Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Tangan Dira yang hampir menyentuh gagang pintu mendadak berhenti. "Dira!" Suara itu membuatnya tersentak.nIa menoleh cepat.nBeberapa meter di sampingnya berdiri seorang pria dengan setelan kemeja putih dan jas berwarna gelap.nAdrian Maulana.
Mata Dira membulat.n"Mas... Adrian?"
Adrian tersenyum tipis.n"Benar kamu."
Dira masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. "Mas sedang..." Kalimatnya terputus ketika menyadari arah pandangan Adrian. Lelaki itu juga sedang menghadap gedung klinik yang sama. Di tangannya tergenggam sebuah map berisi dokumen. Namun, sama seperti Dira... Ia belum melangkah masuk.
Adrian mengembuskan napas pelan. "Aku sudah berdiri di sini hampir lima belas menit."
Dira menatapnya heran. "Mas juga?"
Adrian mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya. Aneh, ya. Kita sama-sama berdiri di depan pintu. Sama-sama belum berani masuk."
Dira terdiam. Ia tidak menyangka orang seperti Adrian juga bisa terlihat begitu ragu.
Adrian menoleh ke arah gedung itu. "Ada kalanya... menghadapi diri sendiri jauh lebih sulit daripada menghadapi dunia."
Dira tanpa sadar mengangguk pelan. Kalimat itu terasa begitu dekat dengan apa yang sedang ia rasakan. Untuk beberapa saat, mereka berdiri dalam keheningan. Tidak ada yang memaksa. Tidak ada yang bertanya mengapa masing-masing berada di sana. Hanya dua orang yang sama-sama menatap pintu masuk klinik. Sama-sama sedang berperang dengan keberanian mereka sendiri.
Adrian akhirnya tersenyum kecil. "Sepertinya...hari ini bukan cuma aku yang sedang belajar menjadi lebih berani."
Dira membalas senyum itu, meski matanya masih menyimpan keraguan. Untuk pertama kalinya sejak tiba di klinik, ia tidak lagi merasa menghadapi ketakutannya seorang diri.
Adrian memandang Dira yang masih berdiri kaku di depan pintu klinik. Kemudian ia tersenyum tipis. "Bagaimana kalau sebelum memutuskan masuk atau tidak..." Ia menunjuk sebuah kafe yang berada tepat di seberang jalan. "...kita minum kopi dulu?"
Dira mengikuti arah telunjuk Adrian. Kafe itu tidak terlalu ramai. Dari luar terlihat hangat dan tenang. Cocok untuk menenangkan pikiran. Dira kembali menatap Adrian. "Aku..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Adrian sudah lebih dulu tersenyum. "Senyummu barusan berarti setuju."
Dira langsung tertawa kecil. "Mas Adrian ini..."
"Ayo." Adrian menganggukkan kepala ke arah kafe. "Kopi di sana terkenal enak. Kalau setelah itu kita tetap memutuskan tidak jadi masuk, setidaknya kita sudah menikmati secangkir kopi yang enak. Jadi datang ke sini tidak terlalu sia-sia."
"Kalau jadi masuk..."
Ia mengangkat bahu sambil tersenyum. "...anggap saja itu hadiah kecil untuk keberanian kita."
Dira menatap Adrian beberapa detik. Entah mengapa, ajakan sederhana itu membuat dadanya terasa jauh lebih ringan. "Baik." Akhirnya ia mengangguk. "Mari."
Mereka berjalan berdampingan menuju kafe di seberang jalan. Sesekali Dira melirik Adrian dari sudut matanya. Sulit dipercaya. Dari sekian banyak tempat di kota ini... Hari itu mereka justru bertemu di depan sebuah klinik psikologi. Bukan di ruang rapat. Bukan di gala dinner. Bukan pula di acara bisnis. Melainkan di tempat yang memperlihatkan bahwa di balik kesuksesan dan ketenangan yang mereka tunjukkan kepada dunia, masing-masing juga menyimpan luka yang tidak diketahui oleh banyak orang.
Pelayan meletakkan dua cangkir kopi hangat di atas meja dekat jendela. Aroma kopi memenuhi udara. Namun tidak satu pun dari mereka langsung menyentuh cangkir masing-masing. Dira sesekali melirik Adrian secara diam-diam. Sudah bertahun-tahun ia membayangkan bisa duduk berdua seperti ini. Dulu, ketika masih menjadi gadis penghuni yayasan, ia bahkan hanya berani memandang Adrian dari kejauhan. Kini mereka duduk di meja yang sama. Berhadapan. Meski begitu, jantung Dira tetap berdebar seperti dulu.
Adrian memecah keheningan. "Lucu juga."
"Apa?" Dira langsung bertanya.
"Kita bertemu di depan klinik psikologi."
Dira tersenyum tipis. "Iya."
"Padahal biasanya kita bertemu di ruang rapat." Adrian mengangguk kecil. "Kalau di rapat, kita selalu membahas angka. Hari ini malah membahas keberanian."
Dira terkekeh pelan. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini terasa nyaman. Bukan canggung.
Adrian perlahan mengangkat cangkir kopinya. "Dira."
"Hm?"
"Menurutmu....orang yang terlihat kuat di depan semua orang, apa boleh merasa lelah?"
Dira terdiam. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa terasa sangat berat. Ia memandang permukaan kopinya. "Lelah itu manusiawi. Yang tidak manusiawi adalah memaksa diri untuk selalu terlihat baik-baik saja."
Adrian tersenyum kecil. "Jawabanmu selalu menarik."
"Karena aku mengalaminya." Jawaban itu keluar begitu saja. Dira baru menyadari ucapannya setelah kalimat itu selesai. Ia sedikit gugup. "Maksudku..."
"Aku mengerti." Adrian tidak membiarkannya menjelaskan. Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Seolah masing-masing menyadari satu hal. Di balik pakaian rapi dan posisi mereka sebagai pengusaha, Mereka hanyalah dua manusia yang sedang membawa beban. Bedanya... Tidak satu pun berani menceritakan isi bebannya. "Aku juga sedang gelisah," ujar Adrian pelan.
Dira menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat sorot mata Adrian yang biasanya tegas berubah begitu lelah.
"Kalau boleh jujur... Akhir-akhir ini aku bahkan sulit tidur."
Dira tidak bertanya kenapa. Ia merasa setiap orang berhak memilih luka mana yang siap mereka ceritakan. Begitu pula dirinya. Adrian juga tidak bertanya mengapa Dira berada di depan klinik. Ia menghormati batas yang belum ingin dilewati. Mereka saling tersenyum. Senyum yang sederhana. Namun penuh pengertian. Tanpa saling mengorek. Tanpa memaksa penjelasan. Mereka hanya menemani satu sama lain menikmati kopi yang mulai mendingin.
Di luar kafe, matahari siang bersinar hangat. Sementara di dalam, dua hati yang sama-sama gelisah menemukan ketenangan aneh dalam kehadiran satu sama lain. Bukan karena semua masalah mereka telah selesai. Melainkan karena untuk pertama kalinya, mereka bertemu dengan seseorang yang sama-sama memahami rasanya tersenyum di hadapan dunia, sementara diam-diam sedang berjuang melawan badai di dalam hati.
Adrian memutar pelan cangkir kopinya. Tatapannya jatuh ke permukaan kopi yang mulai tenang. Lalu, tanpa menatap Dira, ia berkata pelan, "Dira..."
"Iya, Mas?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Silakan."
Adrian tersenyum tipis. "Mungkin terdengar aneh."
Dira ikut tersenyum. "Coba saja."
Adrian mengembuskan napas pelan. "Kamu tahu....kadang aku merasa pernah bertemu denganmu."
Jantung Dira seolah berhenti berdetak. Tangannya yang memegang cangkir sedikit menegang. Jadi, apakah Adrian menyimpan ingatan tentangnya? Apakah benar begitu?
"Maksudku..." Adrian melanjutkan sambil mengernyit kecil. "...sebelum pertemuan pertama kita sebagai rekan bisnis. Entahlah. Perasaan itu muncul begitu saja."
Dira berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya. "Kenapa Mas berpikir begitu?"
"Aku juga tidak tahu." Adrian tertawa kecil. "Setiap melihatmu, rasanya seperti sedang bertemu seseorang yang sudah sangat lama ku tau. Padahal kalau dipikir-pikir, seharusnya itu mustahil."
Dira menundukkan pandangannya. Jantungnya berdegup semakin cepat. "Bukan mustahil..." batinnya. "Kita memang pernah bertemu. Bahkan Mas pernah menyelamatkan hidupku." Namun bibirnya tetap terkunci.