NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 : Bangkitnya Rahasia Ranubaya dan Pengorbanan di Pelataran

Hawa dingin yang menusuk tulang seketika mengepul dari rongga tanah di bawah Candi Tua Ranubaya. Kegelapan di dalam rongga tersebut seolah memiliki jiwanya sendiri, memancarkan bau tanah lapuk bercampur aroma logam berkarat yang sangat pekat. Angin malam di Hutan Bambu Hitam mendadak berhenti berembus; daun-daun bambu tak lagi bergesek, menciptakan kesunyian mencekam yang membuat detak jantung terdengar kian membara.

Kyai Brata berdiri tegak di ambang pelataran candi, jubah hitam bersulam emasnya mengembang ditiup hawa ghaib yang keluar dari perut bumi. Pria tua bertubuh tegap itu menatap Marno dan Sari dengan pandangan merendahkan, seolah dua anak muda di hadapannya hanyalah serangga kecil yang kebetulan melangkah masuk ke sarang harimau.

Di tangga batu bawah altar, Nyai Ratih terbaring lemah sambil memegangi dadanya yang retak akibat pukulan gurunya sendiri. Wajah cantiknya yang dulu dipenuhi keangkuhan kini pucat bagai mayat, matanya memancarkan rasa ketakutan dan penyesalan yang mendalam saat menyadari dirinya hanya dijadikan umpan.

"Kau... tega memanfaatkan muridmu sendiri, Kyai..." bisik Nyai Ratih dengan suara patah-patah, darah hitam meleleh dari sudut bibirnya.

Kyai Brata bahkan tidak sudi menoleh. "Bidak yang sudah menyelesaikan tugasnya tidak lagi memiliki nilai, Ratih. Kau berhasil memancing keturunan Seruni dan si pande besi ke tempat ini. Itu saja sudah cukup."

Marno melangkah maju satu tapak, memosisikan tubuh kekarnya sebagai benteng di depan Sari. Tangan kanannya mencengkeram erat gagang martil besi raksasanya, sementara mata garangnya mengawasi setiap gerak-gerik Kyai Brata.

"Tua bangkai tak tahu diri!" gertak Marno dengan suara berat yang menggetarkan udara malam. "Kau mengorbankan muridmu dan meracuni ratusan warga tak berdosa hanya untuk membongkar kuburan tua ini?!"

Kyai Brata tertawa bergaung. Tawa itu begitu berat hingga debu-debu kuno di pilar candi berguguran.

"Kuburan tua?" kekeh Kyai Brata dengan senyum miring yang penuh kemenangan. "Punden Ranubaya ini bukan kuburan, Pande Besi! Ini adalah ruang penyimpanan Pusaka Kecubung Purba—senjata legendaris yang dulu diciptakan oleh Tuan Besar Ranubaya sebelum keempat muridnya saling membunuh! Mbah Jiwo Suro hanya mendapat bagian ilmu racun belerang yang dangkal, sedangkan bibi si gadis ini hanya menyimpan kunci peraknya. Tapi inti dari seluruh kekuatan Ranubaya terkunci di bawah tanah ini!"

Kyai Brata merogoh saku jubahnya, mengacungkan sebuah lempengan batu hitam berukir Tiga Kepala Naga yang memancarkan pendar cahaya kehitaman. Lempengan itu mendengung nyaring saat merespons hawa murni dari Kitab Usada Tengger yang ada di dalam ransel Sari.

Sari meremas tali ranselnya. Ia merasakan getaran hebat dari dalam kitab warisan bibinya. "Kang Marno... lempengan batu di tangannya adalah pasangan dari Kunci Perak yang dibawa Pangeran Arya Braja ke laut! Jika dia menggabungkan energi lempengan itu dengan inti candi, seluruh racun purba di bawah tanah ini akan meledak dan menyebar ke seluruh lereng Gunung Tengger!"

"Pintar sekali, Keponakan Seruni," ujar Kyai Brata dengan nada dingin. "Bibimu dulu kabur karena takut pada kekuatan pusaka ini. Tapi kau... kau justru membawakannya kembali ke hadapanku!"

Dengan gerakan menghentak, Kyai Brata menancapkan lempengan batu hitam itu ke celah ukiran di tengah altar batu Candi Ranubaya!

BAMMM!

Seluruh permukaan candi berguncang hebat! Tanah di sekitar pelataran terbelah, memperlihatkan aliran cahaya ungu pekat yang menjalar cepat dari dasar tanah menuju ke empat pilar utama candi. Dari tengah rongga tanah yang gelap, perlahan-lahan terangkat sebuah wadah batu hitam bertutupkan kristal kehitaman—tempat persemayaman Tongkat Kecubung Purba!

Aroma racun yang terpancar dari wadah batu itu begitu dahsyat hingga rumput-rumput dan akar bambu di sekitar pelataran seketika mengering, berubah menjadi abu hitam dalam hitungan detik!

"Sari! Mundur!" teriak Marno.

Marno mengayunkan martil besinya dengan sekuat tenaga, menghantamkan kepala martil itu ke arah lempengan batu di altar untuk menghancurkan proses kebangkitan pusaka tersebut!

CRANGGG!

Namun sebelum martil besi Marno berhasil menyentuh altar, Kyai Brata mengibaskan tangan kirinya. Gelombang angin hitam pekat meluncur deras bagaikan dinding padat, menghantam dada Marno dengan suara dentuman keras!

BUMMM!

Marno terlempar belasan meter ke belakang, menghantam pilar batu candi hingga pilar itu retak berantakan. Pande besi itu tersungkur ke tanah, memuntahkan darah segar dari mulutnya. Hawa racun hitam dari pukulan Kyai Brata mulai merayap cepat di sepanjang lengan kanannya, membuat kulit kekarnya memar kehitaman.

"Kang Marno!" jerit Sari panik. Gadis itu langsung berlari mendekati Marno, merogoh kantong herbalnya dan mengoleskan racikan Bunga Kemuning Murni ke dada dan lengan Marno untuk menahan laju racun hitam tersebut.

Uuk! Uuk-uuk!

Si Mbah yang melihat Marno terluka menjadi sangat murka! Kera hitam itu melompat dari dahan bambu, menerjang kencang ke arah wajah Kyai Brata dengan cakar-cakarnya yang teracung tajam!

"Kera tidak berguna!" dengus Kyai Brata dingin.

Dengan gerakan santai, Kyai Brata mengibaskan ujung jubah emasnya. Sambaran hawa panas melemparkan Si Mbah hingga kera kecil itu mencicit kesakitan dan terhempas di dekat reruntuhan pagar bambu.

Kyai Brata melangkah perlahan mendekati wadah batu hitam yang kini telah terbuka sepenuhnya. Dari dalam wadah tersebut, ia mengangkat sebuah tongkat kayu hitam kelam berhiaskan batu permata Kecubung Hitam raksasa di puncaknya. Batu permata itu bernapas secara ghaib, memancarkan denyutan cahaya keperakan yang sangat mengerikan.

"Seratus tahun menunggu..." gumam Kyai Brata dengan mata terbelalak gila oleh nafsu kekuasaan. "Dengan Tongkat Kecubung Purba ini di tanganku, tidak ada satu sekte pun di Kedatuan Selatan maupun Kerajaan Barat yang sanggup menandingi kekuatanku!"

Sari membantu Marno berdiri perlahan. Tubuh Marno berguncang, napasnya tersengal-sengal, namun matanya tetap memancarkan keberanian yang tak pernah padam. Martil besinya masih terikat erat di jemari kanannya yang gemetar.

"Sari..." bisik Marno dengan suara serak. "Pusaka itu... memancarkan hawa racun yang sangat kuat. Tapi batu permata di ujung tongkat itu... warnanya agak berkedip setiap kali menyerap udara dingin malam."

Sari mencermati permata Kecubung Hitam di ujung tongkat Kyai Brata. Pengamatannya yang tajam sebagai peracik obat langsung menangkap celah rahasia tersebut.

"Kang Marno benar!" bisik Sari, matanya berbinar di tengah keputusasaan. "Batu Kecubung itu memakan hawa panas dendam dan darah, tapi strukturnya menjadi rapuh jika terkena benturan fisik yang dilapisi oleh penetral dingin Bunga Kemuning Putih! Bibiku menulis dalam kitab... pusaka purba Ranubaya tidak bisa dihancurkan dengan kekuatan gaib yang sama, melainkan harus dipatahkan dengan Besi Murni yang Disepuh Kasih Sayang!"

Kyai Brata memutar tubuhnya, mengacungkan Tongkat Kecubung Purba lurus ke arah Sari dan Marno. Batu permata di ujung tongkat itu mulai mengumpulkan gumpalan cahaya ungu pekat yang siap disemburkan untuk memusnahkan mereka berdua dalam satu pukulan.

"Riwayat keturunan Seruni dan si pande besi berakhir di sini!" seru Kyai Brata garang.

Namun, sebelum Kyai Brata sempat melepaskan serangan mematikannya, dari arah tangga bawah altar, sebuah bayangan merayap cepat!

Nyai Ratih, menggunakan sisa tenaga terakhir dari tubuhnya yang sekarat, menerjang dan memeluk erat kedua kaki Kyai Brata dari belakang!

"Sari! Marno! Hancurkan permatanya sekarang!" jerit Nyai Ratih dengan seluruh sisa jiwanya.

"Jalan jalang!" raung Kyai Brata murka. Ia menghantamkan pangkal tongkatnya ke punggung Nyai Ratih, namun pegangan wanita yang tersadar dari kesesatannya itu begitu erat hingga Kyai Brata kehilangan keseimbangan selama beberapa detik yang sangat krusial!

"SEKARANG, KANG MARNO!" teriak Sari nyaring.

Sari memecahkan bumbung bambu penawar raksasa terakhirnya, menyiramkan seluruh cairan Bunga Kemuning Putih dan Garam Murni langsung ke kepala martil besi milik Marno! Kepala martil besi itu seketika menyala terang, memancarkan pendar pualam putih yang sangat suci dan dingin.

"HURAAAAGH!"

Marno meraung bagaikan singa terluka! Mengabaikan rasa sakit yang membakar dadanya, pande besi itu melompat tinggi melintasi pelataran candi. Dengan satu ayunan melengkung yang memancarkan seluruh keberanian dan jiwa penempa besinya, Marno mengarahkan martil putihnya tepat ke arah batu permata Kecubung Hitam di ujung tongkat Kyai Brata!

Pertarungan hidup dan mati di atas pelataran Candi Tua Ranubaya mencapai puncaknya—sebuah benturan tak terelakkan antara racun purba seratus tahun dan keteguhan jiwa manusia yang bertarung demi melindungi sesama.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!