Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Selamat Datang di Rumah
Tidak tahu bahwa di balik cahaya sederhana itu, ada seorang anak laki-laki enam belas tahun yang baru belajar melindunginya tanpa berani memanggilnya pulang.
Keesokan sorenya, cahaya di gang kontrakan itu kalah terang oleh tiga mobil mewah yang berhenti berurutan di ujung jalan.
Satu Alphard hitam. Satu Bentley gelap. Satu Mercedes putih milik Hendra.
Anak-anak kecil berhenti main sepeda. Ibu warung keluar sambil masih memegang sendok sayur. Tetangga yang biasanya hanya mengangguk pada Ning kini menatap pintu kamarnya seperti sedang menunggu artis sinetron turun dari lantai enam.
Ning berdiri di depan tangga dengan koper kecil di samping kaki.
Hanya satu koper.
Di dalamnya ada beberapa pakaian, buku sketsa, dokumen, charger, dan pouch kain berisi benda-benda kecil yang belum siap ia buang. Seluruh hidup Ning Tju yang sekarang bisa ditarik dengan satu tangan.
Kevin melihat koper itu, lalu matanya menjadi lebih gelap.
Yenni sudah lebih dulu menggigit bibir. Hendra pura-pura membetulkan jam tangan. Kian berdiri di samping mobil dengan hoodie hitam, wajah datar, tapi pandangannya berhenti lama pada koper itu.
Ning merasa telinganya panas.
"Sebenarnya saya bisa naik ojek online," katanya, mencoba bercanda. "Tidak perlu serombongan begini."
"Kamu pindah rumah," jawab Kevin. "Bukan ambil paket."
Yenni langsung maju dan memeluk lengan Ning. "Lagi pula kami ikut. Tidak boleh protes."
"Yenni..."
Panggilan itu keluar terlalu lembut. Yenni hampir menangis lagi, tapi ia cepat-cepat tersenyum.
"Aku cuma senang kamu akhirnya tinggal di tempat yang lebih aman."
Ning menatapnya, dada terasa hangat dan bingung pada saat bersamaan. Semua orang hari ini tampak terlalu siap menyayanginya.
Kian mengambil koper Ning tanpa meminta izin.
"Eh, berat," kata Ning refleks.
Kian mengangkat koper itu dengan satu tangan, lalu menatapnya datar.
"Serius?"
"Maksudku, mungkin..."
"Ini kosong."
Ning terdiam.
Kalimat itu tidak kasar, tapi justru membuat matanya panas. Kian seperti menyadari nadanya, lalu cepat-cepat membuang muka.
"Maksud gue, jangan bawa sendiri. Nanti demam lagi."
Yenni menoleh ke arah Hendra dengan ekspresi sangat ingin berteriak lucu, tapi Hendra langsung mengangkat alis, memperingatkan agar istrinya tidak merusak akting semua orang.
Ning menunduk, menyembunyikan senyum.
Di bawah tatapan seluruh gang, ia masuk ke Alphard bersama Kevin. Kian duduk di depan, sengaja memasang earbud walau musiknya tidak menyala. Yenni dan Hendra mengikuti dari mobil belakang.
Perjalanan ke Menteng Enclave terasa seperti berpindah dunia.
Jalan sempit dengan kabel rendah berubah menjadi jalan besar dengan pohon rapi. Rumah-rumah padat berganti pagar tinggi, pos keamanan, dan taman yang disiram otomatis. Ning memandang keluar jendela sambil memegang tali tas, antara takjub dan takut.
Kevin melihat tangan itu.
"Kamu tidak perlu merasa seperti tamu."
Ning menoleh. "Tapi saya memang baru datang."
"Ini rumahmu."
Dua kata itu sederhana.
Namun bagi Ning, yang sudah pernah kehilangan rumah, keluarga, tubuh, bahkan namanya sendiri, dua kata itu lebih megah daripada gerbang Menteng Enclave yang terbuka di depan mereka.
Saat mobil berhenti di depan rumah nomor satu, pintu utama sudah terbuka.
Bi Ruan berdiri paling depan, mengenakan seragam rapi warna krem. Di belakangnya, beberapa staf rumah tangga berbaris sopan. Pak Liu berdiri di dekat garasi. Semua menunduk ketika Ning turun.
"Selamat datang, Nyonya," ucap Bi Ruan.
Ning membeku.
Nyonya.
Kata itu dulu pernah ia dengar di rumah ini, dari suara yang sama, saat ia masih hamil dan belum terbiasa menjadi istri Kevin. Sekarang, enam belas tahun kemudian, kata itu datang lagi seperti tangan yang mengetuk pintu ingatan.
"Bi Ruan," Ning memanggil pelan.
Bi Ruan mengangkat wajah, matanya sedikit basah. "Ya, Nyonya?"
Ning sadar ia seharusnya tidak terlalu akrab. Ia tersenyum cepat. "Terima kasih."
Kian menatap Bi Ruan sebentar. Bi Ruan, yang sudah diberi tahu hanya sebagian mengenai pernikahan mendadak, tampak menahan pertanyaan. Rumah ini sudah terlalu lama menunggu seorang nyonya kembali, meski tidak semua orang memahami mengapa rasanya seperti pulang.
Kamar Ning disiapkan di lantai dua, tidak jauh dari kamar Kevin, tapi tetap terpisah. Kevin tidak memaksa. Ia hanya menunjukkan lemari, kamar mandi, meja kerja, dan balkon kecil yang menghadap pohon delima di halaman.
Ning menyentuh pagar balkon.
Pohon itu masih ada.
Batangnya lebih besar, dahannya lebih lebar, tapi ia mengenali bentuk miringnya. Dulu ia menanamnya dengan tangan sendiri, sambil mengeluh tanah Menteng terlalu keras. Kevin hanya berdiri membawa sekop, diam-diam mengikuti semua instruksinya.
"Kamu suka pohon itu?" tanya Kevin.
Ning cepat menarik tangan. "Bagus."
"Aku juga suka."
Suara Kevin terlalu pelan untuk sekadar membahas tanaman.
Sebelum suasana menjadi terlalu berbahaya, Yenni muncul dari pintu kamar dengan mata berbinar. "Ayo turun. Katanya ada acara bagi-bagi hadiah?"
Ning baru ingat tas kecil yang ia bawa.
Di ruang keluarga, ia mengeluarkan hadiah satu per satu. Untuk Yenni, liontin kristal kecil berbentuk tetes air.
"Aku lihat ini dan merasa cocok untukmu," kata Ning.
Yenni menggenggam liontin itu seperti benda pusaka. "Aku suka. Banget."
Untuk Hendra, sebuah pajangan kayu kecil yang ia poles sendiri, bentuknya abstrak tapi hangat.
Hendra memutarnya di tangan. "Ini mahal kalau dijual di galeri."
"Jangan mulai menawar karya saya, Ko Hendra."
Hendra tertawa. "Oke, noted. Sudah mulai galak."
Kian duduk paling jauh, berpura-pura tidak menunggu. Ning mengambil kotak terakhir yang agak besar dan menaruhnya di meja depan Kian.
"Untukmu."
Kian menatap kotak itu, lalu membuka pelan.
Di dalamnya ada sebuah konsol gim handheld keluaran terbaru.
Matanya langsung menyala, tapi sebelum ia sempat terlihat terlalu senang, Ning meletakkan tumpukan buku tebal di sampingnya.
`Bank Soal UTBK-SNBT dan Latihan Matematika Intensif`
Lima jilid.
Ekspresi Kian runtuh.
"Ini hadiah atau senjata?"
Yenni langsung menutup mulut. Hendra batuk. Kevin menatap langit-langit seolah bagian itu tidak ada hubungannya dengan dia.
Ning tersenyum manis. "Paket lengkap."
"Konsolnya jebakan?"
"Motivasi."
"Sadis."
"Efektif."
Kian menatap buku itu seperti melihat musuh bebuyutan. Lalu, dengan wajah paling menderita, ia menarik semuanya ke pangkuannya.
"Fine. Gue terima."
"Ada syaratnya."
"Udah ketebak."
"Tidak bolos kelas."
Kian diam beberapa detik. Semua orang ikut diam, tapi berusaha terlihat biasa saja.
Akhirnya Kian membuang muka.
"Iya."
Ning menahan napas.
"Iya apa?"
"Gue gak bolos lagi." Suaranya rendah. "Puas?"
Ning tersenyum sampai matanya melengkung. "Puas."
Kian menggerutu, tapi telinganya merah.
Hadiah terakhir adalah kotak kecil berwarna biru tua.
Ning memegangnya dengan kedua tangan sebelum memberikannya kepada Kevin.
"Untukmu."
Kevin menerima kotak itu.
Di dalamnya ada cincin baru. Desainnya sederhana, tapi garisnya lebih tegas daripada cincin lama. Ning membelinya dengan tabungan yang hampir seluruhnya tersisa setelah menerima honor, jauh dari harga barang-barang Kevin, tapi ia memilihnya sendiri.
"Aku tahu ini tidak sebanding dengan..." Ning berhenti, tidak tahu harus menyebut apa. Pernikahan? Rumah? Uang satu miliar per bulan? "Dengan semua yang sudah kamu berikan."
Kevin menatap cincin itu.
Lalu tanpa bertanya, tanpa ragu, ia melepas cincin polos yang sudah melingkar di jari manis kirinya selama enam belas tahun.
Ning tidak sempat mencegah.
Kevin memasukkan cincin lama ke telapak tangan kirinya, lalu memakai cincin baru dari Ning di jari yang sama.
Ukurannya pas.
Terlalu pas.
Ning menatap gerakan itu dengan dada kosong.
Ia seharusnya senang.
Tapi melihat Kevin melepas cincin yang dulu ia pilih sendiri membuat hatinya seperti ditarik dua arah.
Dia... semudah itu melepas cincin untuk istrinya yang sudah meninggal?
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya