NovelToon NovelToon
Mahkota Darah Dan Mawar Es

Mahkota Darah Dan Mawar Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.

​Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retaknya Buku Panduan Masa Lalu

​Hawa dingin di dalam tenda medis darurat terasa begitu pekat, seolah-olah kematian sedang duduk di salah satu sudut ruangan, menunggu dengan sabar.

Di atas ranjang lipat militer, Boris terbaring dengan tubuh yang sesekali kejang. Ksatria veteran yang biasanya tegak seperti karang di tengah badai itu kini tampak begitu ringkih.

Zirah besi hitamnya telah ditanggalkan, menyisakan tubuh bagian atasnya yang dipenuhi oleh jalinan urat hitam legam yang memancarkan pendaran ungu tua redup. Kutukan dari Belati Abyss itu merayap lambat namun pasti, menggerogoti energi kehidupan sang komandan dari dalam.

​Kaelen Vane berdiri di sisi ranjang, lengannya bersedekap dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Sebagai sosok yang dijuluki Monster Utara dan Pangeran Tanpa Mahkota, Kaelen jarang sekali menunjukkan emosi di depan publik.

Namun saat ini, aura membunuh yang keluar dari tubuhnya begitu pekat hingga para tabib militer yang bertugas di dalam tenda tidak berani mengangkat kepala mereka, apalagi menatap langsung sepasang mata merah delima sang pangeran.

​"Bagaimana kondisinya?" Suara Kaelen terdengar seperti gesekan es abadi yang retak—rendah, dingin, dan sarat akan ancaman yang teredam.

​Tabib kepala, seorang pria tua berambut abu-abu yang telah mengabdi pada keluarga Vane selama puluhan tahun, melangkah maju dengan tubuh gemetar. "Melapor pada Yang Mulia Pangeran ... kutukan ini menolak semua jenis ramuan penawar tingkat tinggi kekaisaran. Setiap kali kami mencoba memasukkan ramuan pemulih mana, urat-urat hitam itu justru semakin melebar dan berpendar. Sihir penyembuhan standar juga tidak bekerja. Energi gelap ini ... ia bertindak seperti parasit yang memakan energi kehidupan dan sihir apa pun yang mencoba mengusirnya."

​Aura Zephyra berdiri di sisi lain ranjang, menatap nanar ke arah Boris. Jemari tangannya yang dilapisi sarung tangan kain halus saling meremas satu sama lain. Di dalam benaknya, badai pikiran sedang berkecamuk dengan hebat.

​Mengapa? Mengapa ini terjadi sekarang?

​Aura memejamkan matanya, mencoba menggali kembali lembar demi lembar ingatan dari kehidupan pertamanya.

Di kehidupan lalu, Gavin Elrod adalah seorang pria yang penuh dengan kepalsuan politik. Dia menggunakan racun yang terencana, konspirasi dokumen palsu, dan pembunuhan berencana di dalam kegelapan ibu kota untuk menjatuhkan lawan-lawannya.

Gavin tidak pernah menggunakan kekuatan sihir hitam dari dimensi bawah seperti ini sampai akhir perang perebutan takhta kekaisaran, bertahun-tahun dari garis waktu saat ini.

​"Aku salah," bisik Aura, suaranya begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh deru angin badai yang menghantam dinding tenda dari luar.

​Kaelen menoleh, menatap istrinya dengan tatapan melembut yang hanya ia tunjukkan pada Aura. Ia melangkah mendekat, meletakkan tangan kokohnya di atas pundak Aura yang tampak sedikit berguncang.

"Aura. Ini bukan salahmu."

​"Tidak, Kaelen. Ini adalah akibat dari tindakanku." Aura mendongak, sepasang mata perak jernihnya kini dipenuhi oleh kabut penyesalan dan ketakutan yang nyata.

"Di kehidupan pertamaku, aku terlalu naif dan bergerak mengikuti arus yang mereka buat, sehingga Gavin memiliki kesempatan waktu untuk bermain dengan bidak-bidak politiknya di ibu kota. Namun di kehidupan ini, aku bergerak terlalu agresif. Aku menghancurkan tiga klan Faksi Barat sebelum mereka sempat menanam akar di istana. Aku mengisolasi Menara Elrod dan memotong semua jalur logistik ilegal mereka."

​Aura menarik napas panjang, merasakan dadanya sesak.

"Aku mengira aku telah memenangkan pertempuran di ibu kota sebagai pemenang mutlak. Namun kenyataannya, tindakanku justru menyudutkan Gavin ke dalam jurang keputusasaan yang lebih dalam dan lebih cepat. Karena dia kehilangan segalanya di ibu kota, dia mengambil jalur ekstrem yang di kehidupan lalu baru dia ambil bertahun-tahun kemudian. Dia pergi ke perbatasan Utara lebih awal, memegang Belati Abyss lebih cepat, dan menggunakan kekuatan yang melompati seluruh pengetahuan masa laluku. Buku panduanku ... ingatan masa laluku tentang Gavin ... sudah tidak berguna lagi di sini."

​Mendengar pengakuan emosional dari istrinya, Kaelen tidak melepaskan cengkeramannya di pundak Aura. Sebaliknya, ia menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapan hangatnya, mengabaikan kehadiran para tabib yang langsung berpaling dengan penuh hormat.

Kaelen mengecup puncak kepala Aura dengan kelembutan yang posesif, menyalurkan kehangatan mana darahnya yang membara untuk mencairkan ketakutan yang membekukan hati sang istri.

​"Dengar aku, Aura." Kaelen berbisik tepat di dekat telinga Aura, suaranya penuh dengan dominasi dan keyakinan mutlak seorang Monster Utara.

"Ingatan masa lalumu adalah hadiah yang membawamu kembali kepadaku, tetapi itu bukan rantai yang menentukan takdir kita. Jika Gavin memilih untuk menjadi monster yang melompati garis waktu, maka aku—Monster Utara yang sesungguhnya—akan merobeknya menjadi kepingan tak bernama. Jangan pernah meragukan kekuatan Aliansi kita hanya karena bajingan itu mengubah cara bermainnya."

​Kehangatan dari tubuh Kaelen dan detak jantungnya yang konstan perlahan-lahan meredakan kepanikan di dalam dada Aura. Aura menjauhkan tubuhnya sedikit, menatap mata merah delima suaminya, lalu mengangguk pelan. Ketenangan yang dibawa Kaelen mengembalikan ketajaman berpikir sang putri jenius.

​"Kita tidak bisa membiarkan Boris terus seperti ini," kata Aura, beralih menatap komandan veteran yang kembali mengerang. "Kutukan ini tidak bisa disembuhkan dengan sihir es murni ataupun ramuan biasa karena struktur energinya berasal dari dimensi bawah. Jika kita mencoba menekannya secara paksa dengan sihir luar, tubuh Boris akan meledak dari dalam akibat benturan energi."

​Aura melangkah mendekati ranjang, menatap urat-urat hitam yang kini telah mencapai leher Boris.

"Satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawanya adalah dengan mengisolasi kutukan tersebut di dalam tubuhnya menggunakan segel es absolut. Aku harus membekukan aliran darah dan mananya di lengan kanan itu secara total. Ini bukan penyembuhan, Kaelen. Ini adalah pembekuan paksa. Boris akan kehilangan fungsi lengan kanannya untuk sementara waktu, dan dia akan tertidur dalam koma es sampai kita menemukan cara untuk memurnikan energi Abyss."

​Kaelen menatap Boris lama. Boris adalah tangan kanannya, ksatria yang telah bersamanya sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di medan perang Utara yang berdarah.

Kehilangan fungsi lengan kanan bagi seorang ksatria adalah hal yang lebih buruk daripada kematian. Namun, kehilangan nyawa Boris adalah hal yang sama sekali tidak akan Kaelen izinkan.

​"Lakukan, Aura!" perintah Kaelen dengan berat hati. "Selamatkan nyawanya. Masalah lengan dan zirah, kita bisa menyelesaikannya setelah kepalanya tetap berada di atas lehernya."

​Aura mengangguk tegak. Ia melepaskan sarung tangan kainnya, membiarkan kulit telapak tangannya yang halus bersentuhan langsung dengan udara dingin tenda. Aura mengambil posisi di sisi kanan ranjang Boris. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh mana es murni yang mengalir di dalam inti sihir es kuno miliknya.

​Seketika, atmosfer di dalam tenda medis jatuh di bawah titik beku. Cahaya perak yang murni dan berkilauan berbentuk mawar mulai memancar dari kedua telapak tangan Aura, menciptakan partikel-partikel kristal es yang menari-nari di udara.

Berbeda dengan sihir penyembuhan sebelumnya yang mencoba menyerang kutukan, kali ini Aura mengubah taktiknya. Ia tidak akan melawan energi Abyss; ia akan mengurungnya.

​"Dengan otoritas sihir es kuno yang mengalir di dalam darahku ...," bisik Aura dengan nada suara yang penuh otoritas magis.

​Aura menempelkan kedua telapak tangannya pada pundak kanan Boris, tepat di atas batas di mana urat hitam kutukan itu mencoba merayap naik ke leher.

Begitu sentuhan itu terjadi, lapisan es transparan yang sewarna perak mulai terbentuk di atas kulit Boris. Es itu bergerak dengan cepat, merayap turun menyelimuti seluruh lengan kanan Boris, membungkus urat-urat hitam berpendar ungu itu ke dalam sebuah peti es absolut yang tebal dan tak tertembus.

"​Arrrghhh!" Boris menjerit satu kali terakhir, tubuhnya menegang hebat sebelum akhirnya sihir es kuni milik Aura berhasil mengunci seluruh aliran darah dan mana di lengan tersebut.

Jeritan Boris terhenti seketika saat hawa beku menjalar ke seluruh tubuhnya, membawa ksatria veteran itu masuk ke dalam kondisi tidur hidup mati (stasis). Tubuh Boris kini diselimuti oleh lapisan embun beku tipis, menghentikan laju kutukan Abyss tepat satu inci sebelum mencapai jantungnya.

​Aura menarik tangannya kembali, tubuhnya sedikit limbung karena konsumsi mana yang begitu masif dalam waktu singkat.

Kaelen dengan sigap langsung menangkap pinggang Aura, menahan tubuh istrinya agar tidak terjatuh. Wajah Aura tampak sangat lelah, keringat dingin yang menetes di pelipisnya langsung membeku menjadi butiran es kecil.

​"Kutukannya sudah terkunci," ucap Aura dengan napas yang memburu, bersandar pada dada bidang Kaelen. "Tetapi ini hanya solusi sementara. Es absolutku hanya mampu menahan energi Abyss itu selama tiga puluh hari. Jika dalam waktu tiga puluh hari kita tidak berhasil menghancurkan sumber kekuatan Gavin atau menemukan cara memurnikannya, es itu akan pecah, dan kutukan tersebut akan menelan sisa energi kehidupan Boris dalam sekejap."

​Kaelen menatap lengan kanan Boris yang kini telah terbungkus es perak tebal, di mana di dalamnya siluet urat hitam masih tampak berpendar redup seperti monster yang terperangkap. Kemarahan yang dingin dan mematikan kini telah mengkristal di dalam hati sang Monster Utara.

​"Tiga puluh hari lebih dari cukup untuk menyeret Gavin dari lubang tikusnya dan memotong kepalanya," ucap Kaelen, suaranya bergema dengan janji kematian yang mutlak.

​Ia memalingkan wajahnya ke arah tabib kepala yang masih berlutut.

"Siapkan kereta medis khusus yang dilapisi pelindung sihir untuk Boris. Amankan dia di barisan paling dalam konvoi. Kita tidak akan kembali ke ibu kota, dan kita tidak akan berhenti di sini. Besok pagi, sebelum matahari terbit, seluruh pasukan Aliansi Utara akan bergerak dengan kecepatan penuh menuju benteng utama di wilayah Utara."

​Kaelen kemudian menatap ke arah luar tenda, menembus badai salju yang kian meraung di luar desa mati Okvanh.

"Gavin mengira dia telah berhasil memperingatkan kita dengan melumpuhkan Boris. Dia mengira kabut kelabu dan sihir Abyss ini akan membuat kita gemetar ketakutan dan memperlambat laju pasukan."

​Kaelen menarik Aura lebih rapat ke dalam pelukannya, sepasang mata merah delimanya berkilat dengan dominasi monster yang siap mengamuk.

"Tapi dia salah besar. Dia baru saja membangunkan monster yang sesungguhnya di atas tanah es ini. Kita akan menuju benteng utama, mengumpulkan Ksatria Hitam yang tersisa, dan menghancurkan setiap bayangan yang berani menghalangi jalan kita."

​Di dalam dekapan Kaelen, Aura mengepalkan tangannya. Rasa percaya diri mutlak yang sempat runtuh kini telah digantikan oleh ketetapan hati yang baru, yang jauh lebih dingin dan berbahaya.

Ia menyadari bahwa garis waktu telah berubah, dan dia tidak bisa lagi mengandalkan ingatan masa lalunya untuk menang dengan mudah.

Perang yang sesungguhnya telah dimulai, bukan di atas karpet merah istana kekaisaran, melainkan di atas hamparan salju perbatasan yang menuntut bayaran darah dan pengorbanan yang nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!