Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Ci Keira dan Aku
Lalu cahaya itu padam.
Keira berdiri cukup lama di depan jendela, menatap sayap barat yang kembali gelap. Bayangan itu sudah hilang, seolah lampu kuning kusam tadi hanya kesalahan mata lelah.
Namun keesokan paginya, ketika ia melewati jalur staf menuju dapur, matanya tetap sempat mencari arah barat.
Tidak ada apa-apa.
Kediaman Ciu kembali bekerja seperti biasa.
Di minggu kelima, tugas baru Keira dimulai.
Pagi sampai siang ia tetap memeriksa jadwal bayi Stephanie, mencatat jam minum susu, mengganti popok, dan memastikan Stephanie tidak melewati batas tubuhnya sendiri. Sore hari, dua sampai tiga jam, ia dijadwalkan mendampingi Jayden.
Nama tugasnya di kontrak terdengar rapi: pendampingan edukasi dasar.
Kenyataannya, hari pertama dimulai dengan Jayden berdiri di depan pintu kamar bermain sambil memeluk mobil merahnya dan berkata, "Aku nggak mau belajar."
Keira menatapnya.
"Baik. Kita tidak belajar."
Jayden berkedip. Ia jelas sudah siap berdebat, lalu kehilangan lawan.
"Nggak belajar?"
"Tidak."
"Terus ngapain?"
Keira mengangkat keranjang kecil berisi kertas kosong, krayon, beberapa daun, dan sebuah buku gambar tipis. "Main."
Jayden menyipitkan mata, curiga seperti orang dewasa kecil yang pernah terlalu sering dijanjikan hal manis. "Main beneran?"
"Beneran. Tapi kalau mainnya berantakan, kita bereskan sama-sama."
Jayden berpikir keras. "Kalau aku nggak mau beresin?"
"Besok kita main lebih sedikit."
Mulut kecil itu langsung turun. "Itu belajar."
"Itu aturan main."
Jayden menatapnya lama, lalu akhirnya membuka pintu lebih lebar. "Masuk, Ci Keira."
Sejak saat itu, ia mulai mengikuti Keira dengan cara yang tidak pernah ia akui.
Ketika Keira merapikan lemari mainan, Jayden duduk di lantai, pura-pura menyusun balok tetapi matanya terus mengikuti tangan Keira. Ketika Keira menulis catatan untuk Melissa, Jayden berdiri di sebelah kursi, mengintip huruf-hurufnya.
"Itu tulis apa?"
"Jadwal."
"Jadwal aku?"
"Iya."
"Tulis Jay pintar."
Keira menahan senyum. "Hari ini Jay belum membuktikan itu."
Jayden langsung duduk lebih tegak. "Aku bisa."
"Bisa apa?"
"Bisa... nggak lempar mobil."
"Itu awal yang bagus."
Jayden tampak puas seolah baru menandatangani kontrak penting.
Hari-hari berikutnya, Keira mengajaknya keluar ke taman. Bukan taman belakang tempat Kevin memahat, melainkan sisi yang lebih dekat dengan ruang bermain, tempat anak-anak keluarga biasa bermain saat acara besar.
Di sana, Keira mengenalkan nama tanaman dengan cara sederhana.
"Ini daun kamboja. Bentuknya panjang."
Jayden menyentuh ujung daun. "Kayak sendok?"
"Sedikit. Ini daun sirih gading. Warnanya hijau, tapi ada kuningnya."
"Kayak baju Mama pas arisan."
"Bisa jadi."
Jayden tertawa kecil, lalu cepat-cepat menutup mulut, seolah tawa terlalu keras bisa membuat orang dewasa datang dan merusak permainan.
Keira melihat itu.
Anak ini bukan hanya manja.
Ia terlalu terbiasa diperhatikan saat salah, tetapi jarang ditunggu saat benar.
Suatu sore, Keira membawa beberapa daun kering ke meja rendah di kamar bermain.
"Kita coba cetak daun."
"Daun bisa dicetak?"
"Bisa. Letakkan di bawah kertas. Gosok pakai krayon pelan-pelan."
Jayden mengambil krayon biru.
"Daun warnanya bukan biru," kata Keira.
"Aku mau daun biru."
Keira berhenti sebentar, lalu mengangguk. "Kalau begitu, daunmu biru."
Jayden menatapnya seperti baru mendapat izin yang sangat besar.
Ia menggosok krayon di atas kertas. Awalnya terlalu keras sampai kertas hampir sobek. Keira menahan tangannya pelan.
"Lebih lembut. Lihat, kalau terlalu keras, bentuk daunnya hilang."
Jayden mengerutkan dahi. Lidahnya sedikit keluar dari sudut bibir, tanda ia benar-benar berkonsentrasi.
Garis-garis tulang daun mulai muncul.
Matanya membesar.
"Ci Keira! Daunnya keluar!"
"Iya. Karena Jay pelan-pelan."
"Aku yang bikin?"
"Jay yang bikin."
Wajah Jayden berubah.
Bukan senyum sombong seperti saat ia berhasil membuat pengasuh panik. Bukan tawa menang karena orang dewasa menyerah. Ini senyum anak yang baru melihat tangannya sendiri bisa membuat sesuatu muncul.
Keira merasa sesuatu di dadanya menghangat.
Setelah itu, Jayden ingin membuat "banyak daun". Daun biru, daun oranye, daun hijau, daun merah yang menurutnya "daun marah". Ia menyusun semuanya di lantai seperti harta karun.
Sore berikutnya, ia meminta kertas baru tanpa disuruh.
"Hari ini mau cetak daun lagi?" tanya Keira.
Jayden menggeleng keras. "Rahasia."
"Rahasia?"
"Ci Keira jangan lihat."
Keira mengangkat kedua tangan. "Baik. Saya tidak lihat."
Ia duduk di sisi lain kamar bermain, membiarkan Jayden tenggelam dengan krayon. Suara gesekan warna terdengar cepat, berhenti, lalu cepat lagi. Kadang Jayden bergumam sendiri.
"Ini pohon... ini aku... ini tinggi..."
"Butuh bantuan?"
"Nggak! Rahasia."
Keira tersenyum dan berpura-pura membaca buku catatan.
Setengah jam berlalu.
Untuk anak lima tahun seperti Jayden, setengah jam duduk di satu tempat adalah keajaiban kecil. Keira beberapa kali menahan diri agar tidak memuji terlalu cepat. Pujian yang salah bisa membuat anak berhenti bekerja hanya untuk mengejar tepuk tangan.
Akhirnya Jayden berdiri.
Tangannya memegang kertas gambar dengan kedua sisi terlipat sedikit karena terlalu keras digenggam.
"Sudah?"
Jayden mengangguk, tetapi tiba-tiba wajahnya tegang.
"Kalau jelek, Ci Keira jangan buang."
Keira menutup buku catatan.
"Saya tidak pernah membuang karya Jay tanpa izin."
"Karya itu apa?"
"Sesuatu yang Jay buat dengan tangan dan pikiran Jay."
Jayden melihat kertas di tangannya, lalu pelan-pelan maju.
Gambar itu sederhana.
Ada sebuah pohon besar dengan batang cokelat yang terlalu tebal. Daunnya hijau dan oranye bercampur. Di bawah pohon, ada dua orang. Satu tinggi, rambutnya panjang, memakai baju biru. Satu kecil, kepalanya bulat, tangannya seperti garis. Dua orang itu saling menggenggam tangan.
Di bagian atas, dengan huruf besar kecil yang miring, tertulis:
Ci Keira dan aku
Keira tidak langsung bicara.
Hurufnya tidak rapi. Tubuh orangnya tidak proporsional. Tangan yang saling memegang itu lebih mirip dua garis yang bertabrakan.
Namun ada sesuatu dalam gambar itu yang lebih jujur daripada semua kalimat orang dewasa di Kediaman Ciu.
Jayden menggigit bibir.
"Jelek?"
Keira berjongkok agar matanya sejajar dengan Jayden.
"Bagian mana yang Jay paling suka?"
Jayden tampak bingung karena tidak langsung dinilai.
Ia menunjuk dua garis tangan. "Ini. Aku pegang Ci Keira. Biar nggak hilang."
Mata Keira panas.
Ia menelan napas pelan.
"Saya suka bagian itu juga."
"Beneran?"
"Beneran."
Jayden memeluk gambar itu ke dada, lalu mundur setengah langkah. "Tapi ini rahasia."
"Rahasia dari siapa?"
"Semua orang."
"Kenapa?"
Jayden menunduk. Suaranya mengecil. "Nanti diambil."
Keira tidak bertanya siapa yang biasa mengambil hal yang Jayden sukai. Di rumah ini, pertanyaan seperti itu sering punya jawaban yang terlalu panjang untuk anak kecil.
Ia hanya berkata, "Kalau Jay mau, kita simpan di map khusus. Map itu hanya dibuka kalau Jay izin."
Jayden mengangkat wajah. "Map rahasia?"
"Map rahasia."
Baru saat itulah senyum Jayden kembali.
Ia memeluk gambar itu lebih erat, lalu berbisik dengan nada sangat serius, "Ini rahasia Ci Keira dan aku."
Keira hampir menjawab.
Namun dari arah pintu kaca taman, terdengar suara langkah halus.
Melissa berdiri di sana.
Gaun rumahnya berwarna hijau lembut, senyumnya tipis, tetapi matanya berhenti tepat pada gambar yang dipeluk Jayden.
Untuk satu detik, ekspresinya sulit dibaca.
Lalu ia berkata pelan, "Rahasia apa, Jay?"