NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: KEJUTAN

Ting…

Pintu lift terbuka. Aldo, yang sudah terbiasa datang ke apartemen Nathan, melangkah masuk tanpa perlu memberi tahu pemiliknya. Ia berjalan santai, lalu menjatuhkan diri di sofa. Tidak terlihat tanda-tanda Nathan di ruang tamu, tapi Aldo tak repot mencarinya. Ia hanya meraih ponselnya dan mulai memainkannya dengan acuh.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah dari arah belakang. Aldo tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.

"Kenapa kemarin kau tidak jadi datang? Aku dan Luna sudah menunggu," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

Namun tak ada jawaban. Keheningan itu membuat Aldo menoleh.

"Kau dengar aku?" tanyanya, kini benar-benar menatap ke belakang.

Dalam beberapa detik berikutnya, tubuh Aldo membeku di tempat. Sosok yang berdiri di depannya membuatnya terdiam. Aldo tentu mengenalinya.

Arin juga terpaku. Ia tak tahu harus berkata apa, bingung bagaimana menjelaskan situasi ini, ia juga tak menyangka akan bertemu dengan teman Nathan di sini. Rasa gugupnya kini membuat napasnya terasa berat.

"Kau...?" suara Aldo sedikit tercekat. Ia mengangkat tangan, setengah menunjuk, lalu menurunkannya lagi.

Rasa penasaran bercampur senyum tipis muncul di wajah Aldo dan saat ini matanya menelusuri Arin dari kepala hingga kaki. Wanita di depannya ini mengenakan kemeja putih Nathan bahkan terlalu besar untuk tubuhnya, Aldo bahkan masih bisa mencium samar-samar wangi parfum yang biasa dipakai Nathan.

"Nathan?" Suara Aldo terdengar pelan ketika melihat sahabatnya keluar dari kamar.

"Kau datang." Nathan baru saja keluar dari kamar, suaranya mengisi ruangan.

"Kalian..? Kalian..?" Aldo mengulang-ulang kata itu, senyum lebar meregang di wajahnya memperlihatkan giginya yang putih. Ekspresinya adalah campuran sempurna antara rasa tak percaya dan kegirangan.

"Jadilah saksi pernikahanku hari ini," kata Nathan singkat sambil berjalan menuju pantry. Ia membuka lemari pendingin, mengambil sebotol air mineral, lalu meneguknya hampir setengah botol sekaligus.

Mendengar ucapan Nathan membuat mulut Aldo terbuka lebar. Ia masih terdiam, pandangannya terpaku pada Nathan.

Melihat reaksi itu Nathan mendekat. Tanpa berkata apapun, ia menutup mulut Aldo dengan telapak tangannya. Kemudian, ia duduk di sofa dan pandangannya beralih pada Arin.

Tangannya menepuk-nepuk bantalan sofa di sampingnya, sebuah isyarat halus untuk mengajak Arin duduk. Arin melihatnya, namun ia masih diam, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Duduklah," ucap Nathan akhirnya.

Aldo yang mendengar itu sontak tersadar. Pandangannya beralih cepat pada Arin, lalu kembali ke Nathan. Situasi ini membuat Arin merasa tidak nyaman.

"Aku… aku akan ke kamar," ucapnya lalu segera pergi.

Mata Aldo mengikuti langkah Arin sampai wanita itu menghilang di balik pintu. Baru setelah itu ia menatap Nathan, lalu berpindah duduk di sampingnya dengan cepat.

"Apa yang barusan aku lihat? Menikah? Kau akan menikah? Dengannya? Bukankah dia karyawan di hotelmu? Kau bilang akan menikah hari ini?" Pertanyaan itu keluar beruntun, nyaris tanpa jeda.

"Iya. Aku akan menikah dengannya," jawab Nathan santai, seolah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.

"Bagaimana bisa?!" seru Aldo refleks berdiri, suaranya meninggi. Ekspresinya campuran antara tidak percaya dan kagum, karena di wajahnya justru muncul senyum lebar yang sulit disembunyikan.

"Kenapa kau tersenyum selebar itu?" tanya Nathan datar, memperhatikan ekspresi temannya.

Aldo akhirnya duduk lagi, kali ini lebih dekat. Tangannya terangkat, merangkul bahu Nathan.

"Aku benar-benar senang untukmu," ucapnya tulus, masih dengan senyum yang sama.

Namun beberapa detik kemudian, senyum itu memudar sedikit. Pandangannya sekilas terarah ke arah kamar Arin.

"Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau perempuan itu adalah dia," lanjutnya pelan. "Bagaimana kalian bisa sedekat itu? Terakhir kali di hotel, kalian bahkan terlihat seperti orang yang tidak saling mengenal," tambah Aldo, menatap Nathan penuh ingin tahu.

"Kau tidak perlu tahu," jawab Nathan datar. Pandangannya tak berpaling sedikitpun dari Aldo. "Yang penting, kau cukup menjadi saksi pernikahanku hari ini."

Mendengar itu, Aldo hanya menghela napas pelan. Ia tak berniat memaksa Nathan menjelaskannya lebih jauh, baginya jika Nathan sudah berbicara seperti itu, percuma dipancing lagi.

Beberapa detik hening. Aldo tampak menimbang sesuatu, lalu akhirnya bersuara lagi.

"Jadi… kalian tidur bersama?" tanyanya, kali ini dengan senyum lebar yang jelas-jelas dimaksudkan untuk menggoda.

"Hentikan pertanyaan bodohmu," sahut Nathan cepat, suaranya sedikit lebih tajam. Ia berdiri, mengambil napas panjang.

"Aku akan bersiap-siap. Tunggu di sini," lanjutnya, kemudian berjalan menuju kamar tempat Arin berada.

"Kamarmu di sebelah sana!" seru Aldo dengan nada sedikit keras.

Nathan tidak menanggapinya. Ia melangkah masuk ke kamar Arin, lalu beberapa detik berlalu, ia akhirnya keluar.

Tanpa berkata apa-apa, Nathan melewati Aldo, hendak kembali ke kamarnya.

"Aku bisa mati kalau jadi saksi pernikahan kalian tanpa memberitahukan tunanganku," ujar Aldo, mengangkat ponselnya sebagai isyarat bahwa ia akan memberitahu Luna.

Nathan menoleh sekilas. "Aku sudah memberitahunya. Ia akan segera datang," ucapnya tenang, lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya.

"Jadi aku orang terakhir yang tau?!" teriak Aldo dari belakang. Tapi Nathan tidak menoleh. Ia hanya terus berjalan, hingga akhirnya menghilang di balik pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!