NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Pintu yang Terkunci Rapat

Cengkeraman tangan Arkan pada pergelangan tangan Viona terasa seperti borgol besi yang siap meremukkan tulangnya. Pria itu menyeretnya membelah area kafe tanpa memedulikan tatapan syok dari para staf yang tersisa. Viona setengah berlari, tersandung beberapa kali karena langkah lebar Arkan yang didorong oleh murka absolut. Begitu mereka sampai di lobi luar, mobil Rolls-Royce hitam milik Arkan sudah menunggu dengan pintu belakang yang terbuka lebar.

Arkan mengempaskan tubuh Viona ke dalam kabin mobil yang sejuk dengan sangat kasar. Sebelum Viona sempat bergeser, Arkan sudah ikut masuk dan menutup pintu dengan bantingan keras yang menggema di keheningan jalanan Menteng.

"Jalan, Baskara!" perintah Arkan, suaranya bariton rendah yang bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan.

Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota. Di dalam kabin, atmosfer terasa begitu mencekam hingga Viona nyaris tidak berani mengembuskan napas. Dia bergerak memojokkan diri ke sudut kursi, memeluk kedua lututnya sambil menangis dalam diam. Lengannya yang dicengkeram Arkan tadi kini menyisakan bekas merah keunguan yang terasa berdenyut nyeri.

Arkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Viona. Pria posesif itu menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengatup rapat dan kepalan tangan yang memutih di atas paha bahannya. Dada bidangnya naik turun dengan cepat, memancarkan aura predator yang siap mencabik siapa saja yang berani mengusik otoritasnya. Kecemburuan dan rasa dikhianati bercampur aduk menjadi badai yang siap menghancurkan kewarasannya. Dia baru saja mempertaruhkan posisinya di dewan direksi demi wanita ini, namun wanita ini justru tertangkap basah sedang bersiap menerima paspor baru untuk melarikan diri darinya.

"Tuan Arkan..." lirih Viona di antara isak tangisnya, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. "Ibu Anda... beliau mengancam nyawa ibu saya. Beliau bilang ibu saya sudah berada di ambulans miliknya. Saya tidak punya pilihan lain..."

"Cukup, Viona!" bentak Arkan tanpa menoleh, suaranya menggelegar rendah hingga membuat Viona tersentak ketakutan. "Aku tidak ingin mendengar kebohongan atau pembelaan apa pun dari mulutmu lagi. Kau telah mengabaikan perintahku untuk tetap tinggal di penthouse. Kau memilih untuk mempercayai ibuku dan bersiap pergi ke Swiss! Tindakanmu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kau sama sekali tidak menghargai kontrak kita!"

"Itu karena kontrak ini adalah penjara bagiku!" teriak Viona frustrasi, emosinya yang tertahan sejak di Singapura akhirnya pecah. "Anda tidak pernah peduli pada keselamatan saya atau ibu saya! Anda hanya peduli pada ego dan rasa kepemilikan Anda yang gila! Aku membencimu, Arkan Mahendra! Aku membenci setiap detik yang harus kuhabiskan di dalam sangkar emasmu yang menjijikkan ini!"

Mendengar kata 'benci' dan 'menjijikkan' yang dilontarkan langsung oleh Viona, Arkan seketika menoleh. Sepasang mata elangnya berkilat merah oleh kilat kemarahan yang luar biasa pekat. Pria itu merangkak mendekat, mencengkeram kedua bahu ramping Viona dan mengunci tubuh gadis itu di sudut kursi mobil yang sempit.

"Kau membenciku?" desis Arkan tepat di depan wajah pucat Viona, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Bagus. Kalau begitu bencilah aku seumur hidupmu, Viona. Karena aku bersumpah, rasa bencimu tidak akan pernah bisa membebaskanmu dari pelukanku. Mulai hari ini, aku akan memastikan kau tahu bagaimana rasanya hidup di dalam penjara yang sesungguhnya."

Viona memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan sebutir air mata kembali lolos melewati pipinya yang pucat. Dia tahu, dia telah membangunkan iblis yang paling mengerikan di dalam diri pria ini, dan tidak akan ada lagi jalan pulang bagi kebebasannya.

Mobil Rolls-Royce hitam itu akhirnya berhenti di lobi bawah tanah penthouse lantai tiga puluh enam. Arkan tidak menunggu Baskara membukakan pintu. Dia langsung keluar dan menarik Viona dari dalam kabin dengan paksa. Tanpa memedulikan rintihan lelah dari gadis itu, Arkan membawanya masuk ke dalam lift privat yang langsung menuju ke lantai paling atas.

Begitu pintu lift terbuka di dalam penthouse yang luas, Arkan mengempaskan tubuh Viona ke atas lantai marmer ruang tengah yang dingin. Pintu lift langsung tertutup kembali, menyisakan keheningan yang pekat dan mengintimidasi di antara mereka berdua.

Arkan melangkah lebar menuju meja kerja kecilnya di sudut ruangan, mengambil sebuah berkas tebal dari dalam laci yang terkunci, lalu melempar berkas itu tepat di depan wajah Viona yang masih terduduk lemas di atas lantai. Brak!

"Lihat itu, Viona," perintah Arkan dengan nada suara yang mutlak dan sedingin es.

Viona menatap lembaran kertas yang berserakan di hadapannya dengan pandangan kabur akibat sisa air mata. Itu adalah dokumen medis resmi dari rumah sakit pusat di Bogor. Di lembar paling atas, terdapat foto ibunya yang sedang terbaring di atas ranjang VIP dengan berbagai peralatan medis canggih yang terpasang di tubuhnya, dan di sekeliling ruangan itu tampak tiga pengawal pribadi berseragam hitam milik Arkan yang sedang berjaga rapat.

"Ibumu tidak pernah berada di dalam ambulans ibuku, Viona," ucap Arkan, suaranya terdengar datar namun sarat akan manipulasi yang cerdas. "Ibuku hanya menggertakmu menggunakan informasi yang dia dapatkan secara ilegal. Tim keamananku tidak sebodoh itu hingga membiarkan orang luar menyentuh sandera utamaku."

Viona terperanjat. Dia mengambil foto ibunya dengan tangan yang gemetar hebat. Jadi... semua itu hanya siasat Nyonya Sofia? Ibunya aman di Bogor di bawah pengawasan Arkan. Rasa lega yang aneh menyusup ke dalam hatinya, namun rasa lega itu langsung tertutup oleh kenyataan pahit bahwa dia telah masuk ke dalam jebakan yang membuat Arkan memiliki alasan legal untuk memperketat hukumannya.

"Anda... Anda menipuku," lirih Viona, menatap Arkan dengan tatapan tidak percaya.

"Aku tidak menipumu, aku hanya menunjukkan fakta bahwa kau telah gagal dalam ujian kepatuhan, Karyawan Viona," jawab Arkan dengan keangkuhan seorang penguasa mutlak. Pria itu berjalan mendekati Viona, menjulang tinggi di depan tubuh ramping gadis itu dan memancarkan aura dominasi yang luar biasa pekat.

"Mulai detik ini, kontrak kita mengalami perubahan klausul secara sepihak," lanjut Arkan dingin. "Kau tidak akan pernah diizinkan keluar dari penthouse ini lagi untuk alasan apa pun. Kau tidak perlu bekerja di kantor pusat, karena tugasmu sekarang hanya satu: berada di dalam kamar ini, melayaniku kapan pun aku kembali, dan menjadi hiasan mutlak dari sangkar emas yang sudah kubayar lunas ini. Semua akses komunikasi luar, termasuk ponsel pintar dan telepon penthouse, akan dicabut total."

"Tidak! Anda tidak bisa melakukan ini padaku! Ini ilegal, ini penculikan!" jerit Viona, berdiri dari lantai dan mencoba memukul dada bidang Arkan dengan sisa tenaganya.

Arkan menangkap kedua tangan kecil Viona dengan mudah, lalu memutar tubuh gadis itu hingga punggung rampingnya bersandar pada dada bidangnya yang kokoh—posisi intim yang selalu membuat Viona merasa lumpuh tanpa daya. Arkan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Viona, menghirup aroma harum tubuh gadis itu dengan rakus, mengabaikan rontaan kecil yang kian melemah.

"Di dalam kota ini, akulah hukum untukmu, Viona," bisik Arkan serak, suaranya bergetar oleh gairah dan obsesi gelap yang telah mencapai batas puncaknya. "Kau telah menandatangani kontrak itu dengan sukarela demi uangku. Dan sekarang, kau harus menerima konsekuensi dari keserakahanmu sendiri."

Pria itu membalikkan tubuh Viona dengan cepat, lalu membungkam bibir ranum gadis itu dengan pagutan yang kasar, menuntut, dan penuh amarah yang membara. Sebuah ciuman tirani yang tidak menyisakan ruang bagi Viona untuk menolak atau bernegosiasi. Arkan merengkuh pinggang ramping Viona dengan sangat erat, mengangkat tubuh gadis itu sedikit lalu membawanya melangkah lebar masuk ke dalam kamar tidur utama yang remang-remang.

Arkan mengempaskan tubuh Viona ke atas ranjang king size bernuansa abu-abu gelap, lalu segera mengungkungnya dari atas, mengunci pergelangan tangan gadis itu di sisi kepala dengan satu tangan kekarnya. Di bawah pendar lampu dinding yang temaram, Arkan melampiaskan seluruh rasa cemburu, amarah, dan kepemilikan ekstremnya malam itu, menandai kembali setiap jengkal kulit mulus Viona dengan gigitan dan kecupan yang dalam, memastikan bahwa tidak akan ada satu orang pun di dunia luar yang bisa menghapus klaim kepemilikan mutlak dari seorang Arkan Mahendra.

Empat jam berlalu dalam pergulatan penuh gairah terlarang yang mengikis habis seluruh sisa kekuatan batin Viona. Suasana di dalam kamar tidur utama kini telah kembali tenang, hanya menyisakan deru napas mereka yang perlahan mulai teratur di keheningan malam.

Viona berbaring miring membelakangi Arkan, menarik selimut tebal hingga menutupi tubuhnya yang polos dan dipenuhi bekas kemerahan akibat intensitas gairah sang CEO semalam. Pandangannya kosong menatap dinding kamar, membiarkan sisa-sisa air mata yang mengering meninggalkan rasa kaku di pipinya yang pucat. Jiwanya terasa kian hampa, menyadari bahwa pintu penjara emas ini kini telah benar-benar dikunci rapat dari luar oleh sang tiran posesif.

Di sampingnya, Arkan duduk bersandar pada kepala ranjang dengan kemeja hitam yang belum dikancingkan sepenuhnya. Pria itu menyalakan sebatang rokok, mengembuskan asap tipisnya ke udara sambil menatap punggung ramping Viona dengan tatapan mata elang yang kian menerawang jauh.

Rasa bersalah yang asing sempat menyengat ulu hatinya melihat bagaimana Viona hanya diam laksana mayat hidup di bawah kungkungannya tadi. Namun, ego posesifnya yang ekstrem dengan cepat menepis rasa itu. Dia tahu tindakan ini kejam, namun ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan wanitanya tetap aman dari intrik politik ibunya sekaligus memastikan bahwa tidak akan ada pria lain seperti Rendy yang bisa mendekati miliknya lagi.

Ponsel kerja Arkan yang berada di atas meja nakas bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari Baskara.

“Tuan Arkan, pembekuan proyek oleh Nyonya Sofia telah berhasil kita batalkan melalui keputusan dewan direksi siang tadi. Posisi Anda sebagai CEO kini sepenuhnya aman dan mutlak. Mengenai Karyawan Rendy, tim kita telah memastikan dia diterbangkan kembali ke Indonesia malam ini di bawah pengawasan agar tidak memicu masalah baru di Singapura.”

Arkan mematikan rokoknya di asbak kristal dengan gerakan lambat, lalu meletakkan ponselnya kembali. Pria itu menggeser tubuh tegapnya mendekati Viona, mengulurkan tangannya yang kekar untuk memeluk pinggang ramping gadis itu dari belakang, menarik tubuh polos Viona agar bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya yang hangat.

Viona tidak menolak, tidak pula bergerak. Dia membiarkan dirinya didekap erat oleh sang penguasa mutlak dengan kepasrahan yang sedingin es.

"Semua pengganggu sudah kusingkirkan, Viona," bisik Arkan rendah di dekat telinga Viona, suaranya terdengar bariton lembut namun tetap sarat akan otoritas yang mutlak. "Mulai besok, dunia luarmu sudah berakhir. Kau hanya akan hidup di sini, di bawah mataku, dan melayaniku sampai masa kontrak ini selesai. Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari pintu ini lagi, karena aku tidak akan ragu untuk mempererat rantai emas ini hingga kau tidak bisa bernapas tanpa izinku."

Viona memejamkan matanya di dalam dekapan erat Arkan, menerima takdir gelap yang kian mencekik seluruh sisa hidup dan jiwanya tanpa ampun di dalam penthouse mewah yang kini telah resmi menjadi penjara abadi baginya.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!