya dengan wajah lelah. Keangkuhan Arjuna kini telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh sifat rendah diri yang murni. Beruntung bagi mereka, badai penderitaan ini telah mengubah dua insan yang dulunya penuh nafsu dan dosa menjadi pribadi yang jauh lebih matang dengan cepat.

"Selly... terima kasih banyak ya." bisik Arjuna lembut, mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh ketulusan tanpa ada kepalsuan lagi.

"Kalau bukan karena bantuan dan kesabaranmu menemaniku sampai malam, aku tidak tahu harus membawa apa besok ke hadapan Larasati dan Pak Dewa."

Selly mendongak, tersenyum manis dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ini sudah jadi kewajibanku sebagai istrimu, Mas. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk masa depan kita dan anak di dalam kandungan ini."

Arjuna meraih kedua tangan Selly, menggenggamnya erat.

Malam itu, di ambang batas waktu yang mendebarkan menuju hari esok, keduanya menundukkan kepala mereka bersama-sama di atas meja kerja yang sunyi. Mereka berdoa dan berpasrah kepada sang pencipta, tidak lagi menuntut kemewahan, tidak lagi mengemis posisi, dan tidak lagi memikirkan ego masing-masing. Mereka sadar bahwa usaha yang mereka lakukan sudah maksimal. Namun nasib masa depan mereka kini sepenuhnya ada di keputusan Larasati besok.

Di dalam keheningan rumah itu, Arjuna dan Selly hanya bisa berharap pada keajaiban Tuhan, menyerahkan seluruh hasil akhir dan sisa hidup mereka esok hari dengan hati yang berserah penuh.

1
sunaryati jarum
Kalian sudah berumur,jika sudah cocok langsung ke pernikahan Saja.Emak.berharap kehidupan rumah tangga Arjuna dan Sisil tidak bahagia karena dibangun di atas rasa sakit hati perempuan lain.
sunaryati jarum
Dikhianati tunangan dipinang atasan.Arjuna kau harus menghormati Larasati karena sebentar lagi akan jadi istri mitra kerjamu
sunaryati jarum
Balasan pengkhianatan dari pasangan ya hidup dengan bahagia
Melda Andriyani
jempol untuk mu Larasati 😍😍🤗
Siti M Akil
lanjut thor
sunaryati jarum
Dikhianati tunangan dicintai bos besar
sunaryati jarum
Kena mental kan kamu , Arjuna
sunaryati jarum
Kapook
sunaryati jarum
Ibumu orang baik,demi smbisimu hidup enak dan kebiasaan hidup liarmu membawamu menjadi pelakor.
Ibu Anak Dua
Sebagai pemula ya novel ini bisa dibilang lumayan ya. Semoga author semakin semangat menerbitkan karyanya
Ibu Anak Dua
laki-laki alasannya dijebak, tapi sampai hamidun gede gitu. Ya ampun Junnnn,,,sing eling toh Jun
partini
silakan di nikmati jun penyesalan mu
Ibu Anak Dua
syalan kalian emang🤭🤭🤭
Ibu Anak Dua
munahfiq banget si Jun, dasar buaya🤣🤣
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
partini
aihhh kata cinta tapi selingkuh itu ga cinta namanya jun
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!