Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032
Meja makan keluarga Harto tidak membuat Keira merasa kecil.
Itu hal pertama yang mengejutkannya.
Di Rumah Yanto, meja makan selalu panjang, licin, dan dingin. Setiap kursi seperti punya aturan tidak tertulis. Kiara duduk dekat Meilan. Fengky di kepala meja. Keira biasanya di sisi yang mudah disuruh berdiri mengambil sesuatu. Makanan enak lewat di depan matanya lebih dulu menuju piring Kiara.
Di rumah Harto, Mama Harto malah menarik kursi di sampingnya.
"Duduk sini, Keira. Jangan di ujung. Kalau di ujung nanti kamu susah ambil ayam panggang."
Keira ragu. "Saya bisa duduk di mana saja, Tante."
"Di sini saja." Mama Harto menepuk kursi itu. "Kalau kamu duduk dekat Rayhan, nanti anak saya itu cuma menatap kamu dan lupa makan. Saya perlu mengawasi dua-duanya."
Rayhan yang baru menarik kursi untuk Keira berhenti.
Aiden langsung batuk-batuk palsu. "Mama membuka rahasia keluarga terlalu cepat."
Papa Harto menyesap teh. "Itu bukan rahasia. Semua orang bisa lihat."
Keira merasa panas naik ke pipi. Rayhan menatap ayahnya dengan wajah tenang, tetapi ujung telinganya sedikit memerah. Keira melihatnya dan hampir tersenyum.
Genki sudah naik ke kursi booster di antara Keira dan Rayhan. "Kak Kei duduk sini. Genki mau kasih sayur ke Kak Kei."
"Biasanya Genki yang diberi sayur," kata Rayhan.
"Hari ini Genki baik."
"Kemarin?"
"Kemarin juga. Cuma sayurnya terlalu hijau."
Tawa kecil mengelilingi meja. Keira ikut tertawa, lebih ringan daripada saat di teras.
Makanan disajikan tanpa pelayan mondar-mandir berlebihan. Ada sup ayam bening, ikan kukus dengan jahe, tumis buncis, sambal terasi di mangkuk kecil, dan kue lapis legit yang aromanya sejak tadi menggoda Genki. Mama Harto mengambilkan sup untuk Keira sebelum Keira sempat menolak.
"Rayhan bilang kamu sering lembur di D.N."
Keira melirik Rayhan.
Rayhan mengambil ikan untuk Genki seolah tidak merasa bersalah sudah melaporkan kebiasaannya.
"Kadang kalau proyek sedang padat," jawab Keira.
"Makan harus tetap dijaga. Perempuan muda sekarang sering merasa kuat sampai badannya protes duluan." Mama Harto meniup sup agar tidak terlalu panas, lalu mendorong mangkuk itu ke depan Keira. "Coba. Kalau kurang asin, bilang. Di rumah ini orang boleh bilang kurang asin."
Keira memegang sendok. Kalimat terakhir itu anehnya membuatnya ingin menangis.
Di Rumah Yanto, ia tidak pernah boleh bilang apa pun kurang. Kurang asin, kurang nyaman, kurang adil. Semua keluhan kecil akan diputar menjadi tanda ia tidak tahu berterima kasih.
Ia mencicipi sup.
"Enak," katanya pelan.
Mama Harto tersenyum puas. "Bagus. Tambah nanti."
Papa Harto memperhatikan dari seberang meja. "Rayhan bilang kamu bekerja di visual narrative untuk D.N."
Keira meletakkan sendok dengan hati-hati. "Iya, Om. Sekarang tim kami sedang menyiapkan presentasi regional."
"Apa yang kamu cari saat membuat konsep?"
Pertanyaan itu tidak terdengar seperti ujian, tetapi Keira tetap meluruskan punggung. "Keseimbangan antara identitas brand dan rasa manusiawi, Om. Produk mewah bisa tampak jauh kalau hanya ditampilkan sebagai harga. Saya lebih suka membuatnya punya jejak pemilik. Misalnya lipatan kain, bekas genggaman, atau warna yang tidak sempurna. Dari situ orang merasa barang itu hidup."
Papa Harto mengangguk perlahan.
"Kamu menyukai ketidaksempurnaan?"
Keira sempat terdiam. "Saya rasa... saya menyukai sesuatu yang tetap berharga meskipun tidak sempurna."
Rayhan menatapnya.
Mama Harto juga berhenti mengangkat sendok.
Keira baru sadar jawabannya terdengar terlalu pribadi. Ia cepat menambahkan, "Maksud saya dalam desain, Om."
Papa Harto tidak mempermalukannya dengan bertanya lebih jauh. "Dalam bisnis juga begitu. Orang yang hanya mengejar permukaan biasanya mudah menukar orang. Orang yang melihat nilai di balik retak kecil, lebih sulit dibeli."
Aiden berbisik kepada Genki, cukup keras untuk didengar semua orang, "Opa sedang memuji Kak Kei dengan gaya direksi."
Genki mengangguk serius. "Berarti Kak Kei lulus?"
Papa Harto menaruh cangkir. "Ini bukan ujian."
Genki menatap Keira. "Tapi kalau lulus dapat kue?"
"Semua orang dapat kue," kata Mama Harto.
"Berarti semua lulus."
Keira tertawa lagi. Kali ini, ia tidak langsung menunduk setelah tertawa.
Rayhan melihat perubahan itu dengan dada menghangat. Ia tahu Keira masih menahan diri. Tangannya belum berani mengambil lauk sebelum ditawarkan. Matanya masih sesekali mengecek ekspresi orang lain setelah bicara. Tetapi di antara semua kebiasaan bertahan hidup itu, ada bagian kecil dirinya yang mulai percaya bahwa meja ini tidak akan berubah menjadi tempat hukuman.
Setelah makan, Mama Harto mengajak Keira ke ruang keluarga, bukan untuk interogasi, melainkan menunjukkan album lama Genki sejak pertama kali dibawa pulang.
"Rayhan dulu kaku sekali menggendong bayi," kata Mama Harto sambil membuka halaman foto.
"Mama."
"Ini fakta sejarah."
Di foto, Rayhan muda duduk di sofa dengan wajah serius, memegang Genki bayi seolah memegang vas antik. Genki tidur dengan mulut sedikit terbuka. Keira menyentuh ujung foto itu perlahan.
"Dia kecil sekali."
"Sangat kecil." Suara Mama Harto melunak. "Tapi keras kepala. Kalau menangis malam-malam, Rayhan ikut duduk di samping boks sampai subuh."
Keira menoleh ke Rayhan.
Rayhan pura-pura membantu Genki menyusun balok di karpet, tetapi jelas mendengar.
"Papa dulu jagain Genki?" tanya Genki.
"Iya," jawab Keira sebelum Rayhan. "Papa kamu hebat."
Genki tampak puas. "Sekarang Kak Kei juga jagain."
Mama Harto memandang Keira dengan lembut. "Dan kamu menjaganya dengan hati yang baik."
Keira tidak siap menerima kalimat itu.
Tangannya berhenti di atas album. Selama ini, orang memuji kemampuannya bekerja, kesabarannya, kerapian hasil desainnya. Jarang sekali ada yang menyebut hatinya baik tanpa meminta apa pun setelahnya.
"Saya hanya..." Ia mencari kata. "Saya sayang Genki."
"Itu sudah banyak, Nak."
Di sisi lain ruangan, Papa Harto berbicara pelan kepada Rayhan.
"Kamu serius?"
Rayhan tidak mengalihkan pandangan dari Keira dan Genki. "Sangat."
"Dia tampak seperti orang yang terbiasa meminta izin untuk bernapas."
Rayhan menegang.
Papa Harto menepuk bahunya sekali. "Kalau kamu membawanya masuk keluarga ini, pastikan dia tidak perlu begitu lagi."
Rayhan menatap ayahnya. "Itu rencanaku."
Papa Harto mengangguk. "Kalau begitu, jangan setengah-setengah."
Di ruang keluarga, Genki sudah menyeret album lebih dekat ke Keira.
"Kak Kei lihat. Ini Genki waktu kecil. Lucu, kan?"
"Sangat lucu."
"Kalau Kak Kei punya foto kecil?"
Pertanyaan polos itu membuat udara di sekitar Keira berhenti sebentar. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Foto kecilnya di Rumah Yanto tidak pernah banyak. Yang ada pun selalu bersama Kiara, dengan Keira berdiri sedikit di belakang.
Sebelum Keira harus menjawab, Mama Harto menyentuh tangannya.
"Kalau tidak ada, nanti kita buat kenangan baru saja."
Keira menatap perempuan itu.
Mama Harto tersenyum seolah hal itu sangat mudah. "Mulai hari ini juga bisa."
Di dada Keira, sesuatu yang lama membeku bergerak pelan.