Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMENANGAN SEMENTARA
"Tapi Yang Mulia, berkat ketulusan Lady Aura, Duke Daren selalu memberikan dukungan militer penuh untuk kekaisaran," ucap Nico pelan.
"Itu karena Duke Daren terlalu memanjakan putri nya," ucap Kaisar Zane cepat.
"Jika gadis itu terus bertingkah konyol, aku sendiri yang akan membatalkan pertunangan bodoh itu sebelum mereka berdua makin mempermalukan nama kerajaan Caliber," lanjut Kaisar Zane, dingin.
"Tapi Yang Mulia, jika Anda membatalkan pertunangan itu secara sepihak, bukankah Duke Daren akan tersinggung?" tanya Nico ragu.
Kaisar Zane tersenyum miring, tatapannya berkilat tajam penuh keangkuhan.
"Biarkan saja, aku tidak peduli," jawab Kaisar Zane santai.
"Lagipula, aku sudah muak melihat kelakuan Luis. Anak itu merasa posisinya sebagai Pangeran sudah sangat aman, sampai lupa siapa yang memegang kekuasaan tertinggi di kekaisaran ini," lanjut Kaisar Zane, sinis.
Nico hanya bisa menelan ludah secara diam-diam, dia tahu betul jika Kaisar Zane sudah mengeluarkan nada bicara seperti itu, artinya batas kesabaran penguasa kekaisaran ini sudah benar-benar habis.
"Nico," panggil Kaisar Zane tiba-tiba.
"Saya, Yang Mulia?" sahut Nico sigap.
"Perketat penjagaan di area pesta perayaan tiga hari lagi," perintah Kaisar Zane tegas.
"Aku tidak mau ada drama murahan yang dibuat oleh Luis atau wanita simpanannya itu di hadapan para tamu undangan!" lanjut Kaisar Zane, penuh penekanan.
"Baik, Yang Mulia! Saya akan mengatur pasukan pengawal terbaik untuk menjaga aula utama," jawab Nico tegas.
Kaisar Zane kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap kegelapan malam.
"Pesta ulang tahun kali ini... mari kita lihat sampai mana Luis bisa bermain-main dengan kesabaran ku," batin Kaisar Zane dingin.
Tiba-tiba, ketukan pintu yang agak tergesa-gesa memecah keheningan di ruang kerja Kaisar Zane.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," perintah Kaisar Zane dengan nada beratnya.
Ceklekk
Seorang pengawal pribadi istana melangkah masuk dengan cepat, lalu berlutut di hadapan sang Kaisar dengan wajah penuh ketegangan.
"Lapor, Yang Mulia! Ada informasi mendadak dari mata-mata kita di luar area istana," ucap pengawal itu, suaranya sedikit bergetar.
Kaisar Zane menaikkan satu alisnya, menatap pengawal itu datar.
"Bicara yang jelas. Ada apa?" tanya Kaisar Zane dingin.
"Lady Aura Luminar dikabarkan tidak kembali ke kediaman Duke sejak sore tadi, Yang Mulia, beliau terakhir terlihat berjalan bersama Pangeran Luis," lapor pengawal itu dengan kepala tetap menunduk.
Nico yang berdiri di samping meja langsung terkejut, dia melirik ke arah Kaisar Zane yang ekspresinya mendadak mengeras.
"Lalu? Apa Luis membawanya pulang ke kediaman nya?" tanya Nico penasaran.
"Tidak, Tuan Nico. Pangeran Luis kembali ke istana seorang diri beberapa waktu lalu, sementara para prajurit kediaman Duke Luminar saat ini sedang bergerak panik mencari keberadaan Lady Aura," jawab pengawal itu jujur.
Kaisar Zane tertawa sinis, suara tawanya terdengar sangat dingin dan mengintimidasi ruangan.
"Anak itu... benar-benar sudah hilang akal," gumam Kaisar Zane, mengepalkan tangannya kuat.
"Yang Mulia, apakah Pangeran Luis berani berbuat nekat pada Lady Aura?" bisik Nico cemas, membayangkan dampak politiknya jika putri tunggal Duke Daren sampai kenapa-napa.
"Apalagi yang ada di otak tumpulnya itu selain menyingkirkan hambatan demi wanita simpanannya?" jawab Kaisar Zane sinis.
Kaisar Zane berdiri dari kursi kebesarannya, berjalan perlahan mendekati jendela besar, tingginya yang menjulang dan bahunya yang tegap membuat aura dominannya makin terasa menekan.
"Kirim beberapa orang kepercayaan mu untuk memantau kediaman Duke Luminar secara diam-diam," perintah Kaisar Zane tanpa menoleh.
"Baik, Yang Mulia. Apakah saya perlu menyuruh mereka membantu pencarian Lady Aura?" tanya Nico memastikan.
"Tidak perlu," jawab Kaisar Zane cepat.
"Duke Daren bukan orang bodoh, dia punya prajuritnya sendiri, aku hanya tidak ingin lengah," lanjut Kaisar Zane.
"Baik, Yang Mulia, paham," ucap Nico menunduk patuh.
"Dan satu lagi, panggil Luis menghadap ku besok pagi!" perintah Kaisar Zane, memutarkan tubuhnya menatap Nico dengan iris mata yang berkilat tajam.
"Apakah Anda akan langsung menegurnya besok, Yang Mulia?" tanya Nico sempat tertegun sejenak.
"Menegur?" ulang Kaisar Zane menyunggingkan senyum miringnya.
"Aku cuma ingin melihat seberapa pandai Luis berbohong di hadapanku," ucap Kaisar Zane, sinis.
"Baik, Yang Mulia, akan saya sampaikan perintah ini pada Pangeran Luis besok pagi-pagi sekali," jawab Nico sigap.
"Bagus! Sekarang keluar, aku ingin sendiri," ucap Kaisar Zane melambaikan tangannya pelan.
"Saya permisi, Yang Mulia," ucap Nico dan pengawal tadi serempak, lalu membungkuk hormat sebelum melangkah mundur keluar dari ruang kerja Kaisar.
Ceklekk
Pintu ruang kerja nya itu kembali tertutup rapat, kaisar Zane kembali menatap ke luar jendela.
"Luis... kamu benar-benar menggali kuburanmu sendiri," gumam Kaisar Zane dingin.
Dia menyunggingkan senyum tipis, membayangkan betapa bahagianya dia bisa menyingkirkan parasit dalam hidup nya itu dari takhtanya jika bukti kejahatan Luis benar-benar ada di tangannya nanti.
Sementara itu di kediaman Pangeran Luis, suasana tampak jauh lebih santai.
Luis sedang duduk di sofa empuknya sembari menyesap segelas anggur berkualitas tinggi, ditemani oleh Elisabeth yang bersandar manja di dadanya.
"Pangeran, bagaimana kalau keluarga Duke Luminar curiga padamu?" tanya Elisabeth, pura-pura cemas sembari mengusap dada Luis pelan.
"Curiga? Biarkan saja, lagian tidak ada bukti sama sekali kalau aku yang mendorongnya ke danau," ucap Luis tertawa remeh, meletakkan gelas anggurnya di meja.
"Tapi bagaimana kalau jasad si bodoh Aura itu ditemukan oleh prajurit ayahnya?" tanya Elisabeth lagi, menatap Luis.
"Lalu kenapa?" ucap Luis tersenyum miring, menangkup pipi Elisabeth dengan mengusapnya lembut.
"Besok seluruh ibu kota hanya akan tahu kalau Lady Aura bunuh diri karena stres menanggung tekanan sebagai calon istriku. Lagi pula, siapa yang berani menuduh Pangeran Mahkota tanpa bukti?" lanjut Pangeran Luis, tersenyum miring.
Elisabeth tersenyum puas mendengar jawaban itu, dia menyandarkan kepalanya di bahu Luis sembari membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan menggantikan posisi Aura, sebagai tunangan sang Pangeran Mahkota.
"Aku tidak sabar menunggu pesta perayaan ulang tahun Yang Mulia Kaisar tiga hari lagi," gumam Elisabeth manja.
"Saat itu, semua orang akhirnya akan melihat siapa wanita yang pantas bersanding di sisimu," lanjut Elisabeth diam-diam tersenyum licik.
"Tentu saja kamu, Sayang," ucap Luis bangga.
"Hanya kamu yang pantas menjadi permaisuriku nanti, bukan gadis bodoh dan membosankan seperti Aura," lanjut Luis, sinis.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu di luar kediaman Pangeran menghentikan kemesraan mereka.
Tok
Tok
Tok
"Pangeran Luis, ini saya, pengawal pribadi Anda," panggil sebuah suara dari balik pintu.
Luis menggeram kesal karena momen indahnya dengan sang kekasih terganggu.
"Masuk!"
Ceklekk
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛