"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Tak banyak yang bisa dilakukan oleh Mita, dia hanya berjalan-jalan di sekitar kediaman Darsuki dan sesekali berbincang dengan Lintang. Namun taj lama seorang yang dikenalnya datang. Meski sudah lama tak bertemu, Mita tentu masih mengenal rekan kerja di perusahaan milik keluarga Darsuki.
"Oh Pak Wilson, apa mau bertemu dengan~"
"Nggak Mit, aku mau ketemu sama kamu. Aku diutus Pak Bos kesini buat bantu proses cerai kamu dengan suami mu. Maaf, bisa tolong jelaskan semuanya?"
Mita mengangguk. Wilson memang terkenal to the point dalam setiap pembicaraan. Dia tak akan banyak basa-basi dan bicara sesuai keperluan.
Kedatangan Wilson ke tempat ini dan langsung menemuinya, membuat Mita mengerti bahwa Lingga yang memerintahkannya. Bantuan itu benar-benar nyata adanya dan Mita tak akan menolak.
Ia ingin secepatnya lepas dari Erdio, sehingga dirinya tak ragu menerima bantuan dari Lingga. Setelah lepas dari suami bejatnya itu, Mita akan kembali bekerja pada perusahaan Lingga. Setidaknya itu adalah caranya berterimakasih karena banyaknya bantuan yang diterimanya dari pria tersebut.
"Jadi kamu sudah mendaftarkan perceraiannya dan memberikan semua bukti yang kamu milik?" tanya Wilson sebagai bentuk pemastian.
"Iya, Pak,"jawab Mita cepat.
"Baik kalau begitu, ini jadi lebih gampang. Kamu nggak usah mikirin apapun, mulai dari sini aku yang bakal urus. Kamu juga nggak perlu datang ke pengadilan jika ada panggilan mediasi atau apapun karena aku yang akan mengurusnya. Tenangkan dirimu, dan kembalilah ke perusahaan dengan segera. Aku denger daru bos, katanya kamu siap buat kerja lagi. Kalau gitu aku permisi,"ucap Wilson.
Mita mengangguk, dia tidak menyangka Wilson akan melontarkan kata-kata penyemangat seperti itu. Selama ini yang Mita tahu Wilson adalah pribadi yang acuh tak acuh terhadap urusan orang lain. Tak disangka pria itu bisa bersikap demikian.
Mita pun mengucapkan terimakasih dan mengantarkan Wilson masuk ke mobil.
Pria itu pergi dengan mobilnya tanpa menemui keluarga Lingga. Sebenarnya Mita tadi sudah menyarankan untuk menemui Adam atau Asha, tapi Wilson menolak. Mita tentu tak punya hak untuk memaksa, meski akhirnya dia merasa tidak enak sendiri.
"Udah pergi ya, Mbak?"
"Oh Mbak Lintang. Iya sudah. Katanya mau langsung mengerjakan pekerjaannya."
Mita sedikit terjingkat ketika Lintang menghampirinya dan bertanya soal Wilson. Adik Lingga itu memiliki wajah yang begitu mirip dengan Lingga. Bisa dibilang, Lintang adalah versi perempuan dari Lingga.
"Jangan panggil mbak dong Mbak Mit, aku ini umurnya jauh dari Mbak Mita. Mbak Mita sekarang umurnya berapa?"
Lintang agaknya protes karena panggilan yang diberikan Mita padanya. Ia merasa lebih muda dari Mita sehingga rasanya tidak nyaman di panggil mbak sama orang yang usianya lebih tua darinya.
"Aku 26 tahu," jawab Mita.
"Nah itu. Aku kan baru 20 tahun Mbak. Eh by the way, Mbak Mita cuma terpaut setahun sama Mas Lingga. Mas Lingga kalau nggak salah 27 tahun."
Aaah
Mita baru tahu usia Lingga. Dia tidak menyangka bahwa dirinya dan Lingga bisa dibilang sepantaran.
Sekali lagi, Mita tak pernah tahu menahu soal CEO perusahaan tempat dia dulu bekerja. Dia hanya tahu sosok Lingga sebagai pemimpin, namun tak pernah tahu tentang kehidupan pribadinya. Entah itu usia atau orang-orang terdekatnya.
"Begitu ya, ya sudah aku akan panggil Lintang aja kalau begitu. Iya tadi Pak Wilson sudah langsung pulang. Tadi aku minta buat ketemu Bapak atau Ibu, tapi dia nggak mau."
"Iya emang begitu kok. Mas Wilson itu beda sama Mas Bari. Mas Bari banyak omong, kalau Mas Wilson enggak. Oh iya Mbak, aku mau nanya. Maaf ya kalau pertanyaanku bikin Mbak nggak nyaman. Memangnya itu ehmm ... apa selama ini Mbak nggak tahu sama sekali sama kelakuan adik tiri Mbak? Apa nggak ada kayak tanda-tanda mencurigakan gitu?"
Degh!
Pertanyaan Lintang menyadarkan Mita, bahwa selama ini dia begitu bodoh. Kepercayaannya terhadap Erdio dan rasa sayangnya kepada Medi membuat sinyal-sinyal yang mungkin selama ini didapat selalu dia abaikan.
Mita mengingat sebuah hal. Pernah suatu ketika, Erdio mandi di tengah malam. Ini adalah hal yang jarang terjadi.
Meski mereka melakukan hubungan suami istri pada malam hari, Erdio pasti akan mandi menjelang subuh. Dan hal tersebut tak hanya sekali dua kali dilakukan Erdio.
Namun, Mita sama sekali tidak merasa curiga. Dia tak berpikir ke arah sana. Tak hanya itu, terkadang pada baju Erdio tercium aroma parfum Medi. Namun itu pun juga tak membuat Mita curiga karena selera parfum dirinya dan Medi yang memang sama, sehingga Mita menganggap bahwa itu mungkin parfum miliknya.
Sekarang, setelah Lintang bertanya, Mita benar-benar merasa sangat bodoh. Tanda-tanda yang sudah ada di depan mata itu diabaikan olehnya.
Dan sebenarnya tak hanya itu, ia sesekali melihat Medi yang mencuri pandang kepada suaminya ketika mereka tengah makan bersama atau bepergian.
"Mbak?" panggil Lintang.
"Ah maaf, tadi aku melamun sebentar," jawab Mita gugup.
"Mbak, nggak usah di jawab. Aku minta maaf karena bertanya kayak gitu. Nggak seharusnya aku nanya saat kondisi hatimu sedang~"
"Nggak Lin, nggak apa-apa. Dengan kamu bertanya aku jadi ngeri. Aku juga jadi paham kalau selama ini aku bodoh dan dibutakan oleh rasa cinta ku kepada mereka. Padahal tanda-tanda yang kamu tanyakan tadi, sebenarnya ada. Tanda-tanda itu sangat jelas tapi aku bodoh karena aku nggak sadar. Aaah."
Tanpa disadari air mata Mita kembali luruh. Cinta nya yang tulus begitu mudah dikhianati. Kasih sayangnya yang besar, begitu ringannya dimanfaatkan oleh orang-orang seperti mereka.
Greb
Lintang memeluk Mita lalu mengusap punggung wanita itu dengan lembut. Rasa sakit yang dirasakan Mita seolah bisa dirasakan oleh Lintang.
Meski belum pernah merasakan dan tak ingin merasakannya, Lintang bisa memahami sakit yang saat ini dirasakan oleh Mita.
"Semoga ini segera berakhir ya Mbak. Dan aku yakin akan ada pelangi indah setelah badai besar yang menghantam kehidupan Mbak Mita."
"Makasih Lintang, makasih banyak."
Lintang adalah gadis yang baru saja ditemuinya. Namun entah mengapa Mita malah bisa merasakan sebuah kasih sayang seorang adik dari gadis itu.
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,